My Vampire Prince

My Vampire Prince
Mengetahui Kebenarannya part 1


__ADS_3

Rize hanya menanggapi dengan senyuman sinis. Dia akan memastikan bahwa bola mutiara hitam tidak akan pernah jatuh di tangan Raja Pedrona.


"Katakan saja pada kakakmu itu kalau bola mutiara hitam tidak akan pernah dia dapatkan."


"Kamu jangan merasa akan menang, Pangeran Rize. Gadis itu akan aku serahkan hari ini pada kakakku-- Raja Pedrona agar bola mutiara hitam itu dapat segera dikeluarkan dari tubuhnya."


"Selama aku ada di sini aku tidak akan membiarkan itu. Jansen sebaiknya kamu pergi atau aku musnahkan kamu seperti Zartu sang kaki tangan yang sangat setia pada raja Pedrona itu."


"Aku heran kenapa kamu tidak membunuh saja gadis itu dan segera mengambil bola mutiara hitam itu? Sebenarnya apa yang kamu rencanakan pada gadis itu dan kenapa kamu sangat melindungi manusia itu? Bukankah kan lebih mudah kamu mengambilnya karena kamu tahu di mana bola hitam itu dari awal."


"Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu karena kita bukan teman ataupun keluarga jadi sekarang pergilah dari sini!"


"Aku tau kalau kamu sedang terluka karena kekuatanmu sudah dihisap oleh Zartu. Senang sekali jika aku diberi kesempatan untuk memusnahkan, Pangeran Rize."


Jansen mulai menyerang dengan menggunakan kekuatannya pencekik dari jauh. Rize seketika wajahnya tampak kesakitan dan mencoba menahan rasa sakit akibat leher yang dicekik dari jarak jauh oleh Jansen.


Rize dengan sekuat tenaga dia berlari mendekat dan gantian mencekik Jansen dengan kuat sampai pria itu melepaskan cekikan jauh dan sekarang keadaan berpindah, di mana Rize mencekik Jansen dengan kuat sampai wajah Vampire muda itu semakin pucat saja.


"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini karena aku tidak akan membiarkan kekasihku itu dalam bahaya karena ulahmu"


Setelah mengatakan hal itu tangan Rize mencengkeram semakin erat. "Sebenarnya bukan bola mutiara hitam itu yang menakutkan bagi kakakku, tapi ada hal lain yang akan diciptakan oleh gadis manusiamu itu, Pangeran Rize," ucap Jansen dengan sisa-sisa napasnya yang tersisa.


Rize perlahan melepaskan cekikannya karena ingin mengerti maksud dari ucapan Jansen.


"Apa maksud dari ucapanmu?" Rize bertanya karena Rize tau kemampuan Jansen adik Raja Pedrona itu.


Jansen bisa melihat kejadian yang akan terjadi beberapa tahun ke depan, tapi dia melihatnya tidak terjadi semaunya. Dia tiba-tiba akan diperlihatkan secara spontan, datang begitu saja, tanpa dia sendiri sadari.


"Gadis itulah kekuatan terbesar yang akan membuat seluruh bangsa vampire di dunia ini akan tunduk padanya, bukan karena bola mutiara hitam itu. Kamu jangan berpura-pura tidak tau, Rize. Kamu sudah mengetahui hal itu. Makannya, kamu tidak segera membunuhnya, tapi kamu akan memanfaatkannya."

__ADS_1


Tiba-tiba Rize sekali lagi dicekik oleh Jansen dengan tangannya langsung dan membuat Rize mencoba menembus apa yang sudah Jansen lakukan sebelum mereka bertemu dan bertarung.


Rise melihat Jansen sedang berbicara dengan kakaknya, yaitu raja Pedrona yang ternyata sedang terluka akibat bertarung dengan seseorang.


"Ternyata sang pembasmi vampire generasi pertama masih ada dan dia dapat melukaiku seperti ini."


"Di mana dia sekarang? Dia harus segera dimusnahkan agar tidak membahayakan bangsa vampire?"


"Dia juga terluka parah. Nenek tidak tau diri. Beraninya dia menghalangiku ingin mengambil gadis itu."


"Kamu sebaiknya pulihkan dulu tubuhmu dan aku akan berburu darah manusia untukmu."


