My Vampire Prince

My Vampire Prince
Bertemu lagi Part 2


__ADS_3

Rize turun dari mobil dan memperkenalkan dirinya. Ibu tiri Coral memperhatikan Rize dari atas sampai bawah.


Jika dilihat dari penampilannya dan mobil yang dikendarai oleh Rize, jelas saja pria ini bukan orang biasa. Dia orang kaya, tapi bagaimana mungkin Coral si gadis tidak berguna ini bisa mengenal pria kaya-raya dan tampan seperti Rize?


"Namaku Autum Rize, tadi aku bertemu dengan Coral yang terjatuh dari sepedanya, dan aku antar dia pulang ke rumah."


Sekarang kembali pandangan mata ibu tiri Coral menuju pada anak tiri yang penampilannya berantakan dan kotor di seluruh tubuhnya.


"Memangnya, kamu dari mana sampai kotor seperti ini? Sayang, kamu itu harus berhati-hati kalau di jalan karena ibu tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu." Tangan itu perlahan mengelus kepala Coral.


Coral tentu saja bingung dengan sikap ibu tirinya yang tiba-tiba lembut padanya. Apa karena di sini ada Rize, makannya dia bersikap seperti itu?


Di dalam rumah, Leonil memanggil saudara kembarnya Deona yang sedang sibuk mencoba sepatu baru yang mereka beli dari uang ayah Coral dan sama sekali mereka tidak memikirkan tentang Coral.


"Leonil, coba kamu lihat sepatu baru yang aku beli tadi. Warna dan bahannya bagus sekali. Besok saat masuk sekolah akan aku pamerkan pada teman-teman lainnya dan mereka pasti akan sangat iri dengan apa yang aku pakai ini. Selain harganya mahal, sepatu ini juga hanya ada beberapa." Terdengar suara tertawa dari Deona.


"Percuma saja sepatumu bagus, tapi kamu tidak memiliki kekasih, sedangkan Coral yang seperti pembantu malah memiliki seorang kekasih yang tampan dan kaya raya," terang Leonil santai sambil bersandar pada daun pintu kamar Deona.


Wajah ceria Deona seketika berubah setelah mendengar apa yang saudara kembarnya katakan. "Apa maksud dari perkataanmu? Kekasih? Coral?" Wajahnya tampak percaya.


Leonil menarik tangan saudara kembarnya yang masih memakai sepatu barunya. Mereka menuju jendela kaca yang memperlihatkan keadaan di luar.


"Pria itu siapa? Tampan sekali!" Kedua mata Deona mendelik melihat hal itu.


"Kekasihnya Coral," jawab saudara kembar laki-lakinya santai.


"Apa? Tidak mungkin itu kekasihnya Coral, kamu pasti bercanda Leonil."


"Siapa yang bercanda. Dia baru saja mengantar Coral pulang karena katanya tadi Coral mengalami insiden kecil di jalan."

__ADS_1


"Insiden kecil?" Deona melihat Coral yang memang bajunya kotor dan dia tidak membawa sepeda, dia pasti hanya menolong Coral, pria itu tidak akan mungkin juga suka pada Coral. Apa dia tidak bisa melihat mana gadis cantik dan mana gadis yang seperti seorang pembantu? Sebaiknya aku keluar untuk berkenalan dengannya. "


Deona segera melepas sepatunya, dan dia merapikan rambut serta bajunya karena dia ingin berkenalan dengan Rize pria yang disangka adalah kekasihnya Coral.


Leonil tersenyum melihat hal itu." Sebentar lagi akan ada perang, perang merebutkan si pria tampan kita lihat saja siapa nanti pemenangnya. Apakah adikku yang cantik seperti bidadari atau malah si anak menyebalkan yang seperti pembantu itu?" Leonil bersedekap.


"Ibu, ada apa ini? Aku dengar tadi kata Leonil, Coral mengalami insiden kecil." Pandangan mata Deona melihat ke arah saudara tiri nya. "Ya Tuhan! Coral, kamu tidak apa-apa, kan? Kenapa kamu kotor dan penampilanmu seperti ini?"


"Aku tadi terjatuh di jalan, Deona, dan sepedaku rusak."


Sekarang pandangan mata Deona mengarah pada sosok pria yang memang dia ingin kenalan. "Lalu, siapa dia?"


"Namanya Auntum Rize, dia yang menolong Coral dan membawa Coral pulang. Rize, apa benar kamu tidak mau mampir sebentar untuk sekedar minum kopi atau tea? Kami memiliki tea yang sangat enak dan pasti kamu menyukainya."


"Terima kasih, Bibi, tapi aku harus segera pergi karena aku masih ada urusan yang lebih penting."


