My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Bahagia Lea bahagia kawan kecilnya juga


__ADS_3

Tidak lengkap bila kebahagiaan Lea dalam momen sakral yang akan menjadi momen paling berkesan dalam hidup tanpa kehadiran sahabat kecilnya yang paling tahu bagaimana karakter Lea terbentuk.


Lea sengaja mengundang mereka dan menyiapkan penginapan untuk mereka yang datang bersama keluarga tentunya.


"Selamat,aku ikut senang"


Ucap Melati dengan menahan haru memeluk Lea, senyum tulus Lea berikan sebagai balasan.


"Terimakasih sudah menyempatkan hadir dihari bahagia ku "


Balas Lea yang kembali tersenyum dan memegang erat tangan melati yang sudah hadir untuk memberikan selamat.


"Aku yang seharusnya berterimakasih karena sudah difasilitasi dengan baik disini"


"Aku ingin kalian ada untuk ku"


Ujar Lea yang membuat Melati semakin terharu, dimata melati jenderal kancil tidak pernah berubah walaupun terpisah jarak dan waktu.


Tidak hanya Melati yang hadir bersama mas Ridwan beserta putri cantiknya yang sudah bukan balita lagi, Lukman,Jaka dan tidak ketinggalan Gunawan juga ikut hadiri.


"Akhirnya jenderal menyusul lebih dulu"


Ujar Gundul dengan memberikan jari jempolnya sebagai bentuk apresiasi telah menyusul Melati.


"Mana aku tahu Dul..akan secepat ini "


Lea memberikan penjelasan kepada Gunawan yang terlihat ikut bahagia dengan pernikahan Lea.


"Jodoh rahasia illahi,kita ikuti saja apa yang sudah ditentukan "


Ucap Lukman yang seperti biasanya memberikan sedikit pencerahan yang di mengerti oleh semua kawan kecilnya yang kini sudah bukan anak kecil lagi.


"Bener yai.. mana berjodoh dengan mas Han,pas pokoknya "


Lea dibuat terkejut dengan ucapan bujang yang menyebutkan nama Han pada Sigit.


"Mas Han ?"


Tanya Lea dengan wajah penuh tanya pada teman kecilnya yang juga terlihat bingung.


"Iya..ini mas Han yang sering kami ceritakan sama kamu jenderal"


Ucap Jaka berharap Lea bisa mengingat apa yang pernah mereka ceritakan tentang banyaknya kegiatan sosial yang diadakan selama Lea berada jauh dari mereka.


"Maaf aku bingung,aku ingat apa yang kalian ceritakan tapi ini kan mas Sigit bukan mas Han yang kalian ceritakan itu "


Tawa kecil dari Sigit membuat perdebatan antara mereka terhenti mereka beralih memandang Sigit dengan muka bingung.


Belum terjawab rasa penasaran Lea dan kawan kecilnya,tamu undangan lain sudah mengekor di belakang mereka untuk memberikan selamat pada akhirnya mereka harus meninggalkan Lea dan Sigit.


"Sebenarnya aku masih bingung mas "


Ucap pelan Lea pada Sigit selepas membalas ucapan selamat dari tamu undangan.


"Nanti akan aku jelaskan"


Balas Sigit dengan tersenyum yang dia tahan karena melihat Lea yang masih memikirkan sosok yang diceritakan kawan kecilnya.


Menjelang malam acara resepsi telah usai hanya menyisakan kerabat dan keluarga dekat yang masih duduk-duduk berbincang santai.

__ADS_1


"Sebaiknya penganten istirahat,pasti kalian capek"


Tutur Deandra pada Sigit dan Lea yang masih ikut bergabung masih dengan pakaian yang sama,nampak jelas dimata keduanya rasa lelah.


"Ajak istri mu istirahat"


Kini giliran Romo yang ikut bicara, meminta pada Sigit untuk membawa Lea meninggalkan ballroom.


"Aku masih ingin disini Pi.."


Ucap Lea yang masih duduk ditempat duduknya sepertinya enggan bergeser dari tempatnya walaupun rasa remuk di tubuhnya karena menerima ucapan selamat dari tamu undangan.


"Setidaknya kamu berganti pakaian terlebih dulu cah ayu "


Pinta Romo yang sebenarnya mengusir Lea secara halus agar beristirahat, karena nampak jelas kelelahan di wajah Lea.


"Iya..mo,iya "


Dengan malas Lea melangkahkan kakinya meninggalkan tempat untuk menuju kamar hotel yang sudah dipesan untuk kerabat, keluarga dan tamu undangan dari jauh untuk menginap.


"Mas,boleh aku ingin untuk menemui kawan dari perkebunan?"


