My Vampire Prince

My Vampire Prince
Perdebatan Lagi part 2


__ADS_3

"Aku bukannya tidak bisa dibilangi Ayah. Aku hanya meyakini apa yang aku pilih dan aku tau apa pilihanku."


"Kalau begitu besok malam kamu tidak perlu pergi ke acara ulang tahun itu, Coral. Kalau kamu pergi ke sana pasti kamu akan bertemu dengan Rize."


"Tidak masalah kalau aku tidak pergi karena memang hal itu sering aku alami. Aku sudah terbiasa akan hal itu."


Rose yang mendengar hal itu melihat seketika pada Deona. Dia sekali lagi takut jika Coral akan mengatakan tentang perilakunya pada ayahnya.


"Yah, aku sudah selesai makan dan aku ingin pergi ke kamarku."


Ruff melihat pada piring makan anaknya yang masih banyak sekali nasi dan sayurannya. Dia sebenarnya kasihan melihat putrinya itu, tapi dia juga tidak ingin putrinya salah menemukan orang yang dicintai.


"Coral, kamu habiskan dulu makananmu dan mulai besok kamu kembali tidur di kamarmu. Kamu jangan tidur di atas loteng terus karena sebenarnya itu bukan kamar yang cocok untukmu."


"Apa?" Deona mendelik dan terkaget lirih, dia bahkan sampai memegangi tangan ibunya.


Coral melihat ke arah saudara tirinya itu. Wajah dan wajah Deona tampak tidak ingin jika dia disuruh pindah ke kamarnya sendiri. Dia lebih suka tidur di kamar Coral. Dia juga tidak mau jika harus berbagi kamar dengan Coral.


"Ayah, aku tidur di kamar loteng saja karena aku sudah nyaman di sana. Di sana aku lebih tenang. Biar kamarku dipakai oleh Deona saja karena dia lebih membutuhkan kamar itu." Coral mengecup pipi ayahnya dan dia pamit ingin tidur di kamarnya.


Coral berjalan naik ke atas kamar Lotengnya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena dia merasa diikuti oleh seseorang di belakangnya.


"Leonil? Apa yang kamu lakukan?" Coral menoleh dengan wajah kesalnya.


"Coral, apa kamu tau sesuatu tentang kekasihmu yang bernama Rize itu?"


"Sesuatu? Sesuatu apa maksudmu?"

__ADS_1


Leonil menaiki anak tangga dan sekarang dia berada di anak tangga yang sejajar dengan Coral. "Kamu pasti sudah mengetahui jika kekasihmu bukan seorang manusia."


"Apa maksudmu, Leonil? Kamu jangan bicara yang tidak jelas."


"Jangan bohong Coral aku tahu jika Rize itu sebenarnya seorang vampir menghisap darah."


Kedua mata Coral mendelik, tapi dia mencoba menyembunyikan rasa kagetnya. "Kamu jangan bicara yang tidak benar tentang Rize. Aku tahu kamu dan ibumu sangat tidak menyukai aku dan Rize memiliki hubungan, tapi jangan mengatakan hal yang bodoh seperti itu."


Coral yang hendak pergi tangannya kembali ditarik oleh Leonil sehingga dia kembali menoleh pada saudara tirinya itu.


"Kalian berdua jangan berpura-pura karena aku sudah tahu. Rize tidak pernah makan dan minuman yang selalu dia minum itu adalah darah, kan?"


"Tidak ada vampire di dunia ini. Kamu jangan bicara hal yang mustahil hanya untuk membuat ayahku semakin membenci Rize karena aku tadi akan tinggal diam saja seperti Coral yang biasanya. Jujur saja aku lelah tinggal di sini bersama dengan orang-orang seperti kalian yang penuh dengan kebohongan. Aku ingin segera lulus dan ingin secepatnya menikah dengan Rize, aku akan pergi dari rumah ini. Biarpun Rize manusia atau vampir aku tidak peduli. Aku mencintainya dan aku tahu dia adalah orang yang tulus ingin menjagaku serta mencintaiku," terang Coral tegas.


