My Vampire Prince

My Vampire Prince
Dia Kekasihku part 1


__ADS_3

Pagi itu Coral terkejut saat tiba-tiba Deona membangunkan dirinya. Deona bertanya pada Coral apa benar jika Rize adalah murid baru di kelasnya dan Coral mengiyakan.


"Coral nanti aku akan ke kelasmu untuk menyapa Rize. Hari ini aku harus berdandan yang cantik supaya Rize mengetahui betapa cantiknya aku." Deona berlari keluar dari kamar Coral. Gadis itu kembali menarik selimutnya sedang berpikir sesuatu.


"Rize banyak sekali yang menyukainya. Kenapa juga dia ingin menjadi kekasihku. Apa sebenarnya rencana kamu, Rize?" Coral bertanya pada dirinya sendiri.


Coral turun dari loteng dan melihat ibu tiri serta dua saudara tirinya sedang makan di meja makan. Coral lagi-lagi hanya bisa menelan salivanya karena dia tidak mungkin boleh makan bersama mereka. Coral hanya bisa menunggu mereka selesai makan untuk makan sisa nasi yang ada, kalau tidak ada dia terpaksa berangkat dengan perut kosong, dan hanya bisa makan saat siang saja. Ibu tiri yang kejam itu hanya memberikan satu kali jatah makan pada Corla, yaitu, hanya siang.


Dia ingin benar-benar menyiksa Coral hingga anak itu akan berpikir tidak kuat dan pergi dari rumah.


"Menu makanan hari ini sangat enak, Bu. Aku sampai menghabiskan semuanya," ucap Leonil dengan mengusap mulutnya seolah menunjukan hal itu pada Coral.


"Ibu senang kalau kamu menyukainya. Nanti siang ibu akan membuatkan lagi makanan seperti ini."


"Bu, bagaimana kalau nanti siang kita makan di luar saja? Jadi, Ibu tidak perlu membuat makanan. Coral biar saja tidak perlu makan atau dia bisa memasak sendiri dengan sisa bahan di lemari es."


"Betul juga."


Coral hanya bisa terdiam di tempatnya mendengar pembicaraan itu semua.


Mereka bergegas pergi meninggalkan Coral lagi. Coral kembali bingung harus berangkat ke sekolah menggunakan apa? Dia juga belum makan. Ada sisa uang di tabungannya yang sengaja kemarin dia tidak tunjukkan kepada ibunya.


"Ayah kapan pulang? Kalau ayah pulang mereka akan berubah sikapnya padaku," ucapnya sembari duduk di kursi.


Dia melihat di atas meja sudah tidak ada makanan sisa. Saat membuka lemari ea, ada banyak sekali roti dan buah-buahan, tapi kalau dia makan pasti kena marah, seperti biasanya. Dulu saat tidak mendapat jatah makan, dia bisa membeli roti saat berangkat sekolah dengan uang simpanannya, tapi sekarang tidak bisa, dia harus benar-benar menghemat.


Coral terpaksa berangkat dengan perut kosong. Dia hanya memakan permennya. Coral keluar dari rumahnya dan berharap Zio akan memberinya tumpangan seperti kemarin.


"Coral, ayo naik!"


"Zio!" Coral tampak senang karena yang dia harapnya muncul.


"Kamu sudah makan?" Coral menggeleng. "Ini ada roti untuk kamu. Kemarin kakak sepupuku dari kampusnya ada acara bazar dan ini sisa kue jualannya yang tidak laku. Tidak apa-apa, Kan?"


"Tentu saja tidak apa-apa. Aku akan menyimpannya untuk besok."


Baru saja motor Zio berjalan, sudah dihadang oleh mobil hitam mewah dan Coral tau itu mobil siapa?"

__ADS_1


"Rize?"


Pria itu turun dari mobil dan menghampiri motor Zio. "Zio, biar aku yang mengantar Coral."


Zio tampak bingung. Ini kenapa Rize tiba-tiba perhatian pada Coral.


"Rize, aku berangkat dengan Zio saja."


"Bagaimana kamu bisa berangkat sama Zio? Kita ini, kan, sedang pacaran," ucap Rize dengan tegas.


"Hah? Pa-pacaran?" Zio seketika mendelik. "Coral, kamu dan Rize?"


Coral langsung turun dari motor Zio. Dia menarik tangan Rize menjauh dari motor Zio.


"Rize, kenapa kamu bicara sembarangan di depan Zio?"


