My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Tawaran yang menggiurkan


__ADS_3

Setiap perusahaan ingin memiliki pegawai yang berdedikasi tinggi terhadap perusahaan untuk menghasilkan produk yang dapat terjual banyak di pasaran tentu saja dengan diimbangi mutu yang terbaik dari pada produk yang dihasilkan oleh perusahaan lain walaupun dalam bentuk yang sama.


Hilmi tahu Lea telah lulus bahkan dia satu-satunya lulusan terbaik dari yang terbaik di angkatannya,dia mendapatkan kabar langsung dari Nathan yang masih saja mencari tahu tentang Lea walaupun keduanya sudah berjarak.


"Apa kamu ga butuh karyawan seperti Lea, cepat ambil sebelum yang lain memintanya"


Hilmi yang langsung mendapatkan pernyataan tegas dari Nathan lepas dari ingin hubungannya dekat lagi dengan Lea.


"Sebenarnya aku ga enak,pasti Lea mengira atas permintaan kamu "


Menurut Nathan ucapan Hilmi ada benarnya juga tapi dia cukup tahu Lea punya potensi dan perusahaan Hilmi salah satunya terbaik yang Nathan tahu untuk jenjang karir Lea.


"Usaha dulu lah,apa kamu tidak menyesal bila Lea di rebut perusahaan lain"


Ucapan Nathan Bent juga pikir Hilmi,Lea memang punya potensi di bidang otomotif yang jadi primadona perusahaan Hilmi.


"Ok..memang ga ada keinginan untuk mendapatkan Lea lagi bro ?"


Hilmi bertanya pada Nathan yang terdiam dengan mendengar pertanyaan Hilmi,yang sebenarnya tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada Lea yang masih ada rasa hingga saat ini.


"Seandainya aku boleh jujur..rasa itu tetap sama tidak berubah sedikitpun pada Lea.. entahlah susah untuk melupakan dia dari pikiran ku padahal baru mengenal belum menjalin hubungan lama "


Hilmi cukup mengerti dengan apa yang Nathan ucapkan, sebab Hilmi pernah secara pribadi melihat kepribadian Lea yang sopan dan ramah.


"Bagaimana dengan Davina?"


"Aku ga mau dengar,itu urusan mommy bukan aku"


Hilmi tersenyum melihat Nathan yang enggan mendengar Nathan yang sensi bila mendengar nama Davina.


"Udah cepat panggil anaknya kemari,suruh pihak HRD jangan kelamaan mikir"


Bentak Nathan seperti biasanya seenak hatinya kalau sudah berkehendak tidak boleh tidak dan harus detik ini juga di jalankan.


"Iya..Nat..Nat,ga sabaran banget sih"


"Bodoh amat..!"


Balas Nathan yang langsung ngeloyor pergi tanpa pamit pada Hilmi yang hanya geleng kepala.


"Kelakuan persis bocah minta dijajanin ice cream di toko sebelah..pantas Lea menjauh kamu suka maksa Nat..Nat "


Tidak lama Hilmi memanggil pihak HRD untuk menghubungi Lea,dan memintanya untuk langsung menghadap dirinya secepatnya.


"Hari ini Mr.."


Tanya lelaki yang memiliki tanggungjawab sebagai kepala HRD pada Hilmi yang terlihat serius mengerjakan sesuatu di lektop miliknya.


"Kalau bisa besok saja tahun tikus..ya .iya masa nanti "


Hilmi langsung menutup mulutnya,dia tanpa sadar sudah tertular sikap seperti Nathan.


"Ada tambahan lain Mr...?"


"Tidak..kamu boleh pergi"


Selepas kepergian lelaki itu Hilmi memarahi dirinya sendiri karena kesal akan Nathan jadi berimbas pada dirinya.


"Astaghfirullah..Nat..Nat, gara-gara kamu..aku jadi memaki orang"


Hilmi memegang kepalanya yang sebenarnya tidak sakit, seperti meratapi kesalahan yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Pemberitahuan itu secepatnya kilat sampai pada Lea, dengan berat hati Lea memenuhi panggilan itu untuk menghadap.


"Hai..tumben ke sini,kangen ?"


Tegur Arjun yang kebetulan bertemu Lea yang berada di meja resepsionis tidak seperti biasanya bertemu di tempat yang di janjikan bila ingin bertemu diluar jam kerja.


"Abang kepedean..bang"


"Dari pada minder..mending kepedean Lea"


Balas Arjun dengan mengacak rambut Lea seperti biasanya seperti kakak laki-laki ke adik perempuannya.


"Abang,Abang sudah merusak penampilan saya..hi, tunggu ya pembalasan adik mu"


Arjun hanya tertawa kecil karena suka bila Lea membalas keusilannya.


"Ada perlu apa ehm..?"


"Di panggil bos besar..kangen kali, padahal baru beberapa bulan ga ketemu"


Canda Lea pada Arjun yang langsung menghampiri Lea lebih dekat.


"Hus..kalau bener gimana?"


"Kirain mau menegur ga tahunya mendukung..ini sudah ga bener "


"Aku dukung kalau bisa besar sama kamu.. serius"


"Saya yang ga..sebab ada udang di balik tepung krispi..ya,kan Abang akal bulus mu..tidak sepintar isi otak saya tidak bisa tertipu"


"Miss Lea,di tunggu Mr.Hilmi di ruangannya"


"Terimakasih.."


