My Vampire Prince

My Vampire Prince
Tidak Mendapat Restu part 1


__ADS_3

Coral yang masih mengalungkan kedua tangannya pada leher Rize, mendekatkan jaraknya dan dia dengan lembut mengecup bibir Rize.


Rize yang memang menyukai ciuman Coral membalasnya dengan lembut. Mereka berdua berciuman di dalam air beberapa menit sampai merasakan sebuah tetesan air dari atas langit yang ternyata saat itu tiba-tiba turun hujan.


"Rize, hujan."


"Aku akan membawamu berteduh sampai bajumu kering dan kita akan pulang."


Rize membawa Coral ke sebuah gua yang ada di bawah tebing yang tadi mereka naiki. Di dalam sana mereka berdua dapat berteduh dan Rize menyalakan api unggun untuk mengeringkan baju Coral.


"Lepaskan bajumu agar kering dan kamu tidak akan sakit."


"Melepaskan baju? Di depanmu, Rize?"


"Aku akan membalikkan badan dan kita sama-sama membalikkan badan. Jadi, aku tidak akan melihatnya, walaupun aku sudah pernah melihatnya," celetuk Rize.


"Rize!" seru Coral dengan kedua mata melotot.


"Aku hanya bercanda, aku tidak pernah melihat apapun. Secara disengaja, tapi kalau tidak disengaja, aku pernah melihatnya."


"Apa?"


Rize hanya tersenyum kecil dan dia melepaskan bajunya yang basah, dan dia letakkan di dekat api unggun.


Coral memandang tubuh putih nan mulus serta bentuknya yang membuat siapapun yang melihat ingin sekali menyentuhnya. Coral pun belum pernah melihat hal seperti itu.


"Rize, kamu berbaliklah badan."


Rize membalikkan badannya. Coral perlahan melepaskan bajunya sembari tidak melepaskan pandangannya dari Rize. Dia takut jika Rize akan melihat ke arahnya.


Rize terdiam karena dia melihat siluet dari gadis yang sedang melepaskan bajunya.


"Gadis yang sangat polos," ucapnya.


Coral menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian dadanya.


"Rize, dari mana kamu tau tempat indah ini? Aku sebenarnya takut kalau pergi jauh dengan seseorang karena aku tidak pernah keluar rumah sampai sejauh ini."


"Aku suka berburu di sini, jadi aku tau tempat ini. Apa lagi di sini cuacanya sangat aku sukai."


"Di sini sangat dingin, sama dinginnya seperti kamu."


"Makhluk vampire sepertiku semua memang seperti ini."


"Rize, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentang apa?"

__ADS_1


"Apa setelah menikah, aku akan tinggal di kastilmu? Apa tidak akan jadi masalah seorang manusia tinggal di sana?"


Rize terdiam tidak menjawab.pertanyaan Coral. Dia seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Rize kenapa kamu diam?"


"Apa kamu bersedia menjadi vampire jika aku meminta hal itu?"


Deg!


Sekarang gantian Coral yang tiba-tiba terdiam mendengar apa yang Rize katakan.


"Menjadi Vampire?"


"Iya. Apa kamu mau menjadi sepertinya jika hal itu memang harus dilakukan agar kita tetap bersama?"


"A-aku ...?" Coral tampak bingung menjawab.


Dipikirannya. Bagaimana rasanya menjadi seorang vampire? Apa dia akan mengigit banyak manusia untuk makan? Lalu, bagaimana dengan ayahnya? Apa dia masih bisa bertemu dengan ayah dan sahabatnya?


Saat Coral sedang melamun, tiba-tiba Rize berdiri dengan sigap. Rize sepertinya sedang merasakan ada sesuatu di sana yang mengganggunya.


"Coral, pakai bajumu dan mendekat padaku."


"Ada apa, Rize?"


"Cepat pakai bajumu!" titah Rize dengan tegas.


Rize mendekap Coral dengan erat, dia takut jika anak buah Raja Pedrona kembali di perintahkan untuk membawa atau bahkan menyakiti Coral.


"Rize, kenapa? Apa ada hal yang membahayakan?" Coral yang tampak takut memeluk tubuh Rize.


