
Belum genap dua minggu kepulangan dari rumah sakit Lea sudah mulai lagi beraktivitas baginya tidak ingin berdiam diri membuat sakit semua badannya.
"Emang loe sudah baikan, datang ke kampus?"
Cecar Juna yang langsung menghampiri Lea yang baru saja keluar dari ruang dosen.
"Seperti yang loe lihat,gue baik-baik saja.. jangan-jangan loe senang lihat gue sakit "
Goda Lea yang membuat Juna cemberut karena tidak terima Lea menuduhnya.
"Mana ada gue setega itu Lea,malah gue pengen loe sehat terus biar temani gue menyelesaikan skripsi gue yang revisi terus capek tahu"
Terlihat wajar kesal Juna yang tidak bedahnya dengan Lea yang baru saja dari ruangan dosen.
"Sabar tandanya dosen pembimbing baik sama loe jirayut"
Pungkas Lea yang membuat Juna tidak terima dengan apa yang disampaikan Lea.
"Loe ga ada bedahnya dengan tuh dosen nyebelin"
Sewot Juna dengan tangan mendorong Lea, sebaliknya Lea hanya memberikan senyuman manisnya.
"Loe mah kelewat pinter Lea,lah kita-kita udah capek mikir masih salah mulu,belum lagi kalau mau konsultasi ada aja alasannya yang kita harus tepat waktu kalau ga kita-kita juga yang disalahkan,nasib jadi mahasiswa yang pas-pasan "
"Emang dosen selalu benar mahasiswa ga ada bener ya.."
Mawar yang baru datang ikut satu suara dengan Juna yang terlihat senang ada yang mendukung dirinya.
"Ok..gue salah,ada yang bisa gue bantu"
Tanya Lea yang sebenarnya bingung juga keduanya berbeda jurusan tidak akan satu pemikiran pikir Lea tapi apa salahnya bila bertanya pada kedua bestienya yang terlihat masih kesal.
"Udah loe bantu kami doa aja"
Balas Mawar yang sebenarnya hanya butuh penyemangat saja bukan dibantu secara langsung.
"Doa mah dari dulu kali bestie"
Ucap Lea dengan merangkul bahu Mawar yang sudah mulai terlihat tenang.
"Gue boring banget nih..kita jalan yuk,loe ga ada acara lain kan kampus?"
Tanya Juna pada Lea dan Mawar yang terlihat asyik dengan ponsel miliknya.
"Ehm..gue pengen cabut sih, karena gua pengen pulang ketemu dengan Romo "
Berbeda dengan kedua temannya yang terlihat tidak suka dengan Lea yang berniat pulang.
"Loe ga asyik tahu,kita jalan dulu yuk "
Pinta Juna pada Lea yang terlihat sibuk dengan ponsel miliknya.
"Ih.. jirayut loe usil banget balikin ponsel gue"
Lea langsung mengejar Juna yang berlari menjauhi Lea,yang membawa ponsel milik Lea.
__ADS_1
"Janji loe ikut gue baru gue balikin ponsel loe"
Ujar Juna yang memasukkan ponsel Lea kedalam saku celananya yang otomatis lea tidak berani mengambilnya.
"Ok..tapi gue pulang dulu karena Romo baru saja sampai gue kangen banget"
Akhirnya Juna tidak bisa melarang jalan satu-satunya dia dan Mawar harus ikut Lea pulang ke istana milik keluarga Lea.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Setibanya di kediaman keluarga Lea, Juna dan Mawar di persilakan untuk duduk di taman samping yang disuguhkan beberapa kue dan minuman oleh art keluarga Lea.
Lea sendiri bermaksud menemui Romo tapi tidak terlaksana karena berada di ruang kerja Deandra bisa diartikan mereka ada obrolan penting yang tidak bisa diganggu.
"Jun.. lihat lelaki yang menyiram tanaman,loe percaya itu art keluarga Lea dari tampangnya seperti bukan lelaki biasa walaupun berpenampilan sederhana "
Mata Juna tertuju pada lelaki yang Mawar tuturkan,Juna sebagai lelaki bisa menilai dan satu pemikiran dengan Mawar melihat penampilan lelaki itu tidak mungkin lelaki itu seorang art yang bekerja di istana Lea.
"Kalau pun ada masa iya..ada art setampan itu mau bekerja di sini sih"
Juna berucap pelan menanggapi ucapan Mawar yang masih curi pandang pada lelaki yang terlihat sibuk menyirami tanaman.