"Abang..saya duluan salam untuk Uni.."


"Lea..Lea aku dukung"


"Apa sih..bang,sana hus..hus..belum waktunya makan"


"Memang aku kucing kamu usir,usir hus..hus,adik jahanam.."


"Abang durhaka"


Keduanya masih saling membalas sebelum berpisah didepan tangga dan menyudahi setelah berbeda lantai.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terlebih dahulu Lea bertemu sekretaris Hilmi untuk menjelaskan tujuannya dan sekretaris menemani Lea masuk kedalam ruangan Hilmi yang kebetulan duduk di kursi kebesaran miliknya dengan berwibawa.


"Terimakasih Silvi..kamu boleh keluar"


"Lea kamu boleh duduk"


"Terimakasih Mr."


Ruangan yang besar dengan wangi aroma terapi yang cukup membuat nyaman siapa pun yang berbeda didalamnya.


"Kamu tahu apa tujuan saya memanggil kamu kesini?"

__ADS_1


"Maaf Mr.sayabtidak tahu"


'Kalau saya tahu bakal memilih datang atau tidak..lagian saya bukan anak paranormal Mr..mau tebak tebakan,aneh sama saja dengan temannya tidak ada bedanya..'


"Jangan suka menghakimi orang yang belum tentu kebenarannya"


"Ha.. menghakimi,maksud Mr..?"


Lea bingung dengan kata yang baru saja keluar dari mulut Hilmi karena dirinya tidak merasa menghakimi orang yang ada didepannya.


"Sudahlah tidak penting juga"


"Ok.. langsung ke pokok masalah saja"


"Maaf saya tidak punya masalah dengan Mr..saya jadi bingung?"


Bukannya menjawab Hilmi yang melihat kepolosan Lea berujung tertawa kecil,dan berpikir akan Nathan yang selalu mengejar Lea.. mungkin ini yang bikin Nathan susah move on, kepolosan Lea, ramah apa adanya pokoknya paket lengkap.


"Kamu tidak ada masalah dengan saya tapi sudah bikin gila teman saya "


Akhirnya Hilmi menjawab asal saja padahal awalnya ingin bicara serius dengan Lea tapi melihat Lea yang polos dan jujur bikin Hilmi jadi mengurungkan niatnya untuk bicara serius.


"Mr..ga salah bicarakan kalau kak Nathan gila,kasihan sekali terus sekarang dirawat dimana ?"


Hilmi makin ingin tertawa seandainya saja Nathan ada disini dirinya akan habis di tangan Nathan karena menjatuhkan nama baiknya didepan pujaan hatinya.


"Tidak dirawat hanya berobat jalan saja"


Jawab Hilmi asal dengan menahan tawa yang ingin dia lepaskan tapi tidak ingin terlihat kalau dirinya hanya bercanda.


"Sudahlah biarkan dia dengan kegilaannya pada kamu..kamu yang masih waras mau saya tawarkan pekerjaan "


"Pekerjaan?"


"Ya.. saya tawarkan pekerjaan di perusahaan saya kamu mau ?"


"Sepertinya tidak Mr..saya akan pulang ke negara asalnya saya "


Hilmi di buat penasaran kenapa Lea dengan tanpa berpikir menolak tawaran dari dirinya dan perusahaan yang dia pimpin.


"Soal gaji kamu bisa tentukan sendiri,saya tidak akan bernegosiasi lagi dengan kamu.. tinggal sebutkan nominalnya terserah kamu saya langsung setuju "


"Terimakasih Mr.. sepertinya saya tidak tertarik,tapi sebelumnya terimakasih sudah mempercayakan saya untuk bergabung dengan perusahaan Mr..tapi saya harus pulang dan tidak bisa di tunda itu sudah keputusan saya sejak awal berkuliah disini "


'Nat.. ternyata ada satu lagi orang yang tidak bisa di ubah pendiriannya seperti kamu..memang kamu tidak cocok bila bersama dengan Lea saling keras dalam berpendirian '


Hilmi hanya bisa diam sebab mau bagaimana pun Lea sudah tidak berkeinginan untuk bekerja di perusahaan manapun hanya satu tujuannya pulang ke negaranya.


"Serius kamu tidak ingin bergabung "


Tanya Hilmi lagi untuk menyakinkan Lea lagi karena tidak semua orang ingin pulang ke negaranya setelah lulus tapi tidak semua juga yang mau tinggal di negara dimana dirinya menuntut ilmu.


"Terimakasih kasih Mr.. saya tetap ingin pulang karena di sana tempat saya dilahirkan dan dibesarkan dengan keluarga yang penuh kasih sayang kini waktunya saya mengamalkan ilmu yang saya dapatkan dan di sanalah ilmu saya dibutuhkan.


Hilmi yang awalnya menilai Lea keras kepala dengan pendiriannya kini dia tarik pernyataan itu, ternyata tujuannya mulia.


"Entah kapan lagi saya bisa menemukan pribadi yang seperti kamu dalam waktu dekat"


Lea hanya diam saja tidak ingin menimpali ucapan Hilmi yang masih terlihat seperti berpikir.


Hilmi makin yakin Nathan akan semakin kehilangan karena Lea akan pulang ke negaranya bisa jadi dalam waktu dekat,terpikir oleh Hilmi akan sikap dingin Nathan yang akan menjadi karena kehilangan Lea.

__ADS_1


__ADS_2