My Vampire Prince

My Vampire Prince
Si Hantu Penolong part 1


__ADS_3

Pangeran Rize benar-benar tidak percaya jika kehidupan gadis bernama Coral sungguh menyedihkan, dia tidak hanya mendapat siksaan di sekolahnya, tapi ternyata di rumah dia juga mendapat penyiksaan dari keluarganya sendiri.


Pangeran kembali berpikir, apa sebaiknya gadis ini dia bunuh saja sehingga dia dengan mudah mengeluarkan bola mutiara hitam itu dari tubuhnya?


"Coral ...!" panggil sang ibu tiri dengan suara menggema di seluruh ruangan.


Coral yang sudah mencuci baju pun terkejut dengan panggilan ibu tirinya, dia segera mematikan kran air dan berjalan keluar menuju meja makan di mana, dia melihat ibu tiri dan kedua saudara tirinya sedang asyik makan, dahal dia dari tadi menahan lapar.


"Ada apa, Bu?"


"Setelah ini kamu bereskan meja makannya, dan hari ini kamu tidak mendapat jatah makan karena kamu tadi sudah berani dengan saudara tirimu."


"Tapi aku lapar sekali, Bu, apa lagi kemarin malam aku belum makan, apa aku boleh makan sedikit saja?"


"Kalau begitu makan bekasku saja karena aku tidak habis. Ini makan!" Remaja laki-laki itu benar-benar sangat jahat pada Coral. Dia memberi sisa makanannya yang hanya tinggal sedikit dan itu pun tidak ada ikannya hanya tersisa nasi dan juga tulang ayam.


"Tidak perlu Leonil. Aku sudah tidak lapar, nanti aku akan bereskan meja makannya setelah aku selesai mencuci dan membersihkan kamar mandi "


"Kalau begitu kamu lanjutkan pekerjaanmu sampai selesai, aku dan kedua anakku akan pergi berjalan-jalan. Hari ini kita akan menikmati liburan dengan berbelanja dan bersenang-senang. Awas ya! Kalau sampai aku nanti pulang ke rumah dan belum bersih! Kamu akan tahu akibatnya," ancam wanita dengan penampilan glamornya itu.


Coral hanya bisa mengangguk perlahan dan dia kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk mencuci baju dan membersihkan kamar mandi


Apakah Coral menangis dengan semua yang terjadi pada hari ini? Tentu saja dia tidak menangis, dan itu bukan karena dia tidak memiliki air mata ataupun dia gadis yang kebal, tapi dia mencoba menguatkan dirinya sendiri menghadapi siksaan yang tiap hari dia terima dari ibu tiri dan kedua saudara tirinya.


***


Coral keluar dari dalam kamar mandi dan dia melihat ember besar yang berisi baju yang hendak dia jemur.

__ADS_1


"Cucian kali ini banyak sekali. Andai mesin cuci itu tidak dijual oleh ibu, pasti aku bisa menggunakannya dan pekerjaanku akan lebih ringan."


Coral mencoba menyeret ember cucian yang besar itu keluar agar bisa dijemur, tapi gadis itu tidak kuat karena tubuhnya memang kecil dibandingkan satu ember besar berisi baju basah itu.


Tangan gadis itu sekarang memegang perutnya yang berbunyi karena lapar, dia berjalan ke arah dapur mencari apa yang bisa dia makan.


Saat membuka lemari es, di situ ada buah dan kue sisa semalam milik ibu tirinya.


Coral tidak berani makan, dia hanya bisa menelan salivanya dengan susah dia ingin sekali makan itu tapi dia takut jika nanti pasti ibu tirinya akan marah.


Coral akhirnya memilih untuk menghabiskan satu botol air putih yang ada di sana, mungkin dengan begitu rasa laparnya agak sedikit berkurang.


Sedikit rasa lapar itu berkurang, dia gunakan untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring yang kotor.


