My Vampire Prince

My Vampire Prince
Dia Rize yang Kukenal Part 3


__ADS_3

Ketiga orang di bawah Itu tampak bingung, mereka sedang memikirkan sebenarnya di mana Dre berada karena mereka menunggu bukti untuk menghancurkan Coral. Bukti Itulah yang bisa membuat Coral akan dibenci oleh ayahnya bahkan seluruh orang dan juga kekasihnya.


"Kita cari cara saja, Bu, bertanya pada Coral, kalau kita hanya melihat Dre naik loteng, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi. Bagaimana? Mungkin Coral bisa memberi kita petunjuk di mana Dre berada."


Wanita bernama Rose itu sedang memikirkan sesuatu, dia memikirkan apakah aman jika mereka bertanya pada Coral di mana Dre atau nanti malah akan membuat kejahatannya terbongkar?


"Tidak ada cara lain, Bu, selain bertanya pada Coral, aku juga penasaran sebenarnya Coral sudah dinodai Dre atau belum? Atau malah tidak disentuh sama sekali, tapi kenapa Dre langsung pergi? Apa yang terjadi?" Leonil benar-benar sangat bingung dan ada tanda tanya besar di atas kepalanya.


"Kita cari saja sebuah alasan untuk berpura-pura bertanya pada Coral kalau kita juga tidak tahu Dre kenapa naik ke atas kamarnya."


"Jangan sekarang karena gadis itu hari ini sedang sangat menyebalkan dan sok berani, dia bahkan berani mengancam ibu jika dia menemukan bukti kalau kita membuat rencana jahat lagi untuknya, dia akan melaporkan pada ayahnya. Sebaiknya kita tunda saja untuk bertanya padanya hari ini, biarkan dia merasa lebih tenang dan kita memikirkan cara lainnya kalau sampai Dre memang tidak berbuat apa-apa kepadanya."


Di atas kamarnya Coral hanya duduk terdiam. Dia sedang memikirkan sesuatu, dia ingin tahu apa Dre yang hendak menodainya adalah salah satu rencana mereka karena Coral tidak mau langsung berprasangka buruk walaupun feelingnya mengatakan hal itu adalah memang benar rencana keluarganya untuk mencelakainya.


Tidak lama ponsel Coral berdering, Coral melihat ada nama Rize di sana, bahkan ada foto Rize yang terlihat sangat tampan memenuhi layar ponselnya.


"Untuk apa dia menghubungiku? Bukannya tadi kita baru saja bertemu?"


Coral menjawab panggilan dari kekasihnya itu, dia tidak tahu jika Rize sedang berada di atas lotengnya mengawasinya karena Rize tetap akan terus mengawasi Coral sampai gadis itu benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.


"Halo, Coral, apa ponselmu baik-baik saja?"


"Kenapa kau malah menanyakan ponselku? Kenapa tidak merayakan keadaanku?"


"Aku yakin kau pasti baik-baik saja, aku takutnya malah ponselmu yang dirusak oleh saudara tirimu."

__ADS_1


"Ponselku baik-baik saja. Deona tidak akan kubiarkan merusak sekali lagi benda milikku, apa lagi kamu yang sudah membelikannya untukku."


"Aku senang mendengarnya dan aku berharap kamu menjaga ponsel itu dengan baik karena aku ingin selalu tahu keadaanmu."


"Rize, tadi Deona sempat mengatakan agar aku jangan merasa sok kamu cintai karena sebentar lagi aku pasti akan ditinggalkan oleh kamu, bahkan dibenci oleh dirimu. Aku tidak tahu apa maksud yang sebenarnya, tapi saat aku menanyakan apa mereka telah merencanakan sesuatu padaku, Ibu tidak mau mengatakan yang sebenarnya, malah mereka terus menyangkal jika apa yang dikatakan Deona itu tidak perlu didengar."


"Mungkin yang dimaksud kejadian semalam saat kamu bersama Dre. Itu pasti bagian rencana mereka."


