
Acara pesta ulang tahun dimulai, semua orang sudah berdatangan, teman-teman satu sekolah Deona juga sudah datang.
Semua berkumpul di halaman depan yang sudah disulap menjadi tempat pesta ulang tahun yang sangat meriah.
Deona terlihat sangat cantik malam ini, dan banyak sekali yang memuji kecantikannya. Deona tampak sangat senang karena setiap mata tertuju padanya.
"Bu, Coral di mana? Kenapa dia belum turun juga?" ucapnya kesal .
"Dia mungkin masih belum selesai dengan make up nya. Ibu sebenarnya malas sekali untuk membantunya tampil cantik. Biar saja dia tampil seperti biasanya. Gembel dan jelek."
"Kalau dia seperti itu, rencana kita juga tidak akan berjalan dengan baik, Bu, kita bisa mencari alasan jika putri dari ayah yang sangat ayah sayangi itu sekarang jadi gadis ****** yang suka merayu setiap laki-laki."
"Iya kamu benar, apa lagi Dre yang dirayu kali ini. Aku tidak sabar segera menghancurkan gadis itu sehancur-hancurnya. Dia akan dibenci oleh ayahnya dan tidak akan mendapatkan apa-apa dari harta warisan ini."
"Betul sekali, Bu, terlalu enak jika dia hanya pergi meninggalkan rumah ini, ayah pasti akan memaafkannya dan mencarinya lagi, tapi jika kita menghancurkan reputasinya ayah akan membencinya."
"Kalau begitu biar ibu yang menyusulnya ke atas agar dia cepat turun dan rencana kita akan segera dilaksanakan."
"Bagaimana jika Dre saja yang menyuruh untuk memanggilnya dan kita akan memotret mereka. Jadi, kita memiliki bukti bahwa memang Coral sangat genit pada Dre."
"Ya sudah kamu panggil Dre dan suruh menjemput Coral di loteng."
Dre diberitahu oleh Leonil untuk menyusul Coral di atas loteng. Dre dengan semangat berjalan menuju loteng untuk menemui Coral
Dre melihat pintu kamar Coral yang ada di loteng terbuka, dan dia tanpa sopan langsung menyelonong masuk.
"Cantik sekali kamu malam ini."
__ADS_1
Coral yang sedang menatap dirinya di cermin tampak kaget. "Dre, kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu? Kenapa main masuk begitu saja? Sangat tidak sopan."
"Salah sendiri! Kenapa pintunya tidak kamu tutup?"
"Walaupun tidak aku tutup, kamu, kan bisa mengetuknya, itu akan lebih sopan."
"Jangan banyak bicara. Bibi dan lainnya menunggumu di bawah."
"Kamu turun saja dulu, aku akan segera turun ke bawah, lagi pula itu bukan acara ulang tahunku dan yang ditunggu semua orang bukan aku."
Dre berjalan mendekat ke arah Coral. Gadis itu seketika memundurkan beberapa langkahnya ke belakang karena dia takut melihat wajah Dre yang seolah memiliki niat jahat padanya.
"Apa pacar kamu yang membuatmu seberani ini sekarang? Tapi di mana dia? Kata Deona dia beberapa hari ini tidak melihat pacar kamu, jangan-jangan pacar kamu sudah meninggalkanmu. Kasihan sekali." Dre tersenyum meremehkan.
"Dia tidak meninggalkanku, dia hanya pergi beberapa hari karena ada urusan penting." Coral terpaksa berbohong, dahal dia sendiri tidak tahu di mana Rize pergi.
"Jangan kurang ajar, Dre! Aku ini juga saudara sepupumu. Jadi, tolong hormati aku."
"Aku tidak pernah menganggapmu saudara sepupu Coral. Gadis sepertimu lebih pantas menjadi wanita yang bisa aku ajak bersenang-senang."
Plak!
Coral menampar wajah Dre dengan sangat keras karena ucapan Dre benar-benar tidak sopan padanya.
"Kamu berani menamparku!"
