
Mara melihat Zio pergi dari sana. Dia tersenyum kecil melihat punggung pria yang entah kenapa membuatnya merasa senang bisa mengenalnya.
"Aku ini kenapa? Kenapa malah tertarik dengan manusia lemah itu? Oh, salah, dia tidak lemah, tapi dia menyimpan hal yang penuh kejutan pada dirinya. Sebaiknya aku pergi ke rumah Coral dan memastikan dia baik-baik saja di sana."
Mara memang mendapat tugas dari Rize untuk menjaga Coral sementara karena Rize sedang kembali ke kota asalnya, dia mengalami luka yang cukup serius saat dirinya bertarung dengan anak buah raja Pedrona. Anak buah raja Pedrona berhasil dikalahkan oleh Rize, tapi Rize juga mengalami luka karena kekuatan yang dimiliki Rize berhasil terhisap oleh asap hitam itu.
Mara dengan cepat sampai di rumah Coral, dia mengamati sekitar dan tampak tenang tidak ada masalah sama sekali.
"Apa semua baik-baik saja?"
"Semua baik-baik saja, Putri Mara. Coral juga baru saja sampai di rumahnya, hanya saja dia seperti nampak ketakutan tadi."
"Apa ada yang mengejarnya?"
"Tidak ada, dia datang ke sini sendirian dan kami melihat tidak ada orang yang mengejarnya."
"Ya sudah kalau begitu, kalian boleh pergi sekarang aku akan melanjutkan tugas kalian."
"Baik, Putri Mara."
Dua pengawal yang ditugaskan Mara pun pergi dari sana, kemudian Mara mencoba mengintip dari balik jendela di mana Coral sekarang sedang duduk termenung sendirian
"Dia sedang memikirkan apa, ya?'"
"Apa dia sedang memikirkan Rize yang hari ini tidak masuk sekolah."
Coral duduk dengan memandang api di perapian yang nyala dengan api kecil. "Semoga kamu besok masuk sekolah, aku benar-benar merindukan kamu dan aku khawatir sama kamu, Rize," Coral berdialog sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya Coral ini benar-benar menyukai Pangeran Rize." Mara menghela nafasnya kecil. "Semoga saja Rize bisa menjadikan dia seperti dirinya, sehingga akan mempermudah jika mereka ingin bersatu."
Hari ini tidak ada penyiksaan yang dilakukan oleh ibu tiri dan kedua saudara tiri Coral. Malahan mereka bersikap sangat baik pada Coral dengan mengajak Coral makan malam bersama sampai memberikan Coral sebuah baju yang sangat indah.
"Coral, besok Ibu mau mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun Deona, dan kamu harus memakai baju itu."
"Ulang tahun Deona? Bukannya ulang tahun Deona sudah lewat, ya Bu? Kenapa dirayakan sekarang?"
"Memangnya kenapa kalau aku rayakan sekarang? Waktu hari ulang tahunnya Deona waktu itu aku belum bisa merayakan dengan teman-temannya secara meriah. Jadi, besok Ibu mau merayakan ulang tahun Deona secara meriah dengan mengundang banyak sekali temannya."
Perasaan waktu itu ulang tahun Deona juga dirayakan sangat meriah, tapi kenapa sekarang malah dirayakan lagi?" Coral hanya bisa berbicara di dalam hatinya.
"Kamu jangan lupa pakai baju yang dibelikan oleh ibuku dan kamu harus berpenampilan yang sangat baik agar tidak memalukan di acara pestaku nanti. Oh ya! Aku juga mengundang Rize, Taza dan Luana juga aku undang."
"Kenapa mendadak seperti ini? Apa kamu sudah memberikan undangan pada mereka semua?"
Coral terdiam tidak mau menanggapi ucapan saudara tirinya yang sengaja ingin menjatuhkannya itu, dia tetap percaya Rize sangat mencintainya dan akan setia kepadanya.
