
Acara pengobatan gratis berjalan dengan baik dan sesuai harapan Lea ,ada rasa yang berbeda yang Lea rasakan apa bila melihat orang yang dia bantu bahagia.
"Alhamdulillah..terbayar sudah rasa lelah kita dengan melihat senyuman bahagia mereka"
Lukman berucap syukur dengan menengadahkan tangannya keatas lalu mengusapnya perlahan ke muka.
"Terimakasih Jenderal kancil,tanpa mu apalah kami hanya sebatas angan-angan semata"
Bujang tanpa sungkan mengucapkan kata yang pastinya Lea tidak akan menyukainya.
"Aku ga suka kata itu,aku yang berterimakasih, tanpa kalian acara ini tidak akan pernah terealisasi.. melihat mereka bahagia itu sudah membuat ku senang"
Hal seperti ini yang mereka suka dari diri Lea, memberi tanpa mengharapkan balasan.
"Sepertinya kamu tidak berubah walaupun sudah tinggal di kota "
Bukan pujian hanya penilaian yang Gunawan sampai pada Lea yang masih tetap seperti kawan kecilnya dahulu.
"Aku akan tetap seperti ini selamanya..,aku lebih nyaman menjadi diriku sendiri dari pada berpura-pura,bikin capek"
Lea akan selalu apa adanya dengan caranya sendiri bersama orang yang selalu nyaman bersamanya.
"Sebenarnya aku kurang puas untuk acara ini,tapi untuk menunggu rasanya terlalu lama"
Ucapan Lea membuat keempat kawan kecilnya bingung,kurang puas dimana letak tidak puas Lea semua begitu sempurna dengan persiapan yang mendadak dan hanya Lea yang bisa mewujudkan impian ini, mereka yakin kalau orang lain pasti butuh waktu dan persiapan yang makan waktu.
"Apa cara kerja kami kurang maksimal menurut Jenderal?"
Bujang terlihat tidak enak sebab dia yang banyak turun di lapangan selebihnya hanya melengkapi kekurangan.
"Jangan di masukkan ke hati Bujang.. maksud aku aku mau ada bazar murah terutama sembako dan perlengkapan sekolah juga pakaian..selain pengobatan gratis tapi sudahlah, karena aku percepat waktunya sebab bulan depan aku harus ke Amerika "
Lea tidak pernah menyalahkan pihak lain yang sudah bekerja keras hanya dirinya yang belum puas dalam hal ini.
"Amerika "
Ucap mereka bersamaan yang membuat Lea menutup telinganya karena bising.
"Ya..aku dapat beasiswa untuk studi lanjutan di sana, kalau tidak ada halangan bulan depan aku berangkat "
"Semua yang kamu dapatkan itu karena buah kebaikan kamu jenderal "
Seperti biasanya Lukman selalu memberi pencerahan nilai-nilai kebaikan dalam setiap pertemuan.
"Aku hanya bisa memberi apa yang aku punya tidak lebih "
"Aku tahu jenderal selalu merendah..aku bangga bisa dekat dengan mu jenderal "
Melati memeluk Lea penuh haru, begitupun dengan yang lain merasa bangga memiliki teman Lea.
"Untuk misi selanjutnya kita pikirkan lebih matang lagi.. karena aku ingin yang lebih besar lagi "
"Misi apapun akan tereliminasi bila ada jenderal "
Ucap Gunawan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan malu-malu.
"Untuk misi besar kita minta mas Han ikut serta jangan anak buahnya saja seperti saat ini "
Lea kembali teringat akan nama yang selalu mereka agung-agungkan membuat Lea penasaran bukan iri hati cuma siapa sih lelaki itu.
"Maaf aku potong sebenarnya siapa sih mas Han itu ?"
__ADS_1
"Cie..cie, penasaran mbak ?"
Goda Bujang yang memang selalu bikin suasana hidup dalam setiap bertemu.
"Ga,cuma ingin tahu aja sih..sebab nama itu begitu familiar buat kalian "
"Mas Han seperti kamu jenderal.. selalu ada dimana orang yang membutuhkan bantuan dia akan datang di waktu yang tepat "
Lea semakin bingung dan kepikiran,apa maksud dari perkataan Gundul "datang diwaktu yang tepat"
"Dia membantu siapapun seperti mu jenderal,tanpa pamrih "
Kini Lea sedikit paham walaupun masih bertanya-tanya siapa dirinya dan seperti apa sosoknya.
"Kalau memang dia selalu siap membantu, dimana saat ini.. bukankah saat ini dia akan melakukan hal yang sama seperti kita terlibat langsung dalam acara ini"
Lea mencari tahu keberadaan sosok yang selalu ada dalam pembahasan chat perihal kegiatan sosial di perkebunan.
"Kalau tidak salah dia ijin ada perjalanan dinas yang harus dia lakukan dan tidak bisa di tunda "
Lukman menjelaskan yang dia tahu sebab acara pengobatan gratis mas Han yang membantu pengajuan proposal yang harus mendapatkan persetujuan dari rumah sakit di luar perkebunan.
"Sepertinya dia orang yang sangat penting.."
"Sudah sudah pasti dia yang memegang tanggungjawab perusahaan perkebunan Romo mu jenderal "
Kini putih ikutan bicara sebab dia juga sudah mulai kerja magang di perusahaan perkebunan milik Romo.
"Kok,bisa aku baru tahu kalau dia bekerja di tempat Romo "
"Bagaikan jenderal tahu, kesibukan jenderal lebih banyak menyita waktu aku yakin dengan ucapan ku..aku tidak salahkan ?"
