
Coral menjemur semua pakaian di sana, dia pun menyanyikan sebuah lagu yang menceritakan tentang kisah seorang gadis yang harus terus semangat dan pantang menyerah dalam hidup ini.
Rize yang ada di atap rumah Coral tampak mendengarkan nyanyian Coral. Dia ingin memuji suara Coral yang begitu indah, tapi ditahannya.
"Huft! Tugas hari ini sudah selesai. Sekarang aku tinggal menyiram tanamanku di depan kasihan sekali kalau tanaman milik mamaku sampai mati, nanti mamaku pasti bersedih.
Coral mengambil alat untuk menyiram dan gunting kebun karena dia ingin mengambil bunga mawar merah yang ada di kebunnya.
Coral memiliki kebun mawar merah yang sangat dia jaga karena itu adalah salah satu peninggalan mending mamanya. Coral sejak kecil diajari merawat tanaman bunga mawar dan sampai dia dewasa, dia terus menjaga tanaman itu.
Pernah suatu hari, kedua saudara tirinya itu ingin mengerjai Coral dengan akan merusak tanaman mawar milik Coral jika Coral tidak mau menuruti permintaannya.
Coral terpaksa menurut daripada dia harus melihat kebun mawarnya rusak. Coral disuruh berdandan seperti badut saat ada acara di sekolah dan Coral pun akhirnya menjadi bahan tertawaan seisi sekolah, bahkan dia sampai dipanggil oleh guru kelasnya.
"Aku ambil tiga saja, ini juga sudah cukup."
Coral naik ke atas kamarnya yang di loteng dan meletakkan bunga mawar merah di dalam vas kecil dan meletakkan dia samping perapian kecil di sana.
"Tadi pupuknya habis. Sebaiknya aku pergi sebentar untuk membelinya sebelum ibu dan kedua saudara tiriku datang." Coral mengambil uang yang dia sembunyikan di bawah lantai kayu yang bolong di tempat dia tidur. Dia menghitung uangnya dan tersenyum.
"Masih ada sisa sampai ayah nanti pulang dan memberiku uang saku lagi."
Coral selalu menyimpan uang saku yang ayahnya berikan walaupun uang sakunya selalu dikurangi oleh ibunya. Coral sering tidak membeli makanan di kantin agar uangnya bisa dia tabung.
Zio yang mengetahui hal itu selalu mengajak Coral membeli makanan di kantin, walaupun Coral selalu menolaknya.
Coral mengambil sepeda ontelnya dan keluar dari rumah. Toko yang akan dia datangi ada di pusat kota sedangkan rumah Coral agak jauh dari pusat kota.
Di sepanjang perjalanan Coral selalu menikmati pemandangan indah di setiap jalanan yang dia lewati karena dengan begitu dia merasa harus terus mensyukuri hidupnya karena dunia ini begitu indah sebenarnya.
__ADS_1
"Coral ini kembaliannya." Seorang gadis dengan rambut cepaknya, dan usianya lima tahun di atas Coral tampak memberikan beberapa keping uang logam.
"Loh, bukannya uangku pas dengan harga pupuk ini?"
"Tidak apa-apa, kamu bisa menyimpannya atau memakainya untuk kebutuhan lainnya."
"Terima kasih, Kak."
Sekarang pandangan mata Coral menuju ke sebuah toples kaca berisi permen berwarna-warni. Dulu sebenarnya toko itu adalah toko makanan yang menjual kue-kue untuk anak-anak kecil dan permen yang disukai Coral sudah ada dari dulu karena itu permen buatan ayah si gadis berambut cepak.
Seiring perkembangan zaman toko kue itu mulai tidak laku, dan akhirnya memutuskan menjual bahan untuk berkebun karena waktu itu banyak sekali rumah-rumah khususunya rumah yang tergolong elite di sana rata-rata memiliki kebun dan suka menanam bermacam-macam jenis tanaman.
"Kamu mau membeli permen itu?"
Coral langsung mengangguk cepat. "Aku mau membeli lima saja, Kak."
