
Coral ini bingung melihat pria di sampingnya. Kenapa Rize tidak mau pergi saja dan malah ingin mengenal lebih dekat dengannya?
"Rize, kamu kenapa masih di sini?"
"Apa kamu terganggu?"
"Tidak." Coral menggeleng pelan.
Daripada memikirkan Rize. Coral lebih baik menikmati saja permennya. Rize memperhatikan gadis di sampingnya yang sedang memakan permen dengan cara yang aneh.
Dahal hanya sebuah permen, tapi kenapa cara makan Coral seperti makan makanan yang sangat enak.
Rize ketahuan melihat Coral dan gadis itu menawari Rize permennya.
"Aku tidak makan itu, Coral."
"Hah? Tidak makan? Maksudmu, kamu tidak suka makan, makanan seperti ini?"
Rize bingung menjelaskan apa makanan yang dia makan selama ini?
"Aku tidak suka permen. Makanan kecil seperti itu tidak enak."
"Kasihan sekali kamu tidak suka permen."
Lagi-lagi perut Coral berbunyi, dan tentu saja hal itu membuat Coral kembali merasa malu. "Kamu itu lapar, kenapa tidak pergi ke kantin sekolah saja, atau kamu mau mentraktirku makan di sana?"
"Hah? Mentraktirmu?" Coral bingung karena dia saja menahan lapar karena tidak punya uang. Ini malah minta di traktir.
"Coral, kamu memikirkan apa?"
"Tidak ada. Rize, aku mau pergi dulu ke kamar mandi karena aku kebelet."
Coral ini seolah ingin menghindari Rize karena Coral tau jika dia dianggap sok dekat dengan Rize akan mendapat masalah dengan Luana karena Luana tidak akan menyukai jika dirinya seolah dikalahkan oleh Coral.
Coral beranjak dari tempatnya dan berjalan beberapa langkah dari tempat Rize berdiri. Gadis itu sebenarnya bingung karena dia malah bersikap begitu pada pria yang sudah menolongnya kemarin.
"Coral, apa kamu mau menjadi kekasihku?"
Deg!
Langkah gadis itu seketika terhenti mendengar apa yang Rize katakan. Sekarang yang terdengar adalah langkah perlahan, tapi terdengar tegas berjalan mendekati tubuh Coral yang mematung di tempatnya.
Coral yang tadinya menunduk perlahan terangkat wajahnya saat telunjuk Rize menaikkan dagu Coral sehingga kedua mata cantik Coral dapat melihat sosok pria di depannya.
"Kamu mau, kan, menjadi kekasihku?" Rize mengulangi pertanyaannya.
"Ke-kekasih? Ka-kamu sedang sakit ya, Rize?" suara gadis itu tercekat seketika.
"Aku serius, dan aku tidak suka kamu menolakku."
__ADS_1
"Maksudmu?" Raut wajah Coral terkejut bin bingung.
"Pokoknya, mulai hari ini, dan detik ini kita adalah sepasang kekasih, dan aku tidak butuh kamu mengatakan mau atau tidak."
Rize sekali lagi menunduk dan mengecup pipi Coral lembut dan berjalan pergi dari sana dengan salah satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana sekolahnya.
Kedua mata Coral mengerjap beberapa kali. Dia akhirnya terduduk lemas mencerna apa yang baru saja Rize katakan.
"Coral, kamu di sini rupanya." Zio yang baru saja datang dengan napas tersengal-sengal.
Dia duduk di samping sahabatnya itu sembari mengatur napasnya yang naik turun. Coral yang ada disebelahnya malah tidak merespon. Dia masih saja melamun memikirkan ucapan Rize barusan.
"Coral! Kamu kenapa?"
"Eh, Zio!" Coral tampak kebingungan sendiri."
"Kamu ini Kenapa?"
Coral masih tidak percaya saja dengan apa yang dikatakan Rize. Dia sampai berpikiran jika dia hari ini hanya bermimpi.
"Zio, tolong cubit aku agar aku terbangun dari mimpiku sekarang. Aku takut jika mimpi ini malah membuatku lupa untuk terbangun."
Zio yang sekarang malah bingung dengan maksud perkataan Coral.
"Kamu ini kenapa?"
Akhirnya Zio menuruti apa yang sahabatnya itu perintahkan. Dia mencubit lengan tangan Coral sehingga gadis itu merintih kesakitan.
"Sakit sekali." Coral merintih kesakitan.
"Kamu yang meminta agar aku mencubitmu, kenapa sekarang jadi aku yang disalahkan?"
