
Kehadiran Lea di perkebunan sangat disambut dengan suka cita oleh kawan kecilnya, walaupun mereka sudah bukan lagi anak kecil yang dulu kini mereka sudah dewasa tapi hubungan pertemanan mereka tidak pernah berubah sedikitpun.
"Rencana besar apa yang akan terealisasi dalam waktu dekat ini jenderal"
Ujar Gunawan yang memulai bicara disela bincang santai di rumah Melati yang kini sudah memiliki ruang sendiri.
"Ehm..banyak sih,malah jadi bingung mana yang harus didahulukan" Lea menunjukkan muka serius.
"Mana yang lebih penting itu yang harus didahulukan " Seperti biasanya Lukman akan menjadi penentu terbaik.
"Ehm.. anak-anak lulusan sekolah disini kebanyakan lanjut sekolah,kerja atau hanya diam tanpa ada aktivitas?"
Pertanyaan Lea membuat kawan kecilnya bingung tapi hanya sesaat dai sangat paham pasti ada rencana salam benak Lea.
"Secara garis besar mereka akan pergi ke kota untuk bekerja selebihnya ada yang tetap disini sekedar membantu orang tua, untuk yang melanjutkan pendidikan tidak banyak hanya dari kalangan berada atau yang orang tuanya bekerja itu yang saya tahu "
Lukman menjelaskan sebab dia seorang pendidik disalah satu sekolah menengah atas.
"Kalau yang tidak melanjutkan apa mereka mau bila di bekali skill yang aku punya, pastinya gratis tidak akan aku pungut biaya "
Ternyata tebakan mereka benar, seorang Lea tidak akan tinggal dia untuk kemajuan daerahnya.
"Mereka pasti akan suka jenderal"
"Ehm..bisa bantu aku untuk memberi tahukan kepada siapapun yang ingin menambah skill dan untuk tempat aku sudah siapkan "
"Bangunan baru itu ?"
"Iya.. sebenarnya aku baru mau merencanakannya tapi mas Sigit sudah merealisasikannya ya.. mungkin ini rejeki mereka yang membutuhkan"
Penuturan Lea dapat dengan cepat dipahami apalagi soal tempat mereka cukup tahu sebab bangunan serbaguna itu mahar dari Sigit untuk Lea sesuai dengan harapannya selama ini, walaupun letaknya sedikit jauh dari perkebunan.
"Untuk siapa saja yang akan mendaftarkan diri tidak usah khawatir aku akan buat pengumuman baik di setiap sekolah maupun masjid dan surau "
Lukman menyanggupi dalam hal ini sebab dia lebih vokal untuk persoalan ini.
"Apa ada persyaratan khusus?"
Tanya Bujang seperti biasa menebak akan banyak peserta yang berminat untuk mengikuti kesempatan yang tergolong langka ini.
"Ehm..tidak ada syarat khusus,aku ingin anak yang bersungguh-sungguh mau belajar karena aku ingin tanpa sepengetahuan mereka akan ada beasiswa bagi yang benar-benar menunjukkan prestasi dan kesungguhan "
"Gila,aku juga mau "
Ucap bujang yang memiliki dasar ilmu yang sama dengan Lea hanya saja tidak sampai seperti Lea hingga keluar negeri untuk mengasah ilmunya.
"Kapan kesiapannya jenderal ?"
__ADS_1
Tanya gundul yang terlihat penasaran dengan ide Lea yang tidak akan pernah terpikirkan oleh mereka apalagi dengan kemampuan secara materi yang hanya standar biasa saja.
"Mungkin dalam dua bulan kedelapan sebab masih belum lengkap media untuk merealisasikan ilmu pada mereka,masih dalam perjalanan "
"Cepat sekali jenderal,berati rencana ini sudah lama direncanakan "
"Ya..sudah aku rencanakan sebelum pulang dari Texas "
"Ha..terus bagaimana dengan mas Han, apa menyetujuinya?"
"Alhamdulillah mas Sigit sangat mendukung malah dia mensuport untuk secepatnya dan membantu mencari guru-guru terbaik untuk mereka "
"Gokil kata anak sekarang jenderal,kok bisa ya..mas begitu mendukung "
"Entahlah aku juga bingung,malah mas Sigit yang terlihat begitu antusias "
"Jenderal sendiri ada kegiatan apa untuk mengisi waktu ?"
Tanya Melati yang sudah tidak lagi bekerja di kantor perkebunan sebagai akuntan karena ingin lebih fokus pada keluarga kecilnya.
