
Sebenarnya mudah bagi Lea untuk kuliah universitas terbaik mana pun sebab kemampuan finansial Deandra miliki tanpa harus menempuh jalur beasiswa tapi Lea gadis yang istimewa dengan caranya tidak ingin melibatkan orang tuanya untuk menggapai impiannya.
"Pagi diri sendiri"
Ucap lantang Lea disalah satu apartemen yang sengaja Deandra siapkan untuk Lea yang sangat dekat jaraknya dengan kampus, sebenarnya Lea hanya ingin menyewa apartemen kecil saja tapi Deandra lebih dahulu menyiapkan semua kebutuhan selama putrinya menempuh pendidikan di sana.
Selepas membersihkan diri dan beribadah,Lea membuat sarapan untuk dia makan sebelum pergi ke kampus untuk menyerahkan beberapa berkas untuk kelengkapan kuliahnya yang masih beberapa minggu lagi,dia ingin lebih dulu berada di tempat ini untuk lebih dulu beradaptasi dan menghapal beberapa jalan dan tempat-tempat yang dia perlukan di datanginya seperti perpustakaan,pasar, supermarket, kedutaan dan rumah sakit bila di butuhkan.
Di sekretariat kampus saat ini Lea berada menyerahkan berkas dan mengisi beberapa formulir yang perlu diisi sebagai mahasiswa baru.
"Lea.."
Sapa Indra yang kebetulan juga berada di sekretariat kampus yang jelas Lea tidak menduga akan bertemu untuk kedua kalinya dengan lelaki yang berwajah campuran bule dan Indonesia tapi lebih dominan bule.
"Ehm..Mr.."
Lea terlihat bingung harus membalasnya dengan sapaan apa pada Indra karena saat ini berada di kampus dan Indra seorang dosen yang Lea tahu dari penuturan Dara.
"Ada keperluan apa kamu di kampus?"
Kalau saja yang bertanya Juna tangan Lea akan memukul dengan Juna sebab jelas-jelas disini kampus tentu saja ada keperluan dengan urusan kampus tidak mungkin untuk di urut sebab bukan tempat patah tulang.
"Menyerahkan berkas "
Ucap Lea seperlunya,Lea tidak mengunakan bahasa Inggris untuk Indra lebih dulu bertanya mengunakan bahasa Indonesia dan itu lebih nyaman bagi Lea.
"Sudah selesai urusannya?"
Tanya Indra seperti mencari tahu,hanya anggukan yang Lea lakukan sebagai jawaban.
"Apakah masih ada keperluan lain..ehm sebenarnya saya ingin mentraktir minuman sebagai bentuk terimakasih atas kebaikan kamu untuk adik saya"
Dengan sedikit malu Indra menyampaikan maksudnya berharap Lea tidak menolaknya,itu harapannya.
"Saya tidak ada keperluan lain.. untuk traktiran Mr. ehm.. bagaimana ya..?"
Lea bukan menolak tapi tidak ingin saja,pulang ke apartemen tujuannya selepas menyelesaikan urusan kampus itu keinginannya.
"Apakah begitu memberatkan mu ?"
Indra seperti bisa menebak isi hati Lea karena melihat Lea yang tidak nyaman dan gelisah di posisi saat ini.
"Tidak Mr. hanya saja tidak ingin merepotkan Mr, untuk soal adik Mr. jangan jadi beban saya ikhlas membantu "
"Cukup Indra saja tak perlu Mr. karena saya bukan guru mu"
Indra meminta pada Lea seperti memohon,Lea paham dan maklumi disini memanggil nama orang lebih tua dengan namanya saja masih terbilang wajar dan sudah tidak aneh lagi.
Sepertinya tidak sopan bila memanggil nama anda tanpa embel-embel karena anda seorang dosen dan lebih tua usia anda dari saya "
__ADS_1
"Tidak masalah,saya hanya ingin lebih akrab saja dengan kamu memanggil nama saja"
'Lebih akrab siapa kamu hey.. lelaki aneh '
Gerutu Lea dalam hati seperti mencari akal untuk bisa pergi dengan aman tanpa harus memenuhi keinginan Indra.
Sepertinya doa Lea secepat itu dikabulkan oleh sang pencipta, terdengar seseorang memanggil Indra dengan suara hampir serak.
Seorang lelaki lebih muda usianya dari Indra menyodorkan beberapa berkas yang Lea tidak ketahui apa tapi mau tidak mau Indra ikut bersama lelaki muda itu untuk kembali kedalam sekretariat.
"Sepertinya waktu tidak berpihak pada kita untuk bersama menikmati secangkir kopi di siang hari ini "
"Lain kali saya minta kamu tidak menolak ajakan saya,saya mohon Lea sebagai ucapan terimakasih saya seperti berhutang pada kamu "
Hutang lelaki yang aneh pikir Lea siapa juga memberikan hutang, menolong bagi Lea sudah hal biasa tidak perlu ada balasan,Lea menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Indra.
"Saya tidak bisa janji Indra,kita lihat saja nanti"
Lea bisa melihat jelas wajah kecewa Indra karena penolakan halus Lea,sebab Lea tidak terbiasa dengan lelaki yang asing apalagi baru dua bertemu dengannya.