"Ayo..malah bengong "
Lea terlihat bingung dengan kedua temannya yang memperhatikan taman yang terlihat asri.
"Santai aja kali,ayo "
Ajak Juna yang langsung bangkit dari duduknya dan merapikan tas punggungnya.
"Lea,boleh dong loe kenalin gue dengan art loe yang mengurus taman tadi"
"Serius kamu mau gue kenalin sama pak Gani..Rose"
Mawar terlihat bingung dengan panggilan yang berikan kepada lelaki yang menyiram tanaman di taman.
"Pak..? dia ga setua itu Lea"
Lea makin bingung dengan penuturan Mawar,pikirnya tidak sopan memanggil pak Gani hanya namanya saja walaupun dia yang mempekerjakan pak Gani.
"Mata kamu rambut kak Rose,wajar gue memanggilnya pak,dia hampir seumuran dengan adik papi kalau papi memiliki adik"
Mawar semakin bingung dengan penjelasan Lea, sebenarnya siapa yang salah pikirnya.
"Jun..coba loe yang ngomong,biar Lea yakin dengan apa yang gue lihat sama loe "
Mawar meyakinkan Lea dengan meminta pendapat Juna yang sama-sama melihat lelaki itu di taman.
"Ga..salah loe lelaki itu loe panggilan pak, setidaknya mas atau bang kali Lea"
Lea makin pusing dengan kedua temannya yang bersikeras dengan lelaki yang berada di taman samping istananya.
"Sebenarnya kita mau jalan apa mau ngebahas lelaki itu sih..?"
Lea sudah pusing,sebab dia tidak tahu soal urusan art istana mungkin ada yang baru tanpa dirinya tahu.
__ADS_1
"Mau jalan lah sis.."
Juna melanjutkan perjalanan dengan mobil miliknya sebagai driver baginya tidak masalah asalkan kedua bidadari senang.
"Kemana nih kita ?"
Tanya Juna yang meminta pendapat kedua bidadari yang sibuk memainkan ponselnya tanpa bicara.
"Nonton"
"Makan"
Baik Lea maupun Mawar bersamaan menjawab pertanyaan Juna yang membuat Juna hanya menepuk jidatnya karena tidak satu pemikiran.
"Maaf kita makan dulu baru nonton itulah yang benar"
Juna mengambil jalan tengah berharap tidak ada salah paham diantara keduanya.
"Tapi sebelum makan kita beli tiket duluan sebab kita bisa memilih tempat duduk"
Ujar Lea yang tidak suka duduk dipojokkan karena terganggu menurutnya,sebab banyak di manfaatkan untuk orang pacaran dirinya merasa risih.
"Cie, pengalaman ya..sis"
Canda Mawar pada Lea yang hanya diam baginya itu tuduhan yang tidak beralasan.
"Fitnah loe lebih kejam dari pada di cubit bencong"
Ucap Lea membuat Mawar terbahak-bahak berbeda dengan Juna yang langsung menatap Lea inten dan penuh tanya.
"Kok,bencong loe bawah-bawah Lea"
Tanya Juna penasaran pada Lea yang hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Yang merasa tulang lunak ga usah sewot"
Goda Mawar yang masih terus tertawa tanpa bisa berhenti yang membuat orang sekitar memperhatikan ketiganya.
"Kak Rose,bisa ga sih menghentikan tawanya,lihat tuh orang-orang memperhatikan kita"
Pinta Juna yang membungkam mulut Mawar dengan tangannya berharap Mawar berhenti tertawa.
"Gila loe Jun..tangan loe bau terasi,loe lupa cuci tangan bekas makan pecel tadi"
Protes Mawar yang hampir muntah karena bau tangan Juna.
"Perasaan gue udh cuci tangan kok..,apa gue lupa ya"
Lea hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Juna kena bogem mentah Mawar di lengan tangannya.
"Sorry..Rose, namanya juga lupa "
Mawar semakin kesal langsung ingin mencekik Juna karena ulah Juna sisa bau terasi itu tidak mau hilang di penciuman Mawar.
"Sebenarnya mau nonton apa mau saling membunuh sih !?"
__ADS_1
"Nonton lah !"
Jawab Juna dan Mawar bersamaan dan mereka tertawa bersama membuat orang sekitar memandang mereka dengan aneh,tapi bagi mereka masa bodoh.