
Coral terkejut saat dia bangun dan sudah berada di dalam kamar penginapannya. Dia melihat sekitar untuk meyakinkan jika ini memang kamarnya.
"Apa aku tadi sedang bermimpi? Tapi tidak mungkin karena aku ingat di suruh membuat kerajinan tangan dan aku keluar untuk mencari bahannya, tapi kenapa aku bisa ada di sini?"
Coral beranjak dari tempatnya dan dia melihat pada cermin yang ada di samping tempat tidurnya.
Dia menatap beberapa menit wajahnya di cermin dan dia teringat ciuman yang pria tidak dia kenal itu lakukan waktu dia menggendongnya.
Tangan Coral mengusap lembut bibirnya. "Aku tidak bermimpi, aku dapat merasakan ciumannya sangat lembut walaupun dia wajahnya terlihat dingin seperti es."
Tidak lama kedua bola matanya menangkap suatu hal yang membuatnya benar-benar terkejut. Dia menemukan sebuah lampion dengan bentuk segi enam berwarna hijau dan terbuat dari anyaman akar dan daun yang mengeluarkan bau yang harum. Di dalamnya juga ada lampu. Bentuk kerajinan tangan yang sangat bagus.
"Apa ini milikku?"
Tidak lama pintu kamar Coral diketuk oleh seseorang dan orang di luar pintu itu berteriak memanggil nama Coral dengan keras.
"Bu guru?" Coral segera berlari ke arah pintu dan dia dengan cepat membuka pintunya.
"Jadi benar kamu malah tidur di dalam kamar? Coral! Bukannya ibu sudah menyuruh kamu mengerjakan tugas kerajinan tangan dan harus sudah kamu kumpulkan sebelum jam yang sudah ibu katakan!"
"Ma-maaf, Bu, tapi---."
"Itu kerajinan tangan kamu, Ya?" Zio memotong kata-kat Coral dan dia malah menyelonong masuk ke dalam kamar Coral.
Zio mengambil lentera yang ada di kamar Coral dan dia tampak kagum dengan benda itu.
"Coral, ini hasil kerajinan tanganmu?"
Coral tampak bingung, tapi dia mengaku saja karena dia tidak mau kalau sampai dia tidak naik kelas nantinya.
"Iya, Bu, itu hasil kerajinan tanganku," jawab Coral agak takut.
"Bagus sekali ini, Coral! Kamu akan mendapatkan nilai yang terbaik dari punya Luana."
"Apa? Bu guru serius? Tidak mungkin hasil karyanya lebih bagus dari punyaku." Luana tampak kesal.
"Tentu saja ini lebih bagus. Kamu lihat saja kerajinan tangan milik Coral ini."
Luana melihat kesal pada Coral karena memang membuat kerajinan lebih bagus dari miliknya yang sebenarnya juga milik Coral.
__ADS_1
Akhirnya guru mereka memutuskan jika hasil karya Coral mendapat nilai yang terbaik dari semuanya.
Malam itu Coral yang akan tidur kamarnya di gedor oleh Luana yang marah dan ingin memberi pelajaran untuk Coral.
"Tutup pintunya!" perintahnya pada kedua temannya yang juga terlihat menakutkan bagi Coral.
"Luana, ada apa? Ini sudah malam dan apa kamu tidak mau tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu berani mencari masalah denganku, Gadis menyebalkan!" Tangan Luana dengan cepat menjambak rambut Coral hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Luana, lepaskan tanganmu. Kepalaku sakit," rintih Coral sambil memegang tangan Luana yang menjambaknya.
"Kenapa kamu membuat hasil karya yang lebih bagus dari milikmu yang kamu berikan padaku? Kamu mengajak melakukan itu agar aku tidak mendapatkan nilai yang terbaik, kan?" Tangan Luana semakin keras menjambak Coral.
Seketika gadis itu menangis menahan sakit. "Aku tidak tau jika kerajinan buatanku itu malah membuat aku mendapat nilai yang bagus. Aku tidak sengaja melakukan hal itu, Luana."
"Bohong!"
Plak!
