My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Bersama keluarga


__ADS_3

Setiap pribadi memiliki keunikan tersendiri saat menjelang hari dimana akan merubah status termasuk Sigit,dia lebih banyak berserah diri kepada Allah dan banyak mencari tahu bagaimana cara membahagiakan pasangannya.


"Inilah lelaki hebat yang beberapa hari lagi akan berubah status"


Goda Chalis Pradipta pada Sigit yang merapikan rumah seperti biasanya,tanpa merasa sungkan padahal dia memiliki perusahaan dan asisten sekaligus kepercayaan Romo.


"Dek..senang banget sih menggoda mas mu "


Tegur mbok nah pada putra keduanya yang selalu menggoda kakak lelakinya yang tidak pernah marah bahkan lebih terlihat menyayangi dirinya.


"Bersyukurnya cah ayu mempunyai suami seperti mas,yang serba biasa "


Ucap Chalis Pradipta pada Sigit yang hanya mendengarkan tanpa menanggapi ucapan adiknya.


"Bu..apa cah ayu seperti yang kita lihat dalam keseharian?"


Chalis Pradipta bertanya pada mbok nah yang kebetulan baru saja menyelesaikan pekerjaannya di dapur.


"Setiap pribadi memiliki keunikan tersendiri begitupun dengan cah ayu"


Ujar mbok nah dengan tutur kata yang lembut dia menjawab rasa penasaran putra keduanya.


"Aku ga paham apa maksud ibu?"


Chalis Pradipta kembali bertanya karena jawaban dari ibunya kurang memuaskan dirinya.


"Cah ayu memiliki sisi rapuh seperti anak gadis lainnya yang perlu perhatian dari seorang ibu dan ayah lengkap seperti anak-anak lainnya tapi dia mampu menutupi rasa rapuh itu didepan semua orang,dia gadis hebat tidak ingin orang melihatnya lemah bahkan lebih terlihat mandiri,tegas,berani dan selalu ingin membantu orang lain dengan segala kemampuannya "


Mbok nah menjelaskan pada putra keduanya dengan penjelasan yang dia tahu sesuai apa yang dia lihat dalam keseharian Lea.


"Sepertinya aneh ibu,gadis secantik dengan kepribadian perfek seperti yang ibu bilang tidak memiliki kekasih"


Chalis Pradipta hanya ingin mengetahui lebih banyak calon kakak iparnya tanpa ada maksud lain.


"Yang ibu tahu pernah ada yang meminta cah ayu untuk menjadi menantu langsung kepada Romo tapi dia berlaku tidak sopan bahkan dengan sengaja berniat tidak senonoh pada cah ayu, karena itu Romo langsung menolaknya dan untuk teman lelaki sepertinya cah ayu lebih memilih berteman baik tidak lebih "


"Apa cah ayu tipe pemilih ?"


"Soal itu ibu belum pernah dengar langsung dari cah ayu yang jelas dia lebih suka berteman dengan siapapun"


"Wanita juga berhak memilih dek "


Akhirnya Sigit ikut bicara dan ikut bergabung bersama kedua orang yang di sayangnya.


"Cie..cie,sudah berani membela calon istri nih"


"Ga, membelah hanya bicara fakta saja"


"Apa mas sudah mulai mempunyai rasa sama cah ayu?"


Chalis terlihat serius bertanya pada kakak lelakinya yang tidak pernah terdengar mengagumi seorang wanita manapun selama ini.


"Insyaallah sudah kalau pun belum setidaknya sudah mulai merasakan nyaman saat bersamanya"


"Memang mas sudah merasakan seperti itu?"

__ADS_1


Sigit mengangguk tanda dirinya sudah bisa menerima kehadiran Lea dalam kehidupannya.


"Secepat itukah mas menerima kehadiran cah ayu di hati mas "


"Untuk itu mas ga bisa menjelaskan tapi hati ini bisa dengan mudahnya menerima kehadirannya,bagi mas sudah cukup menyakinkan diri mas kalau cah ayu calon istri mas "


"Mas sudah teracuni cinta buta Bu "


"Hus.. kalau bicara yang baik-baik nak "


"Ya..maaf "


"Mohon dimaklumi saja Bu..nanti juga dia kena racun yang baru saja disebutkan "


"Ya..bolehlah tapi tunggu mas beres nikah dulu "


"Apa kamu sudah punya calon,jangan mainkan anak gadis orang "


Mbok nah meminta putra keduanya untuk menjelaskan pada dirinya yang dibilang sudah sangat pantas untuk bersanding dengan pasangan hidupnya.


