
Coral di dalam mobil dari tadi hanya duduk di melihat ke arah luar jendela. Rize sesekali melirik gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Coral, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik," jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah si lawan bicaranya.
Coral ini sebenarnya ingin bertanya siapa gadis yang tadi memeluk Rize. Kalau dia kekasih Rize, Coral tidak akan marah dan boleh memutuskan hubungan dengannya, walaupun hal itu sangat menyakitkan, tapi Coral tidak akan marah pada Rize.
Coral bingung antara mau bertanya atau diam saja.
"Namanya Tsamara dan dia adalah sahabatku yang tinggal satu negara di kotaku. Tsamara dan aku sangat dekat, dan kita sudah seperti keluarga."
"Oh," jawab Coral singkat. Sebenarnya hati Coral lega mendengar hal itu."
Rize menatap datar pada Coral. "Kamu jangan salah paham menilai hubunganku dengan Mara."
Coral baru menoleh pada Rize. "Apa kamu tidak pernah menyukainya?"
"Tidak pernah, aku dan Mara benar-benar hanya bersahabat. Kalau aku menyukai Mara, pasti aku dari dulu menjadikan dia ratu di kerajaanku."
"Kerajaan?"
"Di hidupku, Coral."
"Jadi, seperti aku sama Zio? Kenapa kamu malah melarangku dekat dengan Zio? Dahal kamu sendiri juga punya sahabat baik. Laki-laki apa semua egois, ya?"
"Aku memang egois karena tidak mau kamu nanti menyukainya, atau Zio yang menyukaimu."
"Kalau begitu aku juga akan egois. Bagaimana kalau aku melarangmu jangan terlalu dekat dengan Mara."
"Tidak bisa, Coral. Dia mungkin akan tinggal di rumahku karena dia di sini tidak memiliki saudara yang dia kenal."
Memang Mara pasti akan tinggal dengan Rize jika dia berada di sini karena Rize tau jika Mara tidak akan mau jika disuruh pulang secepat itu.
"Apa? Tinggal satu rumah sama kamu?"
"Iya, dulu di tempat tinggalku dia juga sering menginap ke kas--. Maksudku ke rumahku, dan dia tidur di kamar tamu."
"Kedua orang tuamu bagaimana?"
"Mereka tidak melarangnya dan memang mereka sudah kenal baik sama Mara."
"Kenapa tidak menikah saja dengannya? Kenapa malah denganku?"
__ADS_1
"Aku tidak memiliki rasa suka sama sekali dengan Mara dan Mara pun juga. Dia pasti mengatakan jika memang suka padaku."
Coral terdiam. Dia hanya aneh saja karena Mara dan Rize tidak saling jatuh cinta padahal sangat dekat.
"Apa Mara mempunyai pria yang dia cintai?"
"Dia tidak punya teman dekat selain aku. Dia sedikit tertutup, dan akan susah seorang pria yang ingin mendekatinya."
"Tapi dia cantik sekali, Rize. Apa kamu tidak pernah menyukainya?"
Rize menggeleng. "Rize, siapa sebenarnya kamu?" Pertanyaan itu akhirnya Coral munculkan lagi.
"A-aku Rize. Memangnya kenapa?" Rize agak kaget sebenarnya. Takut tiba-tiba Coral sebenarnya tau akan siapa dia.
"Kita hanya bertemu waktu itu di tempat aku study tour dan kenapa anehnya kamu bisa menyukaiku? Cinta pada pandangan pertama itu aku tidak percaya."
"Aku juga tidak menyuruhmu mempercayai hal itu. Anggap saja aku dikirim Tuhan untuk menolongmu dari orang-orang jahat itu. Salah satunya mereka." Rize menunjuk pada ketiga orang yang sudah berdiri di depan rumah Coral karena mereka sudah sampai di depan rumah Coral.
Di depan rumah tampak Deona senang melihat ada mobil Rize. Mereka tidak tau jika Rize datang bersama Coral.
Saat Rize keluar dan membukakan pintu untuk Coral, mata ketiganya seketika mendelik kaget melihat hal itu.
"Ibu, itu Coral." Deona teramat terkejut melihat hal itu.
Rose dan Leonil juga tidak kalah kagetnya melihat Coral sehat dan selamat. Apa lagi dia bersama dengan Rize.
"Coral, kamu akhirnya kembali Nak! Ibu sangat cemas sama kamu." Wanita itu memeluk Coral dengan erat. Coral hanya bisa terdiam mendapat perlakukan seperti itu.
"Rize, bagaimana kamu bisa bertemu dengan Coral?" tanya Deona.
"Aku melihat dia bersama para perampok itu dan aku menyelamatkannya saat lewat di daerah itu.
