My Vampire Prince

My Vampire Prince
Kejadian Mengerikan part 1


__ADS_3

Coral berjalan ke arah dapur untuk mengambil botol minuman yang tadi dia minum dan letakkan ke dalam lemari es. Coral memang suka menyimpan botol minumannya sendiri. Dia sering membawanya ke sekolah, atau saat dia pergi ke suatu tempat.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa wajah kamu tampak kesal begitu?"


"Aku tidak apa-apa, Bu. Bu, apa boleh aku istirahat di loteng saja, nanti kalau Ibu butuh bantuan bisa memanggilku di loteng."


"Ya sudah kalau kamu mau istirahat di loteng."


Uhuk ... uhuk


"Coral, tolong ambilkan air putih di sana. Di luar semua minumannya manis sampai tidak enak perutku."


Coral mengambilkan segelas minuman dan memberikannya pada ibunya. "Ini, Bu."


"Terima kasih, Coral. Kalau begitu kamu boleh ke loteng." Wanita itu berjalan kembali ke tempat acara utama.


Coral berjalan menuju loteng dengan membawa botol minumannya. "Kenapa kepalaku pusing begini?" Coral berpegangan dengan kuat pada tepi anak tangga.


Langkahnya semakin berat saat akan menaiki anak tangga. Saat sampai di atas, Coral mencari bantalnya dan berbaring dengan nyaman sembari memijit kepalanya itu.


"Dia tidur rupanya. Benar apa kata Rize, bahwa gadisnya itu orang yang tidak terlalu menyukai sesuatu yang orang lain anggap hal yang menyenangkan, buktinya, ada pesta di rumahnya, tapi dia malah memilih tidur di kamarnya."


"Rize," Coral mengigau memanggil nama Rize.


"Dia benar-benar merindukan Rize. Kasihan sekali. Sebaiknya aku biarkan saja dia tidur dan aku mau mencari di mana rumah Zio. Kenapa tadi dia pulang sekolah tidak menemuiku?"


Penjaga ditugaskan untuk menjaga mengitari rumah itu secara diam-diam. Mara pergi untuk mencari di mana rumah Zio.


Seperti biasa dia berada di jalanan untuk menyatu dengan bumi agar tau di mana Zio melangkah.


Tampak seseorang berjalan perlahan-lahan mengendap-endap naik ke atas loteng, dan saat membuka pintu, sekali lagi dia tersenyum miring melihat Coral yang tengah tertidur dengan masih memakai baju yang diberikan oleh ibu tirinya.


"Cantik, tapi sayang sekali kamu gadis yang tidak memiliki simpatik dari keluargamu." Tangan Dre mengusap perlahan pipi Coral. Dia kemudian menuruni baju yang Coral pakai. Memiringkan tubuh Coral dan membuka resletingnya.


Jemarinya perlahan bergerak. Dadanya pun terlihat naik turun, dan kepalanya bergerak perlahan-lahan.


"Pangeran Rize," panggil paman Helius saat melihat pergerakan dari tubuh Rize.

__ADS_1


Seketika sang pangeran itu terbangun dengan tubuh yang masih belum benar-benar baik.


"Coral," panggilnya lagi.


"Pangeran, sebaiknya kamu tidur dulu karena keadaan kamu baru saja pulih." Paman Helius mencoba menahan tubuh Rize.


"Tapi aku merasakan hal buruk akan terjadi pada gadis itu, Paman. Aku akan pergi ke tempatnya."


"Kamu tidak perlu khawatir karena ada Mara di sana. Coral akan baik-baik saja."


"Aku akan tetap pergi, Paman. Aku akan merasa tenang jika sudah memastikannya sendiri." Rize tetap bangkit dan mencoba pergi dari sana.


Paman Helius sekali lagi mencoba menghentikan Pangeran Rize. Dia menghubungi Mara untuk bertanya tentang Coral, tapi ponsel Mara tidak diangkat. Ponsel Mara tertinggal di rumah Rize.


"Pangeran, biar aku saja yang ke sana untuk melihatnya."


"Paman sangat dibutuhkan di sini, apa lagi dalam keadaan seperti ini. Jika Paman pergi, kerajaan akan dalam bahaya nantinya. Ayah juga tidak ada di sini karena harus menyelesaikan urusan dengan para petinggi yang tidak bisa ditinggalkan."


"Iya, ayahmu harus menjelaskan tentang bola mutiara hitam yang telah hilang itu."


