My Vampire Prince

My Vampire Prince
Pesta Ulang Tahun part 3


__ADS_3

Rize dan Coral berjalan menuju kamar mandi, tapi sebelum mereka masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba terlihat Zio keluar dari kamar mandi dengan keadaan agak berantakan pada rambut dan bajunya.


Zio langsung berjalan menuju ke kelas. Coral dan Rize hanya bisa melihat hal itu.


"Rize, Zio kenapa ya? Kenapa dia terlihat aneh seperti itu? Apa ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan?"


"Mungkin dia sedang ada masalah atau memang mungkin dia sedang tidak enak badan."


"Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh padanya, Rize? Zio juga tidak pernah menyembunyikan apapun dariku, tapi lihat saja dia tadi sikapnya seperti aneh begitu tidak seperti dia sedang sakit."


Saat mereka berdua berbicara tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Coral hingga pegangan tangannya dengan Rize pun terlepas.


"Ayah sudah peringatkan kamu untuk tidak berdekatan dengan Rize, dan kamu Rize, kenapa masih mendekati putriku? Kamu itu orang yang membawa pengaruh buruk pada putriku. Jadi jangan mendekatinya lagi! Jauhi putriku Rize!" seru ayah Coral dengan lantang


"Setelah lulus sekolah aku ingin menikahi Putri Anda, Tuan Ruff, dan aku serius dengan apa yang aku katakan."


Deg!


"Apa? Menikah?" Pria paruh baya itu terlihat amat terkejut. Dia sekarang melihat ke arah putrinya yang menunjukan wajah seolah dia mengiyakan ucapan Rize.


"Ayah, Rize tidak seperti pria yang ayah pikirkan dan orang lain katakan. Dia serius padaku dan dia sudah beberapa kali katakan hal itu."


"Ayah tidak bisa menerima hal itu, Coral. Kamu dan Rize juga baru mengenal. Ibumu beberapa kali mengatakan jika kamu juga sering pergi dengannya dan pulang larut. Coral, ayah tidak mau kamu menikah dengan pria yang salah."


"Aku mencintai Rize, Ayah, dan aku mengenal siapa Rize. Aku mohon ayah mau mendengarkan dan percaya padaku."


"Coral, sebaiknya kamu tidak memikirkan tentang hal ini dulu. Fokus saja dengan sekolahmu dan setelah kamu lulus baru kita akan bicarakan hal ini lagi."


Tangan Coral diseret oleh ayahnya dan dibawa pergi dari sana. Rize hanya bisa melihat Coral dibawa pergi menjauh dari sana.

__ADS_1


Sampai di rumah, Coral tidak mau diajak bicara oleh ayahnya. Dia langsung naik ke lantai atas menuju loteng dan menutup pintunya dengan rapat.


"Dia benar-benar menjadi anak yang pembangkang. Dia sudah salah jatuh cinta pada pria bernama Rize itu.


"Sayang, kamu tidak perlu marah-marah. Aku tidak mau gara-gara kamu terlalu memikirkan masalah putrimu itu kesehatanmu jadi terganggu." Tangan Rose dengan sopan mengusap dada suaminya guna menenangkan pria yang tampak sedang kesal itu.


"Iya, Ayah, biar nanti aku saja yang bicara pada Coral. Kita sama-sama wanita, apa lagi dia adalah saudaraku, pasti nanti dia mau mendengar apa yang aku katakan."


"Rize mengatakan jika dia ingin menikahi Coral setelah mereka lulus sekolah. Aku melihat pria itu tampak serius dengan apa yang dia katakan, Rose. Jujur saja aku menjadi bingung. Jika dia hanya ingin bermain-main dengan Coral. Kenapa dia malah ingin serius pada Coral sampai berani ingin menikahi Coral?" Sekarang Ruff melihat dengan wajah Heran pada istrinya.


Rose mencoba merasa tenang dengan pertanyaan suaminya. Dia tidak mau terlihat seolah-olah dia sudah berbohong pada suaminya itu.