"Oh... jadi nama kamu Rize, perkenalkan namaku Deona." Gadis itu tidak sungkan langsung menjulurkan tangannya ke arah Rize, dan Rize melihatnya datar, tapi tangannya menerima jabatan tangan Deona.


"Tidak masalah, Coral itu hanya sebuah benda yang penting kamu baik-baik saja."


"Rize, kapan-kapan mainlah ke sini, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu karena kamu sudah sangat baik menolong anak kesayanganku Coral. Sekali lagi tamgan wanita yang adalah ibu tiri Coral itu mengusap belakang kepala putri tirinya perlahan seolah dia menunjukkan jika dia sangat menyayangi Coral.


"Iya, Rize, terima kasih sekali lagi kamu sudah menolong saudara kesayanganku, kamu kapan-kapan mainlah ke sini, kita bisa menjadi teman."


"Baiklah, aku akan mampir ke sini suatu hari nanti. Kalau begitu aku pulang dulu. Permisi." Pria itu berjalan dengan salah satu tangan masuk ke dalam kantong celananya. Rize benar-benar tampak gagah dan siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta padanya.


Setelah mobil Rize sudah tidak terlihat lagi oleh mereka, dengan cepat tangan sang ibu tiri menjambak rambut Coral dan menyeretnya masuk.


"Sakit, Bu, tolong lepaskan!"

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh keluar dari rumah? Kamu ternyata berani membantah perintahku selama ini! Apa selama aku dan kedua anakku pergi kamu selalu keluar rumah diam-diam?"


"Aku keluar rumah hanya ingin membeli pupuk untuk tanaman mawarku, aku tidak melakukan apa-apa."


"Oh? Jadi karena tanaman itu yang membuatmu sering membantah perintahku! Leonil, hancurkan tanaman bunga mawar miliknya, biar dia tidak perlu keluar untuk membeli pupuk lagi atau apapun itu."


"Aku mohon jangan lakukan itu, tananam itu adalah teman peninggalan mamaku. Aku mohon jangan hancurkan mawar-mawar itu. Ibu boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan merusaknya, aku mohon!" Gadis itu sampai bersujud di kaki ibu tirinya agar tanamannya tidak dirusak. Keadaan Coral benar-benar sangat miris.


"Ibu, sebenarnya ada baiknya juga Coral pergi hari ini, kalau dia tidak pergi hari ini, dia tidak akan bertemu si pria tampan itu. Rize sangat tampan, Bu, dan aku menyukainya, dan juga seprrtinya dia anak orang kaya, aku tidak pernah melihat pria seperti dirinya. "


"Kamu benar, Rize adalah anak orang kaya, dia bilang ayahnya salah satu pemilik perusahaan besar sebuah perusahaan di kota lain dan dia di sini karena ada suatu urusan."


"Kalau dilihat dari tampangnya. Dia mungkin seumuran denganku."


Rize memang memiliki wajah baby face walaupun terkesan dingin dan pucat.


"Ibu aku mohon jangan hancurkan tanaman itu, aku akan melakukan semua pekerjaan yang Ibu suruh. Semuanya."


"Bu, kalau dia bisa membeli pupuk itu, berarti dia memiliki simpanan uang. Dia berbohong lagi pada ibu," ucap Leonil.


"Benar juga apa yang kamu katakan, Sayang. Dari mana kamu bisa membeli pupuk itu? Apa kamu mencuri uangku?"


"Tidak, Bu, aku sama sekali tidak mencuri uang Ibu, aku memiliki tabungan yang ayah berikan kepadaku, aku menyimpan sedikit demi sedikit."


"Oh... jadi seperti itu. Kalau begitu kamu ikut aku sekarang, tunjukkan di mana uang yang kamu simpan berikan semua pada ibu karena Ibu tidak mau kamu memiliki uang dan akhirnya kau bisa keluar seenaknya diam-diam saat kami tidak ada di rumah


Wanita kejam itu menyeret Coral dengan menjambak rambutnya naik ke atas loteng. Coral hanya bisa berlinang air mata merasakan sakit pada kepalanya. Kedua saudara kembar tirinya pun ikut naik ke atas loteng, mereka memberantakkan semua barang-barang Coral yang ada di sana. Coral terpaksa menunjukkan uang yang dia simpan yang ada di bawah lantai kayu.


"Ini uangnya ternyata hanya tinggal segini."

__ADS_1


"Apa benar tinggal ini uang yang kamu punya? Jangan bohong padaku, Coral, atau kamu akan menyesal." Tangan wanita itu malah menjambak rambut Coral dengan sangat keras.


Gadis itu mencoba mengangguk perlahan.


__ADS_2