My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Hubungan batin


__ADS_3

Kehamilan Lea semakin mempererat hubungan Lea dengan Sigit,yang awalnya belum ada percikan rasa kini rasa itu makin dalam.


Keduanya ada rasa tidak ingin berjauhan,bagi Sigit merasa senang sebab dirinya semakin merasa di butuhkan oleh Lea dimasa kehamilannya.


"Pulang kerja nanti mau dibawakan apa sayang ?"


Sigit selalu menanyakan keinginan Lea sebelum berangkat kerja.


"Apa ya.. sepertinya saat ini belum ada keinginan mas "


"Ya,sudah tapi hubungi mas kalau ada keinginan biar mas belikan "


"Siap komandan" Lea memberikan tanda hormat seperti prajurit pada komandannya.


"Kenapa sih makin cantik dan mengemaskan sayang " Sigit mengusap lembut pipi Lea yang chubby dan kemerahan.


"Masa, bukannya makin gendut dan jelek "


"Gendut,jelek siapa yang bilang ?"


"Aku "


"Bagi mas apa pun keadaan mu sayang tetap cantik dan selalu bikin mas kangen "


"Duh..duh,makin pandai saja ya..menggombal" ucap Lea dengan memeluk satu tangan Sigit.


"Mas bukan merayu apalagi menggombal,mas berbicara apa yang mas lihat dan rasakan"


"Sudah..pergi sana nanti telat kebanyakan menggombal "


"Siapa juga yang akan memarahi mas sayang,ehm.."


"Mas anak mu butuh ayah yang bekerja keras bukan ayah yang suka menggombal " Sigit langsung tertawa mendengar ucapan Lea.


"Betul,anak ayah butuh susu dan makanan yang bergizi..siap ayah pergi kerja dulu temani bunda di rumah ya..ingat jangan bikin bunda sakit " ucap Sigit mengusap lembut perut Lea yang sudah membesar tinggal menunggu launching baby keluar.


"Sayang ingat jangan capek-capek dan jangan jauh-jauh cukup sekitaran rumah saja,dan ingat kalau ada sesuatu yang di butuhkan hubungi mas "


"Iya..ayah yang makin. bawel "


"Kok ayah yang bawel sih ?"


"Ya sudah ayah yang paling pengertian"


"Kok pengertian sih ?"


"lah kapan mau jalannya mas,apa harus aku ikut kerja lagi seperti beberapa bulan lalu"


"Maaf,ga sih..,ya sudah aku pergi dulu, assalamualaikum..ingat jaga diri" Sigit masih mengingatkan Lea yang membuat Lea geleng kepala karena lelaki yang dulu memberikan kini berubah jadi lelaki yang super nyebelin karena membatasi ruang geraknya.


Selepas kepergian Sigit Lea seperti biasanya berjalan-jalan disekitaran taman belakang yang banyak di tumbuhi tanaman sayur dan apotek hidup tumbuh subur.

__ADS_1


"Pagi mba Lea " sapa lelaki yang bekerja membersihkan rumah dengan sopan.


"Pagi pak " sapa Lea tidak kalah sopan karena melihat perbedaan usia.


Lea duduk disalah satu bangku yang sengaja disediakan untuk menikmati udara sejuk.


"Sayang asal kamu tahu ayah sangat mengkhawatirkan kita loh..sampai bunda tidak boleh beraktivitas di luaran sana " Lea berbicara dengan bayi dalam kandungannya dengan tersenyum seorang diri dan sesekali mengusap lembut perutnya yang semakin besar.


"Sayang kamu akan memberikan warna baru bagi ayah dan bunda.. terimakasih sudah hadir dalam perut bunda " Lea mengusap perutnya karena ada reaksi balasan dari buah hatinya dalam perutnya dengan gerakan kecil membuat Lea senang tersenyum sendiri.


"Jangan terkejut bila nanti ayah protektif pada mu ya..sayang karena dia begitu menyayangi kita berdua "Lea sering berbicara dengan bayi dalam kandungannya setelah diketahui kalau didalam perutnya telah hadir buah cinta dirinya dengan Sigit.


Matahari beranjak siang membuat Lea menyudahi acara jalan-jalan di taman belakang.


🌻


🌻


Selepas makan siang dan sholat dhuhur Lea ingin beristirahat tapi merasakan perutnya tidak nyaman dia memilih duduk dan membatalkan rencana untuk merebahkan tubuhnya.


"Sayang..apa kamu kangen ayah ? ehm..nanti ayah akan pulang bila sudah waktunya" Lea kembali berbicara dengan bayi dalam kandungannya karena perutnya merasa mulas tapi tidak lama hilang.


Proses itu berulang dan kembali membaik tapi Lea lebih memilih diam didalam kamarnya.


