
Deona sekali lagi mengambil kayu dan kali ini dia akan mencobanya pada lengannya karena Deona penasaran kayu itu panas, tetapi kenapa tidak memberi efek pada Coral.
"Ibu ...!" teriak Deona yang tangannya kepanasan karena terkena bara dari kayu yang tidak Rize dinginkan.
Coral yang tengah tertidur pun tersentak kaget dan melihat Deona menangis kesakitan dengan memegang tangannya.
"Deona, kamu kenapa?"
Coral segera mendekat dan melihat tangan Deona yang merah seperti terbakar.
"Tanganku ...!" Dia memekik kesakitan.
Coral yang bingung hanya bisa meniup tangan Deona yang kepanasan dan sakit.
"Sakit ... ibu ... teriaknya sekali lagi."
Sang ibu dan Leonil yang ada di bawah segera berlari menuju loteng atas karena mendengar suara Deona yang seperti orang kesakitan.
Langkah kaki berlari ke atas semakin mendekat dan saat pintu di buka oleh ibu mereka, wanita paruh baya itu melihat tangan putri kesayangannya terluka dan ada Coral yang sedang memegang bara kayu.
Coral sebenarnya ingin menyingkirkan beberapa batang kayu yang berserahkan di sana, tapi dia malah langsung terkena tamparan keras dari ibu tirinya.
"Berani sekali kamu melukai tangan Deona! Kamu mau membalas dendam karena kebun mawarmu sudah aku rusak?"
"Bukan aku yang melakukannya, Bu. Aku sama sekali tidak melukai tangan Deona. Tadi sewaktu aku tidur, aku tidak sengaja mendengar Deona berteriak kesakitan dan saat aku lihat tangannya sudah seperti itu."
"Bohong, Bu, dia yang melakukan semua ini. Aku tadi ingin membangunkannya, tapi dia marah dan mengambil bara kayu itu, kemudian dia menyulutkan pada tanganku." Deona malah mengatakan hal yang berbeda. Gadis ini sangat kejam dan tidak memiliki hati.
"Dasar, kamu! Sini, ikut denganku!" Sekali lagi Coral mendapat jambakan dan ibu tirinya menyeret ke bawah.
"Tangan kamu pasti membekas. Dia berani sekali melukaimu." Leonil melihat luka pada tangan saudari kembarnya.
"Sebenarnya bukan Coral yang melukai tanganku, tapi aku sendiri."
"Kamu gila, ya?"
"Nanti aku ceritakan kenapa seperti ini. Sekarang kita turun dan melihat apa yang akan dilakukan ibu pada si gadis menyebalkan itu."
Leonil dan Deona malah tertawa miring. Mereka menyusul ibunya turun ke lantai bawah.
Di lantai bawah, Coral kembali di tampar dan wanita itu menatap dengan bengis pada anak tirinya yang dari tadi mengatakan dia tidak melukai Deona.
__ADS_1
"Kamu akan menerima akibatnya karena melukai tangan putriku seperti itu. Akan aku buat buruk seluruh kulit di tubuhmu."
"Apa? Keterlaluan." Rize yang melihat hal itu marah dan dia seolah tidak bisa mengontrol dirinya. Selama ini dia tidak pernah menghisap darah manusia, tapi kali ini akan menjadi pengecualian baginya. Dia akan mengigit ibu tiri itu sampai dia bahkan tidak akan bisa jadi vampire.
"Pangeran!" Sebuah tangan menahan tubuh pangeran Rize yang sudah terbawa emosi.
"Paman? Kenapa Paman bisa berada di sini?"
"Aku mencarimu. Pangeran, jangan berbuat hal yang akan membahayakan kaum kita."
"Tapi Paman tidak tau apa yang sudah mereka lakukan pada gadis lemah itu. Perbuatan mereka sangat kejam melebihi seekor binatang."
"Saya dapat melihatnya dari tadi, tapi Pangeran jangan ikut campur atau para manusia itu akan tau tentang adanya kaum vampire."
Rize melihat tangan ibu tiri itu masih saja menggenggam erat pergelangan tangan Coral dan memerintahkan pada putranya untuk mengambil teko berisi air panas yang sedang dia rebus di atas kompor.
Paman Helius segera pergi dari sana, dan tidak lama bel pintu di rumah keluarga Coral berbunyi.
"Ibu, ada tamu?"
"Siapa yang datang ke sini? Setahuku aku tidak ada janji dengan seseorang."
"Apa mungkin pengirim paket? Kamu pesan paket, Deona?" tanya Leonil.
