
Zio menggeser kurusnya mendekat pada bangku Coral. "Kamu hebat sekali bisa melawan dia yang selama ini jahat sama kamu." Zio mengangkat kedua jempolnya menunjukkan pada Coral.
"Huft! Aku berani karena ada Rize bersamaku."
"Hem! Mana Rize? Dia tidak ada di sini." Zio malah celingukan mencari di mana Rize karena setahu Zio, Rize hari ini tidak masuk sekolah.
"Tidak perlu mencari begitu. Maksudku, aku berani karena aku merasa ada Rize nanti yang akan melindungiku jika para rubah betina itu menyakitiku lagi."
Zio malah tertawa cekikikan mendengar apa yang Coral katakan. "Kenapa kamu malah tertawa? Ada yang lucu?"
"Rubah betina? Kamu memberi mereka sebutan kenapa lucu begitu?"
"Lucu dari mana? Itu sebutan untuk siluman jahat yang ada di televisi yang aku lihat, dan sebutan itu pantas untuk mereka."
"Aku juga pernah dengar, hanya saja aku tidak terlalu paham."
Coral mengangkat kepalanya melihat pada Zio dengan serius. "Bagaimana keadaan kamu saat kemarin aku tidak masuk sekolah? Apa kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku sampai lupa mau menanyakan, Kemarin kamu ke mana dan kenapa kamu dengan Rize juga sama-sama tidak masuk sekolah?"
"Ceritanya panjang, aku kemarin malam setelah pulang dari undangan makan malam Rize, mobil ibuku dihadang oleh beberapa perampok dan mereka menculikku karena aku tidak bisa memberi uang."
Zio tampak mendelik kaget dengan mulut menganga. "Kamu serius ya dengan apa yang kamu katakan?"
"Tentu saja aku serius. Waktu itu aku sangat ketakutan sekali, Zio, apa lagi mereka penjahat yang sangat menakutkan."
"Lalu, bagaimana kamu bisa lepas dari mereka? Apa Rize yang menolongmu, tapi bagaimana bisa?"
"Aku sendiri tidak tau bagaimana Rize bisa datang ke sana." Coral terdiam sejenak.
__ADS_1
"Ada apa, Coral? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?"
Coral menatap Zio dengan tatapan aneh. Tatapan yang membuat Zio bingung dibuatnya.
"Zio, kamu percaya dengan ada makhluk lain tidak di dunia ini?"
"Maksudmu?" Zio sekarang mengerutkan dahinya bingung.
"Makhluk lain yang beda dengan kita."
"Hm ...! Maksud kamu, hantu?"
"Bukan, ini lebih keren sedikit."
"Hah? Keren?"
"Va-vampire? Makhluk yang suka menghisap darah itu?" Coral mengangguk. "Mana ada makhluk seperti itu? Vampire itu hanya cerita fantasi dan tidak nyata."
"Kalau aku bilang pernah melihatnya, apa kamu percaya?"
"Serius? Kamu pernah melihatnya? Di mana? Di alam mimpimu?" Seketika terdengar suara tawa Zio yang langsung membuat Coral mukanya ditekuk.
"Kalau kamu tidak percaya padaku, untuk apa kita berteman?" Coral beranjak dari tempatnya, tapi dengan cepat tangannya ditahan oleh Zio.
"Kamu jangan marah, aku tadi hanya bercanda."
"Memangnya aku sedang bercanda? Aku serius, Zio."
Zio langsung mukanya meringis aneh. "Jadi, vampire itu ada? Oh my God, dunia ini menjadi menakutkan kalau sampai makhluk seperti mereka benar-benar ada." Sekarang Zio tampak takut sendiri.
__ADS_1
"Waktu itu aku sendiri tidak yakin apa yang aku lihat benaran nyata atau tidak, tapi saat hal itu terjadi di depan kedua mataku sendiri, aku yakin jika hal itu benar. Mereka bukan manusia biasa. Mereka vampire."
"Kapan kamu melihat mereka, dan kenapa kamu tidak digigit oleh mereka, Coral?"
"Hem! Apa kamu mau aku menjadi vampire dan mencarimu untuk aku gigit?"
"Hah? Jangan donk, Coral! Enak saja main gigit. Lagi pula darahku ini tidak enak dan golongan darahnya langkah."
"Apa hubungannya?"
"Ceritakan saja apa yang tadi aku tanyakan sama kamu."
Coral menceritakan malam di mana dia hampir diculik sampai dia bertemu makhluk bernama vampire dan ditolong oleh Rize."
"Lalu, apa yang terjadi antara Rize dan para vampire itu?"
"Aku tidak tau karena aku pingsan dan saat terbangun, aku sudah.berada di dalam kamar Rize. Saat aku tanya kata Rize dia yang sudah mengalahkan mereka."
"Jadi, Rize juga melihat ada vampire si dunia ini?"
Coral sekali lagi meletakkan kepalanya pada meja yang ada di depannya. "Rize bilang aku berhalusinasi karena takut, tapi aku yakin jika aku tidak berhalusinasi. Argh! Aku pusing sebenarnya dari kemarin kepikiran masalah itu, Zio. Namun, kenapa aku merasa mereka itu ada nyata bukan di halusinasi.
"Coral sebaiknya kita tidak meneruskan pembicaraan yang menakutkan ini. Aku bukannya tidak percaya sama kamu, tapi memang aku sendiri bingung.
Hari itu Zio menawarkan ingin mengantar Coral pulang, tapi Coral menolak karena dia ingin pergi ke rumah Rize, guna memastikan keadaan Rize yang tidak masuk selama dua hari.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya Coral."
Coral mengangguk dan Zio berjalan pergi dari sana. Coral menatap kepergian Zio dengan rasa penasaran
__ADS_1