
Sudah hampir tiga minggu mbok nah ijin untuk pulang ke perkebunan pada Deandra yang membuat Lea semakin merindukan sosoknya.
"Mba..kapan ibu pulang ?"
"Mba kurang tahu dek,memang kenapa, kangen?"
Tanya Titi pada Lea yang kebetulan menghampirinya masuk ke dapur, karena saat ini Titi yang menyiapkan makan pagi untuk keluarga besar suaminya.
"Ya..sudah terlalu lama ibu pulang "
"Jemput aja ke perkebunan dek"
"Ga,bisa mba kerjaan ga bisa ditinggal"
"Kasihan sini mba peluk"
Titi langsung memeluk Lea dengan erat berharap sedikit berkurang rasa rindu akan mbok nah.
"Telpon saja dek.."
Kini Kinan yang memberikan saran pada Lea yang terlihat sedih karena kehilangan sosok mbok nah dalam beberapa minggu ini.
"Kok aku lupa ya..mba "
Lea langsung berlari kedalam kamarnya untuk mengambil ponselnya miliknya dan mulai menghubungi nomor ponsel milik mbok nah.
Beberapa saat Lea menghubungi tapi tidak dijawab oleh pemilik ponsel yang membuat Lea murung.
Lea kembali menghubungi nomor ponsel mbok nah dan kali ini terhubung tapi suara yang menjawab bukan suara mbok nah.
"Assalamualaikum..ibu,Bu kapan pulang "
Lea langsung bicara begitu nomor ponsel itu terhubung tanpa menunggu pemilik nomor yang Lea hubungi berbicara terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam..maaf,ini bukan dengan ibu sebab ibu ada di dapur tunggu sebentar akan aku sampaikan pada ibu "
Pada akhirnya lea diam begitu suara diseberang sana menjelaskan kalau saat ini dia bukan berbicara dengan mbok nah tapi suara seorang pria yang terdengar sopan.
"Bu..bicaralah,biar aku yang lanjutkan pekerjaan ibu "
Ucap lelaki itu yang Lea dapat mendengarnya dengan jelas karena ponsel tersebut tidak dimatikan, suara lelaki itu meminta mbok nah menjawab panggilan dan pekerjaan mbok nah dirinya yang melanjutkan.
"Assalamualaikum cah ayu "
"Waalaikumsalam Bu.."
"Cah ayu sehat ?"
"Sehat,ibu bagaimana?"
"Alhamdulillah..sehat "
"Bu.. sepertinya ibu senang disana sampai lupa untuk mengetahui kabar anak mu disini "
Ada rasa cemburu yang mbok nah rasakan dari tiap kata yang Lea ucapan,mbok nah pun bisa merasakan.
"Tidak seperti itu cah ayu,ibu akan secepatnya pulang "
"Jangan terburu-buru Bu,bila urusan ibu masih belum selesai..aku baik-baik saja kok hanya kangen saja saat ini sama ga ada yang makanan seenak masakan ibu "
Ucap jujur Lea yang berkaca-kaca matanya ingin dirinya berkata jujur kalau dirinya ingin mbok nah saat ini ada disini saat ini .
__ADS_1
Lea terdiam menahan tangisnya dan diseberang sana putra mbok nah berbicara dengan mbok nah yang bis ke dengar dengan jelas.
"Bu..ini sudah saya siapkan,ayo kita sarapan bersama "
Ucapan itu terdengar biasanya saj tapi tidak dengan Lea suara itu terdengar seperti mbok nah direbut dari sisinya oleh mereka yang Lea rasakan.
"Ya..kalian saja duluan"
Lea yang merasa tidak enak hati memilih ijin untuk mengakhiri bicara lewat ponsel pada mbok nah.
"Bu..nanti aku hubungi lagi sepertinya mba Titi memanggil ku, assalamualaikum Bu..Lea kangen ibu"
Lea mengucapkan kata rindu sebelum menutup bicara lewat ponsel, kalau saja mbok nah ada didekatnya pasti akan memeluk Lea karena Lea langsung memeluk bantal dan menangis.
'Seperti ini kan rasanya merindukan seseorang orang '
Dalam tangisnya Lea berbicara dengan hatinya dan sesekali terisak mengeluarkan sesak di dalam dadanya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Cah ayu ya..Bu ?"
Tanya putra kedua mbok nah pada ibunya yang terlihat murung setelah Lea menutup panggilan masuk dari ponsel.