Setelah mengatakan itu, Coral berjalan naik ke atas kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya.


Coral bersandar pada daun pintu dan mencoba mengatur nafasnya yang sedang turun karena kesal.


Coral menghampiri kotak itu dan memeriksa siapa pengirimnya, tapi sekarang dia sadar tidak ada lagi yang ngirim kotak tanpa nama dan tiba-tiba ada di atas loteng kalau tidak Rize yang sudah mengirimnya.


Coral membuka kotak itu dan matanya terkejut melihat apa yang ada dalam kotak itu. Sebuah gaun berwarna hitam dan sepasang sepatu juga berwarna senada.


"Gaun ini cantik sekali." Coral segera membuka jendelanya dan mencari si pengirim kado itu, kepalanya sampai mendongak melihat di atas atap rumah, tapi Rize tidak terlihat di sana.


"Rize, apa kamu ada di sini? Rize, ini kamu 'kan yang mengirim?"


Tidak ada yang menjawab sama sekali. Sepertinya Rize memang tidak ada di sana. Setelah meletakkan kado itu mungkin Rize langsung pergi dari tempatnya.

__ADS_1


"Aku akan mencoba gaun ini. Gaun ini sungguh terlihat indah sekali, benar-benar sangat indah."


Coralmasuk ke dalam kamar mandi dan dia segera mengganti bajunya dengan gaun yang diberikan oleh Rize, dia juga mengenakan sepatu yang juga diberikan oleh Rize. Sekarang dia keluar dan agak terkejut karena melihat ada Rize yang sudah berdiri di sana.


"Rize, kamu dari mana? Dari tadi aku memanggilmu untuk menanyakan tentang gaun ini."


"Apa kamu menyukai gaun itu? Gaun itu terlihat cantik sekali kamu pakai."


"Aku menyukainya, Rize, gaun ini indah sekali, dan sepatu ini juga sangat pas buatku." Terlihat wajah bahagia terpancar dari Coral.


Gadis itu berjalan perlahan mendekat ke arah Rize, kemudian dia mengulurkan tangannya ingin meminta diajak dansa oleh Rize. Sang pangeran Autum Rize pun dengan senang hati menyambut tangan Coral dan mereka berdua berdansa di sana.


Coral terlihat sangat bahagia begitupun dengan Rize. Senyum yang tidak pernah terlihat di bibir Rize, malam ini senyum itu pun tercipta pada wajah tampannya.


"Apa kamu mau berdansa di tempat yang lebih indah dan romantis yang tidak pernah kamu temui selama ini?"


"Ayahku pasti tidak akan mengijinkan jika kamu mengajakku keluar, apa lagi ini sudah malam. Rize, aku tidak mau kamu mendapat masalah dengan ayahku, sebaiknya tidak perlu."


"Kamu jangan takut, aku tidak akan mencari masalah dengan ayahmu karena kita akan pergi diam-diam dari sini. Aku akan membawamu sebentar keluar dari rumahmu, kemudian aku akan mengembalikanmu dengan keadaan yang sama."


"Aku mau, Rize. Ayo kita pergi sekarang sebelum ayahku nanti menyadari putrinya diculik oleh pangeran vampire."


Rize tersenyum dan menggendong tubuh Coral ala pengantin baru dan membawanya keluar dari jendela. Rize melompat dan berlari secepat kilat pergi ke tempat yang ingin dia tunjukkan pada Coral.


Mereka melewati banyak hutan dan terlihat pemandangan di sana sangat indah karena cahaya dari bulan mengenal air sungai dan memantul pada beberapa pohon di sana.


Rize berhenti di sebuah padang rumput yang luas dan ada banyak sekali bunga berwarna ungu bermekaran di sana.

__ADS_1


Coral sampai tidak bisa menutup mulutnya melihat pemandangan di depannya yang sangat cantik walaupun hari sudah gelap.


"Apa kamu mau berdansa denganku, calon ratuku?" Rize bersimpuh dengan salah betisnya menyangga tubuhnya.


__ADS_2