
Pagi itu Coral yang sudah bangun dan bersiap dia turun ke bawah dan melihat ada ibu dan dia orang saudaranya tampak tengah menikmati sarapan pagi seperti biasa.
"Coral, kamu duduk dan sarapan pagi dulu sebelum berangkat ke sekolah, dan nanti kamu berangkat ke sekolah bersama ibu serta saudaramu."
Apa? Ini serius ucapan yang dikatakan oleh ibu tirinya Coral?
Coral terpaku di tempatnya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Aku tidak sarapan pagi, Bu. Nanti aku makan pagi bersama Rize seperti beberapa hari ini, dan aku juga berangkat ke sekolah bersama dengan Rize."
"Coral, kamu tidak sopan menolak niat baik dari ibuku. Kamu jangan sok sekarang karena memiliki Rize sebagai kekasihmu."
"Aku bukan menolak, tapi aku sudah memiliki janji juga dengan Rize. Lagi pula aku tidak tau jika hari ini aku akan diajak makan bersama karena biasanya kalian juga tidak pernah peduli padaku."
Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya. Tangannya menjulur memeluk pundak Coral.
"Coral, mulai sekarang kamu akan ibu perlakukan seperti ibu memperlakukan Deona dan Leonil karena bagaimanapun juga kamu adalah putriku."
Coral menatap datar pada ibunya. "Apa kalian memiliki rencana lagi untukku? Kalian tenang saja karena aku akan pergi dari rumah ini setelah lulus dan menikah dengan Rize. Rize sangat baik padaku dan dia tau bagaimana aku diperlakukan di rumah ini oleh kalian."
Coral berjalan keluar dari sana. Dia memilih menunggu Rize di depan rumahnya daripada dia harus bersama keluarganya yang memiliki hati yang palsu. Penuh pura-pura.
"Bu, bagaimana ini? Dia sepertinya sudah tidak mungkin percaya lagi sama kita. Lalu, bagaimana cara menjebak dia bersama dengan Dre di hotel itu?"
"Kita jebak saja di rumah ini. Nanti rencana akan kita ubah. Gadis sok itu akan merasakan bagaimana dibenci oleh dua orang pria yang menyayanginya. Rize bahkan akan menganggap dia gadis yang mudah dirayu."
"Dan impian Coral untuk menikah dengan Rize hanya akan tinggal kenangan," lanjut Leonil.
Coral melihat mobil ibunya keluar dari rumah. Dia masih duduk di sana menunggu Rize.
"Kenapa Rize belum datang? kurang sepuluh menit lagi sekolah akan masuk dan Rize belum ke sini? Apa terjadi sesuatu pada Rize?"
Coral sudah tampak gelisah saja karena dia takut ada hal buruk dengan Rize.
Coral mencoba menenangkan dirinya dan dia sekarang berpikir jika Rize baik-baik saja.
"Sebaiknya aku fokus dulu ke sekolah karena kemarin dia sudah tidak masuk sekolah, dan kalau bolos lagi akan mempengaruhi nilai kelulusannya.
"Tapi bagaimana aku pergi ke sekolahnya? Di sini mana ada mobil umum yang melintas?"
__ADS_1
Zio pun pasti sudah berangkat ke sekolah. Coral memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju sekolah, walaupun dia tau jika hal itu pasti akan membuat dia datang terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak datang dan bolos lagi.
"Coral, kamu mau ke sekolah?" suara seorang wanita berhenti di depan Coral berdiri.
"Kak Hena, mau berangkat kuliah?"
"Iya, ayo ikut! Aku antar kamu ke sekolah sebelum terlambat."
"Terima kasih, Kak."
Coral naik ke atas motor saudara sepupunya Zio dan dia diantar ke sekolah oleh wanita manis itu.
Sesampai di depan gedung sekolahnya yang sepi. Coral tau jika dirinya terlambat datang ke sekolah.
"Permisi, Pak," ucapnya lirih.
Semua mata tertuju pada Coral yang kala itu berdiri di depan pintu kelas.