Kedua netra g Buadis itu terkejut saat dia melihat di atas meja makan yang baru saja dia bersihkan, di sana terdapat sebuah kotak makan yang berisi makanan yang Coral sukai.


Pangeran Auntum Rize yang ternyata berada di sana mencoba mengosongkan pikirannya agar tidak bisa terbaca oleh gadis itu. Dia mencoba menenangkan dirinya untuk tidak memikirkan apapun agar Coral tidak tahu keberadaannya di sana.


"Kenapa dia hanya melihat terus makan itu? Makanan itu untuk dimakan, Coral, bukan untuk dilihat," ceplosnya kesal.


"Siapa di sana?" Coral seketika mengedarkan pandangannya karena dia lagi-lagi mendengar suara seseorang berbicara dan kali ini orang itu menyebut namanya.


"Tidak ada siapa-siapa di sini, tapi kenapa aku mendengar suara seseorang? Apa ada hantu yang mengikutiku, ya? Dan sekarang dia ada di sebelah aku?"


Coral tidak takut karena baginya manusia seperti Luana dan saudara tirinya adalah yang lebih menakutkan.


Pangeran Rize menunduk kesal melihat tingkah Coral yang malah melihati makanan itu, dia tidak langsung memakannya, dahal dari tadi perutnya lapar.

__ADS_1


Perut Cora kembali berbunyi, dia akhirnya duduk dan membuka kotak makan itu.


Sekarang dipikirannya dia tidak peduli kotak makanan itu untuk siapa yang dia tahu kalau kotak makanan itu pasti bukan milik saudara kembarnya tirinya atau ibu tirinya.


Pangeran Autum Rize tampak tersenyum melihat gadis itu makan dengan lahapnya, bahkan ada sisa nasi pada tepi bibirnya. Hal itu terlihat sangat manis bagi Pangeran Rize.


"Makanan ini enak sekali dan benar-benar nikmat walaupun sebenarnya aku masih ingin makan lagi, tapi ini sudah cukup, setidaknya aku tidak akan pingsan hari ini. Sebaiknya aku segera membereskan rumah sebelum ibu dan yang lainnya pulang.


Coral kembali mencoba menyeret Ember Bu berisi baju cucian ke halaman belakang agar dia bisa menjemurnya.


Coral benar-benar harus berusaha dengan sekuat tenaga agar ember besar yang berisi baju cucian bisa dia bawa untuk dijemur.


Tidak lama terdengar suara sesuatu jatuh di atas loteng di mana Coral tidur.


Coral yang takut ada maling atau pencuri yang masuk segera naik ke atas dengan hati-hati.


Sebenarnya itu yang melakukan adalah Pangeran Rize. Dia ingin mengalihkan pandangan Coral sehingga dia dapat membantu membawa ember besar itu ke tempat yang Coral inginkan.


Coral memeriksa setiap sudut yang ada di loteng itu dan ternyata tidak ada siapa-siapa, dia kemudian kembali turun dan dia celingukan mencari di mana ember besar cuciannya?


"Apa ada maling yang sengaja mencurinya? Tapi untuk apa? Baju-baju itu pun tidak berguna jika dijual." Coral mencari dan langkahnya terhenti saat melihat ember itu berada di halaman belakang di mana dia memang ingin menaruhnya di sana.


"Kenapa bisa ada di sini? Apa ada hantu yang memindahkannya di sini? Kalau memang iya berarti dia hantu yang baik yang mau menolongku."


Coral mengedarkan pandangannya. Sebenarnya dia sedikit takut, sih, tapi setelah melihat kebaikan dari hantu itu rasa takutnya seketika menghilang, bahkan dia berharap nanti hantu itu bisa membantunya terus.


"Terima kasih, ya hantu, tapi jangan menjahiliku, hidupku sudah cukup penderitaan karena sering dijahili oleh temanku dan juga keluargaku Coral tertunduk sedih.

__ADS_1


__ADS_2