
Ketiga orang yang berada di dalam rumah tampak tertawa bahagia melihat kejadian di luar. Mereka tampak puas melihat Coral dimarahi dan tidak boleh dekat dengan Rize.
"Rasakan kamu anak tidak tau diri. Beraninya dia melawan aku. Dia lupa posisi aku di sini, tentu saja ayahnya lebih percaya padaku daripada putrinya yang tidak tau diri itu." Rose tampak bersidekap melihat tajam pada Coral dan ayahnya yang ada di luar rumah.
"Bu, tapi kalau ayah membenci Rize, bagaimana aku bisa mendekati pria tampan itu?" Deona mengerucutkan bibirnya.
"Kamu masih ingin mendekati pria aneh itu? Deona, apa keistimewaan si Rize itu? Di luar sana, masih banyak pria yang lebih tampan dan kaya seperti Rize," terang Leonil dengan nada kesal.
"Kamu tidak mengerti tentang perasaan yang aku rasakan pada Rize, Leonil. Kamu saja belum pernah jatuh cinta, makannya bisa bicara seenaknya seperti itu."
"Hah? Siapa bilang aku belum pernah jatuh cinta? Aku pernah jatuh cinta pada seseorang, tapi aku tidak sebodoh kamu menyukai seseorang. Rize itu manusia aneh dan tidak jelas. Aku bahkan mendengarnya bicara berdua dengan Coral dan pembicaraan mereka sangat aneh. Untuk apa mereka membahas tentang vampire dan pernikahan beda dunia? Rize itu pria agak gila."
"Jaga bicara kamu, Leonil! Kamu yang gila karena tidak ada gadis yang menyukaimu walaupun kamu tampan dan tidak kaya sebenarnya karena semua ini harta ayahnya Coral."
"Apa kamu bilang?" Leonil malah membentak marah.
"Ya ampun! Kenapa jadi kalian yang malah bertengkar di sini?" Rose tampak geram mendengar keributan yang anak kembarnya ciptakan. "Kita ini seharusnya bersatu untuk membuat anak tidak tau diri itu benar-benar diusir dan dibenci oleh ayahnya setelah rencana kita dan Dre itu gagal."
Deona dan Leonil langsung terdiam. Mereka berdua tampak melihat dengan kesal satu sama lain.
"Kalau rencana kita ini berhasil. Ibu akan membantumu mendapatkan pria yang kamu sukai itu dan Leonil akan menjadi putra satu-satunya di sini. Bisa saja ayah tirimu akan memberikan usaha bisnisnya untuk kamu teruskan, dan kamu akan menjadi pebisnis muda yang sukses, Sayang." Tangan Rose mengusap lembut kepala putranya.
Keadaan di luar masih bersitegang antara Coral dan ayahnya. Rize hanya terdiam menatap dingin pada ayah Coral.
"Aku mencintai Rize, Ayah. Selama ini Rize yang sangat baik dan selalu menolongku."
__ADS_1
"Gara-gara dia, kamu berubah menjadi anak yang pembangkang dan suka keluar rumah dan menjadi tidak bisa diatur."
"Ayah salah. Bersama dengan Rize aku seolah menemukan kebahagiaan yang selama ini sangat aku impikan."
"Coral, Ibumu sudah menceritakan semua yang terjadi selama ayah tidak ada di rumah. Ayah tidak mau percaya, tapi setelah melihat sendiri buktinya, ayah percaya jika Rize bisa membawa perilaku yang buruk terhadapmu."
"Ibu? Apa yang ibu ceritakan tentang aku dan Rize? Apa ibu tidak bercerita bagaimana dia setiap hari menyiksaku dengan kedua anaknya itu? Mereka hanya baik saat di depan ayah, tapi mereka iblis saat ayah tidak ada di rumah."
"Jaga bicaramu, Coral!" Tangan pria paruh baya itu terangkat ke atas hendak memukul Coral, tapi terhenti di udara karena Rize menahannya.