"Bukan bermaksud menyalahkanmu, tapi--." Coral terdiam sejenak karena dia bingung ingin mengatakan apa.
"Tapi apa?"
"Tidak apa-apa." Coral tidak mau mengatakan tentang hal yang tadi Rize katakan padanya karena siapa tau hal itu hanya ucapan bercandaan dari Rize.
Coral mengajak Zio turun karena dia haus dan ingin mengambil botol minuman yang dia bawa di dalam tas sekolahnya.
Zio menurut dan mereka turun menuju ke kelas. Saat melewati lapangan, di sana tampak anak-anak sangat ramai sedang mengerubuti sesuatu.
"Dia enak sekali ya, Coral?"
"Siapa yang enak sekali?"
"Si anak baru yang mukanya pucat itu."
Coral tau yang dimaksud oleh Zio, dan pria yang baru mengajak Coral berpacaran itu, sekarang sedang dikerubuti banyak gadis yang entah apa yang mereka inginkan dari Rize?
__ADS_1
Coral memilih terus berjalan menuju kelasnya karena dia sangat haus dan lapar. Coral sudah berada di dalam kelas dan dia memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mencari botol minum.
"Ini apa?" Coral agak kaget saat tangannya menyentuh benda keras dan itu bukan botol minum karena bentuknya kotak.
Coral mengeluarkan dari dalam tas dan matanya mendelik melihat ada bekal makanan di sana.
"Ini punya siapa?" Coral melihat sekelilingnya yang sepi dan hanya ada dia serta Zio.
"Bukan punya kamu?"
"Kamu pernah lihat aku membawa bekal makanan?"
"Tidak pernah sih! Kamu selalu bilang jika sudah makan pagi di rumah. Jadi, tidak perlu membawa bekal."
"Lantas, ini punya siapa?" Coral memperhatikan kotak makan yang tidak pernah dia melihat temannya membawa kotak seperti ini.
'Makanlah itu untukmu, Coral.'
Coral lagi-lagi mendengar suara, tapi tidak ada wujudnya. Seketika terbit senyum pada bibirnya, dia paham dan mengerti jika hantu penolong itu yang membawakan kotak makan itu seperti sebelumnya.
"Terima kasih," ucapnya senang, dan kemudian Coral segera duduk membuka kotak makan itu.
"Dia bicara sama siapa?" Zio tampak heran melihat kelakuan sahabatnya itu.
Zio duduk di depan meja Coral yang sedang lahap memakan kotak pemberian hantu penolong sebutan untuk Rize.
Rize yang ada di tempat dia sembunyi mengulas senyum melihat Coral menyukai makanan yang dia berikan.
Rize tadi langsung menghubungi paman Helius dan mengatakan dia membutuhkan makanan manusia yang dimasukkan dalam kotak.
Paman Helius segera mencarinya dan memberikan pada Rize. Paman Helius pun sudah menyiapkan semua yang akan dibutuhkan untuk menjalankan rencana sang pangeran demi mendapatkan bola mutiara hitam, tapi tanpa melukai gadis itu.
"Kamu belum makan ya pagi ini? Kenapa seperti orang kelaparan begini?" Zio melihat Coral yang menghabiskan semua makanannya tanpa tersisa.
"Kenyang!" serunya senang.
Zio menggeleng-gelengkan kepalanya. "Coral, apa kamu tidak mendapat jatah sarapan pagi lagi hari ini?"
Coral sambil meneguk air pada botol minumnya melihat ke arah sahabatnya. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Huft! Mereka keterlaluan sekali, dahal mereka bisa makan enak dan hidup terjamin karena ayahmu, tapi kenapa mereka malah jahat sama kamu?"
"Tidak apa-apa, Zio, aku sudah terbiasa seperti ini."
"Kamu itu selalu menunjukan jika bisa mengatasi semua ini, dahal aku tau jika di dalam hatimu pasti sedih karena perlakukan mereka selama ini. Dulu kamu senang karena ayahmu menikah lagi. Jadi, kamu akan memiliki ibu yang akan menyayangimu, tapi nyatanya malah neraka yang mereka berikan untukmu." Tangan Zio menepuk pundak Coral.
"Mungkin semua ini memang nasib yang harus aku terima. Aku pasti bisa bertahan, yang terpenting aku masih bisa dekat dengan ayahku, melihat ayahku bisa tersenyum."
Zio melihat Coral lekat. "Andai aku bisa menjadi orang yang pemberani, aku ingin melindungi kamu dari mereka semua yang jahat denganmu, Coral."
__ADS_1