Lea merasa malu,memang semua ucapan putih ada benarnya karena Lea menghabiskan waktu bukan hanya di kampus saja,di bengkel, tempat belanja anak-anak dikampung pemulung juga jadi prioritasnya.
Kini Lukman ikut bicara karena Lukman tahu banyak apa saja tugas mas Han di perusahaan Romo Lea.
"Apa kita jodohkan saja mas Han dengan mu jenderal..kalian berdua orang baik "
Entah datang dari mana ide gila gundul usulkan pada Lea yang terlihat kaget.
"Main jodoh-jodohkan saja aku mau studi ga,ga mau studi ku terganggu "
protes Lea dengan penolakan,menikah bukan main-main bagi Lea butuh pemikiran dan dengan orang seperti apa orang yang akan menjadi jodoh kita perlu kita tahu juga tidak asal mau saja pikir Lea.
"Biarlah tangan sang pencipta yang mengatur sebab orang yang baik akan bersanding dengan yang baik pula"
Ucapan bijak Lukman kembali terdengar dan mereka tidak bisa membantah karena bersumber dari tuntutan sang pencipta.
"Lagian main jodoh-jodohkan saja bagaimana kalau dia sudah punya calon ga enaklah dikira aku pelakor lagi.. memalukan "
Lea menepuk jidatnya sebab tidak terlintas di pikirannya akan ada pembahasan jodoh saat ini, memikirkan lelaki saja belum pernah ada dalam pikiran Lea apalagi jodoh.. pernikahan di tambah pelakor..aduh jauh-jauh pikir Lea.
"Jangan kaget putih saja sudah siap ta'aruf "
Ucap gundul dengan mulut yang langsung ditutup dengan kedua tangannya karena keceplosan.
"Serius putih..ih secepat itu kah ?"
Lea merasa waktu begitu cepat berlalu hingga tidak terasa mereka sudah tubuh menjadi dewasa dan siap untuk berumah tangga untuk regenerasi.
"Gundul.."
__ADS_1
Putih melempar kan buah rambutan ke arah gundul karena sudah membuka rahasia.
"Lah..itukan berita baik kenapa harus malu,lagian hanya kita-kita kok yang tahu"
"Dengan siapa put..?"
"Mas Ridwan.."
"Serius,pak yai akan jadi adik ipar mu put.."
Lea sangat tahu siapa anggota keluarga Lukman yang mempunyai dua orang kakak laki-laki salah satunya yang bernama Ridwan.
"Ya..mas Ridwan ingin putih jadi istrinya dan keluarga setuju "
Lukman menjelaskan pada Lea yang pasti tidak banyak tahu maklum saja karena perbedaan tempat.
"Kapan acara pernikahannya ?"
"Tiga bulan kedepan kalau tidak ada halangan"
Tutur putih yang sudah tahu karena sudah ada pertemuan kedua keluarga dan sudah menentukan waktu.
"Ya..sayang sekali aku tidak bisa ada saat putih menikah nanti"
Lea terlihat sedih tapi mau dikata apa tidak mungkin Lea melarang pernikahan putih karena apa hak Lea untuk itu.
"Doa kan saja acaranya lancar dan sukses tidak halangan"
Pinta Lukman yang selalu bijak dalam pemikiran dan perkataan.
"Aku kirim paket bulan madu saja mau..,kamu mau kemana sebagai hadiah dari aku"
Ucap Lea dengan perasaan bahagia melihat putih terlihat bahagia walaupun pernikahan belum berlangsung.
"Tidak usah jenderal kita orang kampung,kenapa harus ada bulan madu segala..apa nanti kata orang "
"Kenapa harus mendengarkan kata orang..aku kok yang memberikan hadiah,mau ya..mau ke Bali,Lombok atau labuhanbajo seperti orang-orang yang honeymoon "
Tanya Lea dengan antusias berharap putih mau menerimanya sebagai hadiah untuk teman kecilnya.
"Atau paket umroh sekalian ibadah honeymoonnya..siap akan aku siapkan juga pasport untuk kalian..atau mau ketemu aku di Amerika "
putih terlihat bingung dengan permintaan Lea yang sepertinya mudah mewujudkan mimpinya untuk sekedar jalan-jalan.
"Doa tulus saja sudah cukup buat ku jenderal"
Tutur putih dengan memeluk pundak Lea yang kebetulan duduk disampingnya.
"Aku mohon nikmatilah satu kali seumur hidup mu..aku turut bahagia dengan kmu menerima pemberian ku"
"Kamu belum kerja uang dari mana,aku ga mau pasti dari tuan besar "
"Aku ga semiskin itu putih..aku juga kerja semua mimpi-mimpi ku terealisasi dari uang kerja keras ku bukan uang papi dan Romo..kamu pasti masih sangsi lihat nih tabungan milik ku"
Lea membuka ponsel miliknya tertera aplikasi banking dan terlihat jelas berapa nominal jumlah uang dengan nol yang berderet di belakangnya.
Mereka hanya bisa menutup mulut mereka karena tidak percaya seorang Lea bisa memiliki sejumlah uang hasil kerjanya bukan dari pemberian orang tuanya.
"Dan ini untuk kerja keras kalian hari ini "
Lea mengeluarkan amplop untuk mereka bagi satu persatu yang sebenarnya malu menerima pemberian Lea.
__ADS_1
"Jangan khawatir yai..yang lain juga menerima dan sudah saya minta orang lain yang membagikan"
Lea tahu Lukman pasti memikirkan orang lain yang lebih berhak menerima pemberian Lea.