My Vampire Prince

My Vampire Prince
Kedatangan Mara


__ADS_3

Mereka mengatakan senang menyiksa Zio dan teman Zio yang seorang gadis karena mereka terlalu lemah dan mudah untuk dipermainkan.


Mara seketika melihat ke arah Zio dari atas sampai bawah. "Kalian benar sekali. Pria ini memang terlihat lemah, tapi apa kalian berhak untuk menyakitinya? Bangsaku saja jika tidak dilukai, mereka tidak akan menyakiti satu sama lain. Kalian benar-benar seperti iblis. Sekarang, pergi dari sini!" bentak Mara kesal.


Mereka sebenarnya tadi sedang berpikir dengan ucapan Mara yang mengatakan bangsanya. Memangnya bangsanya bukan manusia?


Para pemuda nakal itu semua langsung pergi dari sana karena takut melihat wajah Mara yang marah. Troy pergi dengan wajah malu karena dikalahkan oleh seorang gadis.


"Malaikat cantik, sekali lagi aku mau berterima kasih sama kamu."


"CK! Apa hanya ucapan terima kasih yang bisa kamu lakukan? Kamu itu sebenarnya pria yang tampan seperti pangeran Rize. Tubuh kamu juga sangat bagus, tapi sayang nyali kamu tidak ada di sini."


Telunjuk Mara menekan pada dada sebelah kanan Zio. Zio tau apa yang di maksud oleh malaikat cantiknya itu.


"A-aku hanya takut saja melawan mereka yang memiliki banyak teman. Aku pernah sekali ingin melawan mereka, tapi yang ada aku malah babak belur dan akhirnya aku tidak berani lagi."


Mara menggelengkan kepalanya malas dengan ucapan Zio. "Besok, temui aku di sini setelah kamu pulang dari sekolah."


"Hah? Untuk apa?"


"Aku ajari kamu supaya bisa menang melawan para anak-anak jahat itu."


Mara berbicara sambil berjalan pergi meninggalkan Zio karena Mara sepertinya sudah mengetahui di mana orang yang dia cari.


Zio tampak senang mendengar apa yang Mara katakan karena dia akan bertemu dengan malaikat cantiknya setiap hari nantinya.


"Mata aku--." Zio celingukan karena malaikat cantiknya itu ternyata sudah tidak ada di sana. "Dia kenapa bisa cepat sekali jalannya? Padahal jarak pada tikungan masih sangat jauh? Dia belok ke mana?"


Tentu saja Zio sangat bingung karena sebelahnya kanan kiri jalan itu sebuah jembatan besar yang ada sungai besar dan belokan masih jauh. Mara baru berjalan, tapi kenapa sudah menghilang.


"Apa dia hantu? Tapi kalau hantu, dia pasti menakutiku."


Zio akhirnya memilih pulang saja dan dia pasti nanti malam tidak bisa tidur karena menunggu hari esok agar bisa bertemu dengan si cantiknya itu.


Di rumahnya. Rize dan Coral akan keluar untuk mengantar Coral pulang ke rumahnya. Rize sebenarnya ingin Coral berada di rumahnya, tapi gadis itu tidak mau. Dia tidak mau jika nanti ayahnya tau dia tinggal bersama dengan seorang pria yang bukan suaminya.


"Coral, apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Kalau kamu tinggal di sana, pasti kamu akan dilukai lagi oleh mereka."


"Aku akan waspada dan lebih berhati-hati Rize. Aku ingin segera menyelesaikan sekolahkan dan--." Coral tidak meneruskan kata-katanya. Dia melihat pada Rize yang sepertinya menunggu kelanjutan ucapan Coral.

__ADS_1


"Apa?"


"Tidak ada apa-apa, Rize. Ayo! Kita pulang sekarang, Rize."


Coral berjalan lebih dulu. Rize melihat pada Paman Helius. Paman Helius segera memberi isyarat dengan anggukan kepala beberapa kali agar membiarkan saja apa yang Coral inginkan.


"Rize!"


Blup


Sebuah pelukan dengan cepat mendarat sempurna pada tubuh Rize. Rize agak sedikit terkejut melihat sahabatnya tiba-tiba ada di sana.


