My Vampire Prince

My Vampire Prince
Jadilah Kekasihku part 1


__ADS_3

Coral mengatakan jika dia sudah bangga memiliki sahabat baik seperti Zio saat ini, bagaimanapun keadaan Zio karena tidak akan ada yang bisa menjadi Zio.


"Kamu itu orang yang sangat baik di dunia ini. Sahabat terbaikku pokoknya, dan bagiku tidak ada lagi pria sebaik kamu." Coral mengacak-acak rambut Zio.


"Jangan mengacak-acak rambutku, Coral. Apa kamu tidak tau aku susah sekali menyisirnya." Zio merapikan rambutnya, tapi Coral malah mengacak-acak lagi.


Akhirnya mereka malah berlari saling mengejar di dalam kelas yang sepi.


Bruk!


"Aduh!" Tubuh Coral menabrak seseorang sampai dia terjatuh di lantai.


"Gadis bodoh! Apa kamu tidak melihat ada orang di sini? Kamu jangan seenaknya berlarian di dalam kelas. Kekanak-kanakan."


Coral mendongak dan melihat siapa yang dia tabrak, dan ternyata dia menabrak tubuh Rize.


"Maaf, kita tidak sengaja," ucap Zio yang ketakutan.


Zio mendekati Coral dan ingin menolongnya, tetapi dengan cepat tangan Rize menjulur dihadapan Coral. Gadis itu seketika mendelik melihat tangan Rize.


Luana yang melihat hal itu tentu saja tidak suka. Dia yang akhirnya malah menolong Coral agar bangun dari lantai.


"Aku minta maaf karena tidak mengajak menabrakmu, Rize." Coral menunduk takut dan segera berjalan pergi dari sana. Zio dan Coral duduk di bangkunya karena bel masuk memang sudah berbunyi.


Pelajaran di mulai seperti biasa. Hingga tiba bel pulang pun dibunyikan.


Semua murid keluar dari kelas secara teratur, terkecuali anak-anak yang piket hari ini.


"Gadis bodoh, kamu kerjakan tugas piketmu hari ini karena aku mau langsung pulang. Hari ini aku ada pemotretan yang sangat penting."


"Aku juga tidak bisa karena perutku sedang sakit dan tadi aku sudah izin." Taza tersenyum miring seolah sedang menertawakan kepolosan Coral.


Luana berjalan dengan memeluk pundak Taza dan mereka berdua berjalan pergi dari sana.


Coral hanya melihat dengan diam. "Selalu seperti itu, tidak mau melaksanakan tugas piket. Dia sombong sekali hanya karena sudah menjadi model di majalah lokal," gerutu Zio kesal.


"Biarkan saja, daripada dia di sini dan nanti memerintahkan terus, aku malah tidak bisa bekerja dengan tenang."


"Coral, aku akan membantu tugas piketmu. Sekaligus menunggu kamu pulang."


"Tidak perlu, Zio, bukannya kamu kemarin sudah piket. Kalau mau pulang saja dulu, aku bisa pulang dengan jalan kaki."

__ADS_1


"Apa kamu mau pingsan di jalan karena kelelahan jalan kaki? Aku akan menunggumu sampai selesai."


"Tapi, bukannya motor kamu harus gantian dengan saudara sepupumu? motor dia sedang rusak, kan?"


"Aduh!" Zio menepuk jidatnya. Dia lupa jika beberapa hari ini memang motornya dipakai saudara sepupunya yang memang tinggal tidak jauh dari rumah Zio.


"Kamu pulang saja, kasihan Kak Hena kalau sampai terlambat ke tempat kuliahnya."


Zio tampak berpikir sebentar. Dia sebenarnya kasihan sama Coral karena harusnya hari ini Coral dengan empat temannya piket hari ini, tapi dua orang yang tak lain adalah Luana dan Taza tidak pernah mau piket dan selalu menyuruh Coral yang membersihkan kelas, sedangkan satu temannya hari ini tidak masuk karena ada urusan keluarga.


"Biar aku saja nanti yang mengantar Coral pulang," suara seseorang dari arah belakang mereka.


Dua orang itu langsung menoleh ke asal suara. Mereka terkejut melihat masih ada Rize di sana.


"Kamu masih di sini, Rize?"


"Tentu saja, apa kalian tidak menyadari hal itu?"


Coral dan Zio saling melihat. Mereka sama sekali tidak sadar jika di dalam kelas selain mereka berdua ternyata masih ada orang lain.


