My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Jangan menangis lagi


__ADS_3

Sigit di buat bingung harus kemana membawa Lea agar bisa terhibur suasana hatinya yang saat ini sangat terluka.


"Kamu ga lapar,biasanya setelah menangis perut kita akan merasa lapar"


Goda Sigit yang sebenarnya asal bicara saja sebab dirinya bingung harus bagaimana untuk membawa Lea pulang saat ini tidak mungkin karena Lea masih sesekali terisak.


"Ke tempat pecel ayam depan apotik sana "


Sigit langsung faham itu salah satu kode keras dari Lea jadi tidak usah bertanya untuk kedua kalinya langsung tempat eksekusi saja.


"Mau di mobil atau mau duduk lesehan?"


Tanya Sigit sebelum membuka pintu, meminta persetujuan dari Lea.


"Lesehan aja mas"


"Tapi janji jangan menangis nanti dikira mas yang bikin kamu nangis.."


Sigit mengusap lembut kepala Lea dengan penuh kasih sayang,yang sebenarnya sebelum diminta untuk menikahi Lea Sigit sudah memiliki rasa sayang tiap kali Lea kecil datang bersama ibunya ke rumah.


"Mau pesan apa ?"


Sigit bertanya pada Lea yang sudah duduk di tikar dengan sedikit tenang tidak terpuruk tadi.


"Ayam goreng,minumnya jeruk hangat saja "


"Siap tuan putri, tunggu sebentar ya..pesanan akan disiapkan"


Ucap Sigit berlaga seperti seorang pelayan melayani pembeli dengan sopan dan ramah, membuat Lea tersenyum melihat tingkah Sigit yang luwes hampir sama seperti pelayan.


"Disana ada kacang dan jagung rebus mau ?"


Sigit menawarkan pada Lea yang memperhatikan lalu lalang kendaraan dan orang yang kebetulan malam ini malam minggu.


"Mau"


"Tunggu sebentar ya.."


Sigit dengan cepat berlari kecil menuju pedagang kacang dan jagung rebus, untuk memenuhi keinginan Lea.


"Cobalah.."


Sigit dengan sigap membantu Lea mengupas kacang dan jagung khusus untuk Lea dengan menggulung kemeja putihnya hingga siku.


"Manis"


Tanya Sigit pada Lea yang mencoba memakan jagung rebus yang sudah Sigit kupas.


Lea hanya mengangguk tanpa bicara, perubahan dari Lea membuat Sigit sedikit lebih tenang.


Tidak lama pesanan datang dan Lea bersiap untuk menikmati makanan yang telah di pesanannya.


"Biar mas suapi mau ?"


Sigit tahu kalau Lea akan malas makan bila sedang sedih karena itu ibunya suka sekali menyuapi Lea makan, dengan malu Lea mengangguk dan Sigit langsung menyuapi Lea.


"Mau sedikit apa banyak sambalnya"


"Sedikit,perut aku lagi ga enak "


"Siap tuan putri "


Sigit dengan telaten menyuapi Lea tanpa sedikitpun rasa gengsi yang ada rasa senang bisa membuat Lea tenang tidak sedih lagi.


"Mas baru tahu kalau kamu manja juga ya.."


Ucap Sigit setelah Lea menghabiskan ayu porsi nasi dan ayam goreng permintaannya.


"Ih..mas "


"Ga apa-apa mas suka kok..tapi jangan sama yang lain kamu manja cukup sama mas"


Lea tertunduk malu karena permintaan Sigit,Lea juga bingung kepada kepada Sigit dirinya cepat mencair apa karena pembawaan Sigit yang hangat dan tidak memaksakan membuat Lea nyaman ada didekatnya.

__ADS_1


"Kita mau kemana lagi ?"


"Kita disini saja ya..mas "


Pinta Lea yang langsung disetujui oleh Sigit, permintaan Lea cukup beralasan di tempatnya saat ini berada mereka bisa menikmati jajanan malam dan bisa terhibur dengan lalu lalang orang juga kendaraan apalagi adanya pengamen jalan yang menghibur dengan lagu yang dinyanyikannya ataupun sesuai permintaan.


"Duduk dulu masnya,saya akan pesankan minum"


Sigit meminta pengen jalan untuk duduk lesehan bersamanya dengan memberikan makanan yang sudah dibelinya beserta minuman.


"Ini mah kita di enakin mas "


"Santai aja.. habiskan ayo kalau kurang tinggal bilang saya yang akan bayar,siapa yang mau makan tinggal pesan ayo..ga usah sungkan "


Lea merasa senang melihat kebaikan Sigit pada pengamen yang baru saja di kenalnya.


"Sehari dapat berapa mengamen ?"


"Ga tentu mas, kalau lagi banyak yang ngasih ya.. Alhamdulillah kalau ga ya.. syukuri aja "


Pengamen yang saat ini bersama le dan Sigit berjumlah lima orang,tapi dari penampilannya Sigit bisa menilai kalau mereka bukan anak-anak biasa.


"Sebelumnya maaf..apa kalian tidak ingin memperoleh rezeki tetap ?"


