My Vampire Prince

My Vampire Prince
Masih Ada Orang Baik


__ADS_3

Coral mengatakan jika dia tidak mau ikut makan malam bersama Rize. Mereka pergi saja.


"Kamu pikir, kita juga mau mengajak kamu pergi. Andai saja Rize tidak mengundangmu, kami akan sangat senang sekali, tapi Rize tidak mau karena dia ingin kita semua ikut."


"Apa si Rize itu menyukai Coral, Bu?" tanya Leonil.


"Apa? Leonil, kamu kalau bicara jangan sembarangan. Pria tampan dan kaya raya seperti Rize tidak mungkin akan mau dengan gadis buruk rupa dan lihat saja penampilannya sangat memalukan. Apa Rize mau mendapat malu?"


Leonil malah tersenyum miring, dia berharap Deona merasa cemburu dan marah pada Coral. Leonil memang senang melihat Coral menderita karena dia merasa iri pada gadis baik hati itu.


"Mulai sekarang dan tiga hari ke depan jangan sampai melukai Coral. Pokoknya jangan menimbulkan bekas luka pada tubuhnya, apa lagi wajahnya. Aku sendiri sebenarnya muak dengan anak ini."


Rose berjalan pergi dari sana dengan wajah kesal. Kedua orang yang melihat serta mendengarkan hal itu tampak tersenyum dan pergi dari sana dengan cepat.


"Paman memang brilian. Untuk beberapa hari ini mereka tidak akan menyiksa gadis itu."


"Pangeran, tapi kita harus segera mengeluarkan mutiara hitam itu secepatnya."


"Tapi bagaimana caranya? Apa seperti yang Paman katakan waktu itu?"


"Tidak ada cara lain."


"Hal itu sangat sulit, Paman." Rize tampak berpikir sejenak.


Keesokan harinya Coral yang sudah bersiap, dia bingung akan berangkat sekolah dengan apa? Jarak antara sekolah dan rumahnya lumayan jauh juga. Jalan kaki pasti akan membuat dia kelelahan sampai sekolah.


"Leoni, ayo!"


"Iya, tunggu sebentar."


Coral berjalan mendekat pada Ibunya yang berdiri di depan pintu menunggu kedua anak kembar kesayangannya masuk ke dalam mobil.


"Ibu, aku juga ingin berangkat sekolah, apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanyanya dengan rasa takut.


"Apa? Mau ikut? Enak saja. Kamu jalan kaki saja atau tunggu orang yang mau mengantarkanmu. Kamu tidak pantas naik ke dalam mobilku."


Coral melihat pada dua saudara tirinya yang duduk di dalam mobil sembari mengoloknya.


"Bu, aku ingin sekolah karena tidak mau ketinggalan pelajaran."


"Siapa yang peduli sama kamu." Wanita itu masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana meninggalkan Coral berdiri sendirian di depan pintu.

__ADS_1


Coral ingin menangis dan tidak perlu masuk sekolah saja hari ini, tapi dia teringat jika hari ini ada ulangan harian dan dia semalam sudah belajar. Akan sayang sekali jika dia hari ini tidak masuk sekolah.


Coral menutup pintu dan berangkat sekolah dengan berjalan. Dia akan sedikit berlari walaupun luka pada tubuhnya akibat jatuh kemarin masih terasa.


Coral terus berjalan dan jika dia merasa capek, dia berhenti sebentar untuk minum sejenak. Perutnya juga lapar karena dia tadi hanya disisakan nasi goreng hanya lima sendok makan oleh ibunya.


Mereka memang tidak menyiksa Coral secara fisik, tapi secara verbal.


"Coral! Kamu jalan kaki?" Zio yang sedang mengendarai motornya berhenti karena melihat Coral berjalan kaki.


"Zio, aku capek sekali." Coral berusaha mengambil napasnya dalam.


"Sepeda kamu di mana?"


"Sepedaku rusak dan aku tidak diajak naik mobil oleh ibu tiri dan saudara tiriku." Coral berbicara dengan napas tersengal-sengal karena capek.


"Mereka keterlaluan. Kenapa kamu tidak bilang padaku. Aku bisa menjemputmu di rumah."


"Kamu tau sendiri aku tidak punya ponsel."


"Ya sudah, sekarang kamu masuk dan kita segera ke sekolah karena waktunya juga sudah sangat sedikit. Bel sekolah juga akan segera dibunyikan."


Pelajaran di mulai, dan anak-anak mengikuti ulangan dengan baik. Guru pengajar mereka mengawasi dari tempat duduknya.


