
Rize terdiam memandangi wajah Coral dan Coral pun tampak bingung dengan tatapan kedua mata Rize, apa lagi jarak mereka sangat dekat saat ini.
Rize yang sedang membantu Coral memasang sabuk pengaman, tapi kenapa malah nyaman dengan posisi mendekat padanya?
"Rize."
Cup
Sebuah kecupan lembut mendarat pada bibir gadis itu. Coral terdiam saat Rize menarik bibirnya dari Coral.
"Sudah tidak takut padaku 'kan?" Rize ini tadi juga berperang batin ingin mencium apa tidak? Dia takut Coral sekali lagi dapat mendengar isi hatinya karena ciuman itu, setelah sekian lama efek ciuman itu hilang dari diri Coral.
Namun, saat melihat wajah Coral dari dekat dia merasa tidak bisa mengendalikan dirinya dan akhirnya dia melepaskan ciuman itu dan berharap Coral tidak akan bisa mendengarkan isi hatinya karena ciuman itu.
Coral menggeleng menjawab pertanyaan Rize. "Benar apa kata Zio. Jika kamu ingin menghisap darahku, kesempatanmu melakukan hal itu begitu besar."
"Ahahah! Kamu masih percaya saja jika ada vampire di sini. Oh ya! Aku punya hadiah untukmu."
"Hadiah?"
Rize mengambil sesuatu dari belakang kursi mobilnya dan memberikan pada Coral.
"Ini untuk kamu." Rize memberikan goodie bag berukuran sedang pada Coral.
"Ini apa, Rize? Aku tidak menginginkan apapun sama kamu."
"Kamu memang tidak menginginkan apapun padaku dan memang kamu tidak pernah memintanya, tapi aku ingin memberikan ini untuk kamu. Bukalah."
Coral membukanya dan dia terkejut melihat apa hadiah yang Rize berikan padanya.
"Ponsel?" Coral sangat terkejut dan terlihat ponsel itu mirip dengan yang dipakai oleh Luana, hanya saja beda warna.
"Iya, itu ponsel untuk kamu dan sudah ada nomorku aku simpan di sana. Jadi, kamu tidak perlu khawatir mencariku nantinya."
Coral bukannya senang malah mengembalikan hadiah itu pada Rize. Rize tampak bingung dengan sikap Coral.
"Ada apa, Coral? Kenapa kamu kembalikan ini padaku?"
__ADS_1
"Rize ini pasti harganya sangat mahal dan aku tidak akan bisa menerimanya. Aku tidak mau menerimanya karena aku juga tidak terlalu membutuhkannya."
"Kamu membutuhkannya, Coral. Kamu bawa ini dan jangan memikirkan hal yang tidak penting lainnya. Kalau kamu takut dengan ibu tirimu, aku yang akan bicara dengannya."
Rize menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah Coral. Coral masih saja terdiam memandangi ponsel baru yang ada di tangannya.
Dalam hatinya dia takut jika nanti ponsel miliknya ini akan dirusak lagi oleh Deona karena tidak suka dengan apa yang Coral punyai.
Sampai di rumahnya, Rize mengantar Coral sampai ke dalam rumah dan benar saja keluarga Coral sudah datang.
"Coral, Rize? Kalian kenapa bisa bersama?"
"Bu, aku tadi ke rumah Zio dan saat pulang di jalan aku tidak sengaja bertemu dengan Rize. Dia mengajak aku untuk pulang bersamanya."
"Oh seperti itu!" Tangan wanita itu pura-pura membelai rambut Coral dengan lembut.
"Coral dan bibi, aku permisi pulang dulu. Oh ya! Bibi, aku minta maaf belum izin terlebih dahulu pada Bibi."
"Izin apa?"
Deona terkejut mengetahui Coral dibelikan ponsel oleh Rize.
"Seharusnya tidak perlu seperti itu karena Coral ini sangat ceroboh. Sudah dua kali ayahnya membelikan ponsel, tetapi selalu rusak karena kecerobohannya."
