My Vampire Prince

My Vampire Prince
Keinginan Rize


__ADS_3

Rize memutuskan pergi dari sana, dia berlari secepat kilat menuju sebuah hutan yang masih dalam wilayahnya.


Rize dengan beringas berburu seorang rusa untuk dia minum darahnya. Rize termasuk vampir ras Purelius, yaitu vampire dengan ras penghisap darah selain manusia, walaupun dulu mereka sebenarnya juga menghisap darah manusia, tapi sejak terjadi sesuatu yang dialami oleh kakek Rize. Seluruh vampire di sana akhirnya tidak lagi menghisap darah manusia, bahkan vampire yang baru lahir juga sudah di buat agar tidak haus akan darah manusia.


"Kenapa aku ini? Aku sudah menghabiskan dua ekor rusa, tapi rasa haus ini kenapa tidak hilang dan rasanya sangat berbeda?"


Rize duduk di atas sebuah batu besar dengan wajah heran.


"Hai, Rize, kamu kenapa?"


Seorang gadis dengan rambut dikepang dua dan penampilannya lebih tomboy tidak memakai gaun seperti para wanita yang tinggal di wilayah kastil Rize.


"Aku baik-baik saja. Kamu kapan kembali dari Erth?"


Tangan gadis itu terangkat dan mengusap lembut sisa darah yang ada pada tepi bibir Rize.


"Jangan bohong padaku, Pangeran Rize. Kita sudah berteman sangat lama dan aku tau jika kamu sedang ada masalah."


"Bola mutiara hitam hilang dan aku masih mencarinya."


"Apa? Kamu serius?" Rize mengangguk. "Siapa yang mengambilnya? Dan kenapa sampai bisa diambil? Kita tau sendiri jika bola itu tidak akan ada yang tau di mana ayahmu menyimpannya."


"Paman Dom yang mengambilnya. Dia mengkhianati ayahku."


Gadis itu sekali lagi terkejut karena setahu dia paman Dom adalah orang yang sangat baik dan setia.


"Nanti aku ceritakan sama kamu. Aku harus pergi dulu, Tsamara."


Rize berlari dengan cepat dari sana. Tsamara yang memanggilnya tidak dipedulikan oleh Rize.


Rize sampai di kamar Coral dia tertegun melihat gadis itu sedang berdiri di depan cermin memandangi dirinya dengan tertegun juga.


"Apa ini benar aku? Kenapa bisa secantik ini?" pujinya pada diri sendiri.


"Kenapa baju mamaku berubah seperti itu?" Rize kaget melihat baju pemberiannya berubah menjadi dress di atas lutut dan ada pita pada bagian pinggangnya. "Tapi dia terlihat lebih cantik," ucap Rize lirih.


Tidak lama pintu kamar Coral diketuk oleh seseorang dan dia adalah Zio. Zio menyelonong masuk karena Coral tidak mendengar suara ketukan pintunya.


"Coral? Kenapa penampilanmu seperti ini?" Zio tampak kaget melihat penampilan Coral yang tidak seperti biasanya.


"Kamu bicara apa sih?" Coral seolah tidak mendengar apa yang Zio ucapkan. Dia ingat telah menyimpan kedua telinganya dengan kapas.

__ADS_1


Coral melepaskan sumpalan telinganya. "Ada apa, Zio?"


"Kamu kenapa memakai penutup telinga?"


"Tidak apa-apa."


"Aku tadi tanya, kenapa penampilan kamu seperti itu?"


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?"


"Awas saja kalau bocah laki-laki itu mengatakan penampilan Coral aneh. Aku hisap darahnya sampai habis," umpat Rize.


Coral sekali lagi bisa mendengar suara seseorang, dan dia kembali mencarinya, tapi tetap tidak dia temukan.


"Ada apa, Coral?"


Coral tidak mau membuat temannya ini takut. Dia bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.


"Tidak ada apa-apa. Kenapa?"


"Bukan aneh penampilanmu, tapi aku seolah tidak mengenalimu karena kamu seperti bidadari saja."


Kedua bola mata cantik itu tampak melebar mendengar ucapan Zio.