"Mau sih mas,tapi itu tidak mudah mas.. apalagi kamu hanya berijazah kan SMA atau SMK,paling hanya karyawan kontrak atau kerja harian"


"Ya, saya paham itu..ehm,kalian mau kerja tapi tidak di perusahaan dan juga bukan di kantoran,soal gaji cukup lah untuk menghidupi kalian sendiri tapi bila ada jam lembur bisa bagi keluarga dikit-dikit"


Rawut bahagia terpancar di wajah kelima pemuda tanggung itu, begitu juga dengan Lea yang tidak percaya dengan penuturan Sigit.


"Maulah mas, serius mas ?"


"Serius.. kalau kalian mau sekarang pulang istirahat besok jam sembilan saya tunggu di alamat ini "


Sigit memberikan kartu namanya dan mereka memandang Sigit seakan tidak percaya, dengan lelaki yang ada didepannya sosok tinggi,tampan,dan nilai plusnya ramah dan baik hati.


"Ada orang rumah yang belum makan..boleh pesan untuk orang rumah"


Pinta Sigit pada mereka yang terlihat malu tapi mau bagaimana lagi mereka dengan malu memesan makanan untuk orang rumah.


Lea ingin tahu sebab selama mengenal Sigit tidak pernah Lea melihat Sigit bekerja atau melakukan aktivitas layaknya orang yang memiliki usaha.


"Ada deh, yang jelas halal"


"Ih..mas jahat deh "


"Kamu mulai kepo ya.."


"Ga,gitu"


"Ya,mas tahu nanti kamu akan tahu.. siapa diri ku "


"Bukan yang aneh-aneh kan mas"


"Kalau yang aneh-aneh ga akan bisa di jadikan suami oleh papi "


Ujar Sigit yang langsung mendapatkan cubitan di pinggang Sigit oleh Lea.


"Ih,udah berani cubit-cubit ya "


"Ih..mas yang mulai deh"


"Iya..iya mas yang mulai"


Ucap Sigit dengan tersenyum manis membuat Lea mau pura-pura membuang mukanya kearah lain.


"Ini masih sakit ga?"


Sigit mengusap pipi Lea yang bekas tamparan wanita yang tidak jelas.


"Sudah mendingan"


"Maaf kalau mas boleh tahu apa yang menyebabkan dia melakukan semua ini kepada mu?"

__ADS_1


Sebenarnya Lea tidak ingin berbagi cerita tapi Lea tahu bagaimana cemasnya Sigit melihat Lea yang di perlakukan tidak pantas dalam sebuah pesta.


Pada akhirnya Lea bercinta kronologi kejadian yang terjadi menimpa dirinya sebenarnya dari awal hingga Sigit datang menghampiri.


"Seperti itu cerita yang sebenarnya"


Kembali Sigit mengepalkan tangannya seakan menahan amarahnya dengan apa yang sudah menimpa Lea.


"Terus rencana selanjutnya apa kalau mas boleh tahu ?"


"Besok aku langsung mengundurkan diri "


"Apa sudah kamu pikirkan baik buruknya?"


"Sudah memang rencana ku tidak lama kok kerja disana hanya ingin merasakan dunia kerja saja "


"Apa ga sayang ilmu kamu "


"Ga..aku sudah ada target lain kok mas"


"Apa?"


"Punya keluarga kecil bahagia"


"Bener nih ga nyesel nikah sama kuli "


"Kalau nyesel ga akan aku terima lamaran mas "


"Makin pinter ya.. kamu "


Sigit mengusap kepala Lea dan mencubit hidung mancung Lea dengan pelan.


Kebersamaan keduanya mengalir begitu saja tanpa ada yang jaim-jaim,tapi tetap dalam batasan.


"Mau pulang sekarang?"


"Hmmmm"


Lea hanya menyahut dengan gumaman dan berniat memakai sepatu miliknya tapi lebih dulu Sigit memakaikan walaupun Lea menolaknya.


"Cukup diam saja..nona manis "


Lea tersenyum mendengar panggilan dari Sigit yang baru pertama didengarnya.


"Kenapa senyum-senyum ?"


"Ga, apa-apa "


"Jangan tersenyum terlalu manis di depan orang nona..bisa luka hati abang "


"Ih.. narsis "


"Apa pun itu yang jelas sakitnya tuh disini "


Sigit memegang dada sebelah kirinya seperti orang yang merasa kesakitan di dadanya.


"Ih,ga lucu mas"


"Lagian siapa yang ngelawak nona manis "


"Udah-udah bikin mual mendengarnya "


"Dimuntahkan saja biar Abang bantu "


"Udah mas,geli aku mendengarnya "


Keduanya tertawa bersama,Sigit hanya ingin Lea nyaman bersamanya padahal banyak orang yang mengenalnya dia lelaki yang paling irit bicara.


Senyuman tidak lepas dari kedua sepanjang jalan pulang menuju kediaman keluarga Deandra, Sigit sendiri telah memesan hotel karena bukan berniat mengunjungi kediaman Deandra melainkan ada pekerjaan dan undangan dari Arsena.


**Note


Salam hangat untuk keluarga,apa masih menarik ceritanya ?

__ADS_1


Mohon beri pesan,tidak lupa ucapan terimakasih untuk yang masih membaca goresan cerita yang hanya khayalan penulis semata.


Doa terbaik untuk yang telah membaca semoga dalam lindungan Tuhan dan diberi kesehatan.🙏🙏🙏**


__ADS_2