
Zio yang baru saja datang tersenyum melihat hal itu. Beda dengan Coral, dia malah agak takut dilihat oleh banyak orang seperti itu. Apa lagi tatapan Luana dan Taza yang tampak marah padanya.
"Rize, apa yang kamu lakukan?"
"Bukannya kamu ingin aku membuktikan jika aku memang serius ingin kamu menjadi kekasihku?"
"Tapi tidak seperti ini? Lihat, mereka melihatku dengan tatapan yang tidak suka."
"Biarkan saja, yang terpenting aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."
Rize melihat serius pada Coral. Pun dengan gadis yang sedang digandengnya itu melihat dengan tatapan masih tidak percaya.
Rize membawa Coral berjalan masuk ke gedung sekolahnya. Di depan pintu utama mereka bertemu dengan guru yang waktu itu Rize tau saat mereka sedang study tour.
"Hei! Jangan berpacaran di lingkungan sekolah, apa lagi sampai bergandengan tangan seperti itu."
Rize menatap wanita itu dengan pandangan datar. "Kita baru saja berpacaran, Bu. Jadi, aku minta maaf jika apa yang aku lakukan ini terlihat manis karena aku baru pertama kali ini memiliki kekasih."
Rize menoleh pada Coral yang agak takut. Dia bahkan ingin melepaskan genggaman tangan Rize, tapi ditahan oleh Rize, bahkan sekarang Rize mengecup kening Coral.
Sekarang Rize melihat kembali pada gurunya. "Permisi ya, Bu." Rize malah dengan santai berjalan masuk dengan tetap menggandeng Coral.
"Apa benar anak baru itu kekasih Coral? Sulit sekali untuk dipercaya." Wanita paruh baya itu memaqng tau bagaimana Coral di sekolah, tapi tidak peduli karena orang tua Luana sering sekali memberi banyak hadiah padanya.
Di dalam kelas Coral tampak duduk dan tidak berani menoleh pada Rize sama sekali dia tampak gusar sembari mengaitkan jari jemarinya untuk menghilangkan kecemasannya.
Luana masuk dan dia mengajak Coral untuk bicara di luar. Coral tau apa yang akan dilakukan oleh Luana, Coral berjalan keluar mengikuti Luana yang tampak berpura-pura bersikap manis saat itu karena dilihat oleh Rize.
"Hei, Gadis Bodoh! Apa yang kamu lakukan tadi bersama dengan Rize?" Luana tampak menjambak rambut Coral.
"Sakit, Luana," rintih Coral dengan wajah menahan sakit."
__ADS_1
"Aku lebih sakit melihat kamu berjalan seperti sepasang kekasih dengan pria yang aku incar."
"Coral memang kekasihku, dan aku tidak suka kamu menyakitinya seperti itu. Lepaskan tanganmu atau aku yang akan membuat tanganmu terlepas." Rize memberikan tatapan yang seketika membuat gadis yang menjambak Coral itu takut.
Luana dengan cepat melepaskan tangannya. Rize menarik tangan Coral dan mendekap dalam pelukannya.
"Rize, dia tidak mungkin menjadi kekasihmu, kan? Kamu pasti bercanda."
"Aku serius. Apa kamu tidak bisa melihat keseriusan di wajahku?"
Luana melihat pada Coral yang ada di pelukan Rize. Coral tampak terdiam, tapi dia merasa nyaman dan terlindungi saat berada di pelukan Rize.
"Rize, bagaimana kamu bisa menjadikan Coral kekasihmu? Apa kamu tidak tau siapa dia? Dia gadis yang sangat tidak berguna di sekolah maupun di rumahnya, dia benar-benar akan membuat kamu malu jika dirimu menjadikan dia kekasihmu."
"Oh ya? Apa benar seperti itu? Tapi kenapa aku merasa jika Coral bukan gadis yang seperti itu."
Coral melepaskan pelukannya pada Rize. "Rize, benar apa yang Luana katakan, kamu akan menyesal menganggap aku sebagai kekasihmu."