Petinggi kali ini yang dimaksud adalah tingkatan tertinggi dari para vampire.


"Aku bisa mengatasinya, Paman."


Bruk!


Belum sampai pintu keluar, tapi tubuh Rize sudah terjatuh.


Di loteng, gaun yang dikenakan oleh Coral sudah terlepas dan memperlihatkan bagaimana indahnya tubuh gadis yang selalu dianggap tidak penting dan culun itu.


"Wow! Ternyata apa yang ada di dalam baju yang dia kenakan terdapat sebuah pemandangan yang sangat indah. Sayang sekali jika harus melewatkan hal berharga seperti ini."


Jemari laki-laki muda itu menelusuri sejengkal demi sejengkal tubuh Coral, hingga tangannya sampai pada bra yang dipakai oleh Coral.


"Jangan." Seketika tangan Coral memegang pergelangan tangan Dre. Kedua matanya tampak mencoba terbuka meskipun berat.


"Kamu jangan menolak apa yang akan aku lakukan terhadapmu. Lebih baik kamu diam saja dan menurut karena apa yang aku lakukan akan membuat kamu bahagia."

__ADS_1


Dre dengan segera menyingkirkan tangan Coral karena dia tidak sabar ingin merasakan bercinta dengan gadis polos nan lugu seperti Coral dan pastinya dia masih tersegel.


"Pergi!" seru Coral dengan sekuat tenaga karena seluruh tubuhnya terasa sangat lemas dan berat.


"Sepertinya kamu harus dibuat lebih nyaman dengan ciumanku."


Bibir Dre mendekat perlahan pada wajah Coral. Coral yang sudah membuka kedua matanya tampak menolak dengan membuang mukanya, tapi kemudian tangan Dre mencengkeram kedua pipi Coral agar bibirnya bisa menaut pada bibir Coral.


"Jangan berbuat hal seburuk itu, Dre. Aku mohon." Coral mencoba menolak Dre sekali lagi.


"Kamu pasti belum pernah merasakan hal yang sangat nikmat yang belum pernah kamu rasakan. Aku akan memberikannya sama kamu. Menurutlah, Sayang."


Coral sekarang hanya bisa meneteskan air mata saat tangan Dre satu lagi menyentuh pahanya dan mengusapnya dengan lembut.


Coral ingin berteriak, tapi mulutnya seolah tercekat dan bahkan tubuhnya tampak lemas. Dia tidak tau kenapa bisa seperti ini? Apa ini adalah rencana yang sudah keluarganya buat untuknya. Ini lah yang dari tadi Coral takutkan.


"Argh!"


Tiba-tiba Dre merintih kesakitan karena rambutnya dijambak oleh seseorang dari belakang sampai kepalanya menengadah ke atas, dan dia dapat melihat dengan jelas wajah pria yang sangat pucat dan memiliki tatapan yang sangat dingin.


"Berani sekali kamu mau menyentuh calon pengantinku," ucapnya lirih, tapi terkesan tegas.


"Siapa kamu? Lepaskan!" serunya marah, dengan tangan mencoba melepaskan tangan Rize yang menjambak rambutnya.


"Rize," ucap lirih Coral.


Rize melihat ada lelehan air mata pada wajah cantik Coral serta menyiratkan kesedihan yang teramat karena perbuatan jahat yang akan dilakukan oleh Dre.


Darah Rize seakan mendidih melihat tubuh Coral yang sudah tidak menggunakan baju. Bagi Rize perbuatan manusia yang ingin memperkosa seorang gadis ini sungguh sangat kejam dan tidak akan bisa dimaafkan lagi.


Kedua manik mata Rize berubah menjadi hitam dan tampak taring giginya keluar. Kedua orang di sana mendelik tidak percaya melihat hal itu. Rize kali ini benar-benar marah dan tidak dapat mengendalikan dirinya.


"Argh ...!" seru Dre saat Rize menggigit lehernya tanpa bisa dihentikan.


Coral pun menyaksikan kejadian di depannya dengan sangat terkejut dan akhirnya dia kembali pingsan.


Tubuh Dre dilempar dengan seenaknya menjauh dari atas tubuh Coral.

__ADS_1


Rize memakaikan baju Coral dengan sangat baik. Tidak lama dia melihat Dre yang mulai bergerak karena darah vampire mulai menjalari tubuh Dre.


Sang pangeran mengambil kayu dari perapian dan menancapkan dengan kuat tepat pada dada Dre yang sudah menjadi vampire.


__ADS_2