🌹


🌹


Di tempat lain Sigit juga merasakan perutnya tidak nyaman sesekali sakit tapi hilang beberapa saat membuat pekerjaannya sedikit terganggu.


"Tidak tahu Fan, perut ku mulas tapi sudah sedikit membaik" ujar Sigit masih menahan sakit.


"Apa tidak sebaiknya mas pulang saja,soal kerjaan biar aku yang pegang"


Arfan seperti biasanya mengerti dan memahami keadaan Sigit yang sangat bertanggungjawab terhadap pekerjaan.


"Aku kasihan sama kamu sejak istri ku hamil sering membebani pekerjaan pada mu "


"Apa sih mas,bukankah di rumah mas juga masih memegang tanggungjawab pekerjaan ini "


Arfan tahu Sigit tidak lepas tangan dia tetap mengerjakan kewajibannya.


"Sudahlah aku masih bisa menahannya..nanti bila tidak kunjung membaik aku akan pulang "


Arfan hanya bisa pasrah dengan keinginan Sigit untuk tetap menyelesaikan pekerjaannya.


Ternyata Sigit tidak menyadari kalau dirinya merasakan ikatan batin dengan Lea dan buah hatinya sangat kuat, seperti saat ini Lea merasakan kondisi perutnya yang mulai kontraksi tapi dai tidak menyadarinya.


Apa karena Lea wanita yang kuat sehingga di merasakan kalau dirinya merasakan kontraksi ada perutnya.


"Mbok..apa Lea istirahat di kamarnya ?" tanya Romo pada wanita yang mengurusi keperluan rumah.

__ADS_1


"Ya..Romo sepertinya cah ayu istirahat siang di kamarnya"


"Ya,sudah aku takut dia keluar rumah karena sudah menjelang persalinan" Romo ikut memperhatikan Lea yang memang tidak mau diam.


"Maaf Romo aku kembali ke dapur"


"Ya..sudah lanjutkan apa yang sedang kamu kerjakan"


"Ya..Romo "


Romo kembali melanjutkan duduk di sofa dengan menonton TV yang kebetulan menyiarkan berita siang ini.


Tidak lama Sigit pulang yang membuat Romo bertanya sebab tidak biasa Sigit pulang cepat.


"Assalamualaikum"


Sigit mengucapkan salam dijawab oleh Romo yang kebetulan ada disana duduk di sofa seorang diri.


"Waalaikumsalam,tumben pulang cepat le.."


Tanya Romo yang tangannya di cium oleh Sigit dengan takzim yang sudah jadi kebiasaan Sigit.


"Ya..Romo perut ku tidak enak "


"Lah.. kamu makan apa,kok bisa sakit ?"


"Aku tidak makan apa-apa hanya makan rumah sebelum berangkat kerja dan di kantor hanya minum saja aku belum sempat makan karena perut ku tidak enak "


"Sana cepat makan dan langsung minum obat ,minta tolong sama mbok..mbok bantu Sigit buatkan teh hangat dan berikan dia makan juga obat sakit perut" pinta Romo dengan suara memanggil perempuan yang sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.


"Sudah mo..biar aku saja sendiri kasihan mbok yang pasti sedang mengerjakan pekerjaan"


Sigit merasa sungkan bila harus meminta tolong kepada pekerja rumah karena dia hanyalah seorang menantu disini.


"Ya..Romo,ndak apa-apa mas mbok akan siapkan" wanita paruh baya itu bergegas menuju dapur.


"Mo..aku pamit untuk membersihkan diri dahulu"


"Ya..sudah,lekas kembali untuk makan dan minum obat"


"Ya,mi.. terimakasih" dengan sedikit membungkukkan badannya Sigit menuju kamarnya.


Didalam kamar Sigit begitu terkejut melihat Lea yang berkeringat membasahi dahinya.


"Assalamualaikum,sayang kenapa ? ada yang sakit dimana ?" Sigit langsung memberondong Lea dengan pertanyaan dengan tidak sabaran.


"Waalaikumsalam,ehm..mas tanyanya satu satu,ehm..perut aku mulas tapi hilang dan datang..lagi bergantian "


"Kenapa tidak meminta tolong sayang,ini namanya kontraksi..ayo kita langsung ke rumah sakit.. sebentar mas siapkan yang akan di bawa kesana " dengan gugup Sigit mencari tas yang sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk persiapan persalinan.


"Ayo..biar mas gendong ya ?" pinta Sigit yang melupakan rasa sakit di perutnya.

__ADS_1


Sigit masih bis mengunakan akal sehatnya walaupun dengan gemetar karena mengkhawatirkan Lea dan bayinya.


Apa ini waktunya Lea melahirkan,Sigit hanya melakukan yang menurut dirinya saat ini Lea harus di bawah ke rumah sakit.


__ADS_2