"Sepertinya cah ayu sedih "
Mbok nah cukup mengenal seperti apa Lea yang bis menutupi kesedihannya didepan orang lain hanya pada orang tertentu dia bisa menangis untuk mengeluarkan rasa yang menyesakan dadanya.
"Kapan ibu kembali kasihan dia Bu "
Kini putra pertama mbok nah yang bicara sebab dia yang mengangkat panggilan masuk dari ponsel milik ibunya
Mbok nah menjelaskan kepada kedua putranya yang cukup paham tapi tidak dengan putra pertama yang langsung bertanya.
"Kita.. maksud ibu ?"
"Ya..ibu,Romo juga kamu mas "
"Aku harus ikut.. bukankah cah ayu meminta waktu"
"Ibu juga tidak tahu,ibu hanya mengikuti permintaan Romo nak "
"Ya..sudah,akan aku rapikan terlebih dahulu pekerjaan ku "
"Cie..cie,yang akan ketemu calon istri "
"Apa sih dek..ga gitu "
"Sudah ga sabar ya..mas ?"
"Ga,biasa aja sudah sering juga lihat bahkan dia di Amerika juga aku lihat dia,dia aja yang ga tahu "
"Cie..cie,yang sudah curi-curi star "
"Ga..gitu dek,memang aku tahu bakal ceritanya begini "
"Tapi udah mulai suka kan?"
Goda putra kedua mbok nah yang bernama Chalis Pradipta pada kakak lelakinya yang bernama Sigit Hanenda.
"Kalau pun suka nggak akan berani lah dek siapa kita "
__ADS_1
Mbok nah hanya jadi pendengar saja saat kedua putranya saling menggoda.
"Terus sekarang berni gitu "
"Ga,lah..sudah kamu makin cerewet saja "
"Mumpung mas lagi mode on.. kalau sudah off susah paling hanya ehm.."
Ucap Chalis Pradipta yang lebih sering disapa mas Dip atau dokter Dipta yang tersenyum senang menggoda kakaknya saat ini.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat yang berbeda Lea terlihat tidak bersemangat dalam mendengarkan penjelasan dari bang Dik,masing teringat kebersamaan mbok nah dengan putranya.
"Stt..sakit gigi ? "
Tanya seseorang yang duduk disebelah Lea yang melihat Lea memegang salah satu pipinya.
Lea bukannya menjawab hanya menggelengkan kepalanya karena malas untuk menjawab pertanyaannya.
"Tapi kau memang sebelah pipi mu "
Lea hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban karena masih dalam mode malas untuk berbicara sebab pikiran bukan berada di tempat kerja melainkan berada di mana mbok nah berada saat ini.
Hingga penjelasan selesai Lea lebih memilih diam,tidak seperti biasanya banyak bertanya dan mengeluarkan ide-ide brilian yang membuat departemen selalu mendapatkan pujian dari pemilik perusahaan.
"Si manis,ada saran ?"
Tanya bang Dik pada Lea yang memainkan bolpoin yang diketuk ketukan di atas meja asal dengan tatapan kosong.
"Lea, ditanya bang Dik tuh "
"Iya..bang,maaf "
Balasnya dengan gugup karena melamun yang membuat semua tertawa karena ulah Lea yang gugup.
"Tenang malam mingguan dua hari lagi..sudah kangen ya ?"
Goda bang Dik pada Lea yang terlihat biasa saja tidak berpengaruh tapi tidak dengan yang lain sebab Lea tidak biasanya melamun bila atasan memberikan penjelasan.
"Bener nih..sudah ada yang di rindukan?"
Goda bang Dik selepas memberikan penjelasan,yang membuat Lea kembali terlihat gugup karena kembali pikirannya melayang jauh.
"Et..dah,tumben sih banyak melamun"
"Maaf bang,gue kangen ibu "
"Busyet gue kira kangen pacar,emang ibu kemana sih ?"
"Pulang kampung "
Jawab Lea yang bersiap meninggalkan tempat dengan muka lesu tidak bersemangat.
"Ternyata kamu masih bocil..kacian, cup..cup kita susul ini yuk "
Goda yang lain pada Lea dengan tersenyum jail menggoda Lea berharap suasana hatinya kembali lagi.
Kedekatan mbok nah dengan putranya mengusik hati Lea yang membuat moodnya kacau bahkan hari-harinya tidak bersemangat,bahkan Lea baru merasakan hal seperti ini dalam hidupnya.
Ingin rasanya hati merebut kebersamaan mbok nah dengan putranya tapi apa hak Lea..hanya bisa menjerit keras dala hati,sakit tapi tidak berdarah...
__ADS_1