
Pagi ini Lea tidak bersemangat seperti biasanya untuk melakukan aktivitas seperti biasa terutama untuk pergi ketempat dimana dirinya bekerja.
"Biar saya yang antar boleh Pi ?"
Tanya Sigit yang sudah bersiap mengantarkan Lea pergi ketempat kerja, Deandra tahu Sigit datang untuk urusan pekerjaan karena itu dia tidak bermalam kediamannya.
Pagi buta Sigit sudah berada di kediaman Deandra untuk mengantarkan Lea sesuai permintaan Deandra selama Sigit berada dalam satu kota.
"Boleh,temani putri ku pergi "
"Terimakasih Pi "
"Kenapa harus berterimakasih..bukankah akan secepatnya kalian menikah"
Sigit hanya menatap Lea sebab keputusan akhir ada pada Lea bukan pada Sigit.
"Bukan depan Pi.."
Sigit di buat terkejut dengan penuturan Lea yang tanpa dirinya tahu,bukan hanya Sigit semua keluarga besar yang saat ini berada di ruang keluarga ikut terkejut.
"Bulan depan itu tinggal hitungan hari dek..ga salah "
Ujar Titi yang mewakili sebagai saudara perempuan yang jelas dia akan sibuk untuk mempersiapkan segala persiapan pernikahan Lea tentunya.
"Ga.."
"Ini anak kalau udah ada maunya susah "
Arya langsung membuka mulutnya untuk membalas Lea karena hanya dirinya yang bisa mengimbangi Lea.
"Bagaimana nak Sigit,Lea menginginkan bulan depan ?"
"Apa tidak bisa dua bulan lagi dek ?"
Ujar Kinan yang ikut bicara pastinya dengan pertimbangan persiapan untuk segala pernak perniknya.
"Ga,mau bulan depan ya..udah ga jadi "
"I..ya,jadi bulan depan"
Tutur Sigit yang gugup karena tidak ada konfirmasi terlebih dahulu dari Lea, terus bagaimana dengan Romo yang pasti akan menentukan tanggal dengan bijak.
"Mau nikah kok seperti mau buang air kecil ga bisa ditahan "
Ujar Abimana dengan mengusap lembut kepala Lea penuh kasih sayang, bagaimana pun juga dia tetap adik kecil dimatanya.
"Bukankah menikah itu untuk melegalkan suatu hubungan kenapa harus di buat ribet sih..yang jelas sah dimata agama dan negara,bener ga sih ?"
"Iya..bocah kecil yang ga mau di bilang anak kecil"
Sahut Arya dengan melemparkan bantal kursi pada Lea yang sudah berpakaian rapi untuk pergi ke tempat kerjanya.
Langkah kaki Lea menghampiri Arya dan mulutnya membisikkan sesuatu cukup dirinya dan Arya yang tahu pastinya.
"Bocah kecil siap kasih keponakan kecil.. untuk mas"
"Lea..kamu,ternyata..nakal ya"
Arya hampir teriak membalas ucapan Lea yang kini sudah melangkah keluar hanya memberikan jempol miliknya tandanya dirinya menang dari Arya.
"Kapan kalian berdua akan akurnya "
Dengan tersenyum Deandra mengingatkan Arya karena hanya ada Arya Lea sendiri sudah menghilang jauh.
"Habis asyik Pi..sehari saja tanpa menggoda Lea seperti ada yang kurang"
__ADS_1
"Tapi kalian berdua itu bukan anak kecil lagi Arya "
Tegur Deandra yang membuat Arya teringat akan kata yang Lea bisikan di telinganya,tanpa sadar Arya pun tersenyum.
"Mas di tegur papi kok malah senyum-senyum,ga sopan tahu "
"Maaf bukan berniat menyepelekan ucapan papi tapi ingat tingkah lucu Lea "
"Kamu tuh..ya,Arya "
Deandra menepuk pundak Arya dan meninggalkannya untuk beraktivitas pagi seperti biasanya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja Lea lebih banyak diam bahkan terlihat melamun yang Sigit perhatikan.
"Ehm..ga baik pagi-pagi sudah melamun"
Ucap Sigit dengan pandangan lurus ke depan memperhatikan lajur kendaraan yang pagi ini ramai lancar.
"Mas, kalau aku mengajukan pengunduran diri sekarang apa langsung di setujui "
Sigit tidak terkejut dengan penuturan dari Lea karena sepanjang jalan pulang semalam Lea sedikit membahas tentang pengunduran dirinya.
"Setiap perusahaan punya kewenangan sendiri-sendiri, tapi secara garis besar setiap karyawan yang mengajukan permohonan persetujuan pengunduran diri biasanya harus ada persetujuan dari perusahaan tidak bisa langsung cabut saja dan harus ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan "
"Tapi aku tidak melakukan sesuatu hal yang merugikan perusahaan maupun perorangan mas"
"Ya,mas tahu tapi tetap harus ada persetujuan dari perusahaan, intinya hari ini kita mengajukan pengunduran diri bisa jadi beberapa hari kemudian baru perusahaan menyetujuinya, apalagi karyawan seperti kamu yang berpotensi untuk kemajuan perusahaan..tapi mas doain semoga di mudahkan "
"Amin..gitu dong kasih dukungan calon istri "
"Iya,calon istri "
Tidak lama mobil yang dikendarai Sigit masuk ke halaman utama perusahaan Arsena,Lea lebih dulu melarang Sigit untuk turun.