Coral pun tampak kaget melihat pria yang mengklaim dirinya adalah kekasihnya, malah dipeluk oleh seorang gadis cantik. Ya! Mara memang sangat cantik, jika dibandingkan Coral yang tampil biasa saja.


"Dia siapa?" Coral bicara lirih pada dirinya sendiri.


"Mara? Kenapa kamu bisa sampai ke sini?"


"Aku mencarimu, Rize. Di kerajaan sangat membosankan. Jadi, aku datang ke sini mencarimu. Kedua orang tuamu mengatakan kamu di kota ini untuk mencari--."


"Nona Mara, apa bisa Paman bicara sebentar?" Paman Helius memotong dengan cepat ucapan Mara karena takut jika Coral mengetahui jika Rize mendekati dia karena ada maksud khusus.


"Saya baik, Nona Mara."


Coral hanya bisa berdiri diam di tempatnya. Jujur saja Coral merasa agak kesal melihat Rize mendapat pelukan seperti itu. Malahan Coral berpikir jika itu pasti kekasihnya Rize yang ada di kota tempat dia tinggal dulu.


"Rize, kalau kamu sedang sibuk, aku bisa pulang sendiri." Coral melihat pada Tsamara.


Pun dengan Tsamara melihat pada Coral. "Mara, kamu bersama dengan Paman Helius dulu di sini karena aku mau mengantarkan Coral pulang ke rumahnya. Paman, tolong temani Mara sebentar dan aku akan segera kembali."


Coral berpamitan pada Paman Helius dan juga Mara. Mara memandangi Coral sampai mereka masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari sana.


"Dia manusia ya, Paman? Apa Rize mencintai seorang manusia?" Mara melihat penasaran pada Paman Helius.


"Dia gadis yang ditubuhnya ada bola mutiara hitam yang sedang dicari oleh Pangeran Rize dan juga raja vampire Pedrona."


"Apa?" Mara mukanya terlihat sangat terkejut.


"Iya. Pangeran Rize juga sekarang harus melindungi gadis itu dari raja Pedrona yang sepertinya sudah mulai mendekat ke kota ini."

__ADS_1


"Aku jadi khawatir jika Rize nanti pasti juga dalam bahaya karena raja Pedrona itu sangat kuat."


"Pangeran Rize pasti bisa melawan raja Pedrona, apa lagi jika Rize sudah mendapatkan bola mutiara hitam itu."


"Paman, bagaimana cara Rize bisa mengeluarkan bola mutiara dari tubuh gadis itu?"


"Sebenarnya ada dua cara. Cara pertama dengan membunuh gadis itu dan bola mutiara hitam itu akan keluar dengan sendirinya."


"Membunuh? Menghisap darah gadis itu? Enak sekali Rize jika bisa mencicipi darah manusia."


"Bukan menjadikan dia vampire seperti kita, tapi benar-benar membunuhnya."


"Terlalu kejam. Kalau cara yang kedua?"


Paman Helius terdiam sejenak, dia melirik pada Mara yang sedang menunggu jawaban dari Paman Helius.


"Em ...."


"Kenapa lama sekali menjawabnya?"


"Pangeran Rize harus menyatu dengan gadis itu."


"Menyatu? Maksudnya?"


"Melakukan hubungan suami istri."


"Apa?" Sekali lagi Mara tampak terkejut sampai kedua matanya mendelik.


"Pangeran Rize akan menikahi gadis itu dan mereka baru bisa melakukan hubungan suami istri untuk mengeluarkan bola mutiara hitam itu."


"Kenapa cara itu terdengar lebih kejam, Paman?"


Paman Helius mengerutkan kedua alisnya. "Bagaimana cara itu dikatakan lebih kejam, Nona? Bukannya itu lebih baik daripada harus membunuh gadis yang nasibnya sangat malang itu. Pangeran Rize akan menikahi gadis itu dan membawanya ke kastilnya untuk dijadikan ratunya kelak."


"Apa bisa menikahi seorang manusia? Apa raja akan mengizinkan hal itu?"


Paman Helius terdiam sejenak. "Pangeran Rize akan mengubah gadis itu menjadi seperti dirinya."


"Dia akan menjadi sangat menderita beberapa tahun jika berubah menjadi bangsa kita, Paman. Kalian sama saja menyiksa gadis itu."

__ADS_1


__ADS_2