"Kamu suka sekali permen ini, Ya?"
"Kak, ini banyak sekali."
"Sudah, jangan banyak bicara, sebaiknya kamu segera pergi dari sini sebelum tanteku datang dan dia marah mengetahui aku memberinya permen sebanyak itu." Sekali lagi gadis itu menunjukkan senyum manisnya.
Coral segera memasukkan permen-permen itu ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa, kemudian dia pergi dari sana dengan memakai sepedanya.
"Aku harus cepat sampai di rumah sebelum mereka datang dan pasti mereka akan marah mengetahui aku tidak berada di rumah."
Coral semakin mempercepat mengayuh sepedanya saat dia melihat awan mulai berubah gelap. Sepertinya akan turun hujan lebat di sana. Coral tidak mau sampai kehujanan dan dia semakin mempercepat mengayuhnya, dan---
Terdengar suara benda jatuh dengan keras dan menabrak sesuatu.
__ADS_1
"Aduh!" rintih Coral kesakitan karena sepedanya yang tiba-tiba menabrak sesuatu di jalan yang menyebabkan dirinya berguling bersama sepedanya. Tidak hanya itu, lengan tangan Coral pun mengeluarkan darah segar akibat tergores sesuatu.
"Darah," ucap seseorang yang berada di lorong jembatan yang sepi dan gelap.
Coral mencoba bangkit, walaupun tubuhnya terasa sakit semua. Dia tidak mau terlambat pulang apa lagi dengan keadaan seperti saat ini.
"Sepedaku?" Coral mendelik melihat bentuk sepedanya yang rusak akibat kejadian barusan. "Bagaimana aku bisa pulang kalau seperti ini? Jarak rumahku masih jauh dari sini. Hujan juga mau turun." Coral dengan tertatih menyeret sepeda dengan roda belakang sudah pesok.
Coral tidak sadar jika ada pria yang keluar dari lorong jembatan itu melihatnya dengan mata tajam dan mulut yang tampak ingin menikmati darah segar dari Coral.
"Bau darah gadis itu benar-benar sangat nikmat." Pria itu berlari mendekati Coral, tapi saat tangannya hampir menyentuh pundak Coral dia dengan cepat ditarik dan dibawa pergi oleh seseorang dengan gerakan cepatnya.
Coral yang merasa seperti ada seseorang dibelakangnya langsung menoleh, tapi ternyata tidak ada siapapun di sana.
"Kenapa aku merasa ada seseorang tadi? Apa itu hanya angin?" Coral kembali melanjutkan perjalanannya dengan terseok-seok.
"Siapa kamu?" Pria yang tadi ingin menyerang Coral bertanya pada seseorang yang sedang mencengkeramnya.
"Vampir baru. Kenapa bisa ada vampir baru di sini? Siapa yang sudah menciptakanmu?" Tatap Rize tajam.
"Aku tidak tau. Aku digigit oleh seorang wanita saat aku berkencan dengannya. Dia cantik sekali sehingga aku tidak bisa menghindar darinya."
"Vampire wanita? Siapa dia? Kalau begitu pasti ada lagi vampire baru di sini. Bahaya."
"Aku haus dan aku mau minum darah gadis itu tadi."
Pria yang ternyata vampire baru itu mencoba melepaskan tangan pria yang ternyata adalah pangeran Rize. Dia dari tadi memang sengaja mengikuti Coral.
Terjadi pertarungan di sana. Pangeran Rize yang memang adalah vampire di atas pria itu dengan mudah mengalahkan vampire baru itu dengan menggigit leher vampire itu hingga seolah vampire itu tidak bisa bernapas dan akhirnya dia menjadi abu menghilang terbang bersama angin.
__ADS_1
"Aku akan mencari, apa ada vampire baru di sini selain pria ini, tapi sebelum itu aku akan menolong gadis itu dulu."
Rize segera berlari secepat kilat mengambil mobilnya dan seolah-olah dia tidak sengaja bertemu dengan Coral di jalan.