Sebuah tamparan keras pada pipi Coral. Luana mengambil baju Coral di dalam tas yang sudah Coral siapkan karena besok mereka akan pulang.
"Sudah, Luana. Aku sudah tidak sabar melakukannya."
"Kalian mau apa?" tanya Coral yang takut mereka akan melakukan hal buruk pada baju-bajunya.
"Kita akan membuat model pakaian yang sangat indah dan nanti kamu pasti menyukainya." Luana tersenyum yang tentu saja Coral tidak menyukai senyuman itu.
"Jangan Luana ... Jangan!" teriak Coral.
Kedua teman Luana segera memegang tangan Coral dan mereka mengikatnya. Mereka ternyata sudah menyiapkan semuanya, mereka membawa tali dan penutup mulut.
"Kamu diam saja di sini dan lihat pertunjukkan yang akan kami berikan untuk kamu. Para gadis cantik, kita mulai pertunjukkannya."
Mereka mengambil baju Coral satu persatu dan mereka mengguntingnya. Coral hanya bisa menangis melihat bajunya di gunting oleh Luana dan teman-temannya.
Dia ingin berteriak pun percuma karena mulutnya ditutup oleh kain. Coral hanya bisa menangis dan melihat bajunya menjadi kain perca.
Ketiga gadis yang jahat itu tampak menikmati menyiksa Coral. Mereka tidak tau jika ada kedua pasang mata dengan tatapan yang dingin sedang memperhatikan ketiga gadis itu dari luar jendela.
__ADS_1
"Kenapa dia diam saja diperlakukan seperti itu? Dia benar-benar seperti kelinci percobaan saja."
Pria itu bersandar pada dinding jendela kamar Coral. Tidak lama, ketiga gadis itu menghampiri Coral dan mengguntingi pakaian yang Coral gunakan, dan lagi-lagi Coral hanya bisa menangis.
Tangan Luana terhenti dan dia melihat ke arah jendela karena dia merasa ada seseorang di sana.
"Siapa itu?" Luana berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya. Jendela besar yang menyambung ke teras itu ternyata tidak ada siapa-siapa saat Luana menyikap tirainya.
"Ada apa, Luana?"
"Kenapa aku merasa ada seseorang di sana?"
"Kamu jangan bercanda. Siapa yang tiba-tiba berada di luar teras dengan lantai kamar Coral yang tinggi?"
"Bisa saja kalau dia hantu."
"Hantu?" Mereka saling melihat satu sama lain."
"Kamu jangan menakuti. Tidak ada hantu di sini."
"Iya, tidak ada hantu di sini, Taza. Sekarang kita segera pergi dari sini saja dan biarkan dia meratapi baju-bajunya." Luana tertawa dengan puasnya.
"Luana, apa dia besok tidak akan mengatakan apapun pada guru kita?"
"Coba saja kalau dia berani membuka mulutnya, aku akan pastikan dia mendapat hukuman yang lebih menyakitkan dari ini." Luana menepuk-tepuk pipi Coral.
Mereka bertiga meninggalkan Coral sendiri dengan tangan yang sudah mereka lepaskan ikatannya.
Coral beringsut dari tempatnya dan dia memunguti bajunya yang sudah menjadi kain perca.
"Aku besok harus memakai apa? Baju ini juga sudah terkoyak dan besok aku harus bilang apa sama Bu guru?" Coral menangis di bawah tempat tidurnya.
Coral benar-benar bingung besok dia harus memakai baju apa?
Pria itu kembali melihat apa yang terjadi dengan Coral.
"Benar-benar gadis yang menyedihkan. Dia sama sekali tidak berani melawan mereka, mungkin sebaiknya aku bunuh saja dia agar hidupnya tidak terlalu menderita dan aku bisa mendapatkan bola mutiara hitam itu."
Pria itu berjalan masuk perlahan dan ada belati di tangannya yang akan dia gunakan untuk menusuk tepat di jantung Coral agar bola mutiara hitam yang ternyata masuk ke dalam tubuh Coral bisa keluar seperti apa yang paman Helius katakan.
__ADS_1