"Mas ga usah turun biar aku sendiri saja,aku kerja dulu ya.. assalamualaikum mas"
"Waalaikumsalam.. hati-hati cukup otak saja yang kerja jangan pakai hati "
Ucap Sigit santai tapi tidak dengan Lea yang mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil.
"Kalau kerja ga pakai hati bakal ga beres mas"
"Maksud mas, hatinya hanya untuk ku"
"Ih..sudah pandai gombal rupanya,udah cepat selesai urusan mas"
"Iya..nona manis"
Ucap Sigit mengusap kepala Lea lembut membuat Lea hanya tersenyum dan melambaikan tangannya mengiringi kepergian Sigit.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Lea..loe ga apa-apa kan kemarin?"
Divya langsung menghampiri Lea bersama beberapa teman lainnya seperti mengkhawatirkan keadaan Lea.
"Is ok,gue baik-baik saja buktinya aku bisa kerja hari ini "
"Apa bener itu ceweknya Mr.Arsena Lea ?"
"Mana gue tahu, sebab gue juga baru lihat "
Bohong Lea sebab malas harus mengingat kembali kejadian malam itu, baginya tidak penting juga untuk diingat.
__ADS_1
"Kenapa sih loe ga balas Lea,gue yang denger aja rasanya ingin jambak rambutnya sampai botak"
Lea tertawa membayangkan kalau wanita itu sampai tidak berambut akan jadi seperti apa wajahnya dengan dandanan mencolok.
"Loe tuh mahkluk paling aneh..dijahatin kok malah pasrah"
"Memang harus kejahatan di balas kejahatan..yang elegan dong,tanpa harus mengotori tangan kita juga"
Ujar Lea yang duduk di kursi kerjanya dan mulai menyalakan komputer sebagai media kerjanya.
"Hey..gaes,lihat di Mensos lagi viral sepertinya kejadian Lea kemarin deh"
Semua rekan kerja berhamburan ke meja kerja masing-masing untuk memeriksa ponsel miliknya.
"Jangan lihat videonya tapi lihat komen netizen yang julid"
"Hampir semuanya mendukung dan membela loe Lea,bener yang loe kata di jaman serba Viral kita harus pintar untuk mengambil keputusan dari pada ujung-ujung kita yang dipermalukan "
"Tapikan dia ceweknya Mr.Arsena masa tidak dapat dukungan dari Mr.Arsena sih "
"Sudah ga baik pagi-pagi sudah ghibah "
Pinta Lea pada teman kerjanya untuk kembali fokus kerja berharap masalahnya tidak berimbas kemana-mana.
"Lea..dicari bang Dik di ruangannya "
Lea diminta untuk menghadap bang Dik,Lea sendiri sudah menyiapkan surat pengunduran dirinya yang sudah ditandatanganinya tentu saj meminta persetujuan dari bang Dik sebagai kepala departemennya.
"Assalamualaikum bang"
"Waalaikumsalam.. keadaan loe baik-baik saja kan Lea ?"
"Alhamdulillah,sehat tidak kurang satu apapun bang..bang mohon ditanda tangani ya.."
"Serius loe mau keluar,apa karena masalah itu"
"Picik amat bang pemikirannya,ga lah calon suami udah ga sabar bawah gue terbang ke awan "
"Stt..bicara loe udah kelewat jauh Lea "
"Jauh kemana bang,aneh deh"
"Lah itu,barusan "
"Emang calon suami mau ngajak gue langsung pindah bang pakai pesawat.. pastinya terbang masa merayap dikira kita naik cicak.. merayap di tembok"
Bang Dik tersenyum sendiri entahlah apa yang dipikirkan oleh bang Dik yang jelas hanya bang Dik yang tahu.
"Jujur gue secara pribadi ga rela loe mengundurkan diri,tapi gue ga bisa menghalangi kebahagiaan loe..memang ga bisa tetap disini Lea ?"
"Ga,bang.. karena gue ingin mendukung suami dari dekat"
"Walaupun dari tampilan loe terlihat slengean tapi loe sangat paham akan tugas loe sebagai istri..jujur gue kagum sama loe"
"Sudahlah bang jangan bikin kepala gue tambah gede,minta doanya saja untuk gue jadi istri yang baik"
"Gue akan selalu doain loe,dan dukung loe Lea apapun keputusan akhirnya "
"Ini yang gue suka dari Abang gue"
"Udah ah..loe bikin gue mewek aja sih Lea"
Ucapan dari bang Dik teryata benar,ada air mata disudut mata bang Dik yang membuat Lea merasa bangga sudah dianggap adik.
Orang baik akan diterima baik oleh orang baik, seperti Lea yang selalu memberikan rasa nyaman kepada sekitarnya, sebaliknya orang sekitar Lea menerima Lea dengan baik pula.
__ADS_1