My Vampire Prince

My Vampire Prince
Gaun Untuk Coral part 1


__ADS_3

Luana hanya bisa melongo melihat hal itu. Dia sekarang harus bagaimana? Secara dia tidak pernah belajar hanya mengandalkan Coral selama ini, tapi sekarang Coral seperti ada yang melindungi dan orang itu adalah pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Rize, kita mau ke mana?"


"Ke kantin, aku punya kue yang sangat enak untuk bisa kamu nikmati."


Coral melihat Rize membawa kue yang tadi Deona berikan padanya. Mereka berdua duduk di kantin, dan ternyata di sana masih sepi.


Rize membuka box kue dan mengambil satu untuk dia suapkan pada Coral. Gadis yang disodorkan kue itu tampak melihat saja pada kue di depannya.


"Makan Coral."


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Kue itu Deona berikan buat kamu, tapi kenapa malah diberikan padaku?"


"Aku sudah bilang tidak suka dengan makanan seperti ini, tapi dia tetap memaksa. Ya sudah, aku terima saja, dan sekarang kue ini menjadi milikku. Aku berhak memberikan kepada siapapun."


"Aku tidak mau nanti mendapat marah jika Deona mengetahui kuenya aku makan."


"Biar aku yang mengurusnya. Sekarang aku ini adalah kekasihmu. Jadi, kamu tidak perlu takut ada orang yang menyakitimu karena aku akan ada untuk kamu. Makan."


Entah kenapa Coral merasa sangat senang sekarang mendengar Rize mengatakan hal itu.


Coral mengambil kue itu dan memakannya. "Enak sekali. Sudah sangat lama aku tidak mencoba kue seenak ini."


"Habiskan, aku tidak suka dengan kue itu."


Coral makan dengan senangnya. Rize juga tampak bahagia melihat gadis yang ada di depannya itu terlihat bahagia.


"Rize, kenapa aku tidak pernah melihat kamu makan, makanan yang aku makan?"


"Sudah aku bilang kalau makanan kita beda."


"Dasar aneh! Kamu masih menganggap dirimu seorang vampir? Tidak ada vampire di dunia ini."


Rize tidak mau menanggapi. Percuma saja jika nanti dia jelaskan. Coral juga tidak akan percaya.

__ADS_1


"Nanti pulang sekolah aku mau mengajakmu ke suatu tempat."


Seketika Coral terbatuk mendengar apa yang Rize katakan. "Rize, aku tidak bisa ikut pergi denganmu. Aku tidak mau pulang terlambat lagi."


"Aku mau mengajakmu memilih gaun yang nanti bisa kamu gunakan makan malam."


"Apa? Rize aku lupa mau memberitahumu kalau aku tidak bisa ikut makan malam itu. Aku minta maaf karena harus menolak undanganmu."


Tangan Rize terangkat dan mengusap lembut bibir Coral yang ada sisa makanannya. Coral sekali lagi terkejut dengan sikap Rize yang tiba-tiba.


"Kalau kamu tidak hadir, maka tidak akan ada acara makan malam. Kamu kekasihku dan aku ingin kamu ikut undangan yang aku kirimkan pada keluargamu."


"Rize, kamu kenapa malah mempersulit diriku. Aku hari ini memang tidak bisa hadir karena aku--." Coral bingung mencari alasannya.


"Aku tidak butuh alasanmu. Kalau kamu tidak datang, acara itu batal."


"Tapi Rize--."


Pria yang sedang bicara dengannya itu malah beranjak pergi dari sana. Dia entah kenapa merasa sangat haus? Rize memilih pergi dari sana untuk menghilangkan dahaganya.


"Coral, kamu sendirian?" Zio celingukan mencari di mana si pria pemilik wajah dingin itu.


"Iya, Rize baru saja pergi dari sini dan aku tidak tau dia ke mana?"


"Loh, memangnya aku kenapa?"


"Takut sama tatapan kekasihmu itu."


Coral terdiam sejenak. "Dia itu benar-benar sesuatu yang penuh kejutan, dan jujur, aku semakin ke sini merasa jika dia benar-benar serius ingin menjadi kekasihku."