"Mungkin hanya sesekali memeriksa usaha kecil yang sudah berjalan "
Mereka semua paham Lea memang bukan seorang wanita yang hanya bisa berpangku tangan saja dia lebih ingin memberikan lapangan kerja pada siapapun.
Saat perjalanan pulang ke rumah Romo Lea melihat beberapa mobil boks yang melintas bagi Lea yang dulu pernah berada di tempat ini cukup bingung dengan keberadaan mobil itu.
"Kok banyak mobil boks disini untuk mengangkut apa ya..yai ?"
"Mobil-mobil itu mengangkut sayur mayur yang langsung diantar ke hotel, supermarket dan beberapa perusahaan makanan"
"Sejak kapan semua ini berlangsung?"
Lea begitu penasaran sebab selama dia tinggal ditempat ini hanya tengkulak yang membeli sayur mayur dari daerahnya.
"Sejak mas Han yang memberikan bantuan dan bimbingan pada pemilik lahan menanam sayur mayur"
"Mas Sigit ?"
"Ya..mas Han ingin semua pemilik lahan sayur mayur bisa mendapatkan keuntungan yang layak dengan memasarkan produknya ke tempat-tempat yang memberikan keuntungan bukan kerugian"
Lea tersenyum mendengar penjelasan Lukman, lelaki yang kini menjadi suaminya ternyata bukan lelaki sembarangan.
"Bahkan mas Han mendirikan koperasi untuk kemajuan mereka dan ada pelatihan untuk memperbaiki mutu produk"
"Dan yang lebih hebatnya lagi semua orang bekerja di berikan tanggungjawab yang sama jadi tidak ada bos semua menjadi bos dalam pengolahan hasil lahan "
"Dia lelaki yang hebat jenderal,berkat mas Han juga kesejahteraan masyarakat bisa terangkat dengan sendirinya"
__ADS_1
"Ada satu lagi ternyata mas Han berjodoh dengan mu jenderal yang sama-sama memiliki misi yang sama ingin daerah kami maju "
Dengan muka bahagia gundul berucap membuat Lea hanya bisa tersenyum.
"Aku juga tidak terpikirkan akan berjodoh dengan mas Sigit bahkan hanya bertemu beberapa kali itupun aku pikir supir baru papi"
"Kok bisa, bukannya mas Han orangnya sangat ramah "
"Ramah..aku malah tidak lihat itu yang aku tahu mas Sigit irit bicara,dia akan bicara saat ditanya selebihnya dia banyak diam "
Lea menjelaskan apa yang dia tahu saat pertama melihat Sigit dikediamannya.
"Karena kamu belum mengenalnya,bisa jadi mas Han merasa sungkan "
"Bisa jadi tapi ya sudahlah sudah lewat juga "
Ucap Lea dengan tersenyum mengingat momen pertama dirinya diantar Sigit.
"Jodoh adalah cerminan diri "
Ujar Lukman dengan berjalan menyelusuri jalanan masih dengan Lea dan Gunawan.
"Kamu orang baik dan mas Han juga orang baik maka Allah menyatukan kalian dalam ikatan pernikahan"
"Aku tidak sebaik itu yai.."
Protes Lea yang tidak ingin dinilai baik oleh kawan kecilnya,dia hanya merasa ingin melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain tidak lebih.
"Hanya orang lain yang menilai kita baik atau buruk bukan diri sendiri, kalau diri sendiri yang menilai itu namanya membanggakan diri..kita harus menjauhi sifat seperti itu "
Lukman selalu memberi pencerahan walaupun hanya sebatas dia tahu.
"Mas Han dan jendela satu frekuensi yang aku lihat sama-sama ingin membuat orang lain bahagia"
"Amin,mohon ingatkan aku bila diri ini lalai "
"Kita saling mengingatkan saja, karena manusia itu sifatnya mudah terbuai dan lalai "
"Benar yai "
"Jujur aku senang bisa berada disini kembali,ku merasa jadi diri ku sendiri tanpa ada yang aku tutupi..aku mau apapun bebas dan merasa nyaman saja "
"Mungkin di luaran saja kamu lebih dituntut lebih,maaf kalau aku salah bicara mungkin ada nama besar orang tua yang harus kamu jaga"
Untuk kali ini Gunawan berbicara serius dan terlihat sangat hati-hati dalam berucap.
"Ya..salah satunya itu,ya.. sudahlah aku sekarang ada disini dan bebas menentukan apa mau ku yang jelas tidak merugikan orang lain mungkin sedikit memberikan manfaat bagi sesama "
__ADS_1
"Seperti biasanya kamu selalu merendah "
Mereka tertawa bersama seakan-akan kembali ke masa kecil dulu.