"Rize, aku sangat berterima kasih sama kamu karena sudah meyelamatkan putriku Coral."
"Itu memang tugasku, Bibi. Coral adalah kekasihku dan aku pasti akan menjaga dan melindunginya."
Leoni melihat Rize dari atas ke bawah. Dia merasa curiga sebenarnya dengan Rize, tapi apa yang aneh dengan Rize. Leonil akan mencari tau pokoknya.
"Bibi, aku permisi pulang dulu."
"Rize, kamu tidak mau masuk untuk minum teh dulu?"
"Terima kasih, Bibi, tapi aku harus pergi karena ada Mara di rumahnya dan dia sedang menungguku."
__ADS_1
Jujur saja Coral agak sedikit cemburu mendengar apa yang Rize katakan, tapi dia tidak mau memperlihatkan hal itu.
"Mara? Siapa Mara, Rize?"
"Dia sahabatku yang baru datang dari jauh dan sekarang dia berada di rumahku. Aku permisi dulu."
Rize melihat pada Coral dan dia segera pergi dari sana. Rose tampak bersidekap. Deona dengan cepat menarik tangan Coral dan membawanya masuk ke dalam rumah. Rose dan putranya juga ikut masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kamu bisa kembali lagi? Aku baru saja merasakan bahagia karena kamu dibawa oleh mereka." Tatap Deona tajam.
"Aku diselamatkan oleh Rize. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Rize."
"Kamu itu menyebalkan dan sebaiknya kamu menghilang saja." Coral hanya terdiam mendengar ucapan Deona. "Oh ya! Siapa Mara? Apa kamu bertemu dengannya?"
"Dia seorang gadis yang sangat cantik dan Rize mengatakan jik dia adalah sahabatnya. Sekarang dia ada di rumah Rize dan akan tinggal di sana dalam beberapa hari."
"Apa? Kamu serius? Apa dia kekasih Rize?"
Coral menggeleng. "Dia bukan kekasih Rize, dia hanya sahabat Rize."
"Sahabat Rize? Dia cantik? Mana mungkin dia sahabat Rize? Dia pasti kekasihnya Rize." Rose seolah ingin membuat Coral cemburu.
"Bu, kalau Rize sudah punya kekasih yang cantik, bagaimana aku bisa mendekatinya kalau begitu?"
"Rize lebih baik bila memiliki kekasih yang cantik dan setara dengannya, daripada harus bersama Coral." Rose tertawa dengan kerasnya seolah menghina mereka.
Coral yang ditertawakan seperti itu hanya bisa terdiam menatap ibu tirinya. "Bu, aku masih berharap jika Rize menjadi milikku," rengek Deona.
"Sayang, kalau Rize tidak bisa bersama dengan kamu, nanti ibu carikan kekasih yang seperti Rize, bahkan lebih segalanya dari Rize." Tangan wanita itu mengusap rambut putrinya. "Sekarang yang terpenting jika pria sesempurna Rize ternyata sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik daripada gadis ini." Sekali lagi Rose melihat Coral dari atas sampai bawah seolah menghina.
"Coral, bagaimana Rize bisa tau kamu dibawa oleh para penjahat itu?" tanya Leonil yang sebenarnya penasaran karena tidak mungkin jika hal itu kebetulan."
"Kenapa? Apa kamu merasa rencanamu dan ibumu gagal untuk menyingkirkan aku?"
Deg
Leonil sangat kaget mendengar hal itu. Bagaimana Coral tau jika kejadian itu adalah bagian dari rencana mereka? Apa orang suruhannya yang mengatakannya karena dipaksa oleh Rize. Tapi--.
"Apa maksudmu, Coral?"
"Ibumu dan kamu yang sudah merencanakan penculikan itu, Kan?" Coral ini rasanya sudah muak dengan apa yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya dan dia ingat ucapan Rize untuk berani melawan mereka.
"Jaga bicara kamu, Coral!" Tangan Rose sudah terangkat hendak memukul Coral, tapi entah iblis apa yang memasuk Coral. Dia segera menahan tangan ibu tirinya yang hendak menamparnya.
__ADS_1
"Jangan memukulku lagi karena aku tidak akan dia sekarang. Kalau kamu dan anak-anakmu berani menyakitiku lagi, aku akan mengatakan pada ayahku tentang apa yang selama ini kalian perbuat padaku," ancam Coral.
Ketiga orang itu mendelik melihat keberanian Coral. Kalian tidak perlu khawatir karena setelah lulus sekolah. Aku akan segera pergi dari rumah ini dan menikah dengan Rize." Coral sekarang pandangannya melihat pada Deona.