Pinta Lea dengan penuh harap pada Sigit yang kebetulan juga sudah berganti pakaian.


"Apa tidak lelah..?"


Tanya Sigit pada Lea yang kini telah manjadi istrinya dengan mengusap kepala Lea.


"Engga "


Ucap Lea dengan menggelengkan kepalanya berharap Sigit mengijinkannya dirinya untuk menemui kawannya.


"Siap komandan "


Ucap Lea dengan berlari kecil menuju pintu keluar tapi tidak lama keluar Lea kembali dan mencium tangan Sigit dengan menunjukkan senyum tipisnya dengan malu-malu.


"Maaf belum terbiasa "


Sigit hanya tersenyum memperhatikan tingkah Lea yang baginya lucu.


"Bawa kunci kamarnya karena mas mau menemui ibu "


"Ok "


Mereka pun berpisah tapi masih dalam satu hotel hanya berbeda kamar hotel saja.


"Loh..kok pengantin malah disini "


Bujang terkejut begitu membuka pintu kamar hotel yang dia tempati bersama Lukman dan Gunawan.


"Memang ga boleh aku menemui kawan ku ?"


"Boleh tapi ini kan malam.."


Dengan ragu bujang berucap tapi lebih dulu Lea membalasnya dengan ucapan yang bikin ketawa.


"Bersama kalian hanya satu malam tapi bersama mas Sigit akan banyak malam "


"Ya..ya, jenderal akan selalu benar "

__ADS_1


Balas gundul tapi tidak dengan Lukman yang langsung memberikan nasehat untuk Lea.


"Apakah jenderal sudah meminta ijin terlebih dahulu karena jenderal sudah berkewajiban untuk meminta ijin karena akan berdosa "


"Siap pak yai,aku sudah ijin dan mas Sigit juga baru keluar kamar karena ada keperluan"


"Ya sudah ada keperluan apa memangnya jenderal menemui kami,ada yang penting?"


"Aku masih penasaran dengan mas Han dan mas Sigit "


Belum terjawab rasa penasaran pintu kamar dikeruk dari luar dan Jaka membukanya.


"Eh..mas Ridwan,kenapa ndok ?"


Ridwan menggendong putranya yang sepertinya habis menangis masih terlihat air mata dan suara sesenggukan sisa tangisnya.


"Ingin di gendong leknya.."


"Oh..ya,sini sama lek "


Lukman langsung menggendong putri mas Ridwan untuk di tenangkan dan gadis kecil itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu Lukman.


"Sayangnya lek..kenapa menangis ?"


Gadis kecil itu berbisik pada Lukman,senyum terlihat dari bibir Lukman yang mengerti akan ucapan gadis kecil itu.


"Mas Ridwan..ehm, sebenarnya yang benar mana sih mas Han apa mas Sigit aku bingung?"


"Keduanya benar karena nama mas Han adalah Sigit Hanenda,tapi dilingkungan kami memanggilnya mas Han "


Oh..kalian yang membuat aku bingung"


"Kami semua senang, karena jenderal menikah dengan mas Han yang sama-sama memiliki jiwa sosial tinggi"


"Masa ?"


"Jenderal akan terkejut bila datang ke perkebunan nanti"


"Memang apa yang membuat aku terkejut disana ?"


"Susah untuk di ceritakan, datang saja akan lihat sendiri"


"Kami ikut bahagia dengan pernikahan mu, apalagi bersama orang yang tepat.. lalu rencananya mau tinggal dimana ?"


Tanya mas Ridwan yang ikut ngobrol bersama saat ini didalam kamar bersama Kwan kecil Lea hanya Melati yang tidak hadir menurut mas Ridwan sedang bersama keluarganya.


"Aku akan ikut bersama mas Sigit kemana pun,besar kemungkinan akan tinggal di perkebunan karena tugas mas Sigit disana "


"Hore..kita akan kumpul bersama lagi "


"Memang sebenarnya aku ingin tinggal disana walaupun tanpa menikah dengan mas Sigit karena kurang betah aku tinggal disini "


"Entah mengapa dalam pikiranku kebahagiaan terbesar ku disana "


Gambaran masa kecil Lea lebih nyata kebahagiaannya dari pada masa sekarang yang lebih banyak menunjukkan kebahagiaan yang semu.


Apalagi kebanyakan orang lebih menunjukkan siapa dirinya yang jelas-jelas membuat sakit hati dan iri hati orang lain.


Lea ingin kebahagiaan yang dirasakannya dirasakan juga oleh orang sekitarnya dengan cara yang sederhana tapi sampai sasarannya.

__ADS_1


Ada kepuasan dalam diri Lea bila berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang telah dia buat bahagia.


__ADS_2