
Coral tidak mau diajak pulang oleh Dre, tapi pria itu seolah memaksa Coral, bahkan tangannya sampai berani mencengkeram pergelangan tangan Coral, Coral berusaha melepaskan tangan Dre, sampai Coral berani menggigit tangan Dre.
"Aduh! Sakit! Kamu gila ya."
"Kamu yang gila! Kenapa kamu tidak sopan pada seorang gadis? Aku sudah bilang kalau aku tidak mau pulang bersamamu, kenapa kamu memaksa? Lagi pula aku sudah mempunyai kekasih jadi jangan bersikap seperti itu padaku."
"Kekasih? Memang ada pria yang mau dengan gadis aneh dan culun seperti kamu? Dia pasti tidak bisa melihat dengan baik."
Coral ingin sekali menampar mulut saudara sepupunya Lionel yang kurang ajar dan tidak sopan itu, tapi dia mencoba menahannya.
"Dre aku tidak mau memiliki masalah denganmu, sebaiknya kamu pulang saja aku mau pergi ke rumah temanku."
"Bibi Rose yang menyuruhku untuk menjemputmu karena katanya pria yang menjadikanmu sebagai kekasih itu tidak masuk. Bibi kasihan sama kamu."
Dalam hati Coral, berpikir jika ibunya tidak akan mungkin memiliki rasa kasihan padanya. Coral sudah mulai curiga, sepertinya ada yang sedang direncanakan lagi oleh keluarganya ini, tapi apa? Dan Rize juga tidak diketahui keberadaannya dahal saat ini Coral membutuhkan Rize di sampingnya.
Coral tidak mau berdebat lagi, dia mencari mobil umum dan segera naik untuk pergi ke rumah sahabatnya Zio. Coral tau saat ini Zio pasti sangat membutuhkannya."
Dre yang melihat Coral naik mobil umum Itu tampak menggenggam tangannya erat menahan amarah.
"Jika dilihat dari dekat dan sangat dekat, gadis itu cantik juga, pasti sangat menyenangkan bisa bersenang-senang dengan gadis polos dan lugu serta naif itu."
Coral duduk terdiam di dalam mobil umum, dia masih memikirkan di mana Rize.
"Kenapa kamu tiba-tiba menghilang begitu saja di saat aku sangat membutuhkanmu."
Tidak lama mobil umum itu berhenti di sebuah rumah, di sana terlihat banyak orang berpakaian serba hitam. Coral turun dan segera berjalan menuju rumah Zio.
"Coral kamu ada di sini!"
"Kak Hena, aku turut berduka cita, ya." Coral memeluk gadis manis itu dengan erat.
__ADS_1
"Terima kasih, Coral. Apa kamu mencari Zio?" Coral mengangguk beberapa kali. "Dia ada di dalam kamarnya, kamu coba bujuk dia agar mau makan karena dari semalam dia belum makan sama sekali."
"Aku permisi untuk menemui Zio dulu, Kak." Gadis manis itu menepuk pundak Coral sebagai tanda mengiyakan.
Coral berjalan menuju kamar Zio. Dia mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak mendapat jawaban dari dalam kamar.
Coral memanggil nama Zio, dan akhirnya pintu perlahan dibuka. Tampak wajah sembab yang menghiasi wajah Zio.
Coral dengan cepat memeluk sahabatnya itu. Zio menangis lebih kencang saat berada di pelukan Coral. Coral sangat tahu selama ini Zio hanya tinggal berdua dengan neneknya. Neneknya adalah orang satu-satunya yang sangat Zio miliki.
"Kenapa nenek harus pergi meninggalkanku, Coral? Aku masih sangat membutuhkan nenek."
"Zio, nenek kamu tidak pergi, hanya saja kita tidak bisa melihatnya sekarang, aku yakin jika nenek masih terus ada di dekatmu dan dia akan menjagamu dengan caranya,seperti ibuku."
"Aku sangat merindukan dia, Coral, aku ingin memeluknya." Zio kembali menangis dan Coral tidak melepaskan pelukannya pada sahabatnya itu.
