
Terjadi pertempuran yang sangat hebat antara vampir dengan ras menghisap darah manusia dan vampire menghisap darah hewan. Mara pun tanpa kewalahan menghadapi Raja Pedrona yang memang kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Pedang Mara beberapa kali hampir melukai Raja pedrona, tapi Raja itu bisa menangkisnya.
Rize mengeluarkan kekuatannya, dia mencekik dari jauh leher Raja Pedrona sehingga Raja itu pun sulit untuk untuk mengambil udara, tapi cengkraman itu tidak berlangsung lama karena Raja Pedrona juga mengeluarkan asap hitamnya untuk mencapai leher Rize. Mereka berdua sama-sama saling mencekik dari jauh. Mara yang berusaha menancapkan pedang pada dada Raja Pedrona pun tidak lepas dari cengkraman asap hitam Raja Pedrona.
Mereka bertiga sama-sama tercekik karena kekuatan yang dimiliki masing-masing.
Sky yang baru datang tampak melihat keadaan tidak baik, dia dengan cepat membuat bumi bergetar dengan menempelkan tangannya ke tanah sehingga bagian bumi yang ada pada raja Pedrona bergetar dan retak. Cengkraman ketiga orang itu terlepas.
"Raja Pedrona, malam ini aku tidak akan melepaskanmu sehingga nyawa Coral tidak akan terancam."
"Kamu tidak akan bisa kamu membunuhku, Pangeran kecil karena aku yang akan membunuhmu dan mengambil bola mutiara hitam dari gadis itu." Raja Pedrona yang memiliki manik mata hitam itu semakin menghitam dan diraut wajahnya pun tampak berwarna merah seperti darah mengalir, dia seolah berubah menjadi monster jahat.
Sky yang melihat itu tahu jika mungkin mereka bertiga tidak akan bisa mengalahkan raja Pedrona tanpa kekuatan lainnya.
"Rize, kita yang akan kalah nantinya. Apa kamu tahu jika Raja Pedrona adalah ras vampir terkuat terakhir yang masih ada, bahkan kakekmu pun hanya bisa mengurungnya waktu itu, tapi dia dapat bebas setelah mengumpulkan kekuatannya."
"Aku memang membutuhkan bola mutiara hitam itu untuk melawan Raja Pedrona yang sangat kejam itu."
Pertarungan kembali dimulai. Ketiga orang itu pun tampak benar-benar kewalahan menghadapi kekuatan Raja Pedrona.
"Aku akan menghabisimu sekarang, Pangeran kecil. Kamu tidak akan menjadi penghalangku lagi." Saat Raja Pedrona hampir mematahkan leher Rize, dari belakang tubuhnya tertembak oleh sesuatu sehingga dia berteriak kesakitan dan langsung pergi menghilang dari sana.
"Apa kamu baik-baik saja, Rize?"
"Ayah, kenapa Ayah bisa ada di sini?"
"Ayah mencarimu di rumah dan aku ayahmu Rize, tentu saja aku tahu di mana putraku dalam bahaya atau tidak, sebaiknya kita segera pergi dari sini, untuk sementara peluru palladium itu akan melukai Raja Pedrona. Sayang sekali tadi aku tidak terkena pada jantungnya, tapi memang peluru palladium itu pun tidak akan bisa membunuhnya dan hanya bisa melukainya sementara."
Mereka pergi dari tempat itu dan menuju ke rumah Rize, di sana ayah Rize memberitahu jika Rize mendapat panggilan dari dewan tertinggi karena telah melanggar peraturan utama di kerajaan itu.
"Pasti mereka sudah tahu aku menghisap darah manusia dan manusia itu sudah aku lenyapkan, tapi dari mana mereka bisa tahu?"
"Apa kamu tahu jika dewan tertinggi memiliki Natha yang bisa mengetahui semua kejahatan yang dilakukan atau terjadi di kerajaan kita."
"Tapi aku melakukan itu hanya untuk melindungi pemilik bola mutiara hitam itu. Gadis yang akan menjadi calon ratuku.
