My Vampire Prince

My Vampire Prince
Ending part 3


__ADS_3

Perut Coral tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membesar. Bisanya orang hamil akan terlihat membesar setiap satu bulan sekali, tapi perut Coral hanya hitungan hari tampak membesar.


Rize sangat cemas dengan keadaan istrinya itu karena saat ini Coral juga terlihat sekian pucat dan lemah.


"Coral, bagaimana kabarmu?" tanya Zio yang mengunjungi Coral di kastil milik Rize. Raja yang adalah ayah Rize mengizinkan Zio datang ke sana karena tau jika Zio adalah anak dari sahabat baiknya dulu yang adalah paman Dom.


"Zio, kamu apa kabar?" tanya Coral sembari menguatkan tubuhnya agar bisa duduk bersandar pada tepi ranjang.


"Aku baik, dan jujur saja aku benci melihat kamu seperti ini. Jika tau kamu akan seperti ini, maka aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan Rize."


Coral tersenyum kecil pada Zio. "Aku mencintai Rize, Zio dan aku tidak menyesal sudah memilih dia menjadi suamiku."


Zio hanya bisa terdiam karena memang hal yang berhubungan dengan cinta itu pasti sangat sulit masuk logika.


"Zio, sebenarnya kita menikah selain aku mencintai Coral, bola mutiara hitam itupun bisa keluar dari tubuh Coral karena raja Pedrona akan mengejar Coral terus, tapi ternyata bola itu tidak muncul dan Paman Helius masih menyelidiki hal itu."


"Rize, jika Coral keadaannya terus begini, apa tidak membahayakan dirinya?"


Rize terdiam dan melihat pada paman Helius. Paman Helius sebenarnya sudah mengatakan jika mungkin Coral tidak akan kuat bertahan hidup jika Coral masih dalam keadaan menjadi manusia, tapi jika Coral menjadi vampire dalam keadaan baru tergigit, maka hal itu juga akan mendatangkan musibah yang besar.


Bayi yang lahir saat berada di dalam kandungan ibunya dan kemudian ibu itu tergigit, maka bayi itu akan melebihi vampire yang baru tercipta. Dia akan sangat lebih haus darah, dan malah bisa berbuat sangat kejam.


"Kita tidak bisa berbuat apapun selain menunggu Tuan Putri Coral melahirkan bayinya, dan saya yakin jika Tuan Putri Coral akan kuat menerima bayi dalam janinnya."


Malam itu Zio memilih menginap di sana karena dia sangat khawatir dengan keadaan Coral yang jika dihitung, Coral kemungkinan besar akan melahirkan dua hari lagi, dan di sana sekarang adalah hari di mana bola mutiara hitam menyerap kekuatan, tapi saat ini bola itu masih berada di dalam tubuh Coral.


"Zio, bagaimana menurutmu kastil ini?" Zio hanya terdiam tidak menjawab karena memang dia sedang melamun tentang suatu hal. "Zio, kenapa kamu diam saja? Aku ini sedang bicara sama kamu."


Zio kembali menginjakkan kakinya ke bumi setelah Tsamara menepuk pundak Zio. "Ada apa, Mara?"


"Kamu pasti sedang melamun tentang Coral 'kan?"


"Iya, aku kepikiran dengan keadaan Coral saat ini. Aku takut terjadi apa-apa dengan Coral."

__ADS_1


"Kita semua di sini akan menjaga Coral dengan baik dan tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya."


"Aku yakin jika kalian di sini juga sangat melindungi Coral, tapi apa yang terjadi dengan Coral adalah hal yang sangat menakutkan."


"Aku juga akan menjaganya karena dia adalah istri sahabatku dan calon ratu di sini."


"Kadang aku masih tidak percaya jika Coral akan berada di posisi seperti sekarang ini."


"Kamu sendiri juga tidak menyangka 'kan, jika kamu adalah seorang pemburu vampire yang hebat."


Tsamara memeluk lengan tangan Zio dan menyandarkan kepalanya pada pundak Zio. "Zio, aku ingin menikah denganmu?"


Zio malah terkekeh pelan. "Apa kamu siap menjadi istri dari seorang


pemburu kaummu?"