"Aku merasakan kehadiran vampire lain di sini."


"Apa? Apa dia vampire jahat yang mau menghisap darahku?"


"Aku tidak tau karena aku belum bertemu dengannya."


Tidak lama terdengar suara langkah seseorang masuk ke dalam gua dan pria itu tersenyum melihat Rize sedang memeluk Coral.


"Wow! Pemandangan yang indah. Hai, saudara sepupu, apa kabarmu?" sapa pria yang memiliki postur tubuh tinggi dan besar setara dengan Rize.


"Sky? Kamu ada di sini? Bagaimana bisa?"


"Apa kamu tidak mau memelukku? Bukannya setiap kita bertemu kamu akan memelukku."


Rize tersenyum miring dan lelaki bernama Sky berjalan mendekat menghampiri Rize, Mereka berpelukan ala pria sejati.

__ADS_1


"Dia calon istrimu?" Sky melihat pada Coral. Rize mengenalkan Coral pada Sky dan mereka berdua tampak berjabatan tangan. "Dia manusia? Apa dia tau siapa kamu?"


"Iya dia tau siapa aku. Sekarang coba katakan, bagaimana bisa kamu ke sini?"


"Aku pergi mencarimu di kastil, tapi ibumu bilang jika kamu sedang mencari di pembawa bola mutiara hitam."


"Sky, sebaiknya kita bicarakan ini nanti di rumahku saja karena aku harus mengantar Coral pulang. Ini sudah malam."


"Okay! Aku akan ke rumahmu dulu saja karena setelah dari kastil ibumu memberitahumu di mana kamu tinggal, tapi sampai di sana, Paman Helius mengatakan kamu di sini. Sekarang aku akan kembali ke rumahmu saja."


"Iya, tunggu saja aku di sana."


"Coral, apa kamu pernah melihat sesuatu yang ajaib?"


"Sesuatu yang ajaib?"


"Berikan tanganmu." Sky menempelkan telapak tangan Coral pada telapak tangannya dan tiba-tiba terdapat buah apel saat tangan mereka dibuka.


"Wah! Kamu seorang pesulap?"


Sky malah tertawa mendengar pertanyaan Coral. "Aku seorang vampire pencipta keajaiban. Apel itu untukmu karena perutmu sedang lapar. Kalau begitu aku pergi dulu." Sky tiba-tiba menghilang saja dari hadapan Coral, Coral masih tercengang tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.


"Dia memang seperti itu. Kita pulang sekarang." Rize menggendong Coral dan dengan kekuatannya dia melesat cepat berlari menuju di mana mobil Rize berada.


Rize membawa Coral pulang ke rumahnya. Sesampai di depan rumah, Coral terkejut karena melihat ada mobil berwarna silver yang dia ketahui jika itu adalah mobil milik sang ayah.


"Rize, ayahku sudah pulang." Coral dengan senang langsung berlari keluar karena dia sangat merindukan ayahnya.


Belum sempat Coral membuka pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu dari arah dalam.


"Ayah!" Coral langsung memeluk ayahnya dengan erat. "Aku sangat merindukan ayah." Coral meneteskan air matanya.


Rize yang berdiri di sana menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu. Dia merasa senang melihat Coral yang sangat menyayangi ayahnya.


Pria paruh baya itu mengusap lembut kepala putrinya. "Ayah juga merindukanmu."


"Aku senang ayah sudah pulang dengan keadaan baik."


Sekarang pandangan mata ayah Coral jatuh pada Rize yang ada di sana. Seketika dia melepaskan pelukannya pada Coral, dan berjalan mendekat pada Rize.


"Yah, dia--." Belum selesai Coral bicara, tangan ayahnya terangkat seolah memberi isyarat agar Coral diam. Coral tentu saja terkejut melihat sikap ayahnya.


"Namamu Rize bukan?"


"Iya, nama saya Rize," jawab Rize tegas.


"Rize, mulai hari ini tinggalkan putriku-- Coral."

__ADS_1


Kedua mata Coral mendelik kaget mendengar apa yang baru saja ayahnya katakan.


"Yah, Rize itu pria yang baik," ucap Coral seolah ingin memberitahu ayahnya tentang kekasihnya itu.


__ADS_2