"Kamu percaya jika dia tidak main-main sama kamu?"


"Iya, Zio, aku mulai percaya dan mungkin sangat percaya, bahkan dia berjanji akan melindungiku, dan dia buktikan hal itu." Coral tampak melamun.


"Kamu mulai jatuh cinta sama dia, ya?" Zio menatap Coral serius."


"Enak saja, siapa yang jatuh cinta? Aku cuma bilang jika aku mulai percaya dengan Rize, bukan mengatakan kalau aku jatuh cinta sama dia."


"Jatuh cinta juga tidak apa-apa. Kamu berhak memiliki kekasih seperti Rize karena kamu gadis yang baik dan aku bangga memiliki teman seperti dirimu, Coral."

__ADS_1


"Apa kamu tidak tau, jika sekarang aku akan semakin menderita jika berpacaran dengan Rize?"


"Maksudmu?"


"Pasti sekarang banyak yang akan memusuhiku karena tau aku berpacaran dengan Rize. Terutama Luana dan Deona, mereka berdua itu ternyata menyukai Rize, dan Rize malah mengumumkan dia adalah kekasihku. Huft! Sekarang aku benar-benar harus berhati-hati dan bersiap-siap menerima penyiksaan yang akan mereka berikan padaku." Coral merebahkan kepalanya pada meja kantin. Dia seolah sedang meratapi nasibnya.


"Kamu tenang saja, bukannya kamu bilang kalau Rize akan selalu melindungimu?" Ini malah santai menikmati kue yang Rize berikan untuk Coral.


"Aku tau, tapi apa Rize akan menjagaku dua puluh empat jam? Kalau di rumah tidak ada Rize. Deona akan dengan senang hati menyiksaku. Atau bisa juga Luana ke rumah dan pura-pura mengajakku ke rumahnya, tapi dia malah menyiksaku seperti waktu itu gara-gara aku lupa mengerjakan tugasnya karena ketiduran."


"Kamu tinggal saja dengan Rize," ujar Zio tampak difilter.


"Apa?" Coral langsung menarik kepalanya kaget dengan ucapan sahabatnya. "Maksudmu, aku tinggal satu rumah sama Rize? Kamu itu kalau bicara dipikir dulu. Mau melihat ayahku mati berdiri?"


"Ya ampun! Itu, kan, kue yang aku berikan pada Rize! Kenapa kalian yang makan?" Tiba-tiba suara si pemberi kue ada di sana dan wajahnya benar-benar tampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ini bukannya kue milik Coral?" Zio berbicara dengan mulut masih ada sisa kue yang belum sempat dia telan.


"Itu milikku yang aku berikan pada Rize." Deona membereskan semua kue yang ada di atas meja itu.


"Rize sudah memberikannya padaku, Deona."


"Apa? Tidak mungkin!" Deona tampak terkejut.


"Kenapa tidak mungkin? Coral itu kekasihnya Rize. Jadi, tentu saja Rize akan memberikan kue itu pada Coral. Lagi pula tidak pantas kamu memberikan kue pada kekasih orang lain. Apa lagi dia kekasih saudaramu sendiri."


"Diam kamu, Zio!" bentak Deona marah. Sekarang Deona melihat tajam pada Coral. "Awas kamu nanti di rumah, Gadis tidak tau diri!"


Deona berjalan pergi dari sana. "Huft! Aku sekarang harus bagaimana, Zio?"


Zio menggerakkan bahunya acuh. Dia sekarang juga merasa bingung.


"Ada apa ini?"


"Rize?"


"Kenapa kamu bisa bersama dengan kekasihku, Zio?"


"Tadi kami cuma mengobrol saja, Rize. Coral, aku mau permisi pergi dulu karena aku mau ke kamar mandi." Zio seketika berlari kabur dari sana.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Rize. Gara-gara kamu bersikap dingin pada Zio. Sekarang Zio jadi takut kalau dekat denganku."


"Aku tidak marah dia dekat sama kamu, tapi jaga sikap saja karena aku tidak suka jika dia terlalu berlebih denganmu."


__ADS_2