
Zio mengatakan jika dia tidak setuju Coral menjadi seorang vampir seperti Rize karena menjadi seorang vampir itu sangat tidak tepat, walaupun Rize akan melindungi Coral dan membawa Coral ke istananya.
"Aku mencintai Rize, Zio, dan aku siap menerima semua rasa sakit sejak pertama menjadi vampir baru."
"Jangan mengambil keputusan bodoh, Coral. pikirkan tentang keluargamu. Ayahmu."
"Aku sudah mengambil keputusan, selama ini orang-orang tidak ada yang menyayangiku hanya kamu yang baik dan kemudian aku bertemu dengan Rize. Dia membawaku pada kebahagiaan jadi aku tidak takut jika aku harus merasakan rasa sakit sedikit dan nantinya aku akan bahagia selamanya dengan Rize." Coral menatap pada Rize.
Zio menata Rice dengan tajam, dan entah kenapa Zio seolah membenci Rize sekarang karena dia akan mengubah temannya menjadi seperti dirinya yang pasti vampire adalah musuh dari sang pemburu.
Malam itu pesta ulang tahun Luana digelar. Deona dan Leonil sudah bersiap-siap, mereka tampak cantik dan tampan untuk berangkat ke acara pesta ulang tahun itu.
"Coral, apa kamu tidak ingin datang ke acara pesta itu?" tanya ayah Coral yang tiba-tiba ada di atas loteng. Pria itu melihat putrinya sedang duduk memandang langit di dekat jendela.
Coral tidak akan bingung jika tidak diperbolehkan datang karena dia pasti masih bisa bertemu dengan rice.
"Bukannya, Ayah melarangku datang ke sana agar tidak bertemu dengan Rize, kenapa sekarang ayah menanyakan apa aku tidak ingin datang ke acara itu?"
"Kamu kalau mau, pergilah ke sana, Ayah tidak akan melarangmu, kamu juga berhak bersenang-senang dengan temanmu."
"Apa Ayah serius dengan ucapan Ayah? ?Bagaimana jika nanti aku di sana dan bertemu dengan Rize serta bicara dengannya?"
"Coral apa kamu sangat mencintai, Rize? Kenapa kamu bisa sangat mencintainya?"
"Rize menarikku dari kesedihan yang selama ini aku rasakan. Ayah, dia pria yang baik yang selalu melindungiku dan membawa kebahagiaan untukku, meskipun nanti Ayah tidak menyetujuinya, aku akan tetap memilih Rize sebagai pendampingku." Coral kembali melihat ke arah jendela dia menatap langit yang kala itu banyak sekali bertaburan bintang-bintang.
Ruff melihat putrinya dan dia tahu jika keputusan yang diambil putrinya itu tidak akan bisa berubah. Coral memang mirip sekali dengan ibunya.
Terdengar suara musik yang sangat keras, semua datang menyalami Luana yang hari ini sedang berulang tahun.
"Mana saudara tirimu itu? Apa dia tidak jadi datang?" tanya Luana pada Deona.
"Coral tidak diperbolehkan datang oleh ayahku karena ayahku tidak mau dia bertemu dengan Rize di sini. Oh, ya! Apa Rize sudah datang dan di mana dia?" Aku ingin melihatnya, dia pasti tampan sekali malam ini."
"Sayangnya Rize belum datang dan mungkin dia tidak akan datang karena kekasih yang sangat dia cintai itu tidak datang di pesta ulang tahunku."
"Pestamu jadi tidak meriah jika tidak ada Rize datang ke sini."
Seketika Pria yang dari tadi Luana dan Deona bicarakan masuk dari pintu utama dengan Mara dan juga Sky. Semua mata tertuju pada mereka karena penampilan ketiga orang itu benar-benar mencuri perhatian, tidak hanya wajahnya yang tampan dan cantik, tapi mereka memiliki body yang sangat bagus.