"Jangan banyak bicara. Aku sudah memutuskan kamu menjadi kekasihku, dan tidak ada hal apapun yang dapat merubah keputusanku."
"Kamu tidak perlu aku cubit karena kamu sedang tidak bermimpi. Kita ini sedang melihat kenyataan dan kenyataan itu sangat pahit."
Rize membawa Coral masuk ke dalam kelas. Di dalam ternyata sudah ada Deona menunggu Rize.
"Rize." Deona melihat pada Coral.
"Ada apa?"
"Rize, aku membawakan kamu kue ini." Deona memberikan box cantik yang isinya kue yang sangat enak.
Rize hanya melihatnya saja. Tidak ada ekspresi berarti dari wajah Rize. "Kamu bawa lagi saja kue itu karena aku tidak suka makan makanan seperti itu." Rize berjalan melewati Deona. Coral yang berjalan di belakang Rize juga ikut melewati Deona karena memang tangannya masih digandeng oleh Rize.
__ADS_1
"Rize, tapi aku sudah susah payah membelikan ini buat kamu. Kamu cobalah dulu karena ini kue yang terenak di sini."
Rize melihat Deona seolah memaksa. Rize tampak berpikir sejenak. "Baiklah kalau kamu memaksa, aku akan menerima kue ini." Rize mengambilnya, dan seketika wajah Deona tampak senang.
Karena bel masuk sudah berbunyi, maka Deona kembali ke kelasnya dan Rize duduk ke tempatnya. Pelajaran dimulai seperti biasa.
Guru mereka memberi soal latihan dan mereka mengerjakan dengan tertib. Rize melihat jika Luana duduk santai menunggu jawaban soal dari Coral.
Beberapa menit kemudian, Coral seperti biasa melihat pada Luana dan dia tau jika Luana menginginkan jawaban itu.
Luana memberikan bukunya agar Coral menuliskan jawabannya. Namun, dengan cepat Rize melempar buku itu tepat mengenainya ke arah guru mereka.
Luana tidak tau dikira tadi ada angin kencang yang tiba-tiba melemparkan bukunya. Luana terkejut, apa lagi gurunya juga sangat terkejut sampai melongo melihat buku Luana yang jatuh di atas mejanya.
"Luana, kenapa kamu melempar bukumu sendiri?" Guru yang terkenal killer itu mendelik pada Luana yang berdiri dengan wajah kaget bin takut.
"Sa-saya tidak melemparnya, Pak. I-itu tadi terbang sendiri."
"Terbang sendiri? Memangnya ada setan yang menerbangkan?" Pria itu membuka buku Luana dan dia belum menuliskan sama sekali pada bukunya. "Kamu belum mengerjakan sama sekali? Ini tinggal beberapa menit lagi harus dikumpulkan dan kamu belum mengerjakan?"
"Saya mau mengerjakan, tapi tadi bukunya malah terbang." Luana segera berjalan mendekat dan mengambil bukunya.
"Lebih baik kamu kerjakan di luar saja. Mana mungkin kamu bisa mengerjakan hanya tinggal sepuluh menit saja waktunya."
Luana mendekat dan mulai melakukan apa yang biasa dia lakukan. Menggunakan kekuasaan kedua orang tuanya.
"Pak, besok akan aku bilang pada ayahku untuk mengirim sepeda motor baru karena aku lihat sepeda motor Pak Aro sudah ketinggalan zaman," Luana bicara dengan lirih.
Kedua mata guru itu tampak berbinar. "Baiklah kalau begitu, saya akan memberi tambahan waktu untuk mengerjakannya."
"Terima kasih, Pak." Luana tampak ceria dan berjalan kembali ke bangkunya.
__ADS_1
Rize berjalan dan mengambil buku milik Coral yang memang sudah selesai mengerjakannya. Coral tampak kaget. Begitupun dengan Luana yang niatnya bisa mencontek jawaban Coral dengan merayu sang guru agar mendapat waktu, tapi malah buku ulangan Coral malah sudah dikumpulkan.
Rize mengajak Coral keluar lebih dulu karena memang Rize juga sudah menyeselsaikan tugasnya hari ini.