"Bola mutiara hitam itu harus segera aku dapatkan agar kekuatanku menjadi tak terkalahkan."


"Bukan bola itu yang menjadi kekuatan terbesarmu, tapi hal lain yang kamu sendiri dan kita semua tidak akan menyangkanya. Dialah kekuatan yang tak terkalahkan, bahkan kamu memiliki dan menyatu dengan bola mutiara hitam itu pun kekuatanmu mungkin akan seimbang, atau bahkan lebih besar."


"Apa maksudmu?" Raja Pedrona menatap adiknya dengan tatapan penasaran dan serius.


Bayangan itu langsung lenyap dan Rize tidak dapat melihat lagi yang yang ada dalam kenangan Jansen.


Rize yang kekuatannya lebih besar dari Jansen, tentu saja bisa membalik tubuh Jansen yang sekarang cengkeramannya terlepas dan Rize melempar tubuh Jansen, menangkapnya, melempar lagi dan menangkapnya secara bertubi-tubi.


"Sudah cukup main-mainnya. Pergilah dan dunia ini!"


Rize dengan cepat mengigit Jansen dan tubuh vampirnya berubah menjadi patung dan dengan cepat Rize menghancurkan dengan pukulannya yang keras dan Jansen benar-benar musnah menghilang.


"Setelah ini aku akan bertemu denganmu raja Pedrona dan akan aku hancurkan kamu hingga berkeping-keping dirimu."


Rize segera pergi dari sana. Rize tidak sadar jika apa yang dia lakukan tadi dilihat oleh seseorang dan orang itu adalah Leonil yang kebetulan lewat di mana Rize saat menghancurkan tubuh Jansen yang sudah menjadi patung.

__ADS_1


"Itukan, Rize, dan aku kali ini tidak salah lihat. Siapa dia sebenarnya dan dia baru saja membunuh manusia atau makhluk apa? Kenapa tubuhnya bisa hancur seperti itu? Dan sebelum tubuh pria itu menjadi patung--." Rize terdiam sejenak dan mengingatnya lagi agar dia benar-benar yakin jika Rize menggigitnya.


"Siapa sebenarnya, Rize? Apa dia semacam makhluk alien atau dia dari dimensi lain, atau dia seorang siluman?" Leonil tampak bingung dengan apa yang baru dia lihat. Dia akhirnya memutuskan pulang sebelum Rize melihatnya. Dia takut sekarang dengan Rize.


Coral yang sudah berganti baju dengan Piyama tidurnya segera menyiapkan alas tidur serta bantal untuknya.


"Aduh! Ini apa? Kenapa terlihat menyakitkan?" Coral mengambil sesuatu benda kecil yang ada pada alas tidurnya.


Sebuah benda bulat kecil dan ada beberapa lubang seperti tempat menaruh SIM card.


"Ini apa, sih? Kenapa juga ini bisa ada di alas tidurku?"


Coral mengamati benda kecil itu dan menekan pada tombol kotak kecil. Dia sangat kaget saat ada card mini keluar dari sana.


"Apa ini semacam kamera? Aku pernah melihat hal ini sebelumnya."


Coral mencoba memasukkan ke dalam memory card ponselnya dan memang masih bisa bekerja dengan baik.


Coral amat sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Dre di kamarnya.


Dia sengaja memasang kamera kecil di sana agar dapat memiliki bukti untuk menghancurkan Coral.


"Oh Tidak! Ini tidak mungkin." Coral yang terkejut sampai menjatuhkan ponselnya dengan keras. Dia duduk memojok pada perapian di sana. Tatapan kedua matanya menunjukkan bahwa dia sedang ketakutan dan shock akan suatu hal.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Tidak mungkin." Coral menangis memeluk kedua lututnya dengan erat.


Leonil masuk ke dalam rumah dan segera mencari dapur untuk mengambil segelas air minum.


"Leonil, kamu kenapa?"

__ADS_1


"Ibu! Aduh, aku kaget sekali." Leonil yang sangat terkejut mengelus dadanya pelan.


"Kamu itu kenapa? Apa kamu sedang melihat hantu?" Ibunya malah tertawa meremehkannya.


__ADS_2