"Apa ini yang namanya pesta ulang tahun Rize? kenapa seperti perayaan saat ada acara besar di sana tapi perayaan itu jauh lebih baik daripada pesta seperti ini."
__ADS_1
Fiona terlihat bahagia melihat raise ada di sana dia segera mendekatinya tapi hanya melihatnya sekilas kemudian berjalan pergi dari hadapan deona neona benar-benar kesal karena tidak diperdulikan oleh ras
"Apakah kekasihmu Coral tidak datang, Rise? Kenapa aku tidak melihatnya ada di sini?"
Rize hanya terdiam. Tidak lama Mara menepuk pundak Sky dan menunjuk ke arah pintu utama.Seorang gadis cantik dengan gaun berwarna hitamnya dan rambut dikuncir sederhana masuk ke dalam ruangan pesta itu.
"Itu calon ratu di istana kita, Sky dia sangat cantik Rize, dan kamu tepat memilihnya menjadi calon istrimu."
Sekarang semua mata tertuju pada Coral yang malam ini penampilannya sangat memukau. Deona bahkan tidak percaya melihat Coral datang ke acara pesta itu dan gaun yang dikenakan Coral sangat cantik pas sekali dengan si pemiliknya.
"Katamu dia tidak akan datang, kenapa dia bisa ada di sini? Kamu pembohong Deona."
"Aku mendengar sendiri ayahku tidak memperbolehkan Coral datang agar tidak bertemu Rize, mungkin dia datang sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh ayah, aku akan menghampirinya dan menyuruhnya pulang sebelum aku memberitahukannya pada Ayah." Deona berjalan menghampiri Coral yang tengah diajak bicara oleh salah satu teman sekolahnya yang kagum melihat penampilan Coral malam ini.
"Coral, kenapa kamu berani datang di pesta ulang tahun Luana? Bukannya Ayah tidak mengizinkanmu datang ke sini? Apa kamu datang secara sembunyi-sembunyi, ya sebaiknya kamu segera pulang atau aku akan memberitahu pada Ayah."
"Aku tidak datang sembunyi-sembunyi. Ayah sendiri yang menyuruhku datang ke sini, kalau tidak percaya kamu pulang saja dan bertanya pada Ayah."
"Apa? Ayah yang menyuruhmu? Tapi itu tidak mungkin, Coral."
"Itu benar Deona, ayah yang menyuruhku datang ke sini."
"Kalau begitu gaun siapa yang kamu curi? gaun itu sangat bagus dan mahal dari mana kamu bisa mendapatkannya apa Ayah yang membelikannya?"
Rize menggandeng tangan Coral dan mengajaknya pergi. Deona sekali lagi merasa dikecewakan oleh Rize.
Acara pesta berlangsung cukup meriah semua tamu merasa bahagia, kecuali Luana dan deona, mereka tampak kesal melihat kemesraan Rize dan Coral. Mereka ternyata sudah merencanakan suatu rencana untuk Coral.
Mereka mengambil kesempatan saat tahu Coral izin ke kamar mandi Luana dan Deona mengikuti, dan saat Coral masuk ke dalam kamar mandi pintu kamar mandi itu dikunci oleh mereka dari luar
"Kenapa pintunya jadi terkunci begini?"
Coral berusaha membuka pintunya, tapi ternyata pintu tidak bisa terbuka, dia mencoba meminta tolong, tapi Luana dan Deona menjaga di depan pintu utama agar tidak ada yang masuk ke kamar mandi dengan mengatakan kamar mandi sedang rusak.
Coral menjadi bingung karena dia lupa tidak membawa ponselnya tasnya dia titipkan pada meja Rize.
Luana dan Deona masuk perlahan dan dia dengan seenaknya menyemprotkan air menggunakan selang tepat di kamar mandi di mana Coral berada. Coral berteriak karena diguyur oleh Luana dan Deona dengan air.
Mereka berdua tertawa dengan sangat kerasnya, Coral dapat mendengar tawa mereka dan dia tahu siapa pelaku dari semua ini.
