
Gadis itu melepaskan Luana dan Luana mencoba untuk mengambil napasnya. Luana tampak terbatuk-batuk karena cengkraman yang kuat dilakukan oleh gadis asing itu.
"Rufo, kamu beri saja dia pelajaran supaya dia tau siapa kita dan dia tidak akan berani berbuat kurang ajar lagi padaku."
Rufo tampak tersenyum miring dan berjalan mendekat pada gadis yang melihat dengan menantang pada Rufo.
Tangan Rufo yang hendak menyentuh pipi gadis itu dengan cepat ditangkis dan diputar dengan kasar oleh gadis itu.
"Aduh... ! Sakit!" Rufo merintih dengan kesakitan.
"Kamu kira sudah hebat berani melawan seorang gadis. Dasar pengecut!" Gadis itu melepas dengan kasar sehingga membuat tubuh Rufo terjerembab ke tanah.
Kedua teman laki-laki Rufo yang tidak terima berjalan menuju gadis itu dan tanpa basa basi, gadis itu menendang mereka sampai mereka pun terjerembab ke tanah dan tidak hanya itu, mereka masih dipukuli oleh gadis itu seolah si gadis sedang melupakan emosinya.
Kedua gadis dan Zio tampak melongo melihat kejadian itu. Zio seolah tidak bisa berkedip melihat bagaimana beraninya si gadis menghajar pada anak-anak yang suka berbuat onar di sekolahnya itu.
"Aduh! Ampun!"
"Rasakan! Lain kali jangan meremehkan seorang gadis, dan jangan berbuat buruk pada temanmu." Tangan gadis itu menepuk tepuk menghilangkan kotoran pada bajunya. "Pergi kalian dari sini!" bentaknya marah.
Luana dan Taza membantu Rufo dan temannya pergi dari sana karena takut jika akan dipukuli lagi oleh gadis itu.
Zio tersadar dari lamunannya saat tubuhnya ditabrak oleh Rufo yang berlari pergi dari sana. Zio berlari mengejar gadis yang baru saja menolongnya karena gadis itu berjalan pergi saja dari sana.
"Malaikat cantik, tunggu!" teriak Zio dan berhasil membuat gadis itu menghentikan langkahnya karena panggilan dari Zio.
"Kamu panggil aku apa?" Gadis itu menoleh dengan wajah heran.
"Malaikat cantik."
Gadis itu malah tertawa dengan senangnya. "Malaikat cantik? Kenapa kamu memanggilku begitu?"
"Karena kamu sudah sangat baik mau menolongku tadi. Terima kasih, ya malaikat cantik."
"Kamu jangan langsung menilai seseorang hanya karena dia pernah sekali menolongmu karena belum tentu dia sesuatu yang baik."
__ADS_1
Gadis itu berjalan pergi dari sana. Zio berteriak mengatakan jika dia tidak peduli kalau gadis itu penjahat atau apapun itu, yang jelas dia akan menganggap jika gadis itu malaikat.
"Terserah kamu!" jawab gadis itu berteriak tanpa menoleh pada Zio.
Zio tampak senang bisa bertemu dengan malaikat cantik itu, dan saking senangnya, dia lupa sampai menanyakan siapa nama gadis itu.
Zio segera berlari menuju gedung sekolahnya karena bel sudah dibunyikan dan semua masuk dengan tertib. Luana dan Taza tampak memandang Zio dengan tajam dan penuh amarah.
"Aku masih penasaran ke mana Coral dan Rize hari ini. Kenapa mereka berdua sama-sama tidak masuk? Apa mereka berbuat hal yang tidak senonoh dengan pergi bersama? Menyebalkan!" Luana tampak marah.
"Mungkin saja mereka melakukan hal itu kalau pergi bersama. Gadis culun itu bisa saja membuat Rize agar menjadi miliknya seutuhnya dan supaya tidak ada yang berani mendekati Rize." Taza malah mengompori sahabatnya yang tengah marah ini.
"Taza! Jangan malah bicara seperti itu. Aku akan tetap berusaha untuk dapat menjadikan Rize milikku karena aku sudah sangat menyukai pria tampan itu dan akan aku buang jauh si culun jelek itu!" Tangan Luana mengepal erat.
