My Vampire Prince

My Vampire Prince
Mengetahui Siapa Dia part 3


__ADS_3

Kedua mata Zio mendelik melihat pedang yang begitu mengkilat itu. Dia mendekat dan memperhatikan dengan lebih dekat.


"Apa ini pedang asli?" Zio mencoba menyentuh pedang itu, tapi malah tangannya tergores dan akhirnya mengeluarkan sedikit darah."


Mara yang mencium bau darah Zio seolah ada yang bergejolak di dalam hatinya. Namun, dia mencoba menahan agar tidak sampai membuatnya menghisap darah Zio.


"Tentu saja ini asli. Dasar pria lemah, terkena pedang sedikit saja seperti mau mati kamu."


"Hei! Jangan panggil aku pria lemah, kamu belum tau seberapa kuatnya aku!" seru Zio kesal diremehkan oleh gadis manis itu.


"Ambil ini dan serang aku!" Mara melempar pedangnya pada Zio dengan cepat sehingga membuat pria itu kelimpungan karena dia tidak pernah memegang pedang yang ternyata memiliki berat yang lumayan.


"Aduh!" Zio terpelanting hampir jatuh karena mencoba menangkap pedang itu.


Terlukis senyum miring Mara seolah meremehkan pria lugu itu. "Apa yang aku bilang benar bukan? Kamu pria lemah yang memang hanya bisa menangis di lorong sepi karena perlakuan teman-teman nakal kamu itu."


"Aku tidak lemah, Malaikat cantikku, aku hanya saja tidak pernah memegang pedang seperti ini. Lagi pula kenapa kamu sampai membawa pedang ini? Di sini pasti akan mendapat masalah jika ada yang membawa senjata tajam."


"Terlalu banyak aturan. Aku membawa pedang itu karena di tempatkan aku membutuhkannya, apa lagi aku senang sekali bermain pedang, ayahku dari kecil sudah mengajarkannya untuk melindungi diri dan mengendalikan apa yang sangat aku inginkan, tapi tidak boleh aku dapatkan."


Zio mengerutkan kedua alisnya bingung dengan apa yang dimaksud oleh Mara.


"Apa maksud kamu?"


"Sudah! Kita mau latihan atau tetap berbicara tidak penting seperti ini?"


"Baiklah kalau begitu kita latihan sekarang saja. Eh, tunggu! Tapi kalau mereka menggangguku, apa aku harus membawa pedang? Aku tidak mau karena hal itu sangat dilarang dan membahayakan orang lain."


Mara berkacak pinggang sedang memikirkan sesuatu. Di kota ini memang sangat jauh berbeda peraturannya jika dibandingkan dengan tempat tinggal Mara selama ini.


"Aku hanya butuh bisa melawan teman-temanku yang jahat itu, tapi tidak mau melukai mereka. Aku hanya ingin mereka takut saja denganku kalau aku lebih kuat dari mereka.


"Ya sudah, kalau begitu berikan saja pedangnya dan kita berlari dengan tangan kosong saja." Tangan Mara menengadah meminta pedang miliknya.


Zio memandang pedang di tangannya sekali lagi dan dia seperti menyukai pedang itu dan enggan memberikannya pada Mara.


"Pria lemah, mana pedangku!"

__ADS_1


Zio menatap pada Mara. "Apa aku boleh memilikinya?"


Mara menarik tangannya dan bersidekap. "Boleh, kamu boleh memilikinya jika bisa melawanku serta mengalahkan aku."


"Aku terima tantangan kamu," ucap Zio tegas, entah kenapa dia sangat menginginkan pedang itu saat melihatnya.


Mara menyuruh Zio memakai pedang itu dan dia mencari ranting kayu panjang yang akan dia gunakan sebagai pengganti pedang.


Zio tampak tersenyum pada Mara, tapi gadis itu malah memutar bola matanya jengah memandang Zio.


"Berhati-hatilah, malaikat cantikku karena aku bisa saja melukai kamu dengan pedang yang aku gunakan." Zio tersenyum miring.


Sekali lagi gadis di depannya itu memutar bola matanya jengah. "Jangan banyak bicara, kamu yang seharusnya berhati-hati dengan ranting kayuku ini."