"Sampai ketemu lain waktu "
Ucap Indra sebelum meninggal Lea yang masih berdiri di depan sekretariat kampus.
Rasa lega yang Lea rasakan selepas kepergian Indra,dia memilih keluar kampus untuk keperluan lain sebelum kembali ke apartemennya.
Saat ini memasuki musim gugur jalan yang dilalui Lea banyak berserakan daun-daun yang berguguran dan terbang terbawa angin.
Lea tergiur dengan wangi karamel yang baru saja di masak,Lea memesan untuk dimakan di tempat bersama segelas teh hangat dan cake karamel.
Di tengah menikmati pesanannya yang datang tidak lama Lea melihat dari balik jendela toko roti,anak lelaki seusia dengan Ganendra mengintip dari luar dengan mimik muka seperti menirukan kami yang berada dalam toko roti.
Rasa iba menyelimuti Lea dan seperti biasanya Lea selalu melakukan hal yang tidak diduga orang lain.
Tangan hanya Lea merangkul tubuh kecil itu dan menatapnya dengan tatapan iba.
"Can you accompany me to finish the food that i ordered son ?"
(Bisakah kamu menemani ku menghabiskan makanan yang aku pesan boy ?"
Sebelum menghampiri anak laki-laki kecil itu Lea terlebih dahulu memesan makanan yang biasanya disukai anak seusianya,Lea cukup tahu karena memiliki tiga jagoan yang selalu dirindukannya.
Anak lelaki itu terlihat malu tapi rasa lapar begitu dia rasakan,ajakan Lea tidak ingin dia tolak walaupun dia malu untuk menerimanya.
Lea membantunya untuk duduk dan menyiapkan beberapa kue dan minuman untuk dinikmati mulut kecilnya.
Terlihat dia begitu lapar sesekali hampir dia tersedak membuat Lea khawatir.
"Slow down,all of this is for you..no need to rush "
__ADS_1
(Pelan-pelan, semua ini untuk mu..tidak perlu terburu-buru).
Lea menyerahkan minuman untuk meringankan tenggorokan anak lelaki itu yang hampir saja tersedak.
"Mau i take some of this food home ?"
(Bolehkah saya membawa pulang beberapa makanan ini ?"
Ucapan anak lelaki itu membuat Lea terkejut sekaligus sedih,pantas saja beberapa kali anak ini memegang makanan lalu meletakkannya lagi..jadi ini alasannya pikir Lea , bukan karena tidak suka tapi ada keinginan untuk di bagi dengan orang rumah.
"No,i'll order another meal for you to take home,some of the people who are at your house boy ?"
(Tidak,saya akan memesan makanan lain untuk kmu bawah pulang, beberapa orang yang ada di rumah mu boy ?).
"There is only my Mather and my two little twin sister who are still small"
(hanya ada ibuku dan dua adik kembar kembar yang masih kecil).
Pantas anak ini begitu teringat akan keluarga yang mungkin sama dengan dirinya belum makan saat ini dalam benak Lea berpikir.
Lea membiarkan anak lelaki itu dengan tenang menghabiskan makanan yang dia pesan untuknya,Lea sendiri pergi memesan makanan yang akan di bawa anak itu untuk keluarganya di rumah.
"Under all this food,greet your Mather and tell her this a gift from me "
(Di bawah semua makanan ini,salam untuk ibu mu dan katakan padanya ini adalah hadiah dari ku).
Dengan malu anak lelaki menerima pemberian Lea,dia tidak bisa menolak karena sangat membutuhkan itu.
"Thanks..Mrs.."
Dengan tertunduk anak lelaki itu berucap, rasa gugup sangat terlihat dari gerak bibirnya.
"No need to thank,I'm glad to meed you..can we be friends ?"
(Tidak perlu berterimakasih,aku senang bertemu dengan mu..bisa kah kita berteman?"
Anak lelaki itu seakan tidak percaya sebab tetangganya saja enggan untuk berteman dengannya karena miskin.
Anak lelaki itu mengangguk dan menunjukkan senyum manisnya membuat Lea senang dan memeluknya.
"Lea.."
Lea menyebutkan namanya disebut dengan suara anak lelaki itu menyebutkan namanya dengan ragu.
"Adrian"
"Because we are already friends,come if you need my help..there i stay every 8 in the morning,i Will go out to take out the trash and buy necessities, wait for me in front ok.."
(Karena kita sudah berteman,datanglah jika butuh bantuan ku,disana aku tinggal..setiap jam 8 pagi aku akan keluar untuk membuang sampah dan membeli kebutuhan.. tunggu aku didepan ok.."
__ADS_1
Lea menunjukkan letak tempat tinggalnya, sebuah apartemen berdiri megah dengan kokoh membuat anak lelaki itu seakan tidak percaya dia berteman dengan orang kaya yang baik padanya.
Tangan Lea mengusap lembut kepala anak lelaki itu sebelum berpisah di persimpangan jalan dan lambaian tangan mengiringi perpisahan mereka.