"Rize memang pernah mengatakan akan menikahi Coral saat aku memergoki mereka tengah berduaan di loteng. Saat Coral aku ajak makan malam, dia tidak mau, dan ternyata aku tau jika dia mengajak Rize ke kamar lotengnya. Sayang, kamu jangan percaya dengan ucapan Rize. Dia hanya akan main-main saja dengan putri kita."


"Mungkin sebaiknya aku menjauhkan dia dari Rize, tapi bagaimana caranya? Kalau pindah rumah juga tidak mungkin, apa lagi pindah sekolah sebab Coral sebentar lagi akan menjalani ujian kelulusan."


"Ide yang bagus, tapi dengan siapa dia akan kita jodohkan?"


Coral di atas lotengnya duduk dengan memandangi foto mendiang ibunya. Tidak lama berdiri di depannya sosok yang dia cintai.


"Rize, kamu sudah berada di sini?"


"Aku dari tadi sudah berada di atas rumahmu. Apa kamu merindukan ibumu?"


"Iya, aku merindukannya. Rize, jadikan aku sepertimu agar aku tidak bisa mati, aku ingin selalu bersamamu." Coral tiba-tiba memeluk dan mengatakan hal yang membuat Rize tercengang.


"Apa kamu bilang tadi, Coral?"


"Jadikan aku seperti dirimu, Rize. Aku ingin. sekali menjadi milikmu selamanya, aku tidak mau dipisahkan darimu, Rize."

__ADS_1


"Apa kamu sudah yakin dan memikirkan baik-baik masalah itu? Menjadi seorang vampire tidaklah mudah, apa lagi saat kamu masih menjadi vampire baru, maka kamu akan sangat menginginkan darah manusia. Akan sangat sulit untuk mengendalikan hal itu."


"Aku pasti bisa dan akan berusaha, tapi kamu juga harus membantu."


"Kamu lebih baik menjadi manusia biasa, dan menua bersama cucu-cucumu di rumah peninggalan suamimu karena Vampire tidak bisa melakukan hal itu dan kamu tau, Coral? Aku ingin suatu hari dapat seperti itu, tapi hal itu tidak mungkin terjadi."


Coral melepaskan pelukannya pada Rize dan dia menatap lekat pria itu. "Apa kamu tidak mau menjadikan aku sepertimu, Rize?"


Rize terdiam mendengar ucapan gadis yang ingin dia jadikan ratu di istananya, tapi tidak ingin dia menjadi ratu dari para vampire karena sebutan itu akan menuntut Coral menjadi salah satu vampire.


"Apa kamu menungguku, Malaikat Cantikku?"


"Zio, kamu kenapa ada di sini?" tanya Mara pura-pura kaget melihat Zio di sana, dahal dia memang menunggu Zio.


"Kenapa kamu seolah-olah mengharap aku di sini?" tanya Zio dengan wajah menunduknya.


Mara terkekeh samar. Dia gemas sekali melihat sikap Zio yang seperti itu.


"Memang aku tidak sedang menunggumu. Aku di sini karena aku sedang--." Mara bingung. Dia di sana memang sedang menunggu Zio, tapi tidak ingin pria itu tau jika dia menunggunya.


"Sedang apa? Pasti sedang menungguku. Ayo mengaku!"


"Mengaku apa? Aku sama sekali tidak menunggu kamu, Zio." Mara berjalan pergi dari sana. Zio yang mau mengikuti, tapi dia kembali merasakan sakit pada perutnya karena ternyata segel itu menyala lagi dan Zio memilih untuk pergi dari sana. Dia tidak mau Mara melihat apa yang sedang dia alami.


"Aku di sini sendirian karena aku ingin menikmati suasana yang sangat indah ini. Kamu sendiri untuk apa ke sini?"


Mara kaget saat menoleh dirinya tidak melihat ada Zio di sana.


"Zio, kamu ke mana? Apa kamu sedang mengajakku bercanda? Zio ...!" seru Mara mencari di mana Zio berada.

__ADS_1


__ADS_2