
Acara pesta ulang tahun dimulai. Deona malas untuk menunggu Coral yang turun ke bawah karena baginya Coral juga tidak penting di acara itu, dahal ibunya menyuruh agar Deona menunggu Coral. Ibunya pun sebal dengan Coral kenapa dia tidak turun dari tadi.
Coral sengaja sebenarnya tidak ingin turun karena dia masih sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh Dre padanya.
Teman-teman Reona terlihat sangat bahagia, semua orang di sana menikmati acara pesta.
Beberapa menit kemudian. Coral yang sudah merasa lebih baik akhirnya memutuskan untuk turun. Dia haus dan ingin mengambil botol minumannya di dalam lemari es.
Saat Coral menuruni anak tangga, beberapa dari orang-orang di sana memperhatikan Coral. Mereka seolah tidak percaya jika itu adalah Coral karena Coral terlihat sangat cantik sekali malam ini.
"Tidak mungkin itu gadis culun dan menyebalkan yang sering kita ganggu," ujar Luana pada Taza.
Gadis yang membawa segelas orange jus itu pun menganga melihat Coral yang baru turun dari anak tangga.
"Itu beneran Coral? Luana, dia sangat cantik sekali bahkan kecantikan kamu dan Deona pun tidak ada apa-apanya jika dia berpenampilan seperti itu."
"Diam kamu, Taza! Kamu itu temanku atau bukan? Kenapa dia bisa tampil secantik itu? Apa Deona sudah bodoh menjadikan dia seperti itu? Seharusnya dia mempermalukan Coral di hari ulang tahunnya, tapi ini dia malah membuatnya menjadi perhatian banyak orang seperti ini. Dia udah memang bodoh!"
"Ibu, apa dia Coral?" tanya Deona pada ibunya. Deona juga kaget melihat penampilan Coral.
"Tentu saja itu Coral, Deona. Ibu juga tidak menyangka jika penata rias yang ibu suruh untuk meriasnya membuat Coral terlihat sangat berbeda."
Teman-teman lainnya memperhatikan Coral. Mereka semua yang tadinya kagum pada kecantikan Deona, sekarang berpindah memperhatikan Coral.
"Biarkan saja dia menjadi putri dalam semalam, setelah itu kita akan menghancurkannya dan membuatnya menangis darah."
"Iya, Bu, biarkan dia bahagia hanya dalam beberapa jam saja, setelah itu kita akan membuatnya menangis selamanya." Kedua wanita jahat itu saling melempar senyuman.
__ADS_1
Acara kembali berjalan dan sekarang mereka masuk ke acara sesi permainan. Coral memilih tidak ikut dia hanya melihat dari jauh.
"Sayang, kenapa kamu berada di sini? Ayo ikut ke sana, bukannya ini adalah acara ulang tahun saudara kamu. Jadi, kamu harus ikut bahagia di sini." Ajak Ibu Rose pada Coral.
"Aku di sini saja, Bu, aku tidak mau mengikuti permainan itu karena tidak mau membuat Deona malu nantinya."
"Tentu saja kamu tidak akan memalukan. Ke sana, ikutlah permainan itu."
"Tidak tidak usah, Ibu, aku di sini saja, aku nanti akan membantu membersihkan tempat ini saja nanti."
"Jangan seperti itu, Coral. Ibu ini sudah berusaha berubah dan menjadi baik, sudah sadar akan semua kesalahan Ibu selama ini sama kamu, dan Ibu ingin memperbaikinya serta supaya bisa menjadi Ibu yang baik untuk kamu."
Sayangnya Coral tidak melihat ketulusan dari ucapan ibunya itu, dia malah melihat jika ibunya sedang rencanakan sesuatu yang besar untuknya, tapi apa? Coral sendiri juga tidak tahu.
Rose tetap memaksa Coral ikut dalam permainan itu. Akhirnya Coral berada di tengah acara bersama yang lainnya.