Coral berteriak dan mengancam akan memberitahu hal ini pada Rize, dia akan memberi balasan pada kedua temannya itu.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau keluar dengan penampilan seperti itu? Mereka semua akan menertawakan kamu, kamu dikira orang gila yang nyasar ke pesta ulang tahun ini." Luana kembali tertawa dengan kerasnya mereka berdua kemudian meninggalkan Coral dan kembali ke acara pesta dengan santai.
Coral ditinggal di dalam kamar mandi, dia hanya bisa menangis dan berusaha membuka pintu kamar mandi itu, tapi tetap saja tidak bisa
Coral dari tadi berteriak minta tolong siapa tahu ada yang mau membukakan pintunya
"Coral, apa kamu baik-baik saja," suara mara terdengar di luar pintu kamar mandi.
"Mara, tolong buka pintunya mereka berdua mengujiku di sin." Dengan cepat Mara membuka pintunya dan Mara terkejut melihat penampilan Coral yang basah kuyup dan tidak karuan karena tadi Luana dan Deona melempar sampah yang ada di kamar mandi.
"Siapa yang melakukan semua ini sama kamu?" Mara berusaha membersihkan tubuh Coral.
"Luana dan Deona yang sudah membuatku seperti ini. Mereka berdua benar-benar sungguh keterlaluan."
Aku akan memberitahu Rize tentang apa yang mereka lakukan padamu, Coral, mereka itu harus diberi pelajaran."
"Tidak perlu, biarkan aku saja nanti yang membalas mereka, aku sekarang berani dengan mereka dan aku tidak takut lagi, Mara."
"Aku menyesal sudah menolong mereka tadi waktu terjadi kecelakaan, tahu begitu aku biarkan saja Luana itu dan temannya yang jahat bernama Taza celaka dalam kecelakaan itu."
Mara mengajak Coral keluar dari ruangan kamar mandi setelah membersihkan kotorannya ada pada tubuhnya.
Rize agak terkejut melihat penampilan kekasihnya yang berantakan. Mara pun menceritakan apa yang terjadi pada Coral. Rize terlihat marah, dia ingin sekali menghampiri dua orang yang jahat itu, tapi Coral menghalanginya dan membiarkan Coral sendiri yang membalasnya.
"Bagaimana kalau aku hisap saja darahnya? Aku tidak pernah merasakan darah gadis yang sangat cantik seperti dua orang itu, pasti darahnya sangat lezat."
"Apa kamu mau menghadapi dewan tertinggi jika melanggar peraturan itu? Ayahku saja sangat khawatir aku harus menghadapi dewan tertinggi karena telah melanggar peraturan."
"Maksud kamu apa, Rize? Kamu akan menghadapi dewan tertinggi karena melanggar peraturan?"
"Ayahku kemarin datang dan memberitahu jika dewan tertinggi mencariku karena aku sudah melanggar peraturan menghisap darah manusia, bahkan memusnahkan manusia itu."
"Apa ini tentang Dre? Lalu, bagaimana? Al kamu akan dihukum sangat berat Rize? Rize biar aku yang menjelaskan pada dewan tertinggi kenapa kamu sampai melanggar peraturan itu, aku tidak mau kamu dihukum berat Rize."
"Kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Apa kamu yakin jika kamu akan baik-baik saja? Kalau kamu dihukum, aku mau ikut dihukum sama kamu karena semua yang terjadi karena kamu ingin membelaku Rize.
"Aku akan mencoba menjelaskan pada mereka dan aku sudah memiliki alasan kuat kenapa aku sampai melakukan hal itu."
Coral memeluk Rize dengan erat. Sky yang melihat tampak tertawa senang. Beda dengan Mara yang memang tidak bisa bersikap romantis.
__ADS_1
"Kamu sudah sangat banyak berkorban untukmu, Rize. Aku mau menjadi vampire dan mengabdikan hidupku untuk bisa menjadi istrimu selamanya. Jadikan aku sepertimu, Rize."