"Coral," panggil Luana yang duduk di samping Coral.


Gadis yang tengah serius mengerjakan ulangan itu tidak mendengar panggilan Luana sampai gadis itu melempar pensilnya pada Coral.


"Ada apa?" tanya Coral lirih.


"Mana jawaban ulangan kamu? Cepat tunjukan padaku!" Gadis itu berbicara pelan, tapi matanya mendelik tajam pada Coral.


"A-aku belum selesai, Luana."


"Tunjukkan saja," ucapnya sekali lagi dengan nada lirih, tapi ditekankan.


Coral yang takut lantas menunjukan buku ulangannya. Luana yang mencoba melihat dari tempatnya, tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas tulisan Coral.


"Berikan bukumu."


Coral menggelengkan kepala pertanda dia tidak mau memberikannya, tapi Luana tidak suka ditolak, dia malah mengancam akan menyiksa Coral setelah ini.

__ADS_1


Coral yang takut mengulurkan bukunya perlahan. Luana tampak tersenyum miring.


"Ada apa, Coral?" Guru pengajar mereka tiba-tiba berdiri.


Luana yang tidak mau sampai ketahuan meminta jawaban ulangan pada Coral malah mencoba membalikkan situasi. Jadi, seolah-olah Corallah yang mencontek buku Luana.


"Ini Coral mengambil bukuku, Pak. Dia mau melihat jawabku," ucap Luana yang berdiri dari tempatnya.


Coral sangat terkejut mendengar hal itu. Dia ingin menyangkal, tapi Luana malah mengancam dengan isyarat wajahnya.


Gadis malang itupun akhirnya hanya bisa terdiam tidak berani. Zio yang melihatnya tau jika sahabatnya itu tidak akan berbuat hal itu. Coral meskipun bukan murid yang pandai, tapi dia tidak akan melakukan hal seburuk itu dengan mencontek, apa lagi tadi dia di atas motor Coral bercerita jika dia semalam belajar untuk ulangan hari ini.


Pria paruh baya yang adalah guru mereka berjalan menuju meja Coral dan Luana. Dia ingin memastikan jika benar Coral ingin menconteknya dan di sana dia melihat ada buku ulangan Luana yang tadi sengaja Luana lempar ke meja Coral.


"Coral, kamu kenapa harus mencontek? Apa kamu tidak belajar?"


"Sa-saya belajar, Pak, tapi--." Coral melihat wajah Luana sekali lagi yang mengisyaratkan agar Coral tidak mengatakan hal yang sejujurnya karena dia nanti tidak akan melepaskan Coral.


"Sudah, Pak, hukum saja Coral. Suruh dia keluar dan tidak perlu mengikuti ulangan di sini." Taza yang adalah sahabat Luana mencoba memprovokasi gurunya agar mengeluarkan Coral dari dalam kelas.


Pria paruh baya itu sebenarnya kasihan melihat Coral dan dia tau sebenarnya Coral adalah anak yang baik, tapi bukti sudah ada.


"Coral, bapak harus mengeluarkan kamu dari kelas dan kamu tidak bisa mengikuti ulangan hari ini."


"Pak, saya mohon izinkan saya tetap mengikuti ulangan hari ini karena saya tidak mau ketinggalan pelajaran."


"Kamu itu tidak pantas lulus kalau hasil ulangan kamu dari mencontek, Hazel," ucap Luana.


Pria paruh baya itu melihat pada buku Coral dan Luana. Dia dapat melihat jika jawaban Luana yang banyak salahnya.


"Kalau begitu, kamu boleh mengikuti ulangan, tapi di luar kelas agar kamu tidak dianggap mencontek lagi."


"Tapi kenapa bisa begitu, Pak?" Luana agak terkejut dengan keputusan gurunya.


"Ini sudah adil Luana. Kalau Coral mengerjakan di luar, kamu tidak ada yang akan meminta contekan. Sekarang Coral kamu keluar dan bawa semua alat tulis serta buku ulanganmu karena waktu ulangan kita tidak banyak lagi."


"Terima kasih, Pak." Coral tampak senang dan segera berjalan keluar.


Luana melihat pada Taza, Taza hanya bisa mengangkat pundaknya ke atas acuh.


Luana tampak marah pada Coral. Coral duduk di luar kelas dengan tanpa alas. Dia mengerjakan lagi soal ulangan yang masih belum dia selesaikan.

__ADS_1


__ADS_2