"Jangan menyakiti putrimu sendiri. Apa kamu mau menambah siksaan yang selama ini dia dapatkan. Aku akan pergi dari sini dan biarkan Coral beristirahat dengan tenang malam ini."
"Rize."
"Besok kita akan bertemu lagi, Coral."
Rize berjalan pergi dari sana, dia masuk ke dalam mobilnya. Coral yang melihat hal itu meneteskan air matanya. Ada perasaan yang sangat menyakitkan di hati Coral. Dirinya seolah-olah ada yang menghilang, tapi apa? Apa karena melihat Rize pergi dan dirinya merasa tidak akan bertemu pria yang dicintainya lagi?
"Ayah kenapa seperti ini?"
"Kamu yang kenapa? Sekarang kamu menjadi anak yang tidak memiliki aturan dan berani membangkang seperti ini, Coral!"
Coral tidak mau meneruskan pertengkaran dengan ayahnya. Dia lebih memilih masuk ke dalam rumah dan berada di dalam kamarnya.
"Coral, sayang, kamu sudah pulang?" Rose berpura-pura memperlihatkan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Apa yang Ibu lakukan benar-benar jahat." Coral melihat marah pada ibunya.
"Memangnya apa yang ibuku lakukan sama kamu? Dia sudah baik selalu mengingatkan kamu agar tidak salah dalam pergaulan dengan Rize."
"Coral, ibumu sangat khawatir sama kamu, dan seharusnya kamu mengetahui hal itu."
Coral terdiam dan dia memilih naik ke loteng kamarnya. Pria paruh baya yang adalah ayahnya Coral tampak aneh melihat putrinya malah naik ke atas loteng, seharusnya dia pergi ke kamarnya di bawah.
"Ayah, sebenarnya aku sedang menghukum Coral tidur di kamar loteng agar dia mau mendengarkan apa yang aku katakan, tapi sepertinya pengaruh Rize lebih besar terhadapnya, Coral tidak mau mendengarkan aku karena mungkin aku hanya ibu tiri baginya."
"Jangan bicara seperti itu, Rose. Bagaimanapun juga kamu adalah ibu yang juga sudah berjasa membesarkan dan merawatnya. Biarkan saja dia tidur di atas agar dia memikirkan semua kesalahan yang sudah dia lakukan." Tangan pria paruh baya ini menggenggam tangan istrinya.
"Ayah, apa mau aku buatkan minuman yang segar untukmu?" Deona mencoba bersikap baik untuk mengambil simpati dari ayahnya.
Pria itu mengangguk perlahan. Rose mengajak suaminya ke ruang tengah agar dapat menenangkan dirinya.
Leonil dan Deona tampak saling melemparkan senyum devilnya. "Aku tidak sabar ingin melihat gadis itu terusir dari rumah ini dan tidak ada yang akan menolongnya," bisik Deona pada saudara kembarnya.
"Aku juga. Aku ingin menjadi anak yang bisa ayah sayangi melebihi putrinya itu dan aku akan bisa meneruskan bisnis ayah kelak."
"Aku tidak terlalu menginginkan meneruskan bisnis ayahnya Coral karena pasti hal itu sangat membosankan berurusan dengan hal seperti itu."
"Kamu memang bodoh, pantas saja Rize lebih menyukai Coral daripada kamu karena Rize tau siapa gadis yang memiliki kepandaian."
"Apa kamu bilang?" Deona tampak geram. Leonil malah berjalan santai pergi dari sana.
__ADS_1
Di atas lotengnya. Coral tampak menangis dengan duduk memeluk kedua lututnya di depan perapian. Dia tidak membayangkan ayahnya akan mengatakan hal itu padanya, padahal setahu Coral ayahnya tidak akan marah jika Coral berkenalan dengan seseorang yang bagi Coral pria yang baik.