
Kabar pengunduran diri Lea begitu cepat tersebar bahkan sampai di telinga Arsena langsung melalui sekretarisnya yang meminta tanda tangan darinya untuk mempermudah proses pengunduran diri Lea.
"Saya tidak akan menandatangani surat pengunduran dirinya, panggil siapa yang bertanggungjawab di departemennya "
Sekretaris Arsena hanya bisa mengikuti kemauan Arsena dengan langsung menghubungi atasan Lea.
Kini bang Dik sudah berada di dalam ruangan Arsena yang auranya cukup berbeda tidak seperti biasanya,lebih tepatnya mencekam dengan aura dingin dari wajah Arsena.
"Berani sekali kamu menyetujui permintaan Lea untuk mengundurkan diri tanpa persetujuan dari saya !"
Suara tegas Arsena memenuhi ruangan yang membuat semakin dingin tapi tidak membuat bang Dik takut bahkan dia juga siap untuk mengundurkan diri bila Lea tidak mendapatkan persetujuan.
"Sebelumnya maaf Mr,Lea mengundurkan diri sudah dengan pertimbangan yang matang bukan secara mendadak "
"Tapi ini buktinya,surat ini datang bersamaan dengan merebaknya berita itu..bukankah itu faktanya "
"Kalau Mr tidak yakin Mr boleh tanya langsung pada Lea..pasti akan mendapatkan jawaban yang sama dengan saya "
"Apa alasan yang mendasar pengunduran diri Lea,kamu tahu ?"
"Lea akan menikah "
Terdengar biasa saja bagi bang Dik tapi tidak dengan Arsena yang seperti tersambar petir di siang bolong, terkejut sekaligus shock.
'Menikah..jadi gadis yang selama ini aku kagumi akan di miliki orang '
Raut wajah kecewa tampak jelas terlihat di wajah Arsena bang Dik sangat tahu kalau Arsena memiliki perasaan lebih pada Lea yang sepertinya dia sembunyikan.
"Kamu tidak bohong !"
"Apa untungnya saya untuk berbohong Mr,Lea sendiri yang menjelaskan kalau dirinya ingin mengundurkan diri karena ingin ikut serta suaminya, kalau Mr tidak yakin tunggu saja undangan dari Lea "
Ucapan bang Dik semakin memperjelas bahwa Lea benar-benar akan menikah semakin membuat Arsena lemas seakan tidak bertulang.
'Kenapa kamu datang diwaktu yang tidak tepat Lea '
Sepertinya Arsena menyalahkan dirinya sendiri karena terlambat menyadari kehadiran Lea didekatnya selama ini.
"Bagaimana Mr ?"
"Sepertinya akan saya pertimbangkan,beri saya waktu karena saya juga punya alasan kenapa harus mempertahankan Lea "
Akal bulus Arsena dengan cepat terkoneksi, bagaimana pun caranya Arsena masih ingin Lea berada di perusahaan miliknya.
Berbeda dengan bang Dik yang langsung bisa mencerna jalan pikiran Arsena sepertinya ada permainan yang akan Arsena lancarkan untuk mempersulit Lea.
"Sebelumnya maaf Mr bukankah menikah itu tidak larangan dalam perjanjian kerja bila sudah melewati masa percobaan kerja "
"Ya..saya tahu,tapi untuk pengunduran diri sepertinya harus ada persetujuan dari saya selaku pemilik perusahaan "
"Bukankah Lea tidak melakukan kesalahan atau pun melakukan pencurian milik perusahaan,kenapa harus di persulit "
'Ini orang ga paham banget sih, kalau gue belum siap Lea jauh dari gue '
"Sudahlah..nanti saya pertimbangkan lagi,kamu boleh kembali kerja "
Usir Arsena pada bang Dik yang menyudutkan dirinya dan terus membela Lea dengan gigih.
Setelah bang Dik keluar dari ruangan Arsena, masuklah asisten Arsena yang membawa banyak berkas untuk ditandatangani oleh Arsena tentunya.
__ADS_1
"Gue perhatiin loe punya hobi baru ya..?"
"Hobi baru...kepala loe empuk,boro-boro menyalurkan hobi untuk waktu istirahat aja gue kurang "
"Loe aja ga nyadar kalau hobi baru loe sudah menyita waktu istirahat loe oon "
"Auah...bisa ga sih bikin gue seneng ?"
"Bisa kosongkan pikiran loe seperti Spongebob.. kosongkan pikiran ku, kosongkan pikiran ku"
Diki berlari kecil mengelilingi ruangan Arsena dengan memegang kepalanya dan berucap kosongkan pikiran ku.
"Cuma loe yang berani melakukan ini didepan gue.."
Arsena ketawa sekaligus senang karena bisa sesaat terhibur dengan melihat kelakuan asisten sekaligus temannya.
"Ajaklah ketawanya..."
"Sudah,sudah gue lagi banyak pikiran ini bro "
"Pikiran apa lagi sih..soal berita Silvia sudah gue bantu beresin kurang baik apa gue sama loe..."
"Lea mau mengundurkan diri "
"Baguslah..dari pada makan batin dicemburui ga jelas sama calon bini loe "
"Bukannya kasih solusi malah makin bikin sakit kepala... mending loe pergi jauh-jauh sana "
Ucap Arsena tapi tidak ditanggapi oleh Diki,sebab baginya sudah bisa Arsena mengusirnya tiap kali tidak satu pendapat.
