
Masa liburan Lea dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya bersama keluarga besarnya terutama dengan keponakan barunya yang sangat cantik,dia salah satu princess kecil keluarga besar Deandra.
Lea sedikit terkejut dengan nama yang diberikan pada putri cantik mas Arya yang menurut mba Kinan terinspirasi dari Lea yang mandiri.
Alleia Aryana nama yang terdengar hampir sama bila terdengar samar-samar dengan nama Lea,itu nama yang mas Arya berikan pada putri cantiknya.
"Ih..bikin gemes,ingin aku culik kamu biar aku bawah pergi bersama ku"
Alleia hanya tersenyum melihat Lea yang gemas padanya,pipi chubby itu bersemu merah menambah manis wajah mungil Alleia.
"Sepertinya mau ada tamu ya..mba"
Tanya Lea yang melihat kesibukan art yang tidak seperti biasanya,mulai dari taman depan,ruang tamu utama hingga dapur seperti bersiap menyambut kehadiran tamu.
"Seperti biasanya dek.. pertemuan rutin keluarga besar Romo yang ada di sekitar sini"
Titi menjelaskan pada Lea yang memang jarang malah hampir tidak pernah tahu untuk urusan soal seperti ini.
"Oh..kirain ada tamu penting pejabat atau apalah "
Oceh Lea dengan santainya sebab baginya tidak penting juga untuk dirinya.
"Lamaran kamu gitu maksudnya ?"
Goda Arya yang baru saja ikut bergabung,ucapan Arya membuat Lea bergidik geli bahkan lebih dari itu.
"Kebiasaan deh, mas Arya mulai ini.. jangan bangunkan macan tidur bisa di gigit sakit nanti"
Balas Lea asal membuat Arya tertawa lepas bahkan sampai air matanya keluar.
"Eh..malah ketawa ga lucu kali"
Omel Lea pada Arya yang memang paling jago menggoda Lea kalau belum bikin Lea kesal belum selesai Arya menggoda Lea.
"Wajar kali deh, kalau ada yang datang melamar "
Ujar Titi terdengar santai tapi sampai ke dalam relung hati paling dalam bagi Lea.
"Mau cari apa lagi,yang kamu mau sudah hampir tercapai..kini tinggal cari yang bisa jadi teman curhat dek"
Abimana ikut nimbrung bahkan yang paling tepat ke sasaran mungkin diamnya Abimana memperhatikan sepak terjangnya Lea.
"Mau cari yang seperti apa ?"
Kinan yang paham dengan karakter Lea,yang mandiri berjiwa bebas memang terbilang sulit untuk mencari pendamping pasti akan bertolak belakang bila dipasangkan dengan karakter yang menginginkan wanita rumahan yang hanya mengurusi rumah,suami dan anak saja.
"Yang cukup mengerti aku, simpelkan "
Pada akhirnya keempat orang dewasa itu hanya bisa diam sebab akan sulit mencari seseorang yang seperti yang Lea mau.
__ADS_1
"Dari kalangan mana pun boleh tapi yang seperti aku katakan barusan cukup mengerti aku,sudah tidak ada syarat lain "
Wanita yang mandiri memang hanya butuh dimengerti,tapi untuk menebak apa maunya butuh jiwa yang besar sebab sekali dia merasa terkekang secepatnya dia akan ingin lepas dan semakin menjauh.
"Udah..ah,ga asyik ganti topik"
Pada akhirnya Lea yang menyudahi perdebatan yang Lea pikir belum tepat waktunya,akan ada yang tepat pada waktu yang tepat.
"Paling enak di dapur nih..mas Bian,ayo kita cari sesuatu yang enak-enak"
Ajak Lea pada salah satu jagoan yang asyik bermain tidak memperdulikan perdebatan orang dewasa.
"Ayo, aunty"
Sambut Biantara pada Lea yang memegang tangannya erat menuju dapur.
"Mas Erlangga dan mas Ganendra mana mas,kok aunty ga lihat dari tadi "
Tanya Lea pada jagoan yang sudah tidak kecil lagi sudah masuk sekolah, apalagi sekarang sudah punya adik makin terlihat dewasa dimata Lea.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Menjelang sore tamu berdatangan memenuhi kediaman Deandra yang sudah menyiapkan penyambutan untuk tamu yang masih ada hubungan kerabat dekatnya karena mengambil garis keturunan dari Romo keturunan darah biru.
"Silakan..ayo masuk ga usah sungkan "
Pinta Deandra pada tamunya untuk menikmati makanan yang tersaji dengan beberapa pilihan menu berjejer rapi.
Pinta Kinan pada anak pertamanya yang menghindari kejaran mas Garendra yang menggodanya.
"Kena.."
Ucap Ganendra pada Biantara yang langsung tertawa kecil dalam dekapan tangan Ganendra.
"Sama aunty ya.."
Pinta Titi pada kedua jagoan keluarga Deandra,yang takut keduanya jatuh karena banyaknya tamu yang datang.