***
Pagi ini seperti kemarin, Coral menunggu Rize datang menjemputnya, tapi kali ini Coral akan menunggu hanya sampai 10 menit saja dan jika Rize tidak datang dia akan pergi dengan jalan kaki untuk mencari mobil umum yang berada di jalan besar.
Coral tidak mau menerima tawaran ibunya untuk naik mobil ke sekolah, dia akan menunggu Rize, walaupun Rize nantinya tidak datang lagi, dia tidak akan kecewa karena masih bisa tetap pergi ke sekolah dengan caranya sendiri.
Sampai di sekolah, Coral tidak melihat Rize ada duduk di bangkunya. Seketika ada rasa sedih di hati Coral saat ini
"Kenapa dia tidak masuk lagi hari ini? Rize kamu sebenarnya ke mana? Kamu benar-benar membuat aku khawatir."⁸
__ADS_1
Coral duduk di bangkunya dengan malas hingga bel dibunyikan sosok yang dia tunggu pun tidak muncul dari balik pintu dan sekarang ditambah lagi sahabatnya juga tidak masuk sekolah. "Apa Zio sakit, ya? Kenapa dia juga tidak masuk sekolah?"
Wali kelas mereka masuk ke dalam kelas dan ternyata guru itu ingin memberitahu sesuatu.
"Hari ini saya akan sampaikan kabar duka dari teman kita yang bernama Zio"
"Hah! Zio? Ada apa dengan dia?" Coral kembali mendengarkan apa yang wali kelasnya katakan.
"Kemarin malam nenek Zio meninggal dunia karena sesak nafas saat dibawa ke rumah sakit. Oleh karena itu, hari ini Zio tidak masuk sekolah. Bagaimana kalau kita bersama-sama untuk berdoa sejenak mendoakan nenek Zio?"
Coral tanpa syok mendengar berita itu, dia sama sekali tidak tahu jika nenek Zio semalam meninggal dunia, seharusnya Coral berada di samping Zio, tapi dia tidak karena semalam dia juga memikirkan tentang Rize.
Semua anak-anak berdoa dengan khusyuk tanpa ada yang bercanda. Saat sudah selesai ini pelajaran kembali dimulai seperti biasa.
Coral berpikir jika nanti pulang sekolah dia akan pergi ke rumah Zio untuk dukungan dan mengucapkan turut berduka cita padanya.
Coral berjalan mencari mobil umum yang bisa mengantar dia pulang. Coral memiliki uang karena Rize pernah memberinya. Sebenarnya Coral tidak mau menerima, tapi Rize terus memaksa agar Coral menerima dan menggunakannya jika dia membutuhkannya karena Rize tahu apa yang selalu Coral alami dan Rize terus berharap Coral mau menurut apa yang dikatakannya."
Coral pun menurut apa yang dikatakan Rize asal tidak melanggar norma yang berlaku.
"Coral, kamu mau pulang, ya? Sini aku antar," tiba-tiba terdengar suara Dre di sana.
"Itu, kan, Dre, saudara sepupunya Deona dan Leonil, untuk apa dia ke sini? Bukannya dia tau jika Deona dan Leonil saudara sepupunya itu pulang dengan dijemput oleh ibu mereka.
"Coral, kamu mau pulang, kan? Ayo! Aku antara pulang saja kamu karena di sini sangat panas."
Coral hanya terdiam sejenak memandang pria muda yang ada di depannya. Jujur saja kalau Coral tidak terlalu suka dengannya karena kelakuan Dre yang sama buruk dan jahatnya dengan kedua saudara tirinya itu, bahkan kerap kali Coral juga mendapat perlakuan seperti pembantu oleh Dre, dahal itu rumah Coral sendiri.
__ADS_1
Mereka sekeluarga memang sangat buruk perilakunya pada Coral, dan Coral waktu itu hanya bisa menerima perlakuan buruk dari keluarganya sendiri karena takut.