Permainan ini adalah permainan dansa bersama. Dua kubu dibagi menjadi sebelah kiri anak laki-laki dan sebelah kanan anak perempuan mereka akan diberi bola yang nantinya akan saling menyalurkan bola yang dibawa pada temannya. Bagi pemegang bola saat musik berhenti harus maju ke depan untuk berdansa dengan pasangan yang sama-sama memegang bola.
"Jangan bicara seperti itu, Luana, apa kamu tidak melihat ada kekasihnya Rize di sini?"
Luana melirik pada Coral. "Siapa? Dia? Lihat saja sebentar lagi dia akan diputus oleh Rize. Rize saja beberapa hari ini tidak masuk sekolah, siapa tau dia ingin menghindari kekasihnya yang sebenarnya sangat memalukan ini."
Coral tidak mau mendengarkan apa yang dua orang ini katakan karena Coral tau jika apa yang selalu dikatakan oleh kedua gadis jahat itu bukan hal yang baik untuk dia dengar.
Acara permainan dimulai. Bola sudah diberikan kepada dia kubu dan musim juga sudah di putar. Coral berdiri dengan tenang sedangkan yang lainnya heboh. Bahkan ada yang menahan bolanya dan melihat pada kubu laki-laki, siapa tau mereka bisa berdansa dengan laki-laki yang tampan karena di sana tidak hanya teman sekolah saja yang diundang. Saudara Deona bahkan tetangga rumah Deona juga diundang.
"Berhenti!" seru Deona dan dia melihat pada siapa yang memegang bola. Ternyata Coral dan Dre yang memegang bolanya.
__ADS_1
Wajah Dre tampak tersenyum miring. Coral hanya bisa terdiam dan berharap dia tidak perlu berdansa dengan Dre. Berharap Dre menolaknya karena akan memalukan bagi Dre berdansa dengannya.
"Coral, kamu memiliki kesempatan berdansa dengan saudara sepupuku yang tampan dan kaya ini."
"Apa boleh hukuman itu diganti yang lainnya saja? Dre pasti akan mendapat malu jika berdansa denganku? Apa lagi dia menganggapku gadis yang memalukan."
"Coral, kamu jangan bicara begitu. Aku tentu sangat senang bisa berdansa dengan gadis yang cantik di acara pesta ini. Ayo kita berdansa." Tangan Dre menjulur mengajak Coral berdansa.
Coral hanya terdiam di tempatnya. Rose mendekat dan berbisik pada Coral jika dia jangan sampai menghancurkan acara ulang tahun Deona.
Coral yang memang baik akhirnya menerima jabatan tangan Dre dan mereka pun berdansa.
Semua kegiatan yang Dre dan Coral lakukan berdua tidak pernah lepas dari jepretan seseorang yang adalah suruhan dari ibunya Coral.
Ibu Coral juga nanti akan mengambil foto Coral dengan Rize saat Rize sudah pulang. Itu juga akan ditunjukan kepada ayah Coral jika Coral memiliki banyak teman dekat laki-laki.
"Coral, apa setelah ini kamu mau pergi denganku? Aku akan mengajak kamu bersenang-senang, dari pada kamu sedih memikirkan kekasihmu yang entah apa dia akan kembali atau malah pergi begitu saja."
"Aku tidak mau karena aku mau istirahat saja."
"Besok kamu, kan libur sekolah. Lebih baik kita habiskan malam setelah pesta dengan bersenang-senang di luar sampai pagi. Bibi tidak akan memarahimu karena aku yang mengajaknya."
"Aku tidak mau. Aku lebih baik tidur dan besok pagi aku akan ke rumah sahabatku karena dia saat ini sangat membutuhkan aku."
"Aku juga membutuhkan kamu, Coral," bisik Dre mendekat pada telinga Coral.
"Jangan bersikap tidak baik padaku, Dre, atau aku akan menampar kamu."
__ADS_1
Coral menarik tubuhnya dan melepaskan tangan Dre yang dari tadi sengaja menarik pinggang Coral mendekat ke tubuh Dre.
Coral berjalan pergi dari sana. Dre tersenyum miring dan melihat ke arah Leonil yang tersenyum di tempatnya.