
Jangan pernah bilang kesabaran itu ada batasnya,sebab akan ada buah dari kesabaran itu seperti yang kini diterima Lea dan Sigit.
"Mas..maaf sepertinya mas kurang sehat"
Arfan lelaki yang menjadi asisten pribadi Sigit memberanikan diri mengungkapkan apa yang dia perhatikan dari fisik Sigit yang terlihat lesu dan lemas seharian ini.
"Entahlah..aku juga bingung, padahal aku cukup tidur "
"Memang apa yang mas rasakan?"
"Lemes saja seperti kurang sehat gitu "
"Apa tidak sebaiknya mas ke dokter saja ?"
"Apa harus ?"
"Dari pada mas merasa tidak nyaman dengan keadaan mas "
"Ehm..aku usahakan sepulang kerja nanti"
"Apa tidak sebaiknya mas pulang sekarang saja..lagian tidak ada pekerjaan yang penting mas,begitu juga dengan pertemuan dengan klien tidak ada jadwal..sudah mas pulang saja"
Tegur lelaki yang sangat hafal betul dengan jadwal kantor dan sangat disiplin.
"Bener aku tinggal tidak ada masalah"
"Bener mas..semua sudah aku cek "
"Ya..sudah aku pulang ya, ehm..kabari aku kalau ada yang penting"
"Siap mas,apa perlu saya antar"
"Aku tidak selemah itu Fan.."
"Kirain mas perlu bantuan saya "
Sigit hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Arfan yang sangat baik dan bertanggungjawab.
🌻
🌻
Setibanya di rumah Sigit terlihat semakin pucat membuat mbok yang bekerja di kediaman Romo kaget.
"Nopo to mase ?" dengan terburu-buru wanita yang umumnya lebih muda dari ibunya menyambut kedatangannya.
"Boten nopo-nopo mbok " Sigit langsung menuju kamarnya berniat beristirahat walaupun awalnya ingin kedokteran tapi dia merasa tidak kuat kalau harus pergi sendiri.
Sigit tahu saat ini Lea berada ditempat pelatihan seperti biasanya untuk membagi ilmunya.
"Mas..apa perlu teh hangat ?" tanya mbok yang sering dipanggil mbok Rati didepan kamar Sigit.
"Terimakasih mbok tidak perlu,aku hanya perlu istirahat saja "
"Ya,sudah.. panggil mbok mas bila perlu apa-apa"
"Ya..mbok terimakasih" Sigit sebenarnya malas untuk berbicara karena kepalanya semakin pusing.
Lea belum kembali hingga siang menjelang sore karena ada kunjungan dari salah satu sekolah menengah kejuruan yang ingin melihat secara langsung pelatihan.
"Aku perhatikan..ehm sepertinya kamu semakin berisi jenderal"
Dengan sedikit malu bujang memperhatikan bentuk fisik Lea yang semakin bikin gemas, dengan pipi chubby dan tubuh sedikit berisi.
__ADS_1
"Bujang..! mata mu sudah berbuat dosa "
"Ya..maaf memang seperti itu yang aku lihat"
"Sudahlah ga penting juga "
"Maaf, jenderal aku ga ada maksud memperhatikan cuma ada yang berbeda maka aku berani bertutur seperti itu "
"Kamu memang harus secepatnya mencari pasangan,aku akan minta yai untuk mencari yang cocok dengan kamu "
"Ada Bu..itu salah satu admin yang ibu percaya" celoteh salah satu OB yang Lea percayakan mengurus kebersihan dan keperluan kantor.
"Oh..ya,yang mana ?"
"Masa ibu ga tahu ?"
"Hus..kamu asal ngomong" sewot Jaka dengan menyuruh diam OB.
"Cie..cie,ga usah malu kali.. bukankah sudah waktunya kamu mencari pasangan"
Jaka hanya bisa diam sebab dia tahu semua titah Lea adalah untuk hal kebaikan yang selama ini dia pahami.
"Apa perlu aku yang melamar?"
"Apaan sih jenderal,belum tentu juga anaknya mau ?" pungkas Jaka yang sepertinya belum memiliki nyali.
"Alah..jagoan kok melempem,mana taring mu ?" goda Lea dengan menepuk pundak Jaka.