"Tenang Bu.. belum ada dan ga akan memainkan gadis orang "


"Ibu ga mau dengar ya..putra ibu mempermainkan hati wanita "


Tegur mbok nah pada putranya yang terlihat tersenyum sendiri karena protes keras ibunya yang bersiap akan mencubit hidung mancungnya.


"Maaf..,maaf Bu,aku ga akan mempermainkan wanita manapun "


Teriak Chalis Pradipta yang berlari kecil menghindar dari cubitan ibunya yang baru saja bangun dari duduknya.


"Ibu yakin cuma adik mu itu suka sekali usil "


"Apa ada yang ingin kmu tanyakan kepada ibu ?"


"Bu.. bagaimana caranya untuk menenangkan cah ayu bila bersedih?"


Mbok nah bukannya menjawab,wanita yang masih terlihat seperti segar di usianya itu lebih dulu tersenyum dari pada menjawab.


"Apa ini salah satu yang kamu khawatirkan anak ku ?"


"Ya..Bu,sebab setiap orang pasti ada sisi lemahnya yang tidak akan dapat dilihat oleh orang lain "


"Ibu yakin kamu bisa menghentikan tangis cah ayu dan menghilang kesedihan "


"Aku sendiri saja tidak yakin karena itu aku bertanya pada ibu.. karena cah ayu selalu terlihat baik-baik saja dan bahagia "


"Jika cah ayu bersedih dia akan susah diajak bicara usahakan untuk selalu ada didekatnya pastikan dia tetap makan dan bicaralah secukupnya saja..bila mana dia sudah sedikit nyaman dia akan menangis dan peluklah dia akan lekas membaik "


"Itu mah mudah mas,aku kira minta di beliin sesuatu yang tidak bisa kita beli "


Ucap Chalis Pradipta yang sudah berada disampingnya Sigit dengan duduk bersila.


"Hus..cah ayu ga akan meminta apapun "


"Dek..jangan asal bicara ibu yang banyak tahu"

__ADS_1


"Maaf mas "


"Cah ayu bukan gadis yang rumit kalau kenal dekat "


"Ada satu lagi ga Bu,buat aku "


"Sepertinya ga ada nak..mungkin akan ada jodoh yang terbaik didepan sana untuk mu nak.. sabar ya "


"Perbaiki diri dulu dek..kamu masih suka jail sama orang "


"Ga,jail mas cuma ingin lebih akrab aja "


"Iya..tapi dikurangi sedikit biar terlihat serius dimata wanita "


"Dengerin tuh mas mu bicara nak "


"Iya..Bu "


"Iya,iya tapi ga ada perubahan "


Chalis Pradipta tersenyum menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal karena malu.


"Untuk persiapan sudah bereskan ?"


"Insyaallah Bu..beres kita tinggal datang ke hotel untuk persiapan "


"Mas yang mau nikah kenapa aku ga yang berdebar "


"Karena kamu juga akan merasakan momen sakral itu sebagai adik "


Ujar mbok nak dengan tersenyum membuat Chalis Pradipta paham diantara mereka tidak ada sosok ayah yang seharusnya ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Kita sudah cukup bahagia dan jangan lupa untuk bersyukur"


"Iya Bu "


Jawab kedua putra mbok nah dengan lembut serta tersenyum yang membuat mbok nah semakin yakin dirinya tidak salah mendidik putranya.


"Mas, apakah mas akan memberikan kebebasan untuk cah ayu berkarir ?"


"Aku yakin cah ayu akan tahu apa prioritasnya sebagai seorang istri jadi mas tidak akan pernah melarangnya apa yang membuat cah ayu senang lakukan "


"Mas yakin cah ayu akan memprioritaskan keluarga terlebih dahulu "


"Yakin karena dia di didik oleh seorang ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang "


Sigit menggenggam tangan mbok nah seperti berterimakasih kepada ibunya yang sudah memberikan kontribusi terbesar kepada calon istrinya.


"Terimakasih ibu yang sudah menyiapkan calon istri untuk ku "


"Ibu yang seharusnya berterimakasih karena ibu selalu memaksakan keinginan ibu dan kalian berdua selalu saja mengabulkan permintaan ibu "


"Tidak ibu..ibu tidak pernah memaksakan keinginan ibu,kami berdua hanya ingin melihat ibu bahagia itu saja tidak lebih "


Mbok nah dan kedua putranya berpelukan bukan karena bersedih hati tapi berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2