
Malam itu Rize tidur di kamarnya, tapi entah apa yang membuatnya sangat tidak nyaman dengan tidurnya.
Rize bermimpi jika dirinya melihat seorang wanita menahan sakit seolah dia ingin melahirkan.
Rize ingin sekali membantu wanita itu, tapi dia tidak tau harus berbuat apa.
Tidak lama suara tangis bayi pun terdengar di telinga Rize. Rize seketika merasakan hal luar biasa bergemuruh dalam dadanya. Dia tidak tau kenapa dirinya bisa sangat senang dengan tangis bayi itu.
"Putri kecil kita telah lahir, Pangeran Autum Rize," ucap lirih seorang wanita dengan tangan menyerahkan seorang bayi perempuan dengan mata besar dan iris berwarna hijau, sama seperti warna iris Rize. Kulitnya pun putih seputih salju. Bayi itu menatap wajah Rize yang melihat dengan tidak percaya.
"Bayiku? Apa ini bayiku?" ucapannya tidak percaya dari Rize itu pun keluar.
"Iya, bayi kita."
"Tapi dia manusia. Bukankah dia seharusnya vampire sama sepertiku?"
Rize tidak mendapat jawaban, tetapi dia malah mendengarkan sebuah teriakan kesakitan dari wanita yang baru saja melahirkan bayi perempuan kecil yang dikatakan adalah putri pangeran Rize.
"Putriku ...!" teriak Rize menggema di seluruh ruang kamar Rize. Rize terbangun dengan wajah takutnya.
"Siapa wanita itu? Dan kenapa dia harus hadir dalam mimpiku?" Rize memang tidak bisa melihat jelas siapa wanita yang telah melahirkan anaknya? Dan bayi itu manusia?"
Rize akhirnya memutuskan malam itu juga pergi ke kota di mana Coral tinggal. Dia merasa jika gadis itu tiba-tiba menariknya seperti magnet yang kuat.
Sampai di sana, dia langsung mencari di mana alamat rumah Coral.
"Dia ternyata anak orang kaya, tapi kenapa dia seperti diam saja diperlakukan seperti itu?"
Rize naik ke atap rumah Coral dan dia mencoba mencari Coral dengan menggunakan indra penciumannya.
Bau Coral yang seperti kayu manis sudah menjadi aroma favorite Rize. Rize sendiri tidak tau kenapa dia menyukai bau Coral.
"Dis ada di dekat sini."
Rize akhirnya menemukan di mana gadis itu berada. Dia masuk secara perlahan dan mengendap seperti biasa.
"Apa? Dia tidur di sini? Di loteng dan tanpa alas?" Wajah Rize seketika tampak kaget.
Melihat Coral yang tidur di atas loteng tanpa alas tidur dan ada perapian kecil di sana. Coral meringkuk karena mungkin dia merasakan dinginnya suasana malam itu. Rize memang sudah terbiasa dengan hawa dingin dan malah dia tidak suka hal yang hangat. Namun, bagi manusia seperti Coral pasti menyukai sesuatu yang hangat.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin memeluk dia."
Rize mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat tubuh Coral yang tampak kedinginan menjadi hangat.
Dia menyusuri rumah Coral yang terdiri dari tiga lantai sebenarnya, tapi yang terlihat dari luar hanya dua lantai karena lantai ketiganya adalah loteng di mana Coral tidur.
"Gadis ini usianya bisa dibilang seumuran Coral. Siapa dia dan kenapa dia malah tidur di kamar yang bagus seperti ini? Apa Coral sebenarnya pelayan di rumah ini?" Rize berdialog bingung.
Sekali lagi Rize dikejutkan oleh hal yang membuatnya semakin penasaran dengan sosok Coral.
"Ini foto Coral ada di sini, tapi kenapa gadis ini yang berada di sini?"
Rize tidak mau memikirkan terlalu lama karena dia bisa membuat gadis di loteng itu kedinginan karena tidak mendapatkan selimut.
Rize mengambil selimut gadis yang tengah tertidur dengan nyenyaknya.