Pulang sekolah. Luana mencari tau dan bertanya pada Deona, Deona menceritakan jika Coral dan keluarganya kemarin diundang Rize makan malam, tapi waktu pulang mereka dihadang oleh beberapa pemuda dan salah satunya adalah kekasih Coral. Coral ikut bersama dengan kekasihnya itu.
"Kekasihnya Coral? Bukannya Coral adalah kekasih Rize?"
"Dia itu ternyata gadis bermuka dua. Kelihatannya dia lugu dan polos, tapi ternyata dia gadis yang nakal. Ibuku saja sampai terkejut mengetahui hal itu, dan ternyata dia semalaman tidak pulang."
"Tentu saja. Kamu kelihatannya senang sekali jika ada sesuatu pada Coral?
"Maaf, Deona, tapi aku memang tidak suka pada saudara tirimu itu."
"Tidak apa-apa, aku juga tidak suka padanya. Dia orang yang membuat sakit mata saja jika melihatnya."
"Dia memang pantas untuk dibenci."
"Oh ya Luana, apa kamu tau di mana Rize? Kenapa dia tidak masuk hari ini?"
"Tidak tau karena tidak ada yang memberi keterangan tentang dia. Coral juga tidak ada keterangan."
"Ibuku masih menunggu apa Coral nanti akan pulang atau tidak, tapi kita berharap dia tidak pulang saja supaya ibuku bisa melaporkan pada ayahnya."
Deona tersenyum karena Luana seperti percaya dengan kebohongan yang dia katakan. "Terima kasih, aku sekarang lega karena mengetahui jika Coral tidak pergi dengan Rize. Dahal tadi aku menduga jika Coral pergi dengan Rize, tapi ternyata dia pergi dengan kekasihnya."
__ADS_1
"Rize? Apa kamu menyukai Rize?"
"Iya, aku jatuh cinta pada anak baru itu."
"Apa? Kalau begitu kita akan menjadi saingan karena aku juga menyukai Rize, tapi saudara tiriku yang memuakkan itu malah yang menjadi gadis di hati Rize." Deona bersidekap kesal.
"Bersaing dengan orang yang pantas tentu saja aku tidak masalah. Lagi pula aku tidak apa-apa jika Rize menjadi kekasihmu karena kamu lebih pantas daripada harus bersama Coral." Deona dan Luana tampak tersenyum bersama.
Zio pulang dengan mengendarai motornya dan. Di sebuah jalanan yang agak sepi dia melihat malaikat cantik yang sudah menolongnya tampak seperti sedang kebingungan mencari sesuatu.
"Hai! Kamu malaikat cantik itu, kan?"
"Kamu? Kita bertemu lagi di sini."
"Kamu sedang mencari apa? Apa barang kamu ada yang hilang?" Zio tampak bingung karena tadi melihat gadis itu sedang duduk berjongkok di jalanan dan tangannya menempel pada tanah.
"A-aku tidak mencari barangku yang hilang."
"Lantas, apa yang kamu cari?"
"Aku mencari temanku yang ada di kota ini."
Zio turun dari motornya dan mendekat pada malaikat cantik itu. "Teman kamu? Memangnya, rumah teman kamu di mana? Siapa tau aku bisa mengantarkanmu ke sana?"
Gadis itu mengangkat bahunya ke atas dengan acuh. "Kalau tau, aku langsung bisa ke sana, tapi sayangnya aku tidak tau."
"Oh ... Lantas, kamu tadi sedang apa dengan berjongkok di tanah?"
"Mencari tau jejaknya dengan melihat apa jalanan itu pernah dilewati oleh temanku."
"Hah?" Zio agak terkejut mendengar jawaban dari malaikat cantiknya ini. Zio sampai berpikiran apa gadis di depannya ini agak sedikit sakit? Tapi saat dilihat lagi, sepertinya gadis ini normal-normal saja.
"Aku pergi dulu kalau begitu."
"Eh tunggu!" Zio tidak sengaja memegang tangan gadis itu, dan gadis itu langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1