"Aku berharap mereka tidak terlibat dalam masalah itu. Dre memang pria yang tidak baik, dan memiliki aturan, tapi aku tidak akan pernah menyangka jika ibu dan adik tiriku apa lagi mereka juga seorang wanita akan ikut merencanakan hal seburuk itu padaku. Semoga saja mereka tidak terlibat dalam hal ini."


"Semoga saja tidak, Coral, tapi jika memang mereka terlibat aku tidak akan tinggal diam."


"Jangan berbuat hal buruk pada mereka, jangan mengotori tanganmu dengan menyakiti atau melukai mereka. Jika aku mendapat bukti dari kejahatan mereka, aku akan memberikan pada ayahku dan aku akan membuat mereka terusir dari rumah ini, dengan cara itu aku dan ayahku bisa hidup tenang walaupun aku tahu ayahku pasti akan sakit karena ayahku sangat mencintai ibu."


"Kalau kamu ingin hidup tenang, kamu bersabarlah dan tunggu aku untuk membawamu pergi ke tempatku setelah kita menikah."


"Apa kamu benar-benar mau aku bawa ke mana aku pergi?"


"Tentu saja aku mau, bukannya aku adalah istrimu jika kamu sudah menikah denganku."


Rize terdiam sejenak di tempatnya. Sudah pasti dia akan membawa Coral ke tempatnya jika ingin mengeluarkan bola mutiara hitam itu nantinya, tapi setelah itu dia akan membuat Coral meminum pil penghilang ingatan yang Paman Helius akan buatkan sesuai apa yang Rize minta karena Rize sudah memutuskan tidak akan menjadikan Coral bagian dari kaumnya dan akan membuat gadis itu menjalani takdirnya sebagai manusia sampai nanti Coral menutup kedua matanya.


"Rize, apa kamu masih di sana?"


"Iya, aku masih di sini. Aku minta maaf karena tadi sedang memikirkan tentang masalah yang terjadi sama kamu."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Rize dan kamu tidak perlu khawatir."


"Coral, tetaplah menjadi wanita yang tegas dan berani untuk menghadapi semua yang akan terjadi sama kamu."


"Tentu saja, Rize. Aku sekarang berani melawan mereka yang selalu menyakitiku dan semua itu karena ada kamu di sampingku."


"Coral, kamu jangan berpikir jika kamu menjadi kuat dan berani karena aku, tapi itu semua memang berasal dari dalam dirimu sendiri."


"Tidak, Rize, ini semua berkat kamu yang ada di sampingku. Kamu adalah malaikat penjagaku dan aku sangat mencintaimu, Rize."


Rize sekali lagi terdiam dan jujur saja dia sudah jatuh cinta pada gadis lugu itu, tapi dunia mereka berbeda, walaupun Rize bisa menjadikan dunia mereka sama, tapi Rize tidak menginginkan hali ini. Pernikahan mereka pun nantinya akan menjadi masalah jika Coral menikah dengan Rize masih dalam wujud manusia.


"Coral, sepertinya ayahku menghubungiku. Nanti akan aku hubungi kamu lagi. Sekarang lebih baik kamu beristirahat saja."


"Iya, Rize. Kamu juga jaga kesehatan, apalagi kamu baru saja sembuh dari sakitmu."


"Iya, Coral. Selamat malam."


"Malam, Rize."


Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Rize pergi dari sana secepatnya karena dia melihat ada bayangan yang dari tadi sepertinya sedang mengawasi rumah Coral.


"Dia pasti suruhan raja Pedrona yang disuruh mengawasi rumah Coral."


Rize mengejar bayangan hitam yang berlari dengan cepat itu. Dia akhirnya bisa menyusulnya dengan cepat.

__ADS_1


"Jansen, kamu ternyata. Mana si Pedrona itu?" tanya Rize dengan menatap tajam pada adik dari raja Pedrona.


"Kakakku tidak perlu turun tangan untuk menangani gadis lemah yang adalah kekasih kamu itu. Tidak lama lagi malam yang ditunggu oleh Kakakku akan tiba dan kamu serta seluruh rakyatmu harus bersiap-siap menunggu pemusnahan kalian." Pria yang seumuran dengan Rize itu tersenyum miring.


__ADS_2