Rize membawa selimut itu dan menutupkan pada tubuh Coral. Rize tampak tersenyum saat melihat wajah Coral tersenyum karena mungkin dia merasa tidak kedinginan lagi.
Sekali lagi Rize memandangi wajah gadis itu semalaman, dan entah kenapa saat dia terus melihat wajah Coral, dia selalu ingin mengecup gadis itu.
"Aku tidak boleh melakukannya karena bisa saja dia akan lebih sensitif dengan apa yang aku lakukan. Hal ini akan dapat sangat menyusahkan aku."
Pagi itu Coral yang terbangun dengan selimut yang dia tau ada di dalam kamarnya dan dipakai oleh saudara tirinya. Coral sangat terkejut memandangi selimut itu.
"Kenapa ini bisa di sini?"
Di tengah kebingungannya dia tidak sadar jika ada langkah kaki yang terdengar melangkah dengan cepat menuju ke arahnya.
"Coral! Kenapa kamu bangun terlambat?" suara bentakan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu tiri Coral.
"Ibu, aku minta maaf karena aku ketiduran." Tangan Coral sembari mencoba menyembunyikan selimut yang dia pakai.
Mata wanita itu melihat pada apa yang coba Coral sembunyikan. "Tunggu! Apa itu selimut milik Deona?" Tangan wanita itu seketika menarik selimut itu dengan kasar sehingga membuat Coral kaget.
"Aku tidak tau kenapa selimut itu ada di sini, Bu? Saat aku terbangun, selimut itu sudah ada di sini. Percayalah padaku." Coral berusaha untuk meyakinkan ibu tirinya.
"Memangnya selimut itu bisa berjalan sendiri dan menghampiri kamu."
"Aku tidak berbohong, Bu."
__ADS_1
"Deona ...!" teriak wanita itu memanggil putrinya.
Sang putri yang sedang memakai make up kaget dan segera berlari kecil menuju ibunya diikuti oleh Leonil saudara kembarnya, tapi dia seorang laki-laki.
"Ada apa, Bu?"
"Lihat ini! Bukannya, ini adalah selimut milikmu? Kamu tadi pagi mencarinya dan ternyata diam-diam si anak tidak tau diri ini yang mengambilnya."
"Oh ... jadi kamu yang mengambil selimutku?"
"Tapi itu bukannya milikku, Deona? Kamar itu juga milikku," ucap Coral dengan takut.
"Apa kamu bilang?"
Deona yang marah menyuruh saudara tirinya untuk menyeret Coral turun ke bawah. Mereka membawa Coral ke kamar mandi dan dengan teganya mereka mengguyur tubuh Coral, padahal air di sana terasa dingin karena udara di kota itu memang sedang dingin-dinginnya.
Bibir Coral bergetar hebat karena kedinginan. Beberapa kali Coral memohon agar dua saudara kembar itu menghentikan siksaan mereka, tapi dua saudara kembarnya itu sama sekali tidak mendengarkan.
"Kamu jangan berani membantahku karena aku tidak suka dibantah. Sekarang rasakan yang bisa aku lakukan sama kamu!"
"Dasar, gadis tidak tau diri!" timpal kembaran Deona.
Mereka meninggalkan Coral yang basah kuyup dan menggigil kedinginan di kamar mandi belakang.
Rize?
Sosok pangeran vampire itu dapat melihat segala perbuatan dari keluarga Coral.
"Kenapa dia harus hidup dengan penderitaan seperti ini?"
Coral berusaha berdiri dan naik ke lantai atas, tepatnya ke loteng di mana dia tidur.
Coral membuka lemari kayu usang yang ada di sana dan mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
Coral duduk dekat perapian kecil di sana. Dia hendak menyalakan api perapian, tapi dia susah sekali menyalakan korek apinya karena tangannya dari tadi bergetar menahan dingin.
Api menyala dan tentu saja bukan karena Coral, tetapi Rize yang menjentikan percikan api pada perapian itu.
"Akhirnya menyala," ucapnya dengan mendekatkan tubuhnya pada perapian agar lebih hangat.
__ADS_1