"Aku siap, lagi pula yang kamu buru hanya vampire jahat dan vampire rasku tidak ada yang jahat." Sekali lagi gadis itu mendusel pada Zio.


"Mara." Zio melepaskan tangan Mara dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Wajah Zio pun seketika berubah seperti seorang yang sedang mencari sesuatu.


"Tato di perutku bereaksi dan sepertinya ada vampire yang memiliki kekuatan yang sangat besar."


"Apa? Kamu benar merasakan ada vampire seperti itu? Tapi di sini semuanya vampire, Zio."


"Tapi ini reaksi yang ditunjukkan tato miliku berbeda." Zio seketika menekan tongkat kecil yang kemudian berubah menjadi pedang besar yang tajam.


Zio melompat dari satu pijakan ke pijakan lainnya sampai akhirnya dia menuju kastil istana. Mara masih berdiri cemas di sana.


"Apa benar raja Pedrona menyerang kastil ini?" Mara pun segera menyusul Zio.


Benar saja, sesampainya mereka di dalam kastil telah terjadi pertempuran antara Rize dan raja Pedrona. Bahkan ayah Rize juga ikut bertarung di sana.


"Pedrona, aku tau kedatangan kamu di sini karena ingin mengambil bola mutiara hitam, kan? Bola itu tidak bisa dikeluarkan dari dalam tubuh istriku dan mungkin bola itu tidak akan pernah bisa keluar lagi karena menyatu dengan Coral."

__ADS_1


Terdengar suara tawa besar dari raja Pedrona. Rize sampai mengerutkan kedua alisnya. "Kamu bodoh sekali, jika Coral mati makan bola itu bisa dikeluarkan. Kalau kamu tidak tega, biar aku saja yang melakukannya."


"Jangan mencoba melukai Coral."


"Kita lihat saja pangeran Rize." Seketika di dalam istana itu terlihat kepulan asap putih yang banyak.


Seketika yang menghirup asap itu sekujur tubuhnya tidak dapat digerakkan. Semua tumbang di atas lantai.


"Aku akan menjemput istrimu dan kamu bisa melihat istri dan calon anakmu itu aku habisi karena sebenarnya tujuanku datang ke sini adalah calon anakmu. Apa kamu tidak tau jika Coral membawa sesuatu yang sangat kuat pada perutnya?"


"Jangan sakiti Coral dan bayinya!"


Rize berteriak tapi tidak dipedulikan oleh Raja Pedrona. Tidak lama Raja Pedrona menggandeng tangan Coral dengan lembut. Coral yang sebenarnya tau siapa dihadapannya, mencoba menghilangkan rasa takut.


"Raja Pedrona kamu mau apa?"


"Kamu tenang saja karena aku nanti yang akan membunuhmu dengan tanpa rasa sakit."


Keadaan di sana benar-benar tidak dapat dikendalikan oleh Rize. Raja Pedrona mendekat pada Coral. Coral sebenarnya sangat takut, tapi dia mencoba terlihat berani karena dia ingat pesan suaminya.


"Raja Pedrona, jangan sakiti Coral! Jangan...!"


Semua di sana tampak berteriak histeris karena raja Pedrona mencekik leher Coral.


Bruk!


Sebuah gerakan yang sangat cepat, dan sekarang terdengar suara teriakan kesakitan raja Pedrona.


Ternyata Coral dengan cepat mengambil pedang Zio dan langsung menancapkan tepat pada dada raja Pedrona dan seketika dia menjadi abu.


"Argh! Rize!" Coral tiba-tiba memegangi perutnya. Rize yang masih terpengaruh asap itu keadaanmya masih belum bisa bergerak.


Sepuluh hari berlalu setelah kejadian itu. Keadaan istana hari ini banyak dipenuhi oleh rakyat vampire lainnya karena raja baru mereka, yaitu Rize akan memperkenalkan putrinya yang bernama Paradise Waltz.

__ADS_1


Lalu, bagaimana dengan Coral? Coral yang sedang sekarat digigit oleh Rize dan akhirnya dia menjadi ratu vampire di kastil Rize.


In The End


__ADS_2