"Tinggal cari gantinya,bereskan terus apa yang di permasalahkan ?"
"Makin aneh nih anak...semalam main dimana sih, kesambet loe ya ?"
"Kesambet.. kesambet,loh ga tahu sih "
"Apa sih yang gue ga tahu?"
"Lea mengundurkan diri karena mau nikah "
"Ha..ha,lantas apa masalahnya dengan loe ?"
Diki tertawa lepas hingga keluar air matanya karena menurutnya sangat lucu baru pertama kali ada salah satu pegawai mengundurkan diri karena ingin menikah bikin seorang Arsena pusing memikirkannya,tidak masuk akal pikir Diki.
"Gue belum rela aja Lea pergi dari sini "
"Et..dah,makin aneh nih anak bukankah loe juga bakal nikah juga ?"
"Sepertinya gue pertimbangkan dulu,sebab semakin mendekati ke jenjang pernikahan Silvia semakin menunjukkan dirinya yang sebenarnya "
"Maksud loe..loe bakal batal nikahin Silvia,gila loe ya..bisa ngamuk parah loe "
"Loe tahu keluarga besar gue semakin menjauh karena sikap Silvia yang semakin jadi, apalagi dengan berita kemarin..tambah gue dijauhi keluarga bro "
"Yang gue ga paham apa hubungannya semua ini dengan pengunduran Lea..jangan sampai isi loe ingin merebut Lea dari calon suaminya..udah bukan loe ini bro "
"Emang salah,selama janur kuning belum melengkung eh..salah sebelum kata sah bolehlah gue berharap "
"Jadi penolakan pengunduran Lea lantaran ini..ga laki banget, memanfaatkan kekuasaan gue ga suka bro "
__ADS_1
"Lah..terus harus pakai apa,ini yang jelas cara paling aman dan legal "
"Ya..gue tahu tapi coba posisi loe jadi calon suami Lea gimana,apa loe terima dengan perlakuan yang loe berikan pikir bro "
"Ehm..loe tahu siapa Lea ?"
"Mana ketehe..,urusan gue lebih banyak dari loe bro, jelas-jelas Lea bukan prioritas gue mana gue tahu"
"Lea salah satu pewaris DA company,jangan melotot itu mata "
"Serius loe..!!"
"Gue juga baru tahu kemarin dari bokap, nyesel gue baru tahu di detik-detik terakhir"
"Tangkapan besar bro..terus siapa calon suaminya,loe tahu bro ?"
"Ya,itu dia susah untuk mencari akses keluarga Lea.. apalagi gue baru tahu kalau le mau nikah dari Dika atasan Lea barusan "
"Kok bisa dia masuk ke perusahaan loe padahal loe tahulah "
"Yang gue tahu dia ingin merealisasikan ilmu yang mempelajari dan loe tahu perusahaan DA company tidak bergerak di bidang otomotif "
"Ya..gue paham,terus rencana loe apa ?"
"Makanya gue minta pendapat loe bro "
"Jujur aja bro,susah kalau situasinya seperti ini bisa jadi Lea mengambil keuntungan dari kejadian kemarin dengan alasan dicemarkan nama baiknya dan diperlakukan kurang nyaman "
"Loe bener juga terus gue harus gimana bro untuk mempertahankan Lea tetap disini "
"Sepertinya ga ada kalau pun loe maksa ujung-ujungnya Lea lagi yang akan jadi korban kebrutalan Silvia yang akan makin nekat.. apalagi niat loe ngebatalin hubungan loe makin parah bro..sudah jalan satu-satunya dan aman lepasin Lea, biarkan dia mendapatkan kebahagiaannya "
"Apa loe ga sedikit pun punya rasa kasihan sama gue..hanya Lea yang loe pertimbangin ?"
"Karena gue tahu loe, kalau Lea mana gue ga tahu kenal dekat juga ga.. sudahlah berpikir realistis aja "
"Memang susah kalau ngomong sama jomblo akut "
"Gue jomblo karena loe juga, gimana gue punya pacar baru naksir udah loe kasih kerjaan segunung..wajar pikiran gue fokus sama kerjaan punya loe oon "
"He..he,ya maaf "
"Enak loe dengan mudahnya bilang maaf,lah gue mikir terus tiap detik.. untung rambut gue ga rontok "
Arsena lebih memilih tidak merasa bersalah dengan tersenyum santai membuat Diki makin ingin mencekik lehernya.
"Pertimbangin deh,saran gue setidaknya tidak ada lagi yang tersakiti.. bukankah cinta tak harus memiliki "
"Sok bijak padahal kapan loe ngerasain jatuh cinta "
"Loe aja ga tahu tapi sayang gue lebih memilih mundur teratur dari pada menyakiti "
"Maksud loe ?"
"Lah..kasihan loe ga paham,pacaran perlu jalan berdua sedangkan gue boro-boro jalan berdua ada juga jalan bareng berkas numpuk di meja "
Diki menunjukkan banyaknya berkas dan mau tidak mau Arsena pun hanya melihat iba pada Diki yang selalu direpotkan olehnya.
Pada akhirnya Arsena tidak bisa mengambil keputusan cepat lebih tepatnya masih mempertimbangkan dengan hati-hati tidak ingin terlalu buru-buru.
__ADS_1