"Dia akan benar-benar diakui menjadi ratumu jika dia berubah menjadi sepertimu Rize."
Rize tampak terdiam mendengar hal itu. Dia teringat jika tadi Coral pasti merasa kecewa mendengar apa yang raja Pedrona katakan.
"Ayah, aku pergi sebentar untuk menyelesaikan suatu masalah yang sangat penting."
__ADS_1
"Tapi ayah ingin memberitahumu dan bicara denganmu tentang keinginan dewan tertinggi, Rize.
"Nanti kita bicara lagi, Yah karena aku harus menyelesaikan masalah ini, ini sangat penting sekali. Mara, Sky, terima kasih sudah membantuku "
"Jangan bicara seperti itu Rize, kita ini keluarga," ucap Sky sambil tersenyum.
Rize pergi dari sana secepatnya dan dia tiba di rumah Coral, tepatnya di loteng rumah Coral.
"Dia pasti sedang marah padaku." Rize tidak masuk dalam karena jendela satu-satunya di mana Rise biasa masuk sudah ditutup rapat oleh Coral, dahal jendela itu tidak pernah ditutup oleh Coral, tapi setelah kejadian dengan raja Pedrona jendela itu di tutup.
"Apa aku harus masuk lewat cerobong asap? Tapi cerobong itu kecil sekali."
Rize ini vampire, bukan hantu yang bisa menembus benda. Jadi, dia tidak mungkin menembus jendela yang ditutup.
"Mungkin sebaiknya aku pergi saja dan besok di sekolah aku akan mencoba menjelaskan semua pada Coral."
Rize mengintip dari balik jendela itu. Dia melihat Coral yang tidur dekat perapian yang menyala dan ada gaun serta sepatu pemberian Rize tergeletak di sampingnya.
Coral tidur menghadap perapian membelakangi jendela di mana Rize berada sedang berdiri memperhatikannya.
Coral sebenarnya belum tidur dia hanya berpura-pura karena tahu Rize ada di depan jendelanya. Coral tidak ingin bicara dengan dia karen Coral merasa masih sakit hati dengan apa yang baru saja dia ketahui.
Coral menarik selimutnya dan memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Malam ini hatinya benar-benar hancur, dia seolah teringat akan perilaku Taza dan Luana yang juga membohonginya dengan menyuruh seorang pria pura-pura menyukainya tapi hanya ingin mempermainkannya bahkan menghinanya.
Keesokan harinya Coral yang udah bangun, dia melihat gaun pemberian Rize ada di sana dan dia mengambil gaun itu serta menyimpannya kembali, dia akan mengembalikan gaun itu pada Rize.
Coral sudah bersiap-siap akan berangkat ke sekolah hari ini dia makan bersama dengan keluarganya. Setelah makan ayahnya mengantarnya dan juga Kedua saudara ke tirinya berangkat ke sekolah.
"Coral, maafkan ayah jika ayah terlalu keras padamu, tapi semua itu aku lakukan hanya ingin menjagamu."
"Coral tidak menjawab, dia langsung memeluk ayahnya. Ruff yang merasa sepertinya anaknya memang sangat membutuhkannya itu mengeratkan pelukannya pada Coral.
"Ayah aku mau masuk ke kelas dulu."
Ruff mengangguk dan Coral berjalan menuju kelasnya.
Coral sampai di dalam kelasnya dia langsung duduk di bangkunya tanpa melihat ke arah Rize yang sudah ada di sana dari tadi. Rize beranjak dari bangkunya dan mendekat ke arah meja Coral.
"Aku ingin kamu mendengarkan penjelasanku tentang apa yang raja Pedrona katakan, Coral."
__ADS_1
"Aku sudah paham apa yang raja Pedrona katakan, Rize." Coral bicara tanpa melihat ke arah Rize. "Aku ingat awal pertemuan kita karena kamu sedang mencari bola mutiara hitam itu. Kenapa juga aku sangat bodoh Sampai tidak sadar akan hal itu."