Mara secara tiba-tiba menyerang Zio yang tampak belum siap.


"Aduh!" erangnya karena tangannya dipukul dengan ranting kayu oleh Mara.


"Rasakan, pria sombong."


"Bagaimana, pria lemah? Apa kamu mau menyerah dan mau memberikan pedang itu padaku?"


Zio tampak terdiam sejenak dengan menundukkan kepalanya. Kemudian dia perlahan mengangkat kepalanya melihat pada Mara dengan tatapan yang berbeda seolah dia bukan Zio yang biasanya.


Zio tampak terlihat lebih sadis dari Zio yang lemah dan selalu tertindas.


Pria di depan Mara itu sekarang tersenyum miring dan senyumnya kali ini pun berbeda dengan biasanya.


"Aku akan mengalahkan kamu, makhluk abadi," ucapnya yang membuat Mara agak terkejut.


Sekarang gantian Zio yang menyerang Mara dengan sangat cepat, memojokkan Mara yang sekarang kewalahan dengan serangan Zio. Bahkan ranting kayu Mara sampai terlepas dari tangan Mara.


"Zio?"


"Bagaimana? Apa aku berhak memiliki pedangmu yang indah ini?"


Mara terdiam karena dia merasakan hal aneh saat Zio menahan tubuhnya dari belakang dengan tangan melingkar tepat pada leher Mara.

__ADS_1


"Ka-kamu boleh mengambil pedang milikku itu."


"Terima kasih, malaikat cantikku," bisik Zio tepat pada telinga Mara. Mara sekali lagi merasakan hal aneh di dalam hatinya.


Zio melepaskan pelukannya pada Mara dan berjalan agak menjauh dari Mara yang masih tertegun melihat aneh pada Zio.


"Kamu kenapa? Apa ada yang salah dariku?" tanya Zio seolah memang dia tidak melakukan apa-apa.


Mara yang baru saja menginjakkan kakinya kembali ke bumi segera bersikap biasa saja. "Kamu ternyata pandai juga bermain pedang, tapi kenapa tadi seolah kamu baru pertama kali memegang pedang?"


Zio menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Aku sendiri tidak tau kenapa bisa melakukan hal itu?"


"Apa kamu yakin?" Lihat Mara dengan penasaran.


"Tentu saja aku tidak tau, Mara. Hal itu seolah merasuk dan menggerakkan tangan dan kakiku begitu saja. Sudahlah! Apa masih mau berlatih lagi? Kalau tidak aku lapar dan mau mengajak kamu makan siang dulu. Kebetulan di dekat sini ada cafe yang menjual makanan dengan harga kantong anak sekolah dan aku bisa mentraktir kamu."


"Apa? Makan? Tapi aku tidak makan, makanannya yang kalian makan."


"Hah? Lalu, kamu makan apa memangnya selama ini?"


Mara terdiam sejenak. Dia hampir saja keceplosan mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh dia katakan.


"Aku makan, tapi bukan makanan yang ada di tempat makan seperti itu. Aku lebih suka suka rusa, kelinci dan harimau.".


"A-apa!" suara Zio memekik kaget mendengar apa yang Mara baru saja katakan."


"Ahaha! Kamu serius sekali sampai kaget begitu, aku hanya bercanda, Zio."


"Huft! Kamu membuat aku kaget saja." Zio menghela napasnya pelan sembari mengelus dadanya.


Mara akhirnya menolak tawaran Zio dengan alasan dia harus segera pergi. Zio yang menawarkan ingin mengantar Mara, tapi ditolak oleh Mara karena memang Mara tidak mau jika Zio tau di mana alamat rumahnya sekarang.


"Besok, kita bertemu lagi di sini dan saat itu aku ingin kamu mengajariku tanpa memakai pedang atau senjata apapun. Bagaimana?"


"Tentu saja boleh. Aku ingin tau apa kamu sehebat hari ini saat menggunakan pedang atau malah besok lebih buruk?"


"Besok, aku akan membawakan kamu sesuatu."

__ADS_1


__ADS_2