"Kamu harus kuat Zio, sekarang kamu hidup sendiri. Oleh karena, itu jadilah pria yang kuat yang bisa menghadapi kehidupan yang kejam ini, tapi kamu tenang saja karena aku akan tetap selalu ada di samping kamu."
"Tentu saja aku tidak akan pergi Zio. Bagaimanapun juga kamu selama ini yang menemaniku,mau menjadi sahabat baikku dan kita sudah menjalani semuanya bersama-sama."
"Aku harus kuat. Benar apa kata kamu kalau aku harus kuat."
"Tentu saja kita akan saling mendukung dan menguatkan, kalau begitu sekarang kamu makan dulu, katanya mau jadi kuat, kalau tidak makan mana bisa kuat, Zio."
Zio tampak menunjukkan senyum kecilnya, tapi dia tetap menolak untuk makan karena dia memang masih tidak ingin makan.
"Ya sudah, aku tidak akan memaksa, tapi kamu nanti harus makan, ya Zio. Kasihan sekali Kak Hena sudah baik sekali membuatkan makanan untuk kamu. Bagaimanapun juga Kak Hena adalah orang yang juga sayang sama kamu."
"Iya Coral. Aku tau akan hal itu."
Coral di rumah Zio sampai keadaan sahabatnya itu benar-benar baik, dia juga turut membantu apa yang diperlukan setelah acara pemakaman nenek selesai.
__ADS_1
Zio tampak duduk termenung di kursi, di mana neneknya sering atau suka sekali duduk di situ.
"Coral, ini sudah sore sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Keluargamu juga pasti akan mencarimu, kamu dari pulang sekolah sampai jam segini belum pulang ke rumah, mereka pasti khawatir."
Coral sebenarnya malas pulang ke rumah karena hari ini di rumah pasti ramai acara ulang tahun Deona.
"Kak Hena aku permisi pulang dulu kalau begitu.'
"Iya, Coral, kamu hati-hati. Apa kamu mau diantar seseorang? Aku akan memanggilkan salah satu kerabatku yang bisa mengantarkan kamu pulang."
"Tidak perlu, Kak, aku bisa pulang sendiri, tolong jaga saja Zio. Dia sepertinya sangat shock kehilangan neneknya karena memang hanya nenek yang sangat sayang dan menjaganya selama ini."
"Iya, Coral, aku sendiri sangat kehilangan nenek karena nenek memang orang yang sangat baik." Gadis itu pun meneteskan air matanya.
Coral memeluk Kak Hena dan dia izin pulang. Di perjalanan Coral memikirkan tentang acara pesta ulang tahun Deona. Dia sebenarnya tidak ingin hadir di sana, tapi dia tidak bisa menghindarinya.
Dipikiran Coral, bisa saja acara itu dibuat untuk merencanakan sesuatu padanya.
"Rize, jujur aku takut sekali kali ini, apa lagi ada Dre."
Mobil yang ditumpangi Coral sampai di rumah dan dia melihat semua persiapan acara ulang tahun sudah tertata dengan sempurna.
Coral melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak enak, entah kenapa dia merasakan jika sesuatu akan terjadi malam ini dan perasaan itu begitu kuatnya.
"Ya ampun! Kamu dari mana saja, Coral? Ibu sudah menunggumu." Rose memeluk Coral dengan sangat erat.
"Aku dari rumah Zio, Bu, nenek Zio meninggal dunia kemarin malam."
"Oh ya? Kenapa aku tidak mendengar ada kabar itu? Ya sudah, kalau begitu kamu segera bersiap-siap karena ibu sudah menyiapkan penata busana dan make up yang nanti akan menjadikan kamu gadis yang sangat cantik."
Coral terdiam sejenak. "Ibu, aku tidak perlu diperlakukan seperti itu. Aku tampil biasa saja."
__ADS_1
"Jangan membuat malu ibu dan adik-adikmu dengan tampil biasa. Malam ini semua putriku harus tampil sangat cantik."