"Ya..mi"
Jawab keduanya yang langsung menghampiri Lea tidak jauh dari keduanya, sedikit menjauh dari kerumunan tamu yang hadir saat ini menikmati menu yang disediakan.
"Dimas..itu Lea kan,sudah besar ya..bahkan sudah siap di petik di ibaratkan buah yang lagi ranum paling enak di makan"
Goda kerabat yang usianya lebih tua dari Deandra pada Deandra yang hanya membalas dengan senyuman saja.
(Dimas: sapaan untuk Deandra dari kerabat yang usianya lebih tua di atas Deandra).
"Apa sudah ada calonnya,Dimas ?"
__ADS_1
Tanya lelaki yang sudah menggunakan tongkat untuk berjalan karena kakinya sudah mengalami pengapuran.
"Aku kasih kebebasan untuk memilih kang mas"
Balas Deandra dengan sopan pada lelaki yang tidak berbeda dengan Deandra seorang pengusaha.
"Kok di bebasin Dimas, nanti asal-asalan mencari pasangan kita yang repot"
Protes lelaki itu dengan muka terlihat serius memandang Deandra.
"Aku sudah menganggap Lea sudah dewasa,dia yang lebih tahu lelaki seperti apa yang dia butuhkan dan pantas untuk bersanding bersamanya kelak"
Deandra memang bukan sosok ayah yang otoriter,dia memberikan kebebasan tapi masih dalam batas toleransi tidak terlalu berpatok pada pakem yang kaku dalam membesarkan anaknya.
"Jadi orang tua itu jangan terlalu kasih kebebasan sama anak nanti ngelunjak kita yang menanggung malu..ingat Dimas aku sudah mengingatkan kamu"
Tegur lelaki itu pada Deandra yang kembali terlihat tersenyum tapi tidak dengan lelaki itu yang terlihat sedikit kecewa karena Deandra hanya tersenyum.
Tidak jauh dari kedua orang tua yang membahas Lea dengan dua kubu yang bersinggungan.
"Eh..cah ayu, sepertinya kamu sudah pantas punya bayi sendiri nak"
Ucap seorang ibu yang Lea tidak menghafal satu persatu kerabat Romo,sebab Lea lebih nyaman berinteraksi dengan kalangan biasa-biasa saja tanpa aturan yang mengikat erat harus ini harus itu ga boleh gini ga boleh gitu,ribet bener pikir Lea hidup sekali tapi aturannya lebih besar dari gunung Semeru.
Senyum yang Lea tunjukkan daripada membalas baginya tidak penting juga.
"Kapan nyusul yang lain tuh seperti putrinya mbak yu..Sari,jangan kelamaan sendiri nanti susah jodoh"
Wanita itu kembali menyuarakan isi hatinya tanpa berpikir menyinggung lawan bicaranya.
Kembali Lea hanya tersenyum membuat wanita itu terlihat kesal plus geregetan pada Lea yang menurut penilaiannya seperti tidak menghargai dirinya karena hanya tersenyum bukan membalas dengan mengucap sepatah atau lebih.
"Kalau sudah kelamaan nanti jadi perawan tua,dalam garis keturunan kita tidak ada yang menikah sampai jadi perawan tua sebab akan susah punya anak"
'Kurang jauh mainnya nyonya,memang kemana aja selama nih..dunia kedokteran sudah canggih tidak harus takut untuk memiliki buah hati kalau kedua subur dan sehat banyak cara kok..kasihan,untung nenek lampir ini bukan ibu aku..bikin malu aja kasihan bener anaknya punya ibu suka nyinyir siap-siap jadi kerak neraka Bu..cepat tobat sebelum napas terakhir lepas ga bakal bisa balik lagi.. jalurnya satu arah ga ada putar balik Bu di sana "
Balasan untuk wanita yang masih berdiri didepannya hanya bicara dalam hati Lea baginya malas bicara dengan wanita yang bergaris keras paling benar segalanya.
Bagi Lea semua pertanyaan wanita itu sukar di jawab lebih baik di kosongkan saja, seandainya pertanyaan itu soal ujian lebih baik dikosongkan saja dari pada di jawab berujung deretan pertanyaan lain berbaris menyusul meminta dijawab sesuai keinginan pemberi pertanyaan..
Cukup dengan diam yang Lea berikan saat ini,hanya senyuman tipis yang mewakili rasa penasaran wanita yang berpenampilan aneh putih dimuka tapi leher dan tangan tidak sama warnanya alis belang.. kebanyakan zat Mercure.
Kita tunggu jawaban apa dari Lea untuk masa depannya..
Note
Mohon beri saran dan masukan untuk alur cerita apa yang biar tambah menarik, greget dan makin asyik dan tambah penasaran.
Saya tunggu..ucapan terimakasih untuk yang masih setia membaca sebab saya takut bosan dengan alur ceritanya.
__ADS_1
πππ salam hangat untuk keluarga semoga selalu di berikan kesehatan dimana pun berada.