"Iya. Eh, tapi dapat dari mana kamu baju seperti itu? Bukannya baju kamu kebanyakan celana panjang yang kamu padukan dengan kemeja dan sweater panjang. Kenapa sekarang ada baju seperti ini?"


Coral berjalan mendekat pada Zio yang duduk di atas tempat tidur. "Zio, sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan sama kamu," ucap Coral terdengar serius.


"Ada apa?"


"Baju ini aku sendiri tidak tau datang dari mana." Coral menceritakan tentang apa yang sudah Luana dan temannya lakukan pada Coral, serta baju yang tadinya panjang dia perbaiki dengan memotong bagian bawahnya dan menjahit dengan strapless yang dia bawa. Coral ini, kan, sebenarnya gadis yang kreatif dan pandai.


"Kamu serius tidak tau dari mana datangnya baju ini?" Coral menggelengkan kepalanya. Zio malah melihat ke arah langit-langit kamar Coral. "Apa jatuh dari langit?"


Coral beranjak dari tempatnya dan sekali lagi melihat penampilannya di depan cermin. "Baju ini benar manis. Siapapun kamu yang sudah memberikan baju ini, aku sangat berterima kasih."


Terdengar suara riuh di luar. Kedua sahabat itu pun keluar karena mereka tau jika bus yang akan membawa mereka kembali ke kota asal sudah datang.


Coral segera membawa tas bawaannya dan turun ke lantai bawah.


Rize masih ke dalam kamar Coral dan dia melihat semua sudah kosong. "Bagaimana aku bisa menyembunyikan apa yang aku pikirkan dari gadis itu? Kenapa juga dia bisa membaca pikiranku? Mengesalkan!"

__ADS_1


Rombongan bus Coral meninggalkan tempat itu. Rize hanya bisa melihat dari tempatnya berdiri. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempatnya.


"Ada apa, Pangeran Rize?"


"Dia sudah pergi kembali ke kotanya, Paman."


"Gadis pembawa bola mutiara hitam itu?"


"Iya, Paman, dia sudah pulang."


"Lantas, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku sudah mencari tau di mana dia tinggal dan aku akan datang ke tempatnya."


"Jadi, raut wajah sedihmu itu karena gadis itu pergi?" Paman melirik pada Rize.


"Bukan karena itu, Paman. Aku kesal karena dia bisa membaca pikiranku. Bagaimana aku menghilangkannya?"


"Jangan memikirkan sesuatu di kepalamu saat dekat dengannya karena paman belum mengetahui cara menghilangkan hal itu."


Rize berjalan pergi dari sana. Dia menuju area bagian bawah dari kastilnya.


Rize membuka sebuah pintu besar dan masuk ke dalamnya.


Tampak sebuah mobil mewah berwarna hitam ada di sana. "Aku harus mulai menjadi seperti mereka saat ini."


Rize memang seorang keturunan pangeran vampire yang tinggal di sebuah kota dan penduduk di sana juga adalah para vampire. Di sana mereka memiliki kehidupan hampir sama dengan kehidupan manusia biasa.


Mereka juga berinteraksi dengan manusia biasa di luar tempat itu untuk bekerja, tanpa ada yang mengetahui identitas mereka sebentar, bahkan ayah Rize juga menjadi seorang pengusaha di salah satu kota besar dan mereka pun tidak tau siapa ayah Rize.


"Rize, kamu mau ke mana?"


"Mendapatkan bola mutiara hitam itu, Ma."


"Apa kamu sudah mengetahui di mana bola itu? Lalu, di mana paman Dom?"


Rize terdiam sejenak, memberikan tatapan datarnya pada mamanya. "Paman Dom sudah meninggal."


Wanita itu tampak menunduk sedih mendengar orang kepercayaan suaminya sudah tidak ada. Suaminya belum mengetahui hal itu, dan jika suaminya mengetahui hal itu, pasti suaminya akan sangat bersedih walaupun paman Dom sudah mengkhianatinya.


"Rize, apa kamu tau kenapa paman Dom sampai berkhianat seperti itu?"

__ADS_1


"Dia bekerja sama dengan raja Pedrona. Paman Dom ditipu olehnya, dan aku mengetahui hal itu dari benda yang dimiliki paman Dom yang aku pegang.


__ADS_2