Dahal hal itu tidak benar. Deona dan Leonil yang sengaja membuat ponsel Coral rusak karena tidak suka melihat apa yang dipakai oleh Coral. Deona merasa tersaingi.
"Tapi bukannya ponsel Coral rusak karena dijatuhkan oleh Deona? Aku yakin jika Coral akan bisa menjaga barang miliknya." Rize menatap pada Deona dingin dan seketika gadis itu takut akan tatapan Rize.
"Aku akan menjaganya dengan baik, Rize."
Rize izin pulang dari sana dan Coral menunggu sampai Rize benar-benar tidak terlihat di depan rumahnya baru dia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Coral, apa kamu bercerita dengan Rize tentang ponsel milikmu yang dirusak oleh Deona agar bisa dibelikan yang baru oleh Rize?"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Aku juga tidak mengarang sebuah cerita bohong seperti yang kalian katakan."
"Apa kamu bilang?" Tangan Deona sudah menarik dengan kasar lengan Coral, tapi Coral seolah tidak takut dan malah menatap tajam pada Deona.
__ADS_1
"Deona, kamu jangan berbuat kasar seperti itu pada Coral." Rose melepaskan tangan Deona.
"Ibu ini kenapa? Dia menjelek-jelekkan aku di depan Rize. Mungkin dia takut aku akan merebut Rize suatu hari nanti."
"Aku sama tidak takut akan hal itu. Kalau memang Rize menyukaimu dan meninggalkan aku karena kamu, aku juga tidak akan takut atau bersedih karena aku tau hal itu tidak akan terjadi."
"Coral, apa kamu dan Rize berpacaran sudah melebihi batas sehingga kamu yakin Rize tidak akan meninggalkanmu?"
"Aku masih bisa menjaga diriku, Bu. Rize juga bisa menjaga aku, dia sangat menghormatiku."
"Dengar, ya saudara tiriku yang menyebalkan. Sebentar lagi Rize akan meninggalkan kamu setelah dia mengetahui apa yang sudah terjadi sama kamu." Deona tersenyum miring.
"Memangnya apa yang terjadi denganku, Deona?" Coral tampak mengerutkan kedua alisnya.
"Deona! Kamu jangan bicara sembarangan!" Tangan Rose menarik lengan tangan Deona dengan kasar.
Coral yang melihatnya menjadi curiga saat melihat perilaku ibunya itu.
"Memangnya ada apa, Bu?"
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Kamu jangan mendengarkan apa yang saudara kamu ini dengarkan." Tangan Rose mengusap lembut pada kepala Coral.
"Jangan bohong, Bu!" Coral menepis tangan Ibunya dengan ketus. "Sebenarnya apa yang sudah kalian rencanakan padaku? Katakan!" bentaknya marah.
"Coral, kenapa kamu menjadi sangat kasar begini? Kami tidak merencanakan apapun sama kamu. Kenapa kamu malah berpikiran buruk pada ibu?"
"Lihat saja kalau sampai aku mendapatkan bukti kalian merencanakan hal buruk terhadapku, aku akan mengatakan pada ayah apa yang selama ini kalian lakukan padaku." Coral berjalan naik ke atas loteng dengan marah.
Rose menggenggam erat kepalan tangannya dengan marah. Dia kenapa bisa seberani itu sekarang? Pasti ini karena dia mendapat dukungan dari Rize.
"Iya, mungkin dia merasa memiliki seseorang yang posisinya lebih kuat bisa membelanya, makanya dia seberani itu." Wajah Deona juga terlihat kesal.
Leonil menghampiri mereka dan memberitahu jika sepertinya Dre menghilang dengan tiba-tiba karena semua teman yang sudah Leonil tanyakan tidak tau di mana Dre berada.
"Apa kita tanyakan saja pada Coral?"
"Jangan berbuat hal gegabah yang bisa membuat Coral tau jika kita sudah membuat rencana untuknya dan Dre. Dia bisa-bisa membuat ini sebagai bukti pada ayahnya dan kita bisa mendapat masalah besar."
__ADS_1