"Kalian pegang dia dan aku akan membuka pintunya. Aku ingin tau siapa yang datang untuk menganggu kesenanganku."
Wanita paruh baya itu berjalan menuju pintu keluar setelah merapikan dirinya.
Saat pintu dia buka. Wanita itu heran melihat seorang pria paruh baya berdiri dengan pakaian rapi, dan penampilannya sungguh elegan.
"Maaf, apa ini rumah Nona Coral?"
"Coral? Iya, dia anak tiriku. Anda siapa?"
"Saya salah satu kepala asisten dari tuan muda Rize."
"Rize? Oh ... Rize! Aku mengenalnya. Ada apa Anda ke sini?"
"Maaf, saya datang ke sini karena ingin mengundang nona Coral dan keluarganya datang untuk makan malam di sebuah restoran terbaik di sini. Apa Nona Coral dan keluarganya bisa hadir malam ini?"
Seketika kedua mata wanita itu tampak berbinar bahagia. "Makan malam? Kalau begitu Anda silakan masuk dulu."
__ADS_1
"Tidak perlu terima kasih. Tuan muda Rize akan menunggu kalian nanti jam delapan malam di restoran Purpelium."
"Restoran Purpelium?"
Itu restoran yang termasuk paling mewah di kota itu, dan ibunya Coral pun yang memang menikah dengan ayah Coral yang kaya raya pun belum pernah makan di sana karena ayah Coral lebih senang makan di rumah atau ke tempat makan yang sederhana.
"Apa Nyonya mengetahui tempatnya?"
"Tentu saja saya tau." Wanita itu sekarang teringat jika Coral tadi dia tampar dan pasti membekas pada pipinya. "Pak, tapi Coral sedang tidak enak badan. Kalau hanya dia yang tidak bisa ikut bagaimana?"
"Nona Coral sakit? Dia sakit apa? Apa saya bisa melihatnya." Pria yang tak lain adalah paman Helius ingi masuk, tapi Ibu tiri Coral langsung menghalangi.
"Dia sedang tidur barusan. Jadi, jangan diganggu. Dia hanya demam saja, tapi nanti setelah aku rawat dan beri obat. Dia pasti akan lebih baik."
"Oh begitu. Kalau begitu makan malamnya kita tunda saja dan aku akan bicara pada tuan muda Rize. Tuan muda Rize ingin mengundang semuanya dan kalau nona Coral sedang sakit, acara akan ditunda saja dulu."
Wanita paruh baya bernama Rose itu berpikir sejenak. Dia tidak mungkin menerima tawaran itu sekarang karena nanti yang ada dia bakal ketahuan sudah menyiksa anak tirinya dari bekas tamparan pada pipi Coral.
"Pak, tolong sampaikan permintaan maafku pada tuan muda Rize karena malam ini tidak bisa menerima ajakan makan malam. Bagaimana kalau tiga hari lagi, dan aku juga pastikan putriku Coral keadaanya sudah membaik."
"Baiklah kalau begitu, saya akan sampaikan pada tuan muda Rize. Oh ya, apa saya boleh meminta nomor ponsel Nyonya--."
"Rose, namaku Rose."
Paman Helius memberikan note kecil dan pena yang dia selalu bawa untuk mencatat beberapa hal penting yang kadang dia lupa.
Setelah memberikan nomornya. Paman Helius izin pergi dari sana. Dia naik mobil dan mengendarai sendiri.
Rose segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju di mana Coral berada.
"Bu, siapa yang datang?"
"Kalian lepaskan Coral. Dalam beberapa hari ini kita tidak boleh menyakitinya atau menimbulkan bekas luka pada tubuhnya. Sungguh menyebalkan!" dengusnya kesal.
"Maksud Ibu apa?" Leonil dan Deona mendekat ke arah ibunya.
"Tadi salah satu asisten si Rize itu datang ke sini. Dia ingin mengundang makan malam kita semua ke restoran Purpelium. Kalian tau restoran itu adalah restoran terbaik di sini."
"Ibu serius?"
"Iya, tapi ibu menolaknya karena tidak mungkin kita pergi ke sana dengan memperlihatkan bekas luka pada pipi Coral yang aku tampar dan luka lainnya. Tidak bisa seperti itu."
__ADS_1
Wajah si Deona langsung tampak cemberut. "Ibu bilang saja kalau Coral tidak bisa datang, dia sakit atau ada urusan sekolah."
Coral yang ada di sana mendengarnya apa yang sedang saudara tiri dan ibu tirinya bicarakan.