My Vampire Prince

My Vampire Prince
Happy Ending part 1


__ADS_3

Setelah memusnahkan para vampire baru itu Rize dan lainnya segera pergi dari sana. Mereka tidak mau ada yang mengetahui jika merekalah yang memusnahkan vampire itu.


"Sekarang aku benar-benar khawatir orang yang selamat itu akan bercerita jika ada vampir di dunia ini."


"Dewan tertinggi dan ayahku akan mengurus semua dengan caranya, Sky."


Mereka bertiga ada di sebuah hutan, tepatnya di belakang sekolah.


"Apa kamu mengenal ayahku? Namanya Domano atau biasa dipanggil Dom?"


"Paman Dom? Dia adalah sahabat ayahku dan dia tinggal di istanaku. Ternyata kamu putranya?"


Pria dengan cadar itu kemudian membuka cadarnya. Rize terkejut, ternyata dia adalah Zio.


"Jadi, kamu adalah anak paman Dom? Tapi bagaimana bisa seorang pria yang dianggap Lemah dan sering dibully ternyata sang pemburu yang tergolong generasi terkuat?"


"Aku sendiri tidak tau, Rize, semua itu berjalan begitu saja. Tiba-tiba di perutku ada tatto yang akan memberi reaksi jika ada vampire di sekitarku."


"Kamu hebat sekali Zio. Paman Dom bangga memiliki putra sepertimu. Andai aku berada di posisimu, pasti aku tidak akan bingung akan menikahi Coral.


"Rize, jangan merubah Coral sepertimu. Biarkan dia menikmati takdirnya menjadi manusia."


***


Beberapa hari berlalu dan berita tentang vampir itu pun menyebar dengan begitu cepat, tapi mereka sama sekali tidak menemukan bukti apapun tentang adanya vampire, dan bahkan kamera CCTV yang ada di sana pun tidak menunjukkan apapun karena dewan tertinggi kerajaan vampire sudah melakukan sesuatu agar berita yang tadinya mengenai vampire diubah seolah anak-anak itu menggunakan semacam obat yang bisa membuat otaknya tidak bekerja dengan baik dan mereka pergi entah ke mana.


Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Coral. Dia lulus dengan nilai yang baik dan dia meminta hadiah pada ayahnya, yaitu diizinkan menikah dengan Rize. Sebenarnya ayah Coral tidak setuju, tapi melihat putrinya yang sangat gigih. Dia akhirnya menyerah.

__ADS_1


Sejak kejadian di pesta ulang tahun Luana. Ibu Ros menjadi terganggu jiwanya karena kehilangan Leonil. Leonil hilang di malam kejadian itu. Deona menjadi lebih pendiam dan dia memilih tinggal di asrama setelah lulus sekolah.


Hari pernikahan tiba. Rize dan Coral menikah secara adat manusia seperti pada umumnya. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh keluarga inti dari Rize. Proses pernikahannya berjalan dengan lancar, dan Coral telah dinyatakan sebagai istri sahnya Rize.


"Rise, tolong jaga putriku dengan baik karena dia sangat percaya padamu."


"Paman tenang saja karena aku akan menjaganya selalu."


Dia orang yang sempat bermusuhan itupun akhirnya berpelukan. Coral terlihat sangat bahagia melihat ayahnya dan Rize bisa menjadi baik seperti itu.


Zio berdiri di sana bersama dengan Mara. Sky memilih tidak hadir karena dia tidak ingin melihat kedekatan Mara dan Zio.


"Apa sang pemburu vampir dengan vampir bisa menikah, Mara?"


Mara tercengang mendengar apa yang dikatakan Zio. Dia kemudian menoleh dan menatap Zio dengan datar. "Sepertinya hal itu tidak bisa Zio. Kita ini bermusuhan, jadi tidak mungkin bisa menikah, lagi pula aku tidak memikirkan masalah pernikahan dulu."


"Aku menyukaimu, tapi kita tidak bisa menikah, Zio. Kamu manusia, apa lagi kamu sang pemburu dan aku vampir, kalau kita menikah, jadi seperti apa anak kita nanti?"


"Jadi seperti kamu yang cantik."


Seketika wajah Mara tampak memerah karena malu, dia memang tidak romantis, tapi Mara suka jika dia bicara tentang hal romantis.


"Kalau dia aneh seperti kamu bagaimana?"


"Ya tidak masalah, yang terpenting dia, kan anakku?" Mara tersenyum kecil.


Rize membawa Coral ke istananya dia memperkenalkan Coral pada rakyatnya. Mereka pun menyambut dengan bahagia. Para rakyat Rize tidak mengetahui jika Coral adalah manusia.

__ADS_1


Malam itu di dalam kamar Rize. Coral tampak duduk dengan wajah gelisah. Dia tidak pernah merasa rasa takut dan cemas seperti ini.


"Coral, kita harus cepatnya melakukan hal itu."


"Maksud kamu apa, Rize, aku tidak mengerti?"


"Aku harus segera mengeluarkan bola mutiara hitam itu dari tubuhmu karena sebentar lagi akan ada hari di mana bulan menyerap kekuatan, dan aku membutuhkan kekuatan dari bola mutiara hitam itu untuk melawan Raja Pedrona. Aku juga yakin jika Raja Pedrona akan menyerang kerajaanku.


Seketika Coral terdiam, dia tahu apa yang dimaksud oleh Rize.


Dia perlahan membuka kancing bajunya. Rize seketika menelan salivanya dengan susah. "Apa kamu sudah siap, Coral?"


Coral menggeleng. "Aku belum siap, tapi aku ingin segera mengeluarkan bola mutiara hitam itu dari dalam tubuhku."


Rize sekarang menjadi bingung. Apa memang hal ini harus dilakukan? Tapi hanya ini cara kedua selain membunuh Coral.


"Kalau kamu belum siap, kita tunda saja melakukanya." Rize menutup kembali kancing baju Coral.


Coral terdiam. Dia sebenarnya juga takut akan hal ini, tapi ini Rize--pria yang sudah menikahinya dan sangat dia cintai.


Coral memikirkan tentang seluruh rakyat kaum vampire yang sangat baik itu, yang mau menerimanya dengan baik.


Tangan Coral menarik tengkuk Rize dan menciumnya dengan lembut dia kemudian semakin memperdalam ciumannya sampai Rize pun akhirnya terbawa suasana.


Bagaimanapun juga Rize seorang pria dan dia juga memiliki perasaan. Rize membawa Coral naik ke atas sofa panjang di sana karena memang Rize tidak memiliki tempat tidur. Mereka mulai terbawa suasana.


Rize dan Coral pun akhirnya melakukan malam pertama mereka. Coral yang terlihat lemah ternyata bisa menyeimbangi Rize.

__ADS_1


__ADS_2