"Kami memang tidak sadar jika ada kamu di sini, Rize."


"Kamu pulang saja dan biar aku yang mengantar Coral pulang ke rumahnya karena hari ini aku masih akan berada di sekolah untuk meminjam beberapa buku."


"Ya sudah kalau begitu, aku minta tolong kamu mengantar Coral pulang. Terima kasih, ya, Rize."


Coral tampak bingung sendiri seperti tidak percaya jika Rize akan mengatakan hal itu.


"Rize, tidak perlu, aku benaran bisa pulang sendiri dengan jalan kaki perlahan-lahan."


"Aku tidak keberatan membawamu bersamaku."


"Tidak apa-apa, Coral." Zio mendekat pada Coral. "Kelihatannya dia orang yang baik," bisik Zio.


Coral tau jika Rize memang orang yang baik karena pernah menolongnya.


Zio sekali lagi meminta tolong pada Rize agar mau mengantar Coral pulang.


"Aku pulang dulu kalau begitu."


Zio berlari pergi dari sana karena dia melihat jam di tangannya yang menunjukan kurang satu jam lagi kuliah kak Hena masuk

__ADS_1


Sekarang hanya tinggal dua orang yang saling berhadapan itu. Coral yang entah kenapa sekarang merasa canggung jika di depan Rize, dahal dulu dia biasa saja saat berhadapan dengan pria di depannya.


"Aku mau menghapus papan tulis dulu, kamu katanya mau ke perpustakaan." Coral berbalik arah dan dia berjalan menuju papan tulis besar di depannya.


Coral menghapus semua tulisan yang ada di sana seperti biasa jika ada tugas piket di sekolah.


Rize masih saja berdiri di sana memperhatikan gadis yang sedang kesusahan menghapus tulisan paling atas yang ada di papan tulis.


Dia beberapa kali melompat agar mengenai tulisan itu. Dia kemudian mengambil kursi dan berdiri di atas kursi.


"Loh?" Coral kaget saat penghapus papan tulisnya sudah pindah tangan


Rize mengambilnya dan membantu Coral menghapus tulisan di papan tulis tanpa harus naik ke atas kursi karena Rize memang memiliki postur yang tinggi.


"Biar aku saja, Rize. Bukannya kamu belum mendapat tugas piket."


"Nanti aku akan bilang pada guru di sini untuk memberiku tugas piket dengan hari yang sama denganmu agar aku bisa membantumu mengerjakannya."


Coral tampak mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Ini Rize benaran berbicara seperti itu?


Rize meletakkan penghapus papanya dan dia menggendong Coral turun dari atas kursi.


"Rize, jangan seperti ini. Tidak baik kalau ada yang melihat, nanti kita dikira sedang pacaran di dalam kelas yang sepi."


"Bukannya kita memang sepasang kekasih, Coral?"


Deg!


Lagi-lagi detak jantung Coral berdetak dengan cepat.


"Rize, aku tidak suka kamu bercanda seperti itu. Jangan mempermainkan aku, Rize. Aku sudah menganggap kamu orang yang baik, dan aku senang bisa berkenalan denganmu."


"Tunggu, Coral!" Rize dengan cepat menahan tangan Coral yang hendak berjalan pergi dari hadapannya.


"Ada apa, Rize?"


"Aku sedang tidak bercanda denganmu. Aku ingin kamu menjadi kekasihku."


Kedua pasang mata itu saling menatap lekat. Entah kenapa sekarang Coral melihat bahwa pria di depannya ini seperti serius dengan ucapannya.


"Rize, aku pernah dipermainkan oleh seseorang seperti ini. Dia mengatakan suka padaku dan Ingin menjadi kekasihku, tapi berakhir dengan semua itu hanya permainan yang dia mainkan dengan Luana dan Taza yang ingin mengolok-olok aku saja. Rasanya sangat menyakitkan, Rize."

__ADS_1


Rize membungkukkan badannya dan melihat dengan pandangan datarnya. "Aku Rize bukan mereka, dan aku tidak sedang mempermainkanmu. Apa kamu mau bukti jika aku benar-benar ingin kamu menjadi kekasihku? Katakan saja apa yang harus aku lakukan?" Tantang Rize.


Coral bingung sekarang. Dia juga merasa aneh dengan pria di depannya. Apa tidak salah Rize ingin dia menjadi kekasihnya? Tapi kenapa? Bukannya masih ada teman-teman di sekolah yang populer dan cantik-cantik?


__ADS_2