"Siapa yang bicara sembarangan? Bukannya kamu memang kekasihku dan aku tidak suka melihat kamu berdua dengan pria lain."


Coral sampai menganga mendengar apa Rize katakan. Pria di depannya ini sepertinya serius dengan apa yang dia ucapkan, tapi kenapa harus Coral?


"Kalian benaran pacaran? Tapi sejak kapan?"


"Tidak perlu tau dan mulai sekarang jangan terlalu dekat dengan kekasihku?" Rize menatap dengan serius.


Zio agak takut melihat wajah Rize yang memang terlihat dingin seperti es.


"Rize, jangan seperti itu! Aku dan Zio sudah bersahabat lama, bahkan sebelum aku bertemu dengan pria aneh seperti kamu." Coral tampak kesal dengan Rize.


Coral mendekati Zio, dia menjelaskan jika dia sebenarnya bingung dengan sikap Rize yang tiba-tiba menganggap dia kekasihnya, dahal Coral tidak pernah menerimanya.


"Aku sendiri tidak tau, apa maksud Rize ingin aku menjadi kekasihnya? Tapi sekeras apapun aku menghindarinya, dia tetap saja menganggapku kekaishnya." Wajah Coral tampak sedih.


"Apa dia sebenarnya memiliki rencana ingin mengerjaimu seperti Luana dan Troy seperti waktu itu?"


Coral menaikkan pundaknya ke atas acuh. Rize ini memiliki pendengaran yang sangat baik. Dia bisa mendengar semua yang Zio dan Coral katakan.


"Aku bukan seperti teman kalian yang tadi kalian bicarakan."

__ADS_1


"Kamu bisa mendengar apa yang kita bicarakan?"


"Jelas sekali."


"Dia hebat sekali," celetuknya.


"Aku tidak akan mempermainkan Coral. Aku serius ingin menjadi kekasihnya Coral, bahkan setelah dia lulus sekolah, aku akan menikahinya."


"Apa?" Kedua sahabat itu kaget bersamaan.


"Tidak perlu terkejut seperti itu. Sepasang kekasih yang akhirnya menikah adalah hal yang wajar."


Rize menggandeng tangan Coral dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Anehnya gadis itu menurut saja dengan apa yang Rize lakukan.


"Sepertinya hidup Coral akan semakin menderita. Pria itu aneh dan agak menakutan. Apa dia seorang pisikopat? Aku harus mengawasinya terus. Jangan sampai dia menyakiti Coral, meskipun aku penakut, tapi aku harus melindungi Coral, tapi caranya bagaimana?" Zio kembali berpikir.


Coral duduk diam di dalam mobil Rize sembari melihati pria yang sedang mengemudi mobilnya dengan serius.


"Ada apa melihatku terus? Apa kamu masih berpikir aku memiliki niat buruk dengan menjadikanmu kekasihku?"


Coral menganggu dengan cepat. " Aku akan buktikan jika aku sama sekali tidak memiliki niat buruk dengan menjadikanmu kekasihku. Malahan, aku akan membuat penderitaanmu berakhir dengan kamu menjadi kekasihku."


"Apa itu benar?" tanya Coral dengan wajah serius.


"Tentu saja." Rize melihat ke arah depan gedung sekolahnya di mana beberapa anak-anak terutama para gadis sudah menunggu kedatangan murid baru yang baru saja masuk ke sekolah itu dan langsung menjadi idola karena wajah tampannya dan mereka juga baru tau jika Rize adalah anak orang kaya di salah satu kota besar yang ada di negara itu.


"Kamu tunggu saja." Rize keluar dari mobilnya dan memutari mobilnya. Dia membuka pintu dan tangannya menjulur agar Coral menyambut tangannnya.


Para gadis di sana bingung. Rize datang ke sekolah dengan siapa? Karena kaca mobil Rize memang dibuat gelap.


Tangan Coral menyambut tangan Rize dan seketika semua para murid di sana terkejut hampir pingsan melihat siapa yang keluar dari dalam mobil Rize.


"Apa? Coral?" Luana seketika hampir tidak kuat berdiri. Taza memegangi tubuh Luana yang hampir pingsan melihat kejadian di depannya.


"Coral? Tidak mungkin?" Deona yang melihat hal itu juga tidak percaya.


"Wow! Anak menyebalkan itu benar-benar membuat suatu keajaiban bagi dirinya. Ternyata apa yang aku katakan waktu itu benar sekali."

__ADS_1


__ADS_2