Semua bersorak ramai menertawakan Coral yang datang terlambat. "Ini jam berapa, Coral?"
"Maaf, Pak, saya datang terlambat karena sepeda saya rusak."
Terdengar lagi suara riuh menertawakan Coral. "Aku dan Rize baik-baik saja, Pak." Coral melihat bangku milik Rize kosong. Itu artinya Rize hari ini tidak masuk sekolah lagi, tapi kenapa?
"Oh ya! Kemarin kamu dari mana tidak masuk sekolah? Rize juga tidak masuk sampai hari ini"
"Kemarin saya tidak enak badan, Pak, dan kalau Rize saya tidak tau." Coral terpaksa berbohong mencari alasan
"Ya sudah, kamu boleh duduk karena bapak kasihan melihat kamu."
Luana agak kaget melihat Coral di sana. Apa lagi dia mengatakan baik-baik saja dengan Rize.
"Deona pembohong!"
"Dia ternyata baik-baik saja Luana."
"Pak, kenapa tidak dihukum? Dia datang terlambat. Bapak tidak adil," ujar Luana kesal.
__ADS_1
"Dia baru terlambat lima menit, Luana. Kalian juga mau ujian utama dan sebaiknya kita bisa belajar bersama-sama supaya kalian lulus bersama."
"Tapi dia terlambat, Pak."
Pria paruh baya ini benar-benar tidak suka sebenarnya dengan satu muridnya ini yang suka sekali berbuat seenaknya karena merasa orang tuanya menjadi donatur terbesar di sekolah itu. Luana juga sangat sombong.
"Ya sudah, kalau kamu menganggap bapak tidak adil. Coral, kamu bisa duduk di luar saja sambil mendengarkan penjelasan bapak agar tidak ketinggalan pelajaran."
"Iya, Pak."
Coral dengan senang hati menuruti apa yang dikatakan oleh gurunya karena dia tidak mau gurunya yang baik itu mendapat masalah dengan Luana dan orang tuanya.
Jam pelajaran pertama dan kedua diisi oleh mata pelajaran guru yang terkenal baik dan lucu itu.
Di jam ketiga mata pelajaran, Coral diperbolehkan masuk karena ganti mata pelajaran.
Jam istirahat berbunyi. Coral tidak keluar dari kelas karena dia ingin tidur saja agar rasa laparnya pada perutnya hilang.
Brak!
Coral tampak kaget sampai mengangkat kepalanya melihat siapa yang memukul mejanya dengan keras.
"Coral, kenapa kamu masuk sekolah lagi? Bukannya kata Deona kamu dibawa pergi oleh kekasihmu yang berandalan itu?"
Coral mengerti sekarang jika Deona telah berbicara bohong pada Luana. Dia tidak mengatakan jika dirinya diculik oleh orang jahat. Malah mengarang cerita seolah Coral ini gadis nakal yang pergi dengan kekasihnya.
"Aku tidak memiliki kekasih berandalan. Kekasihku Rize dan dia pria baik-baik, Luana. Deona sudah berbohong sama kamu dan sebaiknya kamu tidak perlu berteman dengannya."
"Jangan mengaturku! Kamu benar-benar memuakkan. Kenapa juga harus melihatmu lagi? Dahal jika tidak ada kamu, sekolah ini dan hidupku akan lebih baik."
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, Luana."
"Apa kamu bilang?" Luana mencengkeram dagu Coral dengan kasar.
"Aku tidak takut lagi sama kamu. Ada Rize yang akan melindungiku." Coral melepaskan tangan Luana yang mencengkeramnya.
Luana yang ingin memukul Coral ditahan oleh Taza. "Jangan menyakitinya secara terang-terangan, kalau Rize marah akan menjadi masalah untuk kamu nantinya. Kamu tau jika dia masih kekasihnya Rize," bisik Taza pada telinga Luana.
__ADS_1
Luana pergi dari sana meninggalkan Coral yang masih menatapnya dengan ekspresi tidak takut sama sekali.