
Setelah dirasa tubuhnya sudah mulai hangat. Coral beranjak dari tempatnya dan dia dengan santainya melepas bajunya yang basah agar dapat berganti dengan baju yang kering.
"Siapa di sana?" ucapnya cepat karena sekali lagi Coral mendengar suara saliva ditelan dengan begitu susah.
Rize yang takut ketahuan segara pergi dari sana. Dia juga tidak mau dianggap pria brengsek yang suka mengintip seorang gadis yang sedang berganti baju. Rize bukan pria seperti itu, hanya saja tadi dia ingin pergi, tapi entah kenapa kakinya susah sekali diangkat untuk pergi dari sana.
"Kenapa apa mendengar hal itu lagi? Aku kira jika setelah pergi dari tempat itu aku tidak akan mendengar hal semacam itu lagi."
Coral segera berganti baju dan dia akan segera mengerjakan pekerjaan rumahnya, seperti biasanya saat libur sekolah dia akan mengerjakan pekerjaan rumah, padahal dulu di rumahnya yang cukup mewah itu dia memiliki beberapa pelayan yang siap mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, tapi setelah ayahnya menikah dengan wanita bernama Rose yang memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya membuat ayah Coral memberhentikan para pelayannya dengan alasan anak-anak mereka dan dia sendiri yang akan mengerjakan pekerja rumah agar mereka menjadi anak-anak yang mandiri dan bukan pemalas.
Namun, tentu saja hal itu tidak sesuai dengan apa yang diucapkan oleh ibu tiri karena semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Coral seorang diri. Lantas, di mana dua saudara tiri Coral? Tentu saja mereka ada di sana dan bersikap seperti seorang majikan dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah karena semua dilakukan oleh Coral.
Ibu tiri hanya beralasan agar anak-anaknya tidak malas, dahal dia hanya ingin agar anak tirinya yang tak lain adalah Coral dapat dia siksa di rumah itu. Semakin dia siksa, ibu tiri dan kedua anak tirinya itu berharap Coral tidak betah tinggal di rumah dan memilih pergi, atau kalau tidak Coral bunuh diri saja. Jika Coral tidak ada, maka Rose akan lebih bebas memiliki seluruh harta warisan ayah Coral dan tidak perlu membagi dengan Coral yang pasti akan mendapat bagian lebih banyak.
"Ibu sebentar lagi ayah akan pulang dan kita tidak akan bisa menyiksa Coral lagi, dan yang paling membuat aku sebal adalah aku harus ikut melakukan pekerjaan rumah jika ayah ada di rumah nantinya." Bibir gadis dengan bandana menghiasi kepalanya itu manyun.
"Iya, dan aku pun harus ikut melakukan pekerjaan rumah juga. Aku, kan, malu kalau sampai ada teman sekolahku yang tau. Masak anak saudagar kaya raya menjadi pelayan di rumahnya sendiri," sahut remaja dengan rambut jambul tingginya.
"Ibu juga yang salah, kenapa harus memecat para pelayan itu? Kalau mereka makasih ada di rumah ini pasti kita tidak perlu menjadi pelayan di sini," degus gadis yang sedang mengunyah makanan itu kesal.
Wanita dengan dandanan glamornya itu melihat datar pada satu persatu anaknya. "Apa kalian sudah selesai mengeluhnya? Kalian coba pikirkan jika ada pelayan di rumah ini, bagaimana kita bisa menyiksa anak menyebalkan itu? Dan pastinya dia akan hidup menjadi putri raja melebihi kalian. Ini ibu lakukan agar anak itu tidak betah di rumah dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah atau kalau tidak dia akan menyusul ibunya pergi dari rumah ini."
__ADS_1
"Tapi kenapa dia sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan pergi dari rumah ini?"
"Ibu juga tidak tau kenapa dia betah sekali di rumah ini?"
"Aku juga heran, dahal di sekolah dia juga sering mendapat bullyan dari teman-teman yang sudah aku pengaruhi, tapi dia tetap saja masih bertahan di rumah ini."
"Bu." Leonil melihat pada ibunya dengan serius. "Apa dia bertahan di rumah ini karena orang yang dia cintai, yaitu ayahnya?"
"Bisa jadi, Leonil," sahut Deona.
"Kalau seperti itu, bagaimana jika kita melenyapkan ayahnya saja agar Coral pergi dari rumah?"
"Leonil, pikiran kamu jahat sekali. Dia itu sekarang adalah ayah kita. Apa lagi dia orangnya sangat baik, aku saja selalu diberikan banyak hadiah saat ayah pulang," terang Deona.
"Baik apanya? Aku minta mobil saja tidak diberikan dengan alasan aku belum bisa dipercaya membawa mobil di jalanan. Dia takut aku yang masih muda tidak berhati-hati nantinya. Tau apa dia?" ucap Leonil marah.
"Ayah kamu itu khawatir tentangmu, Leonil. Ayah kamu itu orang baik dan sangat sayang pada ibu. Ayah kandung kalian saja tidak peduli selama ini dengan kita."
"Dia hanya sayang dengan ibu, tapi denganku sangat pelit. Coral saja kapan hari dibelikan ponsel baru, tapi sayang tidak bisa dipakai karena aku sudah merusaknya dan aku ancam agar Coral tidak memberitahu Ayahnya." Leonil tersenyum miring.
"Pokoknya kalian jangan khawatir, walaupun ibu senang pada ayahnya Coral, tetap saja ibu akan lebih memikirkan masa depan kalian. Ibu sudah membuat rencana untuk membuat ayah Coral perlahan-lahan sakit karena obat yang tiap hari ibu berikan padanya dan tanpa sepengetahuannya. Obat itu perlahan-lahan akan melumpuhkan sistem sarafnya dan lama-kelamaan ayah kalian akan hanya bisa terbaring lemas tidak berdaya seolah dia sakit keras."
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan terjadi, Bu?"
"Ibu akan membuat ayah kamu menandatangani pengalihan harta warisannya kepada ibu karena hidupnya tidak akan lama lagi. Ibu akan beralasan jika hal itu sangat penting untuk masa depan anak-anaknya"
"Ibu ternyata juga kejam sudah membuat rencana seperti itu." Leonil malah terkekeh pelan.
"Ibu tidak kejam karena ibu tidak melenyapkan orang yang ibu sayang. Ibu hanya membuat dia sakit, dan setelah aku mendapatkan semuanya, maka ayah kalian itj akan aku rawat dengan sangat baik."
Leonil melihat heran pada ibunya. "Ibu ini sebenarnya malaikat atau iblis, sih?"
"Tentu saja ibu malaikat, Sayang."
"Malaikat datang dari dunia bawah yang dipenuhi oleh keburukan setiap orang." Leonil ini malah terkekeh dengan senangnya.
Mereka bertiga yang sedang duduk di ruang makan untuk sarapan pagi tidak tau jika ada seseorang berdiri bersandar pada dinding mendengarkan dengan jelas apa yang ketiga orang dengan tanduk dua itu bicarakan.
Coral?
Coral? Tentu saja dia tidak mendengar semua itu karena dia berada di dalam kamar mandi untuk mencuci baju, dan kemudian membersihkan kamar mandi yang seharusnya adalah pekerjaan Leonil sebagai anak laki-laki membersihkan kamar mandi. Namun, hal itu tidak terjadi karena bertepatan ayah Coral luar kota dalam beberapa hari, maka Coral yang harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah, walaupun sebenarnya itu sangat berat.
.
__ADS_1