"Tentu saja! Kamu pantas ditampar karena bicaramu sangat tidak sopan. Dre, kalau kamu mau menamparku silakan, sekalian saja kita akan membuat keributan di sini biar orang-orang tahu bagaimana sikap kamu terhadap seorang gadis. Aku sudah tidak takut, Dre, aku sudah lelah dengan perlakuan keluargamu yang sangat jahat itu!" Coral berkata dengan sangat tegas.
__ADS_1
Dre memang pria yang sangat tidak memiliki akhlak yang baik, dia juga suka bersenang-senang dengan gadis-gadis malam di sebuah tempat hiburan. Dia anak orang kaya, kedua orang tuanya sangat menyayanginya, tapi cara sayang mereka salah. Dre diberi banyak sekali materi dan dia bisa melakukan apapun sesukanya. Kedua orang tua Dre jarang sekali di rumah. Jadi, dia tidak tahu kelakuan putranya itu.
Dre turun ke lantai bawah dengan muka kesal sambil memegang pipinya yang ditampar oleh Coral.
Coral tampak duduk lemas di atas lantai kayu dia melihat ke arah langit yang saat itu dihiasi oleh bulan purnama yang sangat terang. "Aku harap kamu datang ke sini dan membawa aku pergi malam ini. Kenapa aku sangat takut sekali malam ini? Aku takut sesuatu terjadi padaku. Rize kamu di mana?"
***
Di sebuah tempat nun jauh di sana. Seorang pria sedang berbaring di atas sebuah ranjang yang terbentuk dari es balok yang sangat besar. Mata kedua pria itu masih terpejam dengan sempurna.
"Paman Helius, bagaimana keadaan putraku?" tanya seorang wanita dengan memegang tongkat berlapis titanium dan ada sebuah bola kristal di atasnya.
"Kekuatannya terserap sangat banyak, tapi aku yakin keadaan Pangeran Rize sangat kuat dia akan baik-baik saja ratu. Pengobatan yang sudah aku berikan pada Pangeran Rize sangat maksimal, kita tunggu saja hasilnya dalam beberapa hari ini."
"Aku berharap Rize sadar dan segera bisa mengambil bola mutiara hitam itu. Bagaimanapun juga, malam untuk menyerap kekuatan cahaya bulan akan segera datang dan kita membutuhkan bola mutiara hitam itu untuk tetap melindungi kerajaan ini dari Raja Pedrona yang pasti juga ingin mendapatkan bola mutiara hitam itu untuk menambah kekuatannya sehingga bisa mengalahkan kerajaan ini."
"Pangeran Rize akan segera mendapatkannya dan dia juga akan membawa permaisurinya untuk kerajaan kita, Ratu."
"Jujur saja, Helius, saat kamu menceritakan tentang gadis bernama Coral itu aku juga penasaran ingin melihatnya, jika dia memiliki hati sebaik berlian, dia pantas menjadi ratu di kerajaan ini menggantikanku, tapi apa Rize mau mengubahnya menjadi kaum kita?"
Paman Helius ini sebenarnya tahu jika Pangeran Rize tidak ingin menjadikan Coral seperti dirinya, dia hanya ingin bola itu keluar dari tubuh Coral sehingga Coral tidak akan dikejar lagi oleh raja Pedrona. Coral akan bisa hidup seperti manusia biasa dan dia yakin kali ini Coral akan menjadi manusia yang kuat karena Rize sudah melihat perubahan itu. Rize tidak ingin Coral menjadi vampir, baginya menjadi vampire bukan hal yang baik untuk Coral.
"Kita lihat saja Ratu, jika pangeran Rize sangat mencintai gadis itu, maka dia akan menjadikan gadis itu seperti kita."
"Aku tidak menyangka jika putraku akan bisa jatuh cinta dengan seorang anak manusia."
"Manusia yang dicintai oleh pangeran Rize ini sangat baik dan dia memang pantas untuk dicintai oleh semua orang sebenarnya."
__ADS_1