"Ga gitu jenderal,dia masih terlalu muda dan aku perlu mempersiapkan juga secara materi"
"Apa gaji yang aku kasih ga cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil mu nanti,akan aku tambah "
"Ehm..ini nih yang aku ga suka,kamu selalu melibatkan diri padahal bukan itu jenderal "
"Terus apa,soal ibu dan adik mu ?"
"Ha..ha,pada akhirnya singa hutan tidak bisa mengaung karena sakit gigi "
"Aku bantu, untuk mencari momen yang pas siapkan saja dirimu ok.."
"Sejujurnya aku ga ingin melibatkan mu karena aku malu selalu merepotkan mu "
"Bukankah kita best friend forever " goda Lea dengan menepuk pundak Jaka.
Keduanya tertawa bersama seakan-akan kembali ke masa anak-anak dulu.
🌻
🌻
Lea sedikit terkejut begitu memasuki gerbang utama rumah Romo sudah ada mobil milik Sigit yang seharusnya belum pulang dari perusahaan milik Romo.
"Assalamualaikum mbok, mas Sigit sudah pulang?"
"Iya..cah ayu, sepertinya mas mu kurang sehat,mbok lihat sedikit pucat "
"Oh..ya mbok,tapi kenapa mas tidak telepon aku ?"
"Mungkin mas Sigit ndak mau merepotkan mu cah ayu "
"Ya..sudah,biar aku lihat ke kamar, terimakasih mbok "
"Sama-sama cah ayu "
__ADS_1
Mbok kembali ke belakang sedangkan Lea masuk kedalam kamarnya dengan perlahan tidak ingin membuat Sigit terganggu.
"Assalamualaikum " ucap Lea dan langsung menghampiri Sigit yang terlihat tidur dengan berbalut selimut.
"Mas,kok badan mas panas " Lea meletakkan tangannya diatas kening Sigit.
Sigit merasa terusik dengan membuka matanya dia memperhatikan wajah cantik istrinya yang selalu dirindukan.
"Sayang sudah pulang" dengan suara lemah Sigit bertanya.
"Kenapa ga hubungi aku mas kalau mas kurang sehat?"
"Aku tahu kesibukan mu dan aku tahu sayang ku tidak kan lama disana "
"Ya,tapikan ini berbeda mas..mas butuh aku "
"Buktinya sayang sudah sampai"
"Sudah minum obat ?"
"Belum,aku ga apa-apa kok hanya sakit rindu saja "
"Mas,ga lagi becanda ya..ini mas sakit betulan loh..panas banget nih,ke dokter yuk "
"Ga usah..peluk aja pasti langsung sembuh "
"Mana ada mas, orang demam obatnya di peluk "
"Ada aku salah satunya,sini aku ingin memeluk mu sayang "
"Mas..mas,andaikan bawahan mu tahu mereka akan tidak percaya sebab di luaran sana seperti singa menunjukkan kekuatannya dengan sekali mengaung bikin lawan mu takut,bila melihat mu seperti ini sing itu berubah seperti moci yang selalu ingin diusap dengan lembut "
Tanpa menghiraukan ucapan Lea Sigit memeluk Lea yang masih duduk disampingnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Lea.
"Ke dokter yuk.."
"Ga,aku hanya ingin ditemani mu aja sayang "
"Aneh banget sih,kok seperti merayu anak kecil minum obat "
"Biarkan aku seperti ini,ga usah ke dokter "
"Ya..sudah,tapi mas harus makan dulu ok "
Sigit hanya mengangguk tanda menyetujui permintaan Lea.
'Kamu sungguh sudah membuat hidupku berwarna dan istimewa,kmu begitu berarti dalam hidupku '
Ucap Sigit yang memperhatikan Lea yang meninggalkan dirinya menuju pintu kamarnya.
Lea tidak lama datang dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya dan satu mangkuk sup.
"Mudah-mudahan dengan makan mas akan lebih baik "
Sigit hanya tersenyum melihat Lea yang memperhatikan dirinya dengan telaten menyuapi makanan kedalam mulut Sigit.
"Enak..?"
"Enak tapi sedikit mual perut ku "
"Coba minum teh jahe dulu "
'Perasaan aku tidak pernah merasakan seperti ini,ada apa dengan diri ku '
__ADS_1
Lea pun sama memperhatikan kondisi Sigit yang tidak seperti biasanya bahkan lelaki dihadapannya tidak pernah mengeluh sakit walaupun dengan setumpuk pekerjaan yang Romo bebankan kepadanya.
Ada apa dengan Sigit ??