"Aku tidak bermaksud ingin menyakitimu, tapi bola mutiara hitam itu sangat aku butuhkan untuk melawan Raja Pedrona agar kaumku bisa kulindungi. Jika bola itu jatuh ke tangan Raja Pedrona maka kehancuran untuk kaumku dan mungkin untuk manusia karena raja Pedrona akan menjadi kuat dan akan menghancurkan semua yang yang dia tidak sukai."
Rize menceritakan awal mula bola mutiara hitam itu sampai bisa hilang dari kerajaannya. Coral ingat jika dia menabrak seseorang dan setelah itu dia pulang membawa bola yang sangat aneh yang ternyata adalah bola mutiara hitam.
Rize juga mengatakan jika awalnya ia ingin membunuh Coral agar bola mutiara hitam itu bisa dia dapatkan lagi, tapi setelah melihat kehidupan jahat yang dialami oleh Coral niatnya diurungkan dia ingin membantu Coral menghadapi dunia yang kejam ini.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku, Rize? Atau hanya sekadar ingin mengambil bola mutiara hitam itu?"
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Coral. Sebenarnya hal ini salah karena dunia kita juga berbeda aku tidak seharusnya mencintai seorang manusia, di kerajaanku pun tidak akan diperbolehkan. Jika mereka tahu aku menikahi seorang manusia dan membawanya ke sana mungkin aku harus mendapat hukuman atau--." Rize terdiam sejenak dia tidak melanjut kata-katanya.
"Atau apa, Rize? Kenapa kamu tidak melanjutkan kata-katamu aku ingin tahu Rize. katakan?"
"Aku bisa membawamu ke istanaku dan benar-benar menjadi ratuku jika aku sudah merubahmu menjadi vampir, tapi aku tidak mau melakukannya, Coral, seperti yang aku bilang menjadi seorang vampir bukan pilihan yang tepat."
"Bagaimana jika aku yang menginginkan menjadi seorang vampir apa kamu tetap tidak mau merubahnya?"
"Jangan terburu-buru jika memutuskan sesuatu karena sekali kamu menjadi seorang vampir, kamu tidak akan bisa lagi menikmati dirimu sebagai seorang manusi, aku sudah bilang semua padamu, Coral, aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin menjadikanmu seperti diriku."
"Tapi aku sudah memutuskan hal itu, Rize. Jujur aku kecewa mendengar niat awalmu, tapi rasa cintaku padamu lebih besar dan aku ingin bisa selalu bersamamu jadikan aku sepertimu, Rize."
Rize terdiam tidak mau menjawab dia berbalik dan duduk di bangkunya dengan tenang. Mereka berdua tidak tahu jika Zio melihat bahkan bisa mendengar pembicaraan mereka. Zio sudah tahu jika Rize memang bukan manusia karena tattonya menyala dengan sangat kuat saat dia melihat Rize, tapi Zio juga ingat jika Ras vampir ada yang baik yang waktu itu juga menolong ayahnya bahkan mengizinkan ayahnya tinggal di tempatnya.
Dia tidak menyalahkan jika Coral mencintai Rize, tapi dia tidak akan membiarkan Coral diubah oleh Rize menjadi vampir karena itu bukan keputusan yang tepat.
Zio berjanji nanti akan memberitahu Coral jika dia harus merubah keputusannya.
Bel pulang pun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar hanya menyisakan Coral yang sedang merapikan bukunya. Rize juga masih ada di sana menghapus papan tulis. Coral berjalan menemui Rize.
"Setelah lulus sekolah aku akan menikah denganmu dan aku ingin menjadi ratu di kerajaanmu."
"Jangan mengambil keputusan yang salah, Coral," suara shio tiba-tiba berada di belakang mereka.
"Apa maksudmu, Zio?"
"Aku sudah tahu semua siapa Rize dan apa yang kamu inginkan?"
"Tapi bagaimana kamu bisa tahu, Zio?
Zio bingung dia tidak mungkin menjelaskan jika dia sang pemburu." Aku mendengar semua yang kalian bicarakan."
__ADS_1